
Laki-laki itu kini sudah berada di depan rumah Restu. Mahen tidak langsung masuk dan memilih terus berusaha untuk menenangkan diri dengan menarik napas dan menghembus kan berulang kali. Dia benar-benar harus berekspresi dengan baik di hadapan Restu, supaya perempuan itu makin percaya dengan tingkah dirinya. Tapi ... ini sangat membuat Mahen merasa lelah.
Setelah Mahen tersenyum lebar, berbeda dengan hatinya yang terasa mendung. Kini laki-laki itu memilih untuk masuk ke dalam apartemen Restu. Tenang, Restu tinggal sama asistennya yang perempuan. Dan ada kakak laki-laki dari perempuan itu yang sering ada di apartemen sini. Jadi, ya Mahen tidak sendirian. Toh, kalau sendirian juga. Mahen ogah untuk datang ke sini, ia lebih memilih untuk bertemu di luar saja.
Ah sudah lah ...
Begitu masuk, laki-laki itu langsung menarik napas dalam dan tersenyum lebar.
"Restu ..."
Perempuan itu berbalik dan memekik. "Mahen, udah datang? Ya ampun, nggak nyangka bakalan secepet ini. Eh, kenapa aku nggak bisa ngehubungin kamu? Tumben banget. Biasanya juga langsung bales pesan aku gitu."
"Ah itu ... baterainya habis, jadi sengaja nggak di bawa. Memangnya kamu ngirim chat apa?"
"Bukan apa-apa sih," jawab Restu yang langsung memeluk lengan Mahen dengan mesra, membuat laki-laki itu hanya bisa menahan diri. Supaya nggak kelepasan.
"Ah, terus kamu nyuruh aku ke sini buat apa?" tanya Mahen lagi sambil melirik ke seisi apartemen ini.
"Oh iya! aku lagi buat brownies untuk kamu. Ini belum selesai, aku ke belakang dulu deh. Kamu duduk dulu aja. Anggap aja apartemen sendiri, nggak apa-apa kan? Kalau aku tinggal?"
Dengan perlahan Mahen mengangguk dan sedikit memaksa Restu untuk melepaskan tangan perempuan itu yang masih saja melingkar di tubuhnya.
"Oh iya Restu," panggil Mahen membiat langkah perempuan itu berhenti.
"Iya?"
"Boleh minjem HP nggak?" tatapan memicing dari Restu buat Mahen berusaha mengontrol ekspresinya. "Bukan buat macem macem kok. Mau main game aja. Bosen nonton TV. Mau main HP. Kamu percaya kan sama aku? Aku nggak mungkin macam-macam sama HP kamu."
Mahen berharap dalam hati supaya bisa di pinjamkan ponsel dan dengan cepat dirinya akan menaruh suatu data yang bisa ke transfer ke laptop asistennya.
"Kamu masih kurang percaya ya sama aku?" tanya Mahen lagi dengan nada yang pura-pura sedih.
"Bukannya begitu."
"Ya terus? kenapa cuman minjem HP aja nggak boleh? apa usaha aku selama ini kurang di mata kamu? apa aku masih keliatan nggak percaya sama kamu? apa kamu masih mikir kalau aku ini masih sama kayak dulu lagi?"
Mahen terus membujuk sampai Restu merasa nggak enak sendiri.
"Tapi kamu beneran nggak akan macem macem kan Mahen? Kamu nggak bakalan berpaling sama aku? Kamu bakalan jadi milik aku doang? Bukan orang lain?"
"..."
"Bahkan di tengah kegiatan aku yang benar-benar punya banyak kerjaan. Aku rela loh datang ke sini dan aku juga sering sama kamu. Aku udah usaha banyak banget dan ini balasan dari kamu? Ya ampun Restu ..."
Restu menggeleng sedih dan menghampiri Mahen. Ia keluarkan ponsel dari kantung celananya.
"Ih iya enggak, aku percaya kok sama kamu. Jangn gini dong. Aku jadi sedih tahu nggak sih. Nih kanu bebas pakai HP aku. Aku beneran percaya sama kamu! Dan juga ... kalau butuh laptop aku, ambil aja di kamar. Ambil aja sendiri. Gak apa-apa kok."
Rasanya saat ini Mahen mau berteriak dengan kencang. Ia berhasil.
"Beneran kan aku boleh pakai laptop kamu? sekalian ada kerjaan yang mau aku cari dulu gitu. HP sama laptop kamu loh yang aku pinjam. Ini nggak masalah?"
"Iya Mahen, nggak masalah ..."
***
Senyuman tak pernah terlepas dari wajah Mahen. Bukan karena dirinya senang karena ada di dekat Restu. Tapi karena dia sudah mengirimkan semua data HP sama laptop Restu ke asistennya. Biar selanjutnya asistennya yang cari video yang di maksud.
Saat ini Mahen hanya berharap supaya video yang di maksud sama Restu itu memang ada di antara laptop sama HP milik perempuan itu. Karena dirinya udah mulai muak ya karena harus bersikap baik sama Restu, perempuan yang jelas jelas udah menyakiti Zaina.
"Kamu kelihatan seneng banget sih," seru Restu yang datang lalu duduk di depan Mahen. "Sedikit aneh ngeliat kamu yang seneng banget kayak gini. Karena biasanya kamu cuman diam aja, atau fokus sama HP kalau lagi sama aku. Sampai aku mikir kalau kamu ini cuman terpaksa baikan sama aku."
"Mana ada kepaksa," jawab Mahen dengan sewot.
"Ya kan aku kira ... soalnya kadang masih ngerasa aneh, kalau ngeliat kamu yang tiba-tiba berubah pikiran dan milih nggak peduli sama perempuan itu dan milih aku. Ya, aku seneng sih. Tapi kayak aneh aja."
"Tuh kan ... aku yang mau berubah, malah di bilang aneh. Memang aku yang serba salah."
"Ih bukan begitu."
Restu mengusap tengkuknya. Jadi merasa nggak enak sama Mahen.
"Kamu tuh selalu ngulang ngomong yang sama," ucap Mahen lagi membuat Restu semakin merasa nggak enak. "Kayak semua usaha aku tuh selalu salah di mata kamu."
"Bukan gitu ..."
"Sekarang aku mau nanya deh sama kamu," ucap Mahen dengan wajah serius. "Sebenarnya, apa yang kamu mau?"