
/Selamat pagi calon ibu dari anak-anak saya ke depannya. Saya harap hari ini juga kamu bisa menjalankan hidup yang penuh kebahagiaan. Jangan sedih dan mikirin hal yang nggak perlu di pikirin ya. Saya akan selalu ada untuk kamu. Jadi untuk hari ini juga jangan lupa buat mikirin saya. Karena saya juga akan selalu dan selamanya memikirkan kamu loh./
Zaina menutup surat yang baru ia baca dan terkekeh pelan.
Memang ... beberapa hari terakhir Mahen sangat di sibukkan dengan kerjaan yang dia miliki. Jadi tidak sempat untuk membuat Mahen untuk mengajak Zaina kesana sini.
Tapi setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Mahen selalu saja menyempat kan untuk datang ke rumah. Bukan untuk menemui Zaina. Karena jam segitu pasti Zaina masih tidur.
Mahen hanya datang untuk nitipin surat yang dia tulis sendiri ke satpam yang jaga dan selalu aja nanti Zaina yang ambil dan membacanya.
"Baca surat kayak gini udah jadi kebiasaan aku sendiri. Aku bahkan nggak tahu kalau baca surat di zaman sekarang bisa membahagiakan sampai kayak gini."
Zaina mengayunkan tubuhnya di ayunan dan tersenyum tipis. Membaca surat itu lagi dan menggenggamnya kuat.
Zaina mengambil kotak berwarna biru langit yang dia bawa. Membukanya dan melihat semua surat yang udah di kirim sama Mahen. Ia mengumpulkannya di dalam sana dan menutupnya lagi.
"Mommy lihat ... kamu makin dekat nih sama Mahen. Gimana pilihan mommy sama daddy? Dan apa kamu udah ambil keputusan atau masih bertahan sama apa yang kamu pikirin kala itu?"
Perempuan itu terdiam dan menggeleng.
"Aku nyaman sama Mahen. Tapi aku masih nggak bisa ambil keputusan sejauh itu. Apa lagi di sini Mahen juga kan yang udah minta aku untuk pelan-pelan aja. Jadi aku nggak perlu pusing di dengan kehamilan aku."
Mommy Nadya mengusap rambut anak nya.
"Mommy harap pilihan kamu membuat semua orang bahagia ya. Pikirkan saja dulu dengan baik. Tapi ... apa anggapan kamu ini tentang Mahen?"
"Dia tampan."
Ah memang siapa yang bisa bilang kalau Mahen ini nggak tampan? Orang yang liat dia sepintas aja langsung setuju kalau Mahen tampan. Jadi nggak mungkin Zaina mengatakan kalau dia nggak tampan.
Bahkan dirinya saja mengakui kalau Ghaly nggak ada apa-apanya. Kalau di banding dengan Mahen. Walaupun gitu mana ada yang bisa atur perasaan kan? Mahen memang tampan. Tapi perasaan Zaina hanya berlabuh pada Ghaly saja.
"Nak Mahen memang tampan. Tapi dengan yang lain? Bahkan kalian sudah cek kehamilan juga bareng kan? Jadi mommy rasa kamu bisa deskripsiin dia dari sudut pandang kamu sedalam itu. Jadi apa yang ada di pikiran kamu tentang nak Mahen?"
"Dia laki-laki super baik. Bahkan aku aja bingung kenapa ada orang sebaik ini di saat dunia udah di penuhi sama orang yang jahat dan munafik."
"Mulai jaga omongan yu, nak," pinta mommy Nadya dengan lembut lalu mengusap perut anaknya itu. "Dalam sini udah ada anak kamu dan dia udah bisa mendengar semua yang kamu omongin. Jadi kamu ngomong yang baik-baik aja ya. Supaya bisa ajarin hal baik sama anak kamu di dalam sana."
Zaina tersenyum menatap mommy nya.
