
“Mom ... nggak apa-apa kali kalau aku nggak datang,” rengek Zaina
Mommy Nadya menarik napas dalam dan melihat rengekan anaknya. Ia ikut merasa tidak enak dengan rengekan sang anak. Tapi dirinya nggak bisa apa-apa karena sudah di perintah sama suaminya sendiri.
“Sayang ... maaf banget, mommy nggak bisa bantu kamu sama sekali. Sudah cukup selama ini kamu sembunyi terus dari mereka. Sudah waktunya kamu keluar. Jadi, nggak apa-apa ya kali ini kamu ikut sama mommy dan daddy datang ke acara keluarga? Kamu nggak perlu lakuin apa-apa deh. Cukup ada di samping mommy sama daddy aja ...”
Zaina merengut.
Sudah rutinitas keluarganya untuk saling mengumpul tiap bulannya dan beberapa bulan sebelum nya, keluarga Zaina selalu absen karena sedang ada masalah dan takut malah buat Zaina semakin terpengaruhi. Tapi ... untuk kali ini daddy Zidan sudah nggak bisa mengelak lagi dan meminta mereka untuk ikut sama mereka mendatangi perkumpulan keluarganya.
“Mommy tahu sendiri ... dari dulu aja tante keliatan nggak suka sama aku. Pasti sekarang setelah ada masalah, tante makin lebih-lebih deh bully aku nya. Aku takut. Aku masih belum berani ketemu sama orang yang aku kenal. Beneran deh mom. Mommy sama daddy aja ya yang datang. Biarin aku di sini.”
“Datang Zaina! Nggak selamanya kamu bisa bersembunyi. Kamu harus menemui mereka. Kamu harus hadapin masalah, bukannya malah bersembunyi terus,” papar sang daddy yang keluar dari area dapur. “Sudah cukup selama ini kamu terus bersembunyi. Sudah waktunya kamu keluar dan ketemu sama mereka semua.”
“Aih ....”
“Zaina ... ayo lah, kamu sendiri yang janji ke daddy untuk ikutin apa yang daddy mau. Tapi, sekarang kenapa malah nggak mau nurut lagi? Daddy cuman mau kamu datang doang kok. Kita juga nggak nginep sama sekali. Cuman beberapa jam kamu harus bertahan, masa gitu aja nggak bisa sih?”
Zaina menghela napas kasar. “Terserah daddy kalau gitu ... aku nurut aja! Maaf kalau selama ini aku udah jadi anak yang nggak nurut.”
Zaina bangkit dan meninggalkan mereka. Wajahnya mengeras. Zaina beneran sangat kesal. Di sisi lain daddy nya itu memang selalu peduli sama dirinya bahkan memperlakukan semua hal dengan sangat baik, tapi terkadang daddy Zidan egois. Dia nggak akan pernah mikir posisi Zaina kalau misalnya menghadapi mereka semua.
Zaina masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal. Ia duduk di pinggiran kasur dan melempar boneka ke sembarang arah. “Sama orang yang nggak aku kenal aja, aku masih sakit hati sama pembahasan tentang anak aku. Apa lagi kalau keluarga aku sendiri yang ngomongin. Pasti aku sakit banget ... aish!”
Zaina yang merasa suasana rumah sangat sumpek dan malah membuat emosinya semakin meninggi memilih mengenakan cardigan, ia mengambil asal cardigan dari dalam almari dan mengenakannya.
Lalu ia pergi meninggalkan kamarnya.
“Mau ke mana kamu?” tanya daddy Zidan membuat langkah Zaina terhenti.
“Mau jalan-jalan sekalian nyiapin mental sebelum besok aku di babat habis sama keluarga besar aku sendiri,” ketus Zaina tanpa menoleh ke orang tuanya sama sekali dan melanjutkan langkah meninggalkan orang tua Zaina yang hanya saling menatap saja.
Sementara itu,
Beberapa pegawai di rumahnya menyapa Zaina dan perempuan itu hanya membalas dengan senyuman tipis. Mereka bertanya pada Zaina, tapi perempuan itu hanya melewati saja dan keluar dari pekarangan rumah.
Zaina terus melangkah asal sampai drinya berada di area yang jauh lebih ramai dan penuh akan ruko serta kafe. Zaina mengeratkan cardigan saat merasa hawa lumayan dingin. Ia mengadah kan kepalanya dan menghela napas kasar.
“Sepertinya sebentar lagi ujan ... kenapa, aku nggak ngeliat keadaan dulu sih. Mana udah jauh lagi dari rumah.”
Zaina pasrah dan memilih untuk melanjutkan perjalanan sampai menemukan kafe yang dia mau kunjungi.
Tapi langit malah semakin gelap, geluduk kecil mulai terdengar. Zaina semakin pasrah dan memilih berjalan semakin cepat sampai rintikan hujan mulai membasahi tubuh Zaina. Perempuan itu berlari melewati beberapa orang yang sudah berjalan dengan payungnya. Sampai Zaina menemukan sebuah halte dan memilih meneduh di sana terlebih dahulu.
“Hmm ... aroma tanah yang di basahi air hujan emang nggak pernah salah,” gumam Zaina sambil menghirup aroma menenangkan yang selalu menjadi favoritnya.
