Love In Trouble

Love In Trouble
34 - Sedikit Ancaman



Dengan perasaan campur aduk Zaina duduk di salah satu kursi meja makan sambil menatap satu per satu orang di sana. Ia meneguk saliva saat melihat neneknya Mahen bersama Alfi turun dari lantai dua.


“Aish ... aku harus singkirin perempuan itu kah?” gumam Zaina dengan pelan. “Dia nggak boleh terus ada di samping nenek dan mempengaruhi terus. Nenek harus sadar kalau perempuan yang di maksud itu nggak baik sama sekali. Sejauh ini, yang aku pahami. Nenek itu udah terpengaruh secara nggak langsung sama dia. Tapi— apa yang harus aku lakuin?”


Zaina menghela napas pasrah dan mengucapkan terima kasih pada pelayan yang menyajikan makanan di piringnya.


“Silahkan makan ...”


Seruan nenek Mahen seakan menjadi petuah bagi semua orang dan mereka langsung makan tanpa mengatakan apa-apa. Zaina mendesis dan memiringkan wajahnya, sedikit aneh melihat semua orang yang nurut segitunya sama sang nenek. Ini Zaina harus cari tahu sih, nanti. Dia sungguh penasaran!


Sedang asyik menatap mereka semua, tiba-tiba tubuhnya di senggol.


“Kamu nggak makan?” tanya Mahen sambil berbisik


“Aku nggak nafsu, mas. Kayaknya emang nggak mau makan. Takut ujung-ujungnya malah muntah, eh nanti yang lain malah pada eneg lagi. Jadi, aku sengaja nggak mau makan."


"Tapi, kamu nggak apa-apa?" Mahen men-cek tubuh Zaina yang sedikit pucat itu. "Mau ke rumah sakit?"


"Tidak ada yang boleh berbicara selama di meja makan!"


Zaina menoleh dan menatap pasrah pada neneknya Mahen yang benar-benar keliatan benci sama dirinya. Ia menoleh lagi pada Mahen dan menggeleng lalu memaksakan diri untuk menyuap satu sendok.


Suapan pertama sampai suapan ketiga semuanya masih aman, sampai Zaina mulai merasa mual dan langsung aja berlari kencang ke kamar mandi.


"Ck ... menyebalkan sekali," ucap sang nenek yang langsung dilirik sinis sama Mahen. "Mau kemana kamu?" tanya nenek lagi membuat langkah Mahen terhenti.


"Mau nemuin Zaina, takut dia kenapa-kenapa."


"Kamu nggak ada urusan sama Zaina. Biar dia ngurus dirinya sendiri. Kamu duduk di sini dan lanjutin habiskan makanan kamu!" perintah nenek mutlak.


"Tapi, Zaina lagi hamil! Aku takut dia kenapa-napa. Makanya mau ke sana."


"Tapi Zaina bukan hamil anak kamu ..."


Mata Mahen terbelalak dan menoleh geram pada Alfi. "Aku ngomongnya bener loh," ucap Alfi berusaha mendapat pembelaan sambil menatap mereka semua. "Zaina bukan hamil anak kamu, jadi kamu nggak perlu repot banget buat jaga anak itu. Dan, nenek udah suruh kamu duduk di sini. Jadi, kamu makan aja," ucapnya yang makin lama suara nya makin melemah.


"BERANI KAMU—


"Yang di omongin Alfi itu benar," ucap neneknya. "Kamu nggak perlu datengin perempuan tadi. Biar dia urus dirinya sendiri. Kamu nggak perlu repot ini itu."


Mahen nggak peduli dan malah berdiri. Dia—


"Sekali lagi kamu melangkah, maka kamu bakal liat nyawa nenek merenggang di depan kamu!"


Langkah Mahen terhenti,


"Nenek nggak akan main-main. Bahkan di meja makan udah ada pisau. Jadi, sekali lagi kamu melangkah. Kamu bakalan melihat nyawa nenek melayang."


Mahen mengeratkan rahangnya tanda emosi, ia melihat ke arah lorong di mana kamar mandi berada. Tapi seruan dari neneknya sekali lagi membuat Mahen terpaka berbalik dan kembali duduk di tempatnya.


