Love In Trouble

Love In Trouble
Bencana Hari Ini



Saat ini, hujan tiba-tiba turun sangat deras. Mahen yang di pinta untuk mendatangi kamar Zaina langsung saja buka pintu kamarnya dengan berdoa pelan. Dia melirik Zaina yang masih tersembunyi di balik selimut dengan rambut yang mencuat dari dalam.


Mahen tersenyum sangat tipis dan mengacak pelan rambutnya dengan asal. "Bangun, Zaina."


Teringat lagi omongan orang tua Zaina yang mengatakan kalau perempuan itu susah tidur dan karena itu, Mahen langsung saja melangkah mundur dan menutup pintu kamar Zaina lagi.


Tak mau mengganggu nya sama sekali.


Mahen yang keluar dari kamar mandi langsung mendatangi meja makan, tempat di mana orang tua Zaina yang masih berkumpul. Ia melirik ke arah depan, hujan deras sedikit membuat dia terganggu.


"Kenapa belum bangunin Zaina?" tanya mommy Nadya sambil menuang teh pada cangkir mungil. "Mau teh? untuk hangatin perut kamu. Sedikit aneh, karena tiba-tiba hujan. Jadi, teh hangat minuman yang tepat untuk kita konsumsi. Mau?"


Mahen mengangguk tanda mau. Dengan permisi, ia ikut duduk di antara mereka.


"Masih belum bangun Zaina nya," jawab Mahen sembari tersenyum simpul. "Alarm di HP nya bunyi sih, tapi kayaknya Zaina masih ngantuk. Jadi, tadi aku yang matiin. Terus juga, aku inget omongan tante yang bilang kalau Zaina susah tidur. Makanya aku keluar aja deh. Kasihan Zaina. Kayaknya biarin dia buat puasin tidurnya."


Mommy Nadya mengernyit dan langsung naik ke lantai kamar anaknya dan langsung masuk ke kamar Zaina. Benar saja, Zaina; anaknya masih tertidur pulas di balik selimut. Hanya rambutnya saja yang menyembul dari balik selimut.


Perasaan mommy Nadya entah kenapa jadi nggak enak. Dia duduk di pinggiran kasur dan menatap ke arah anaknya itu.


"Nak ... Zaina, bangun yuk." Mommy Nadya mengguncang tubuh Zaina. "Bangun yuk, nak. Ada Mahen di depan."


Zaina tidak bergeming.


Jantung mommy Nadya mencelos dan semakin berdegup kencang.


"Nak?" panggil nya dengan suara yang semakin memelan. "Anak mommy sayang?"


Masih tidak ada respon.


Dengan tangan gemetar mommy Nadya menyibuk selimut dengan perlahan. Suaranya tercekat melihat anaknya sepucat kertas dengan tubuh yang sudah dibanjiri keringat dingin. Masih dengan sangat gemetar, mommy Nadya melangkah maju. Jari mommy Nadya perlahan mendekat ke arah hidung Zaina. Mommy Nadya nyaris nggak merasakan hembusan napas sama sekali.


Mommy Nadya memejamkan mata. Berusaha mengontrol jiwanya.


Kemudian jarinya bergerak ke arah leher Zaina, mencari tempat di mana detak jantung yang seharusnya ada.


Pelan, lemah, nyaris tidak bernyawa.


Mommy Nadya langsung melempar selimut ke arah lantai. Namun dua bungkusan yang ikut terbang di balik selimut langsung saja mengalihkan perhatian Nadya.


Strip obat yang mommy Nadya kenali sebagai obat alergi dan demam hanya menyisakan dua butir saja di dalam dan sisa nya benar-benar kandas. Mommy Nadya melirik ke arah anaknya dan beralih kembali menatap obat itu.


Pikiran buruk kembali menghantui dirinya.


"Aku juga ngantuk, bun. Aku mau tidur. Tapi aku nggak bisa!"


Butuh dua detik, mommy Nadya merinding saat mengingat omongan anaknya kala itu. Sebelum teriakan perempuan itu mengudara membuat dua laki-laki yang ada di depan sana langsung mendatangi dirinya.


***


Mommh Nadya, yang sejak tadi berada di dalam dekapan Daddy Zidan terus saja menangis, di antara bising rumah sakit. Sejak tadi mommy Nadya tak berhenti menatap tangannya sendiri yang terus bergetar bahkan ketika Zaina di dorong untuk masuk ke dalam ruang UGD.


Mommy Nadya merasa gagal dalam menjaga anaknya.


Memori perempuan tua itu seakan terputus karena kejadian tadi, mommy Nadya hanya mengingat sekelebat. Teriakan panik Mahen dan deru langkah daddy Zidan dan Mahen yang saling bersahutan. Suara ambulan yang berisik di antara derasnya hujan. Suami nya yang menenangkan dia. Dan Mahen—


Lalu putus, mommy Nadya tidak mengingat apa-apa lagi.


Pikirannya di penuhi dengan wajah pucat anaknya yang setia memejamkan mata sampai masuk ke dalam ruang UGD.


"Sayang? Jangan kayak begini. Nanti yang ada anak kita sedih ngelihat kamu yang kayak gini," ucap daddy Zidan sambil mengusap punggung istrinya. "Kamu minum, ya."


Mommy Nadya seakan nggak punya kekuatan untuk menjawab sekali pun.


Suara langkah kaki terdengar menghampiri mereka. Mahen yang sejak tadi mengurus keuangan dulu langsung berlutut di depan orang tua Zaina yang juga berlutut, "gimana sama keadaan Zaina? Dia nggak apa-apa kan?"


Tidak ada yang menjawabnya


Mahen menghembuskan napas kasar.


Mahen memejamkan mata, melihat orang tua Zaina yang sebenarnya sangat kacau. Dengan mommy Nadya yang benar-benar kacau sampai tak bisa di tanya sedikit pun dan daddy Zidan yang sejak tadi berusaha menguatkan istrinya. Walau sama kacaunya.


Mahen berbalik dan memijat keningnya.


Bukan ini yang dia inginkan.


Dengan perlahan Mahen kembali mendekati orang tua Zaina. Ia duduk, melipat kakinya seperti sedang sangat memohon karena masalah ini. Ia taruh dua lengannya di atas paham. Terlihat sangat menyesal.


"Om ... Tante ... sepertinya kedatangan aku membawa masalah lagi. Mungkin memang aku yang nggak di takdirin sama Zaina. Atau memang aku yang membawa pengaruh buruk bagi Zaina. Jadi, kalau memang hal itu terjadi. Aku beneran minta maaf."


Daddy Zidan menarik napas dalam dan menepuk pundak Mahen.


Ia menggeleng pelan.


"Tidak ... kamu datang di waktu yang sangat tepat. Kamu memang harus melihat keadaan Zaina yang seperti ini dan nggak cuman itu saja. Kamu yang tadi langsung gerak cepat untuk membawa Zaina ke sini. Sangat berbeda dengan om yang bingung. Karena ... sakit rasanya melihat Zaina yang seperti ini."


Mahen kembali bungkam.


"Kamu jaga Zaina dulu ya. Ada yang mau om lakukan sambil ajak mommy nya Zaina."


"Mau di bawa ke mana aku, mas?" seru mommy Zaina sambil menatap suami nya dengan tatapan protes. Dia menggeleng, nggak mau meninggalkan anaknya sama sekali.


Daddy Zidan tersenyum sangat tipis dan membawa mommy Nadya untuk bangun.


"Sudah ikutin mas saja. Ada yang mau mas, bicarakan sama kamu."