Love In Trouble

Love In Trouble
Keluarga Sang Ayah



Mahen beralih menatap sang bunda, mencari kejujuran di matanya dan sang bunda malah membalas dengan tatapan super serius. Membuat Mahen langsung bangun dan duduk menyila di atas tempat tidurnya. Ia menarik napas dalam.


Akhirnya yang ditunggu tiba juga.


"Bunda ...," rengek Mahen


Bunda Mina yang paham sama maksud anaknya langsung beralih duduk di pinggiran kasur.


"Bunda nggak bisa apa-apa, nak. Kamu tahu sendiri betapa keras kepalanya nenek kamu? keluarga besar ayah kamu itu masih terlalu kolot. Mereka masih percaya banyak pepatah dan mereka juga masih berpikiran rendah. Ya ... namanya juga mereka yang hidup di tengah adat budaya yang kental membuat pikiran mereka nggak terbuka luas."


Laki-laki itu tersentak dan mengangguk.


Bersyukur dirinya dulu mengajak bunda dan ayahnya untuk meninggalkan rumah yang memiliki banyak aturan tersebut dan cukup membuat hidup mereka terkekang.


Untung saja Mahen masih bisa menyelamatkan orang tuanya dan pikiran orang tuanya masih belum mengikuti keluarga besar sang ayah.


"Tapi bun ..." Ia menghembuskan napas kasar. Sudah susah mau mengatakan seperti apa juga. Karena pada dasarnya, keluarga besarnya sangat tidak menyukai Zaina.


Mahen jelas mengingat dan sangat tahu kalau semua sepupu perempuannya tidak ada yang kuliah. Mereka hanya berpendidikan paling terakhir di bangku SMA. Memang tak ada yang salah sebenarnya. Hanya saja, pemikiran mereka yang selalu mengatakan 'untuk apa kuliah tinggi-tinggi kalau nanti ujung-ujungnya berakhir di dapur juga' itu sangat salah.


Mahen menghela napas kasar dan menggeleng pelan.


"Susah bun ... tadinya aku memang mau bawa Zaina ke rumah nenek sama yang lain. Pokoknya ketemu keluarga besar ayah. Tapi aku takut malah nambah masalah lagi buat ke depannya."


"Bunda tahu sendiri kalau posisi aku sama Zaina yang sekarang itu nggak mudah. Hubungan kita benar-benar banyak gonjang-ganjing yang buat kita hampir nggak bersama. Banyak hal yang buat aku sama Zaina hampir renggang."


Mahen mulai duduk menyandar di kasurnya dan memandang jauh ke arah depan.


"Kadang aku ngerasa, kenapa banyak banget hal yang halangin aku sama Zaina. Aku juga nggak ada niatan sih buat menyerah. Tapi, terkadang juga capek. Ya ... walaupun sekarang, semua kesulitan di masa lalu tuh terbayar juga karena hubungan aku sama Zaina yang kurang baik ini."


Bunda Mina mengangguk pelan. Merasa sedih akan anaknya. Siapa yang tidak sedih kalau melihat anaknya yang sendu seperti ini?


Bunda Mina menepuk pahanya dan laki-laki itu sigap tiduran dengan paha sang bunda yang menjadi bantalan.


"Kamu anak bunda yang paling hebat. Kamu keren karena udah bisa sejauh ini jaga hubungan kamu sama Zaina dan bunda sangat yakin kalau nanti ke depannya hubungan kalian akan baik-baik aja dan kamu nggak perlu tuh ngerasa sedih lagi. Karena akan ada saatnya kamu bahagia. Bunda sangat yakin!"


Mahen tersenyum simpul dan mengangguk.


Dirinya juga yakin, akan ada saatnya nanti hubungan ia sama Zaina benar-benar tenang tanpa harus memikirkan banyak masalah baru atau apa pun yang memusingkan mereka.


Mahen yakin, apa yang mereka lewati selama ini akan membuahkan hasil yang sangat indah. Sampai Mahen dan Zaina melupakan semua hal yang dulu menghalangi hubungan mereka.


Dia sangat yakin dan Mahen tidak pernah menyesali semuanya sama sekali. Karena dia rela, sungguh rela melakukan ini semua.