Love In Trouble

Love In Trouble
Sisa Lima



Matahari terbenam menjadi saksi bisu bagaimana kedua bola mata Ghaly menelisik wajah Zaina, dengan sangat detail. Melihat tatapan khawatir Ghaly, Zaina memilih bungkam dan memfokuskan diri menatap ke depan.


Mereka masih di pinggir pantai dan mulai menyingkir dari ombak kecil. Tubuh yang tadi basah kini sudah mengering karena angin sepoi-sepoi terus mengeringkan mereka. Tak lupa Ghaly juga sudah memberikan jaketnya yang kering menyelimuti tubuh Zaina. Keduanya masih betah di sini, dari yang ada beberapa orang sampai kini mereka hanya berdua saja.


“Sudah lebih lega?” tanya Ghaly dengan suara berat


Zaina menoleh dan mengangguk. “Banget ... walaupun nggak bisa merubah semuanya. Walau pun takdir aku tetep berjalan dan nggak bisa menepis semua kesedihan. Tapi ini jauh lebih lega. Seolah teriakan aku udah didengar sama seisi pantai dan mereka turut menjaga semua cerita aku tadi.”


“Baguslah kalau begitu ... gue ikut lega dengarnya.”


Zaina mengucapkan terima kasih kembali.


“Gimana kalau malam ini kita bermalam di sini? Sudah malam, terlalu jauh kalau kembali ke mansion dan juga gue udah izin kok ke orang tua lu dan mereka udah kasih izin. Jadi sekarang tinggal dapet izin dari lu doang. Gimana?”


“Lu kapan sih ngomongnya?” seru Zaina. “Perasaan dari tadi kita terus bareng, tapi gue nggak ada tuh liat lu megang Hp,” seru Zaina dengan bingung.


“Sebelumnya, tadi pas kita belum pergi gue udah izin juga ke orang tua lu. Ya masa gue bawa anak orang tanpa izin, apa lagi orang tua lu udah kasih kepercayaan banyak ke gue. Jadi rasa nya gue jahat banget kalau gue nggak ngabarin om sama tante. Gue juga sekalian minta izin buat ajak lu nginep dan mereka kasih izin. Asal gue nggak macem-macem.”


“IYALAH!” Zaina mengepalkan tangan di udara. “Kalau macem-macem nih tangan langsung melayang ke lu.”


Ghaly terbahak. “Jadi gimana?”


“Ya udah ... tapi cari toko baju dulu. Mulai dingin nih sama lengket banget.”


***


Dan di sinilah Zaina sama Ghaly berada, di sebuah toko pakaian. Zaina keluar dari mobil dengan jaket yang menutupi tubuhnya. Benar-benar sangat menutupi tubuhnya karena ukuran tubuh Ghaly juga yang sangat besar.


“Cari bajunya yang panjang, kalau bisa yang buat kamu nyaman. Soalnya kita nggak boleh sakit. Sekalian habis ini gue mau beli obat juga buat lu.”


Zaina mengangguk. Akhirnya ia memilih kaos rajut lengan panjang dan celana training. Nggak lupa ia juga membeli kardigan lucu yang akan menyelimuti tubuhnya. Ia langsung membayar setelah memilih beberapa kaos juga untuk Ghaly. Dia keluar dan menunggu Ghaly di dekat mobil. Menatap Ghaly yang ada di toko seberang jalan.


“Hah ... andai aja kamu nggak ngecewain aku dulu.”


Zaina tersenyum tipis. Terkadang hatinya cenat-cenut saat Ghaly mentreatment dia layaknya ratu dan benar-benar selalu hati-hati dalam bersikap dan berucap. Zaina benar-benar di ratukan sama Ghaly. Tapi, sayangnya dia nggak pernah ada perasaan lebih selain menyayangi Ghaly layaknya seorang kakak. Karena semua rasa cintanya udah habis pas dulu Ghaly menyakiti dirinya.


“Aish ... seharusnya Ghaly jangan terlalu baik sama gue. Kasihan diri dia.”


