
Tangisan, pekikan, teriakan, permintaan maaf sampai permohonan ampun sudah menjadi kebiasaan bagi Ghaly, setiap kali di kasari sama orang dari Mahen. Laki-laki itu sangat menyesal atas tindakannya sendiri. Dia nggak menyangka kalau dirinya bakal ketahuan dan dia juga nggak menyangka bakalan berakhir kayak gini.
“Gue beneran minta maaf, gue janji bakal lakuin apa aja asal lu mau maafin gue. Tapi, tolong lepasin gue ...”
Mahen masih diam di pojokan. Dia menyilang kan tangan di dada dan menatap enggan pada Ghaly.
Entah kenapa, dia merasa aneh. Kenapa Zaina bisa memiliki hubungan sama laki-laki tidak waras kayak Mahen. Dia menggelengkan kepala sampai pintu diketuk dan penjaga di sana masuk sambil berjalan ke arahnya.
"Ada apa?"
"Ada tuan besar di luar."
Mahen mengangguk dan meminta penjaga itu keluar lagi. Ia beranjak menghampiri Ghaly dan merampas paksa penutup mata pria itu.
"Ampun, jangan siksa gue lagi ..." Ghaly merintih saat tangannya di cengkram sangat kuat.
"Hahaha ... sekarang baru bisa mohon ampun? Kemana semua pemikiran busuk, yang buat lu sampai nekat ngelakuin ini. Lu tau nggak sih, gue bisa merancang sesuatu . Biar semuanya berbalik nyalahin lu, dan apa? semua keluarga lu bakalan malu punya anak kayak lu. Lu bakalan di caci sama orang lain. Tapi .. itu bukan ranah gue sama sekali. Karena orang yang mau datang ini, yang lebih berhak ngelakuin sesuatu sama lu!"
"Si— siapa?"
Mahen tersenyum misterius. "Siapa pun itu, gue yakin lu bakalan jauh lebih kesiksa kalau udah ketemu sama dia!"
Ghaly hanya bisa menatap pasrah, Mahen yang keluar ruangan dengan tawa puas. Siapa lagi yang harus dia hadapi? apa nggak cukup siksaan yang mereka kasih ke dirinya? sampai dia ngerasa capek akan semua ini.
"Memang gue yang salah, jadi gue bisa apa ..." pasrah Ghaly yang benar-benar udah menyerah. Bahkan Ghaly sudah nggak berani membayangkan dirinya keluar dari tempat ini. Bayangan dirinya yang terus disiksa sampai terkapar, benar-benar cukup membuat dia pasrah sama hidupnya.
Sementara itu,
Mahen melangkah keluar ruangan, ia menelusuri lorong gelap sampai dia melihat ayah calon mertuanya berdiri di dekat pintu masuk. Langkah kakinya kian melemah saat melihat perempuan yang dia kenal ikut berdiri di sana.
"Dad?" serunya. Mereka kan udah janji untuk nggak memberi tahu Zania dulu, tapi kenapa wanitanya itu malah ada di sini?
"Dia maksa, dia tahu kalau kita menyembunyikan Ghaly. Jadi, daddy sama sekali nggak bisa nolak," jelas daddy Zidan yang paham maksud tatapan Mahen.
"Sayang ... kamu tau kan, kalau kamu lagi hamil? tempat kayak gini nggak cocok buat perempuan hamil kayak kamu," beritahu Mahen yang khawatir. "Kita pulang aja ya, biar urusan Ghaly mas sama daddy kamu yang urus."
Zaina tersenyum tipis dan menepis lengan calonnya.
"Ada yang mau aku bicarain dan ini cukup penting. Boleh ya mas. Aku janji, setelah ini. Aku nggak bakal temuin Ghaly lagi. Ini yang terakhir kalinya dan untuk selanjutnya, biar mas sama daddy yang urus dia."
"..."
"Boleh ya ... aku mohon."
