
Zaina langsung berdiri dan menunduk, meminta maaf pada semua orang yang ada di sana. Dengan sigap ia langsung menaruh beberapa lembar selebaran uang berwarna merah dan menarik Mahen keluar dari kafe. Ia mengajak laki-laki itu ke sebuah gang yang cukup sepi. Untung saja, Mahen tidak protes sama sekali dan tetap mengikuti ke mana Zaina pergi.
“Mahen ... aku tuh nggak bermaksud kayak gitu,” ucap Zaina lagi kali ini dengan nada yang sangat sendu.
“Zaina,” panggil Mahen dan berbalik memandang Zaina. “Aku tuh beneran nggak peduli sama semua hal yang udah aku lakuin. Aku juga melakukan ini dengan senang. Aku juga ngelakuin ini tanpa mengharapkan kalau kamu bisa balik sama aku. Bahkan nggak pernah ada sebercik harapan kita kembali kayak dulu, karena aku nggak mau kalau nanti aku kecewa. Jadi ... aku nggak mau kalau nanti malah sakit sendiri.”
“...”
“Sebisa mungkin aku nggak pernah mau melibatkan perasaan ini. walaupun ujung-ujungnya aku selalu sakit sendiri. Walaupun ujung ujungnya aku harus nahan sakit sendirian. Walaupun pada akhirnya aku harus nahan cemburu pas kamu sama Ghaly, walaupun aku tahu Ghaly cuman asisten kamu ... banyak hal yang harus aku tahan. Banyak hal yang buat aku milih menahan semuanya sendiri.”
“...”
“Aku bahkan nggak paham sama diri aku sendiri, Zaina,” jelas Mahen sambil menepuk dada nya dengan cukup kencang. “Aku bahkan bingung kenapa bisa sedalam ini perasaan aku. Dari aku yang dulu selalu berusaha untuk mendapatkan orang yang aku cintai. Dari aku yang dulu selalu berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang aku mau. Sampai .. aku akhirnya menahan diri dan memiliki pemahaman kalau orang yang aku cintai nggak harus bareng aku terus. Aku juga mulai paham kalau artinya mencintai itu, aku harus bisa merelakan apa yang aku mau.”
“...”
“Semuanya hanya untuk kamu, Zaina.”
“Maaf ...”
“Tapi ... rasanya sakit juga ya ngelihat kamu tuh kayak nggak pernah berjuang apa pun tentang hubungan kita. Kayak kamu tuh nggak anggep aku ini tuh apa-apa.”
“Mahen ...”
Zaina menggeleng. Dia sama sekali nggak pernah berpikiran sampai sejauh itu.
“Apa pernah sekali aja aku ngelihat kamu yang berusaha mempertahankan hubungan kita? Kamu selalu aja menyerah dan memilih nggak mau bertahan di tengah semua terpaan masalah ini. Banyak hal yang kadang buat aku kecewa. Dari aku yang udah berusaha melakukan sesuatu demi kamu dan pada akhirnya kamu terus mematahkan semua impian itu. Banyak Zaina ... apa kamu nggak pernah mencintai aku?”
Zaina menggigit bibir bawahnya.
Perempuan itu sudah lelah menangis dan hanya bisa mengepalkan tangan, menahan semua rasa sesak di dalam hatinya. Ingin menjelaskan dari pandangan dia juga rasanya nggak mungkin karena Mahen kelihatan sedangan sangat emosi.
“Sering banget aku bilang sama kamu, betapa diri aku mencintai kamu. Tapi apa? apa aku pernah denger sebaliknya? Enggak Zaina ... kamu cuman berterima kasih tanpa membalas sama sekali. Atau ... memang benar omongan orang lain kalau di sini kamu hanya memanfaatkan aku? Karena kamu tahu kalau aku pasti bisa menyelesaikan masalah ini ...”
Zaina memejamkan mata.
Rasanya ini lebih menyakitkan di banding mendengar omongan jahat omanya, lebih menyakit kan dari omongan netizen yang mengatakan buruk tentang dirinya. Lebih menyakitkan karena yang menuduh adalah orang yang selama ini ia cintai.
Ternyata ... pada akhirnya Mahen juga membuatnya sakit ya?
“MAHEN!” seru Zaina pada akhirnya.
“...”
“Apa aku harus teriak ke semua orang kalau ‘aku cinta kamu’ dulu baru kamu sadar kalau aku secinta itu sama kamu. Apa yang harus aku lakukan biar kamu percaya. Kalau aku ini cinta sama kamu. Apa yang harus aku lakuin, Mahen?” tanya Zaina dengan suara yang sangat serak. “Bahkan setiap hari rasanya aku harus menahan diri supaya nggak ngecewain kamu. Bahkan setiap bertemu kamu, aku terus malu karena harus menahan degup jantung.”
“...”
“Tapi ... apa kamu tau gimana aku selalu insecure sama semua perempuan yang ada di sekeliling kamu? Di mana perempuan itu punya banyak hal bagus, bukan kayak aku yang cuman punya masa lalu buruk doang,” pekik Zaina pada akhirnya.
“...”
“Aku harus menahan diri mati-matian untuk bisa merasa pantas untuk ada di samping kamu. Nggak bisa Mahen ... menurut aku, kamu itu terlalu berharga. Beda kayak aku yang bisanya cuman membuat susah orang lain aja ... aku tuh bingung. Apa yang harus aku lakuin. Apa yang harus aku perbuat.”
“...”
“Kamu tau nggak sih betapa aku harus menahan diri supaya nggak manja sama kamu. Karena aku masih terlampau malu nunjukin sisi yang kayak gitu ke kamu. Kamu juga tahu nggak sih kalau aku harus berusaha jadi wanita kuat. Padahal di belakang aku rapuh. Aku harus kuat karena masih banyak orang yang peduli sama aku, termasuk kamu.”
“...”
“Kamu juga tau nggak sih, kalau kamu ini udah jadi salah satu orang yang buat aku kuat di titik ini.” zaina menarik napas dalam. “Dan itu karena apa? ya tentu aja karena kamu selalu ada di hati aku hingga di titik ini. Jadi, rasanya aneh kalau kamu ngomong aku ini nggak cinta sama kamu. Karena di setiap detiknya aja, cuman kamu yang ada di hati kamu ...”
“...”
“Sayangnya semua hal nggak pernah berjalan baik di hidup aku,” ucap Zaina dengan suara tertahan.
Ia menoleh dan melihat sebuah kayu besar di sana. Ia duduk di kayu itu dan meluruskan kakinya itu. Ia melirik Mahen yang masih diam terpaku di tempatnya berdiri tadi. Zaina kembali menunduk dan memejamkan matanya sebntar, berusaha menahan air mata yang rasanya ingin terus turun. Tapi terus Zaina tahan juga.
“Kenapa di luaran sana selalu aja ada orang yang bilang kalau beruntung jadi aku. Karena masih banyak orang yang ngebela aku saat di terpa banyak masalah di saat mereka bilang kalau aku nggak pantas untuk mendapatkan ini semua. Itu salah satu komentar yang paling mengganggu di hidup aku,” jelas Zaina pada akhirnya.
“Sebuah komentar yang pada akhirnya buat aku mikir, apa aku memang semenyedihkan dan semenyebalkan itu untuk ada di hidup orang lain. Apa aku memang nggak pantas?”
“...”
“Atau memang aku yang nggak di izinkan untuk bahagia sama sekali?”