
“Apapun yang oma bilang, jangan pernah kamu masukin ke hati. Karena kita cukup sabar dan dengarin aja. Jelasin ke oma kamu dengan perlahan. Jangan pakai emosi sama sekali yang malah mancing keributan nantinya.”
Zaina mengangguk ragu, “aku usahain dad. Tapi nggak janji. Daddy tau sendiri kalau aku gampang kepancing emosinya. Takut nanti oma malah ngomong yang macem-macem terus aku malah bales sama omongan yang nyakitin.”
Daddy Zidan mengusap pipi anaknya.
“Daddy tahu kok sama sifat kamu yang ini. Tapi balik lagi, kamu juga usahain ya biar bisa berubah. Karena daddy takut malah kebawa nantinya dan jadi boomerang buat kamu. Bukan cuman buat masalah ini doang. Tapi masalah lain yang harus kamu hadepin. Kalau kamu itu gampang marah, yang ada bukannya selesaiin masalah tapi nambah masalah baru.”
“Iya dad ... Zaina usahakan ya.”
“Bagus kalau begitu. Ya sudah, panggil mommy kamu. Kita berangkat sekarang juga.”
Zaina langsung naik ke lantai dua dan memanggil mommy Nadya untuk turun. Setelah memastikan semua barang terbawa, mereka semua masuk ke dalam mobil dan langsung pergi menuju rumah orang tuanya Daddy Zidan.
Selama perjalanan,
Mereka memilih diam sambil memikirkan, apa yang harus mereka lakuin saat tiba nanti. Banyak pemikiran buruk yang hinggap di benak mereka bertiga. Hanya keyakinan yang mampu membuat mereka akhirnya tiba di depan rumah yang dituju. Rumah Oma.
Begitu tiba, pintu pagar langsung di bukakan sama penjaga di sana. Zaina turun dari mobil lalu mendatangi pintu masuk. Sambil nunggu orang tuanya turun dari mobil, Zaina menyempatkan diri untuk menatap sekitar.
“Aku harap mood oma bisa sebagus halaman bunga rumah oma,” harap Zaina. “Ya Allah ... Aku mohon, kali ini aja permudah semuanya. Semoga tidak ada kejadian buruk yang malah memperpanjang masalah ini."
"Ayo masuk."
Zaina mengangguk dan mengikuti orang tuanya yang lebih dulu masuk. Baru saja masuk, mereka langsung disambut dengan oma yang duduk di sofa sambil memandang penuh marah ke mereka.
"Saya tidak pernah semarah ini sama kalian. Tapi karena kalian duluan yang membuat saya malu. Saya tidak akan diam saja."
"Ibu ... Zidan rasa sudah cukup ibu masuk ke dalam keluarga Zidan. Selama ini Zidan memilih diam karena berpikir ibu bisa berubah atau paling tidak, hati ibu bakal sedikit nggak enak setelah dekat sama istri sama anak Zidan. Tapi ternyata tidak seperti itu. Yang ada ibu malah semakin menjadi dan berperilaku seenaknya dan sekarang waktunya Zidan bilang cukup! cukup untuk semua hal yang ibu lakuin ke keluar Zidan."
Ibu daddy Zidan sangat syok mendengar semua ini.
"Lihat istri Zidan, salah apa dia sampai ibu fitnah seperti itu. Ibu marah sampai bentak sama istri Zidan. Padahal selama ini impian Nadya hanya ingin dekat sama ibu. Tapi ibu sama sekali nggak welcome. Dan sekali nya dekatin Nadya, ibu malah memiliki maksud tertentu padahal istri Zidan udah senang bukan main."
Daddy Zidan beralih menunjuk anaknya yang masih berdiri di dekat pintu.
"Dan lihat Zaina ... dia hanya seorang cucu yang nggak pernah diberi kasih sayang sama omanya sendiri. Karena sejak dulu ibu benci sama Zaina. Padahal anak Zidan gak ada salah sama sekali dengan ibu. Dan sekarang setelah selama ini ibu membenci anak Zidan. Ibu malahan datang dan maksa untuk lakuin hal yang ibu mau?"
Daddy Zidan menggeleng.
"Tidak akan ... selamanya ibu nggak akan bisa memberi pengaruh sama mereka."
"ZIDAN!"