Mommy Nadya terkekeh pelan. Lalu mengusap punggung Zaina. "Kita mulai ubah perlahan aja kok. Jangan terlalu di paksain juga. Mommy paham kalau ini salah satu kebiasaan kamu."
Zaina sungguh malu! Dia mengusap tengkuknya dan menyengir pada sang mommy.
"Iya mommy ... maaf aku bakalan mulai berubah kok dan nggak buat mommy dengar kata itu lagi."
"Hahaha ... Makasih ya sayang. Jadi apa jawaban kamu sekarang. Mau ngomong apa?"
Zaina terdiam sejenak.
"Aku beneran nggak tahu. Tapi Mahen beneran laki-laki yang udah buat aku bisa percaya diri lagi dan aku beneran kaget karena dia yang mengaku ayah dari anak di dalam kandungan aku. Padahal biasanya orang jarang banget mengakui anak hasil orang lain dengan anak kandungnya. Aku bingung dan gak tau. Tapi di sini aku beneran sadar kok kalau ada laki-laki sebaik Mahen yang bahkan aku nggak tahu harus apain lagi karena sangking baiknya."
Mommy Nadya tersenyum.
"Sangat jarang kan nak? Bahkan awalnya mommy sama daddy sedikit ragu memilih dia. Tapi karena setiap perlakuan dia membuat mommy jadi yakin kalau dia memang sangat tepat untuk kamu. Jadi ya mommy rasa kamu sama dia sangat pas. Apa lagi mommy juga melihat dia yang nggak ada remehin kamu sama sekali pas mommy sama daddy kasih tahu fakta ini. Dia beneran menjaga martabat semua orang dengan baik."
Ah ... Zaina paham sekali yang satu ini dan Mahen memang sebaik itu. Sampai dia kadang merasa nggak enak sendiri.
Tutur kata, perbuatan, tatapan bahkan perlakuan Mahen benar-benar wajib di acungin jempol.
"Jadi ... mommy harap kalian bisa bersama. Karena mommy sama daddy yakin kalau dia bakaln menjaga kamu dengan sangat baik dan kami nggak perlu khawatir lagi karena takut kamu jatuh ke tangan yang nggak tepat. Tapi kamu bisa menahan semuanya dengan baik dan nggak akan merasakan apa itu kesedihan kagi. Tapi ... ya balik lagi kan? Mommy sama daddy sama sekali gak bisa dan gak mau paksa kamu dan malah buat kamu nggak nyaman. Jadi ya semua ini kembali ke kamu."
Zaina memeluk mommy Nadya dari samping membuat sang mommy refleks mengusap rambut anaknya.
"Maaf ya mommy ... awalnya aku janji untuk setujuin semua permintaan mommy sama daddy. Aku juga mikir kalau aku harus mendapatkan hal yang baik. Aku harus nurut dan jangan jadi anak pembangkang! Tapi ternyata nggak semudah itu. Maaf ya mommy makanya sekarang aku jadi buat mommy sama daddy kecewa lagi."
Mommy Nadya tertawa.
"Enggak nak ... kami sama sekali nggak kecewa kok. Mommy tahu banyak yang kamu pikirin dan nggak akan semudah itu buat mutusin hal sepenting ini kan? Dan mommy rasa juga dengan kamu mikirin ini aja udah buat mommy merasa kalau kamu nggak malahan menyepelekan keinginan kami dan masih tetap mikirin semua. Jadi mommy juga berterima kasih sama kamu."
"Ah mommy ... jangan gini. Aku jadi sedih nih."
Zaina mengusap air matanya yang turun dan mengerucutkan bibirnya.
"Hahah ... anak mommy kenapa gemesin banget sih. Semakin besar kamu semakin mommy yakin kalau kamu butuh perhatian lebih dan untuk masalah tadi kamu nggak perlu terlalu mikirin karena mommy sama daddy tau kalau kenyamanan adalah hal yang paling utama. Jadi kamu nggak perlu khawatir sama sekali."