Menyisakan senyuman penuh kemenangan dari sang nenek, tawa kecil dari Alfi sambil menatap bahagia dan tentu aja tatapan sedih dari orang tua Mahen yang nggak bisa apa-apa.


BRUGH!


Mahen langsung berlari menuju sumber suara dan dia benar-benar terkejut melihat Zaina yang sudah sangat pucat terbaring di depan pintu kamar mandi. Tanpa pikir panjang ia langsung menggendong ala bridal style dan semua orang ikut memekik melihat Mahen keluar sambil membawa Zaina yang sudah pingsan.


"Lihat nek ... karena keegoisan nenek, Zaina jadi begini! dan kalau sampai Zaina kenapa-napa. Aku nggak sungkan untuk marah sama nenek dan berontak."


"Udah nak ... mending kita bawa Zaina ke rumah sakit," seru bunda Mahen dengan panik. Ia membawa barang mereka dan langsung aja ketiga orang itu berlarian ke mobil dan meninggalkan rumah besar itu tanpa mengatakan apa-apa lagi.


***


Mahen terus menggenggam tangan Zaina dan merapal banyak doa. Ia terisak kecil.


"Bun ... ini salah aku, harusnya aku nggak bawa Zaina ke sana. Harusnya aku benar-benar bisa lepas dari mereka. Aku nggak tahu kalau Zaina bakal tertekan dan nyimpan semuanya sendiri sampai akhirnya pingsan kayak gini. Ini semua salah aku."


Bunda Mina mengusap rambut anaknya.


"Mereka nggak akan pernah berubah. Mereka akan terus hancurin hubungan aku. Aku nggak sanggup. Aku takut kalau ada korban lagi karena ulah mereka. Aku sama sekali nggak mau kehilangan Zaina. Aku udah terlanjur cinta sama dia."


"Mas ... anak kita kayak dulu lagi," bahagia bunda Mina sambil menatap Mahen.


Ayah Mario mengangguk kecil. "Ayah juga dengar," balasnya dengan berbisik.


"Yah ... kalau kita nggak ke rumah nenek lagi gimana? aku takut. Aku beneran takut kalau mereka bakalan macem-macem lagi. Tapi ... salah satu resiko kalau kita lepas dari nenek. Ayah nggak bakalan dapet warisan. Ini gimana dong? Aku mau lakuin yang terbaik buat hubungan aku. Tapi ... semuanya masih kacau kayak gini."


"Nak, bagi ayah warisan itu nggak penting sama sekali," jawab ayahnya membuat Mahen mendongak dan sedikit terhibur. "Kamu, Zaina dan bunda jauh lebih berharga di bandingkan harta. Warisan itu nggak ada gunanya di mata ayah dan ayah nggak perlu juga semua itu ..."


"..."


"Niat ayah maksa kalian untuk datang ke makan malam ini juga untuk mengakhiri hubungan ini. Ayah benar-benar mau lepas dari mereka karena ayah masih mau hidup dengan waras bersama kalian dari pada menuruti permintaan mereka yang nggak ada habisnya. Tapi ... ternyata mereka masih sama aja. Jadi, ayah nggak perlu pamit nggak jelas. Karena mereka nggak bisa ngehargain kita. Jadi buat apa kita pergi dengan baik-baik."


"Ayah ..."


Ayah Mario tertawa melihat anaknya yang seperti ini. Dengan sedikit kencang ayah Mario menepuk punggung anaknya.


"Jangan nangis dong, malu sama Zaina. Kalau dia bangun masa langsung liat calon suaminya lagi nangis bombay kayak gini."


"Ayah mah ...," rengek nya


"Intinya, sekarang kamu nggak perlu khawatir lagi. Jalanin hubungan kamu sama Zaina. Jaga dia dengan baik. Kasih banyak perhatian. Kalau bisa kamu kasih penjagaan dan sisanya biar ayah yang urus. Kalau ibu ayah masih buat macem-macem sama kamu. Biar ayah yang urus. Kamu fokus sama hubungan kamu ..."


"Iya yah, sekali lagi makasih."