
Semenjak perbincangan mereka yang cukup sensitif bagi Mahen dan juga Zaina. Mereka hanya diam saja. Bahkan menu makanan yang ada di depan mereka seperti tak terlihat sama sekali karena nggak ada yang pilih makan lagi. Mereka memilih fokus diam dan mulai menurunkan ego masing-masing.
"Maaf."
"Maaf."
Keduanya langsung menatap satu sama lain dan pada akhirnya tertawa bersama karena ucapan mereka yang nggak sengaja buat bareng itu. Keduanya sama sama langsung tersenyum tipis dan Mahen meminta Zaina untuk katakan apa yang mau di katakan lebih dulu.
"Gue minta maaf ya. Udah egois banget di sini dan gue juga tahu nggak enak banget kalau di samain kayak orang lain kan? Di sini kamu udah berusaha lebih. Tapi gue malah memandang lu itu kayak orang lain. Pasti nggak mudah kan jadi lu? Maaf ya."
"Nggak masalah Zaina ... harusnya saya yang minta maaf karena udah marah gini sama kamu. Padahal saya harusnya tau kalau laki-laki itu memang selalu ada tempat di hati kamu dan memang sulit sepertinya untuk menggantikan itu semua. Jadi saya harus minta maaf sama kamu dan menyadarkan diri kalau ini memang jalan yang terbaik dan tugas saya cuma menunggu kamu sampai bisa menerima semua orang dengan baik."
Zaina menggeleng.
"Kalau lu minta maaf terus kayak gini. Yang ada kesannya gue kayak orang jahat tau nggak sih. Udah di sini kita itu sama-sama salah dan nggak ada yang benar. Ini mau lanjut atau gimana?"
"Lanjut saja."
***
Zaina memijat kening menatap semua kebutuhan bayi yang ada di depannya ini. Yaps, Mahen memang mau membantu Zaina untuk membeli apa pun yang dia butuhkan saat hamil. Bukan berupa baju bayi, karena itu masih lama banget.
Tapi seperti susu, vitamin, alat olahraga untuk ibu hamil, pakaian yang jauh lebih lebar bahkan semua hal yang memang di butuhkan oleh ibu hamil dan akan buat ibu hamil di luaran sana akan jauh lebih terasa nyaman dan nggak akan merasa sakit apa pun.
"Menurut lu gue harus beli baju sebanyak apa dah? Soalnya kan ya lu tahu sendiri kan gimana tipe baju gue itu? Dan kayaknya memang lebih nyaman deh kalau gue beli baju yang lebih baru."
Mahen memindai cara berpakaian Zaina.
Memang benar kalau Zaina sangat trendy. Setiap pakaiannya selalu melekat pas di tubuhnya membuat Mahen sangat yakin semua orang yang lihat nggak akan sadar kalau Zaina lagi hamil dan mereka nggak akan pernah tau perempuan langsing ini sedang berbadan dua dan Mahen juga baru sadar kalau selama ini Zaina selalu pakai baju yang modelnya seperti ini.
"Ah ... sepertinya kamu banyak punya baju yang ketat gitu ya? Hmm ... emang bener sih kalau bakalan lebih nyaman kalau kamu pakai baju yang gini. Jadi ya menurut mas kamu harus punya banyak deh. Biar bisa ganti juga."
Zaina mengangguk.
"Boleh bantu pilihin kan?"
Mahen mengerjap. Ini pertama kalinya ada perempuan yang meminta bantuan sama dirinya.
"Saya di kenal kaku loh dan apa pun yang saya pilihin itu nggak pernah tuh sesuai dengan kemauan perempuan jadi dari pada kamu menyesal karena minta bantuan saya dan malah nggak enak sendiri. Lalu marah di belakang saya. Jadi lebih baik kalau kamu jangan pinta saya buat lakuin ini."
"Gue beneran percayain deh sama lu. Ini kebanyakan model dan gue beneran pusing. Ini aja cuma liat udah buat gue eneg sendiri. Jadi ya gue harap lu bisa bantu dan nanti gue bakalan bantu dari sini juga dan gue janji nggak akan protes sama apa pun yang lu kasih."
Bukannya menyetujui, Mahen malah merangkul pinggang Zaina dan natap khawatir.
"Kamu baik-baik aja kan? Nggak ada yang salah sama sekali? Atau malahan mau pulang aja? Kalau pusing harusnya kamu pulang aja dan saya besok bakal tetap anterin kamu kok."
Zaina melepas rangkulan dan hanya menggeleng saja.
"Bukan pusing yang kayak gitu kok. Ini karena kebanyakan lihat barang ini. Udah kamu bantu pilihin aja. Bebas ya mau baju yang kayak gimana. Pokoknya jangan yang warnanya terang. Gue gak akan suka dan mungkin cuma berakhir di lemari doang."
Mahen mengangguk pasrah.
Lalu keduanya memilih berpisah dan nanti akan kembali kesini sama barang yang udah di pilih. Zaina benar-benar fokus untuk memilih pakaian yang akan dia pakai. Dia sedikit merasa bahagia bisa ada di titik ini.
"Bukankah semua perempuan punya mimpi untuk jadi seorang ibu? Ya walau aku tau menjadi ibu di hidup aku adalah sebuah kesalahan. Tapi mungkin ini udah jalan yang Tuhan kasih kan?"
Zaina bermonolog dengan tangannya yang penuh dengan baju.
"Kalau aku nggak ngelewatin ini, ya mungkin sekarang aku masih nggak tau sama apa yang di lakuin sama Ghaly kan? Aku terus masih anggap dia orang baik padahal kenyataan nya dia hanya lah orang yang nggak bertanggung jawab sama sekali dan mungkin aku nggak ketemu sama Mahen yang udah bisa buat aku merasa berharga."
Lalu Zaina berbalik untuk mencari keberadaan Mahen dan Zaina nyaris di buat tertawa ngakak saat melihat Mahen fokus memilah baju di antara banyaknya ibu hamil dan dengan tangan dia yang udah penuh sama bajunya.
Zaina terdiam dan memandang penuh bahagia melihat itu semua.
"Ah rasanya ... aku beneran di ratusan banget sama dia. Rasanya beneran deh aku nggak tahu harus apa. Ini beneran impian aku banget. Walau dengan beda orang tapi aku mau banget di ratukan kayak gini dan sekarang aku merasakan semua ini kan?"
Wajah bahagia Zaina langsung berubah saat melihat Mahen yang mendatangi dirinya. Laki-laki itu menghela napas dan menatuh barang bawaan dia ke atas troli.
"Beneran deh ... ini kenapa semua ibu-ibu jadi barbar banget kayak gini? Kan di sana juga banyak baju ya. Tapi mereka sama sekali nggak mau mengalah untuk merebut pakaian orang lain. Saya hampir menyerah beberapa kali karena mereka yang benar-benar barbar.
Zaina tersenyum dan mengusap keringat yang turun di kening Mahen.
"Tapi lu beneran keren deh dan makasih banyak ya atas semua usaha ini. Gue itu beneran apresiasi lu dan nggak tau deh harus mengatakan apa karena ya lu ini keren banget dan nggak akan ada yang bisa sekuat lu."
Mahen tertawa dan mengacak rambut Zaina.
"Demi kamu, apa sih yang nggak saya lakuin? Tapi .. gimana kalau kita cepat selesaikan ini? Karena kita masih ada jadwal ke rumah sakit kan?"