Zaina memeluk tubuhnya sendiri. Matanya mengernyit saat Ghaly sudah keluar dari apotik tapi malah melipir ke supermarket bukannya menghampiri dia terlebih dahulu. Ia melihat laki-laki itu membeli sesuatu dan keluar dengan tangan yang sudah penuh dengan kantong belanjaan.


Zaina menggeleng. “Selalu ceroboh, begitu aja terus dari dulu,” ucap Zaina tanpa sadar saat melihat tubuh Ghaly oleng karena salah menginjak pijakan. Ia tertawa kecil.


“Hati-hati,” seru Zaina tanpa suara saat Ghaly menyebrang dan laki-laki itu hanya mengangguk kecil lalu menyebrang saat tidak ada yang lewat.


“Nih ... gue beli minuman hangat sama cemilan, takut nanti nggak ketemu restoran yang lu mau.” Ghaly mengeluarkan belanjaan dan beralih menatap ke arah Zaina. “Loh ... kenapa nggak ganti baju?” pekik Ghaly dengan suara tertahan. “Gue sengaja lamain belanja ke supermarket sekalian nunggu lu ganti baju. Tapi kenapa belum ganti baju juga. Ya ampun Zaina. Yang ada lu nanti sakit.”


“Ish elah, aku bukan anak kecil,” ucap Zaina sambil berbisik kesal.


“Udah cepat masuk sana, izin ke toilet. Ganti baju dan ini gue udah beliin minyak angin sama parfum buat lu. Pakai sana. Beli baju yang tangannya panjang kan? Di jamin nggak buat lu kedinginan lagi?”


Dengan malas Zaina mengangguk.


Ghaly mendorong tubuh Zaina ke arah toko baju tadi, “dah masuk sana, cepet ganti.”


Zaina menahan tubuhnya di pintu dan menoleh. Ia mengeluarkan kaos laki-laki dan dia berikan ke Ghaly. “Nih gue juga beliin lu baju. Lagian lu aneh banget, lu nyuruh gue beli baju dan cepet-cepet buat ganti. Tapi lu nya sendiri masih pakai baju yang lepek gini. Lu juga bisa sakit tau!”


“Gue laki-laki dan gue jauh lebih kuat.”


Zaina mencibir dan menaruh kaos Ghaly ke lengan laki-laki itu. “Tapi pakai!”


“Iya tuan puteri, makasih ya karena udah perhatian sama gue.”


“Hmm ...”


Zaina kembali masuk ke toko dan meminta izin untuk mengganti baju. Setelah di persilahkan ia langsung mengganti bajunya. Lalu bergantian sama Ghaly. Setelah semuanya beres, mereka berdua masuk dalam mobil dan kembali berkendara.


“Di sekitaran isni cukup sepi ya. Gue kira bakalan banyak restoran atau hotel. Malah kebanyakan villa gitu. Tapi, gue nggak berani ajak lu tinggal di villa. Mana cuman berdua di tengah Villa yang super gede di sekitar sini.”


Zaina terkikik.


“Di sini kan lingkungan orang kaya jadi wajar kalau memang banyak villa yang gede dan jarang restoran. Mendingan kita ke pusat kota dulu, nggak jauh kan dari sini?”


Ghaly mengangguk.


“Sambil nunggu ada yang jualan makanan, mendingan lu makan dulu aja deh itu cemilan. Lumayan buat ngisi perut lu yang kosong.”


Zaina mengangguk dan membuka kantung belanjaan. Banyak cemilan di sana. Ia merobek bungkus roti dan menoleh pada Ghaly. Nggak mungkin kan dia makan sendiri di saat Ghaly masih fokus dengan berkendara. Ia nggak seegois itu.


“Lu?”


“Hah?” tanya Ghaly menoleh sebentar dan kembali fokus ke jalan.


“Iya ... masa gue sendiri yang makan. Gue nggak mau lah. Udah lu makan aja.”


Zaina mencibir dan mau nggak mau ia mulai makan. Setengah rotinya sudah habis dan dia semakin merasa nggak enak. Akhirnya setelah melewati berbagai pertimbangan, Zaina memotong roti dan mendekati ke mulut Ghaly.


