
"Eyang ada yang datang!"
Oma berbalik dan menatap orang yang dia kenal. Wajah marahnya langsung berubah tergantikan senyuman lebar. Secepat itu.
"Eh ada yang datang, ya ampun jeng ... ke mana aja? kenapa ngilang?" sapa oma lalu mempersilahkan duduk untuk mereka. "Kenapa nggak ada kabar selama ini? oma udah berusaha hubungin kalian loh. Tapi kalian nggak balas sama sekali. Jadi .. oma bingung harus nanya ke siapa. Ini kalian datang untuk omongin masalah perjodohan cucu saya kan?"
"Kayaknya perjodohan ini di batalkan saja."
Oma yang terkejut mendengarnya langsung menggeleng.
"Bentar deh ..."
Oma berusaha memahami peristiwa yang terjadi di sini. "Sebenarnya kalian datang untuk apa? membahas rencana yang kita buat kan? untuk menjodohkan anak kalian dan cucu oma? tapi kenapa kalian tiba-tiba menghilang dan sekarang datang untuk ngomong kayak gini. Kalian ini lagi bercanda apa gimana?"
Orang tua Sofyan menatap serius.
"Sepertinya memang dari awal kita udah egois untuk memaksakan mereka untuk menikah, padahal mereka sama-sama nggak mau. Jadi dari pada pernikahan ini berjalan nggak baik. Lebih baik kita selesai kan saja semuanya di sini."
Oma langsung panik dan menatap mereka dengan penuh harap.
"Oma yakin kalau seiring berjalannya waktu mereka bakalan baik-baik aja. Mungkin awalnya mereka bakalan menolak, tapi seiring berjalannya waktu saya yakin kalau mereka itu bisa saling menerima. Wajar kalau sekarang mereka masih menolak, tapi kalau terus bareng. Oma yakin kalau mereka bakal tumbuh perasaan cinta juga. Jadi ... jangan batalkan perjodohan ini. Kita udan setengah jalan, sayang kalau tiba tiba di selesai kan kayak gini," harap oma
Oma sudah memimpikan banyak harta yang masuk kalau pernikahan mereka terjadi. Bahkan oma sudah memikirkan mau liburan ke mana kalau cucunya itu jadi menikah sama anak dari pengusaha yang cukup kaya di kota mereka.
Masa setelah semua mimpi bahagia yang oma pikirkan, perjodohan ini batal?
Oma nggak akan membiarkan hal ini terjadi.
"Kalian pasti terpengaruh sama bujuk rayu anak kalian?" tuduh oma. "Seharusnya ... kalian itu nggak peduli sama bujuk rayu Sofyan. Mereka mana mengerti tentang hidup gitu. Kita sebagai orang tua dan saya sebagai oma tentu udah hidup jauh lebih lama di banding mereka."
"..."
"Jadi kita pasti udah sama-sama tau tentang kerasnya hidup di sini. Jadi apa salahnya kalau kita cuma mau yang terbaik untuk cucu dan anak kalian? Dan salah satu cara untuk jaga hidup mereka dengan menjodohkan mereka."
Bunda Sofyan langsung menatap suaminya itu, sedikit terpengaruh akan omongan oma Zaina.
"Kita nggak pernah tau gimana pasangan yang nanti di pilih sama cucu atau anak kalian. Bisa aja mereka cuma ngincar harta atau malah nyakitin orang yang kita sayang," balas oma lagi dengan cepat.
"Iya juga ya mas."
"Tuh ... oma nggak bermaksud untuk sombong. Tapi orang yang berduit kayak kita harus hati-hati, karena banyak yang incar. Kita nggak mau kan kalau orang yang kita sayang malah ke napa-napa karena ini? Jadi untuk meminimalisir kesedihan atau kejahatan ya cuma menjodohkan mereka yang pastinya kita udah mengenal satu sama lain. Jadi sama sama enak kalau ada sesuatu terjadi."
"Mas ... gimana ini? benar kata oma loh. Aku nggak mau ah kalau anak kita nanti di jahatin sama orang lain."
Oma tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan terkena tipu daya padanya, dia sana rela mengorbankan cucunya demi kebahagiaan dirinya!"
Dan detik itu juga oma terdiam, terkejut mendengar jawaban ayahnya Sofyan yang menghujam jantungnya.