
Zaina sedikit mendongak, menatap banyak orang yang masih mengerubungi dirinya tanpa memikirkan kondisi dia sama sekali. Keringat sudah banjir membasahi tubuhnga. Tangan Zaina juga mencengkram kuat ujung bajunya.
Tahan ... aku harus tahan. Aku kuat. Nak, bantuin bunda! rapal Zaina terus menerus.
/Bagaimana saudari Zaina? tolong katakan yang sebenarnya? apa anda beneran hamil? lalu, jika hamil ... siapa ayah dari anak yang dikandung? apa anda melakukan hal di luar norma? hingga menyebabkan anda hamil?/
"IYA!"
Zaina berteriak dengan napasnya yang sangat memburu. Ia meringis.
"KALAU SAYA HAMIL DI LUAR NIKAH, MEMANGNYA KE NAPA?" marah Zaina lalu mulai mendongak. Menatap semua orang di sana yang menatapnya sangat terkejut.
Tubuh perempuan itu sampai gemetar, menahan emosi yang menggebu. Urat di keningnya sampai terlihat natap ke arah mereka semua.
"Bagaimana dengan ayah dari anak itu?" tanya salah satu dari mereka.
"Mau siapa pun anak ini nggak ada urusannya sama kalian kan?" sentak Zaina masih dengan amarah yang menggebu. "Kalian ini ngga ada kerjaan kah, sampai mau tau semua nya tentang saya? apa kalian nggak mikir kalah tindakan kalian ini membuat saya nggak nyaman?"
Beberapa dari mereka mulai sadar dan mundur dari kerumunan yang terjadi di sana.
"Dan ... setelah saya mengaku gini, kalian mau apa lagi? mau ganggu hidup saya lagi? mau ganggu hidup mommy sama daddy saya lagi? mau cari tau sampai ke ujung dunia dan buat hidup banyak orang nggak nyaman karena ulah kalian?"
Zaina menunduk dan menangis.
Bayangan orang tuanya yang tersiksa akhir-akhir ini karena ulah dia membuat dada Zaina sesak. Rasanya sangat sakit mendapat perlakuan berbeda dari orang tuanya.
Terasingkan?
Ya, Zaina merasa di asingkan di keluarganya sendiri. Tapi dia sadar kalau ini memang salah dirinya. Jadi Zaina nggak bisa apa-apa, nggak bisa marah, nggak bisa protes, selain hanya bisa menangis dan memendam semuanya sendiri.
"Kalian sebenarnya kenapa?" ucap Zaina sambil menangis.
"Saya tau ini memang kerjaan kalian, kalian cari berita yang luar biasa biar banyak orang bisa baca. Tapi, apa kalian bisa lihat dampaknya? apa kalian bisa lihat gimana orang yang kalian jahatin terkena akibatnya?"
Zaina mengusap air matanya sambil menatap mereka satu satu.
"..."
"SATU LAGI! Perjodohan yang dibuat sama perusahaan nenek dari pengusaha Mahen juga nggak ada sangkut paut nya sama sekali. Jadi, kalian stop asumsi yang macam macam."
"..."
"Saya ngomong kayak gini bukan karena mau dapet komentar jahat dari kalian semua lagi. Saya nggak peduli! saya sama sekali nggak peduli. Saya muak. Tapi, saya ngelakuin ini karena saya nggak mau ada huru hara lagi di luaran sana. Jadi, saya harap kalian bisa mendapat jawaban yang kalian mau."
"..."
"JADI, APA YANG MAU KALIAN TANYAKAN LAGI?" sentak Zaina sembari menatap name tag mereka satu per satu. Perusahaan mana saja yang mencecar dirinya.
"Maaf ... bagaimana respon tuan Zidan mengenai kehamilan anda? di saat anak satu-satunya hamil di luar nikah? dan bagaimana dengan laki-laki yang tersebar luas di media saat saudari Zaina ada di pantai? apakah dia anak dari yang di kandung?"
"Lalu ... jika buat pengusaha Mahen yang menghamili anda. Kenapa anda malah mau menikah sama pengusaha Mahen? apa ada permainan di balik pernikahan kalian?"
"Apa tanggapan dari keluarga pengusaha Mahen mengenai kehamilan anda?"
Zaina semakin tersentak.
Kenapa semakin banyak yang menyerang dirinya. Perempuan itu berusaha mencari seseorang yang bisa membantu dirinya. Sayang, semua orang malah menatap penuh tanya ke arah dirinya. Bahkan satpam di perusahaan Mahen hanya diam, karena nggak berani untuk membubarkan mereka semua.
'Tolong ... tolong aku. Mereka malahan semakin ganas, aku nggak akan sanggup. Aku harap, ada seseorang yang datang dan nolong aku buat pergi dari kerumunan ini.'
Ugh, Zaina mulai muak melihat orang yang terus kembali bertanya. Zaina kira mereka bakalan sadar setelah ucapan panjang lebarnya. Tapi, ternyata mereka malahan semakin berlebihan.
TIN!
Zaina menoleh dan semua wartawan langsung minggit saat mobil melintasi mereka begitu saja. Sampai pintu terbuka dan Mahen turun sambil membenarkan jas hitamnya.
"Mahen ... tolong aku."