“Gue nggak seegois itu Zaina. Kita pergi pas masih pagi dan belum ada makan sama sekali. Masa sekarang cuman gue doang yang makan. Jadi lu udah diem aja, fokus nyetir. Biar gue yang suapin. Bilang aja kalau haus. Ini banyak kok.”


Ghaly menelan saliva. Hatinya berdebar, tapi dia berusaha mengabaikan perasaan ini dan bersikap seperti biasanya. Zaina sudah mencurahkan semuanya dan kalau dia jujur akan perasaan nya yang ada Zaina jadi nggak nyaman dengan dirinya.


Ghaly terus menerima suapan dari Zaina. Perempuan itu juga nggak lupa memakan sisa cemilan. Mereka makan dalam diam. Tak ada yang bersuara sama sekali. Yang ada mereka hanya mendengar suara hening di sekitaran mereka.


***


Setelah mendekati pusat kota, akhirnya Zaina sama Ghaly menemukan sebuah hotel. Tepat di depan hotel tersebut ada pusat jajanan padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mereka terlebih dahulu mendatangi pusat jajanan. Ghaly memesan makanan dan Zaina yang mencari tempat duduk.


“Gimana hari ini?” tanya Zaina lagi


“Sangat menyenangkan,” ucap Zaina sambil tersenyum lebar. “Aku sama sekali nggak bisa ngebayangin kalau ada hari di mana aku bisa mengeluarkan semua uneg-uneg aku. Padahal ini bukan hari libur panjang. Cuman hari minggu doang dan besok kita harus kembali bekerja. Tapi kita bisa lewatin ini semua. Bener-bener di luar bayangan aku.


Ghaly tertawa. “Aku seneng dengernya, tapi aku minta maaf banget kalau kamu jadi capek nantinya. Apalagi besok udah kerja dan kita paling pulang pagi buta banget.”


Zaina menggeleng.


“Nggak perlu ... besok kita nggak usah masuk. Tadi daddy sendiri yang bilang ke aku, soalnya aku sama kamu butuh istirahat. Perusahaan nggak ada CEO sehari juga nggak masalah. Kata daddy sih gitu. Jadi, kita bisa pulang siangan aja. Pokoknya setelah puas istirahat.”


Ghaly berseru riang. “Nanti bilang makasih ya sama om. Makasih udah ngertiin kita.”


Zaina mengacungkan jempol.


Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka datang dan mereka makan dengan tenang sesekali bercanda dan setelah makan selesai. Mereka masih menunggu di sana. Menunggu makanan turun dan mereka juga sedikit males langsung pergi. Toh hotel yang akan mereka tempati ada di belakang mereka. Jadi, tak terlalu jauh.


“Oh iya ... dari tadi lu nanya sama gue. Nanya gue dalam keadaan baik nggak? nanya gue bahagia nggak. Tapi gue baru sadar kalau nggak ada yang nanya ke lu. Jadi, lu sendiri gimana? Lu baik nggak? setelah ngelwatin ini semua. Lu jauh lebih baik kah?”


Ghaly menghela napas dan merenggangkan tubuhnya lalu menatap Zaina kembali.


“Bukannya gue udah jelasin ya, kalau keadaan gue bakalan baik-baik aja asal lu juga baik. Jadi, nggak usah nanya gue ini itu. Karena kalau lu bahagia, gue pasti bahagia.”


Zaina menggeleng.


“Jangan begitu Ghaly, beneran deh,” ucap Zaina dengan serius. “Kita ini bukan anak kembar yang bisa sharing perasaan. Kita hanya dua orang berbeda yang nggak punya perasaan sama. Jadi lu nggak bisa ngandelin kebahagiaan gue. Lu juga harus bahagia Ghaly. Gue beneran tertekan kalau lu kayak gitu.”