Entah kenapa, Zaina mulai membayangkan masa lalu di hidupnya. Sesekali ia tersenyum saat membayangkan hal menyenangkan. Tapi hatinya kembali sesak saat mengingat bagian sedih di hidupnya dan selama memikirkan itu semua Zaina hanya menatap kosong ke arah jalanan yang sudah basah, karena hujan semakin besar. Zaina menarik napas dalam. Dia baru sadar, saat memikirkan ini semua rasanya sangat sesak. Yang artinya kebanyakan jalan hidupnya berjalan menyedihkan. Ia benar-benar nggak tahu harus melakukan seperti apa.
Tapi ini sangat menyedihkan.
“Astagfirullah!” pekiknya saat sebuah tepukan ada di pundaknya. Pikirannya langsung buyar dan dia menoleh. “Eh?” kagetnya.
Di sana ada perempuan yang dulu menghakimi dirinya saat sedang pertemuan makan siang kala itu. Zaina mendesis. Kenapa dunia sesempit ini? di saat perasaan dirinya sedang kacau. Kenapa dia malah bertemu sama perempuan yang melukainya itu?
“Nona Zaina kan? Ya ampun ... ternyata nona kalau nggak lagi bekerja, pakaiannya seperti ini ya. tidak berwibawa sama sekali. Sudahlah ... nona Zaina ada di sini sedang apa? memangnya hari ini tidak bekerja? Kenapa nggak kerja? Ini jam kerja kan?”
“Nona—“ ucapan Zaina terhenti karena memang tidak tahu namanya siapa. “Maaf ... tapi aku manggil kamu siapa ya?” tanya Zaina hati-hati.
“Ya ampun ... jadi, kamu nggak tahu? Saya Restu. Dikira kamu mengenal saya, tapi nyatanya enggak. Bagaimana sih.”
Zaina nyaris mengumpat kasar, kalau nggak ingat orang di depannya ini adalah rekan kerjanya. “Maaf ya nona Restu ... saya nggak bisa mengingat semua orang. Apa lagi di sini posisinya aku ini anak baru. Jadi, aku masih belum mengenal semua rekan kerja ayah,” jelas Zaina dengan santai. “Dan juga ... mau aku bekerja atau enggak, harusnya nona nggak perlu tahu sih. Toh ayah aku aja nggak pernah maksa buat kerja terus di kantor dan itu perusahaan milik aku. Jadi, aku bisa bebas ngelakuin apa aja.”
“Ah ... otoriter,” seru Restu membuat Zaina diam-diam mengepalkan tangan. “Benar kata yang lain ya ternyata, kalau sepertinya perusahaan kamu ini bakalan hancur setelah di pegang sama kamu. Kasihan tuan Zidan.”
“Dan semua itu nggak ada hubungannya sama kamu,” seru Zaina lagi membuat Restu bungkam.
“Ya sudah lah ... saya lagi menunggu orang nih,” beri tahu Restu dengan santai.
Salah satu alis Zaina terangkat, ia memiringkan wajahnya. Ia nggak perlu tahu informasi tentang perempuan itu. Tapi untuk menghormati, Zaina hanya tersenyum tipis.
“Oh iya kamu masih deket nggak sama Mahen?” tanya Restu lagi.
Zaina menoleh, “aku rasa ... masalah ini kamu nggak perlu tahu dan memang nggak ada urusan nya sama sekali dengan kamu deh. Jadi, nggak perlu nanya-nanya kayak gini.”
Restu tertawa kecil. “Kenapa kamu sewot banget? Padahal di sini saya di sini mau kasih tahu kalau sekarang Mahen lagi dekat sama aku. Makanya saya nanya sama kamu. Soalnya ... Mahen nggak pernah cerita apa-apa tentang kamu sih. Mungkin, karena dia nggak mau tahu tentang kamu lagi ya? makanya dia nggak pernah cerita apa pun tentang kamu. Duh ... kamu nih benar-benar menyedihkan ya. Padahal kamu sudah memiliki orang sebaik Mahen. Tapi kamu malah selingkuh. Ya ... meman nggak pantas sih kalau orang sebaik Mahen malahan bersanding sama perempuan nakal kayak kamu.”
Jantung Zaina seperti ditikam, tapi perempuan itu memilih diam. Wajahnya semakin datar saat menatap Restu.
“Woah ... santai dong ngeliatnya. Saya cuman ngomong apa yang saya pikirin aja.”
“Ya ...,” balas Zaina tersenyum paksa. “Malahan bagus dong kalau aku pisah dari Mahen? Yang artinya kamu mendapat bekasan dari aku? Kalau aja sampai detik ini aku nggak melepas Mahen. Mungkin aja sampai sekarang kamu nggak akan bisa bersama dia. Iya kan?”
Restu terbelalak.
Tangan Restu terangkat membuat Zaina memejamkan mata, tapi malahan sebuah tepukan di pundak yang ia dapat. Dengan perlahan Zaina membuka mata.
“Mahen ... ternyata mantan kamu yang satu ini lucu banget ya,” pekik Restu membuat Zaina mengerutkan keningnya dan menoleh ke belakang. Ah ... pantas saja. Di sana ada Mahen yang berjalan menghampiri mereka dengan payung yang laki-laki itu bawa.
“Zaina? Ngapain kamu ada di sini? Bukannya tempat ini lumayan jauh dari mansion kamu? Kamu sedang apa di sini?” tanya Mahen dengan bingung. “Kamu nggak lagi berbuat yang aneh-aneh kan dan mengacau lagi?”