***
Disinilah Zaina berada. Ia menatap prihatin laki-laki yang beberapa tahun sempat menempati hatinya itu sedang menunduk, tanpa berani menatap dirinya. Ia menghela napas dalam sebelum duduk tepat di depan Ghaly.
"Apa kabarnya?"
"..."
"Zaina ... nggak begitu."
"Apa kurangnya aku buat kamu?!" heran Zaina. "Dari awal, aku selalu kasih semuanya ke kamu. Kerjaan, yang buat keluarga kami, tempat kost, kebutuhan hidup, bahkan aku kasih keperawanan aku buat kamu. Semuanya aku kasih tapi apa yang aku dapetin? aku malahan di tinggal pas lagi hamil anak kamu ..."
"..."
"Nggak, tenang aja. Aku sama sekali nggak minta semuanya untuk kembali. Aku juga sadar, kalau memang akunya yang bodoh karena udah percaya sama laki-laki kayak kamu dan akunya yang salah karena udah kasih segampang itu sama kamu. Padahal, harusnya aku nggak ngelakuin itu dengan gampang ..."
Ghaly semakin menunduk.
"Kamu nggak tau kan, seberapa hancur aku pas kamu tinggal pergi. Kamu nggak tau kan, hidupku kayak ada di ambang-ambang batas pas tau kalau aku ini lagi hamil anak kamu. Aku marah, marah sama diri aku sendiri. Marah karena udah bodoh dan ngelakuin ini, sampai terbawa pergaulan yang bebas. Marah karena aku udah buat kecewa banyak orang. Dan ... aku semakin malu sama orang tua aku. Rasanya ... aku ini hanya bikin masalah di luaran sana."
"..."
"Tapi, orang tua aku nyatanya jadi orang yang paling support sistem di hidup aku. Mereka nggak pernah nyalahin aku, mereka malahan nyalahin diri mereka sendiri. Karena merasa udah gagal ngerawat aku. Aku semakin malu loh."
"..."
"Tapi ... balik lagi, ternyata datanglah Mahen. Orang yang mau menikahi aku, tanpa memikirkan anak ini."
Zaina bangkit dan mendekati Ghaly. Dengan lembut dia buka ikatan tangan pada Ghaly lalu membawa tangan itu memegang perutnya yang masih kecil itu.
"Anak kandung kamu, yang nyatanya lebih di hargai sama laki-laki lain. Dibanding kamu."
Tubuh Ghaly luar biasa gemetar. Dia melihat perut itu, di sana ada anaknya. Di sana tumbuh anaknya.
"Aku berusaha buat nerima ini semua. Susah loh. Sampai aku mulai berdamai dan menerima. Sampai aku ketemu kamu lagi, aku cuman mau jujur. Tanpa berharap kamu bakalan balik lagi. Tapi ... kenapa kamu tega ngelakuin ini semua sama aku?"
Zaina berbalik, membuat tangan Ghaly terhenti di udara kosong. Seolah kehilangan apa yang dia baru rasakan.
"Aku nggak pernah minta apa-apa sama kamu dan aku juga nggak akan minta tanggung jawab sama kamu. Kamu bisa bebas hidup di luaran sana, seperti yang kamu mau. Biar aku yang dapet ucapan buruk dari mereka. Tapi ... kenapa kamu tega?"
Zaina berdiri di pojokan dan menangis. Ia terus berusaha menepis air matanya, tapi tangisannya malah semakin deras.
"Sekarang ... gara-gara kamu, bukan cuman aku doang yang mendapat hujatan. Tapi anak kamu juga ..."
"..."
"Kamu udah gagal jadi seorang ayah, dan sekarang kamu juga jadi penyebab anak kamu di hina. Dikatain anak haram, anak nggak membawa keberuntungan benar-benar buat aku sakit hati, Ghaly . ."
"Kenapa? KENAPA KAMU TEGA NGELAKUIN ITU SAMA AKU DAN ANAK AKU!!!"