“Zaina ... setelah apa yang gue perbuat di masa lalu. Gue beneran nggak peduli sama perasaan gue sendiri. Gue ngaku salah besar sama lu dan akhirnya memusatkan hidup gue sama lu. Ini sebagai permintaan maaf gue ke lu. Jadi, jangan merasa nggak enak ya. Karena sekarang gue cuman utamain lu.”


Zaina menolak dengan tegas.


“Nggak bisa gitu Ghaly,” ucap Zaina dengan kesal. Masih banyak yang perempuan itu mau lakukan. Itu pun kalau dia masih hidup. Bagaimana setelah Zaina melakukan yang dia mau? Yaitu pergi dari dunia ini. Tidak, Zaina sama sekali tidak mengizinkan Ghaly untuk memusatkan hidupnya untuk dia. karena laki-laki itu bakalan jatuh juga saat dirinya pergi.


“Kenapa Zaina? Kamu nggak peduli mikirin gue dan kamu juga nggak perlu ngerasa nggak enak. Jangan pernah mikirin kalau gue ini hidup di bayang-bayang kamu. Kamu bisa bebas ngelakuin apa aja.”


Zaina menarik napas dalam.


“Gue beneran makasih banyak sama lu karena udah peduli sama perasaan gue dan udah perhatian banget sama gue. Dari jaga kesedihan gue sampai nggak mau ngeliat gue sih. Tapi ini jadi beban, beneran deh ... gue juga mau lihat lu bahagia tanpa gue.”


Zaina menatap jauh ke arah jalanan dan tersenyum tipis.


“Bukankah kedengaran bahagia kalau gue nanti datang ke rumah lu di saat lu udah nikah dan punya anak?” ucap Zaina pelan. “Banyak yang harus lu raih. Gue beneran udah maafin lu dan gue punya satu permintaan sama lu.”


“Apa itu?” tanya Ghaly yang bingung.


“Gue mau kembali rukun sama lu, tanpa bawa masa lalu,” ucap Zaina dengan suara tertahan. “Lu mau lihat gue seneng kan? Dan ini salah satu permintaan gue. Gue mau kalau kita mulai jalanin hidup tanpa bawa kesedihan itu. Gimana?”


“Asal lu bahagia, gue bakal lakuin,” jawab Ghaly sambil mengangguk kecil


“Okei ... deal ya?”


“Deal!”


***


Saat ini Zaina sudah berada di salah satu kamar dan Ghalu berada di kamar lainnya. Bukan memilih istirahat Zaina malah membuka note di ponselnya yang berisi tulisan apa saja yang mau dia lakuin sebelum menemui anaknya itu. Dia membaca satu per satu dengan saksama dan baru sadar kalau semua yang terpampang di sana sudah ia penuhi beberapa nomor.


2. Kembali rukun sama Ghaly, tanpa bawa masa lalu


6. Liburan bareng Ghaly


Tanpa sadar Zaina tersenyum saksama. Dia sudah melakukan dua dan sisa tinggal lima lagi yang harus dia lakukan. Zaina mengigit bibir bawahnya sambil mencentang di note tersebut.


“Aku bakal lakuin dari yang menurut aku gampang dan sisanya aku bakal lakuin di akhir. Sebelum akhirnya aku ketemu sama anak aku di sana.”


Zaina memekik riang dan melempar asal ponselnya dan tiduran di kasur. Ia menatap langit langit kamar sembari sesekali tersenyum tipis. Banyak hal yang harus dia lakukan, tapi dengan sudah melakukan dua dari tujuh membuat Zaina semakin semangat untuk melakukan yang lain. Dia harus mewujudkan semuanya. Terutama dia akan melakukan apa yang membuatnya bahagia.


“Tungguh bunda ya nak,” ucap Zaina pelan sambil menghela napas. “Tunggu sebentar aja, nanti biar bunda dateng ke tempat kamu. Karena bunda nggak mau kamu kesepian lagi. Kamu harus melakukan yang terbaik. Bahagia terus ya nak di atas sana. Karena bunda nggak akan biarin kamu sendirian terus.”


Zaina tiduran menyamping dan mencengkram kuat ujung bantal. Ia tertawa miris.


“Bunda janji akan nemuin kamu, nak.”