Love In Trouble

Love In Trouble
Permintaan Zaina



Hidup terasa jauh lebih lega setelah mengungkapkan isi hati dan keresahannya sama Ghaly. Zaina juga memilih untuk terus menyimpan kejadian ini di dalam hati dan pikirannya. Tak mau dia jelaskan pada Mahen, walaupun berulang kali Mahen bertanya karena penasaran. Tapi seperti janji yang di lontarkan Zaina dan Ghaly waktu itu. Mereka tidak akan menceritakan hal ini pada siapa pun. Biar lah masalah ini mereka sendiri yang menyimpannya dengan baik.


"Tapi sayang," rengek Mahen sambil mendorong troli belanjaan mereka dan mengikuti langkah Zaina yang lebih dulu mencari bahan masak di rak supermarket. "Mas kan penasaran banget, soalnya semenjak kamu pulang dari sana itu. Kamu kelihatan bahagia banget. Mas jadi penasaran, ada apa gitu?"


Langkah Zaina terhenti membuat Mahen yang ada di belakangnya ikut terhenti.


"Intinya apa pun yang aku lakuin sama Ghaly, itu tentang kesedihan dan kekacauan kita di masa lalu. Aku udah janji sama Ghaly untuk nggak bahas ini dan biarlah masalah ini kita berdua yang simpan. Jadi, aku nggak mau ingkar karena udah janji ... tapi kamu tenang aja, ini beneran cuma sekedar itu aja kok. Kamu nggak perlu cemburu."


"Tapi kan ..."


Zaina mengusap pipi Mahen untuk memintanya percaya saja sama dirinya. Seolah terhipnotis dengan tatapan Zaina pada akhirnya Mahen mengangguk pelan.


"Ya udah ... kalau memang itu yang kamu minta, mas bisa apa kan? seenggaknya mas tahu kalau nggak ada apa-apa pas kamu di sana sama Ghaly dan kalian nggak ngomongin apa pun yang buat mas percaya."


Zaina tersenyum simpul dan menatap suaminya dengan begitu bangga.


"Tenang aja ya mas ... aku beneran nggak ke napa-napa kok. Tenang aja," ucap Zaina lagi. "Udah lah nggak usah mikirin iti, masa setelah kita lama nggak ketemu karena sama-sama sibuk. Sekarang date kita malahan ngomongin orang lain sih. Nggak seru."


"Iya deh ... mas minta maaf sama kamu. Nggak lagi mas kayak gitu. Kita omongin masalah kita aja."


Zaina berterima kasih pada kekasihnya itu yang sudah mau mengerti.


Mereka kembali berjalan dan menelusuri rak sampai Zaina ingat sesuatu dan kembali berhenti. Membuat Mahen nyaris menggerutu karena hampir menabrak kekasihnya itu yang tiba-tiba berhenti.


"Sayang!" seru Mahen dengan jantung berdegup kencang.


Kalau saja refleks dia tidak bagus, pasti sekarang bagian depan trolinya sudah mengenai kaki Zaina.


"Kalau berhenti itu bilang sayang," marah Mahen perlahan lalu meraup wajahnya. "Kalau kena kaki kamu, yang ada tuh kaki kamu jadi sakit. Makanya jangan kayak tadi ya. Ya ampun ... untung mas refleks belokin ke arah lain. Kalau nggak, ya kamu yang kena nantinya."


Zaina hanya terkekeh dengan polosnya, membuat Mahen gemas sendiri dan tanpa sadar mengacak rambut kekasih nya itu.


"Kenapa? kamu mau ngomong apa lagi. Sampai tiba-tiba berhenti kayak tadi?" tanya Mahen dengan sangat lembut


"Aku tiba-tiba ingat omongan Ghaly waktu itu dan mau minta sesuatu sama kamu. Semoga kamu mau ngabulinnya deh."


Mahen mengangguk. "Iya? kenapa? kasih tahu aja mas."


"Mas kamu mau kan jadi teman dekat Ghaly?" tanya Zaina pelan sambil melirik takut-takut pada kekasihnya itu pasal nya sampai detik ini Mahen suka masih cemburu sama Ghaly. Padahal antara dirinya sama Ghaly sudah tidak ada apa-apa. Jadi terkadang Zaina ingin kalau kekasihnya ini nggak perlu cemburu lagi sama Ghaly.


"Kenapa begitu?" tanya Mahen balik dengan nada suara yang sudah membuat Zaina ketar ketir.


Perempuan itu berusaha mengabaikan tatapan orang tua dan orang di sekitar mereka yang menatapnya dengan sangat sinis.


"Pokoknya ... karena waktu itu, aku jadi tahu kalau Ghaly ini selalu ngerasa sendirian di sini. Ya memang kenyataannya begitu. Aku tahu kalau dia jarang dan susah buat berteman. Tapi aku nggak tahu kalau dia benar-benar kesepian kayak gitu."


"..."


"Selama ini dia berusaha hilangin kesepian dia di sini dengan kerja terus dan pokoknya dia bakal ngelakuin banyak hal yang buat dia sibuk banget. Aku beneran agak kasihan sama dia. Masalahnya, posisi dia di sini kalau lagi kacau atau keinget sama almarhumah adek. Dia selalu berusaha ngelakuin hal nggak wajar. Makanya aku minta kamu buat temanin dia dulu."


Mahen menatap serius.


"Bentar deh ... ngelakuin hal nggak wajar gimana?" tanya Mahen yang masih kaget sebenarnya. "Dia baik-baik aja kan?"


Zaina mengangkat bahu, dia memang tidak tahu. Karena Zaina jelas tahu kalau masalah kemarin saja masih ada yang di sembunyikan sama Ghaly.


Laki-laki itu terlalu menyembunyikan banyak hal sendiri.


"Aku beneran nggak bisa ngasih tau kamu, mas. Ini tentang janji dan aku nggak mau mengingkarinya. Intinya dia nggak baik-baik aja dan dari semua masalah yang ada di hidup Ghaly. Aku sadar kalau masalah itu bisa hilang salah satu nya dengan punya teman cerita."


"..."


"Kamu bayangin deh ... kalau aku lagi kacau, inget adek yang udah ada di atas. Aku bakalan datang ke orang tua aku buat nyeritain kesedihan ini atau aku bakalan datang ke kamu dan kalian terus aja menenangkan aku. Aku punya kalian untuk menumpahkan segala kesedihan. Sementara Ghaly?"


"..."


"Kalau ada masalah, dia cuma diem doang dan nggak bisa apa-apa. Padahal kalau punya masalah dan di pendem sendiri tuh rasanya nggak enak banget. Makanya aku tuh nyuruh kamu buat jadi teman Ghaly tuh. Seenggaknya biar dia ada teman dan nggak ngelewatin ini sendiri."


Mahen terdiam.


Laki-laki itu juga jadi membayangkan betapa kesepiannya Ghaly selama ini. Di tengah masalah yang menimpanya, tapi dia harus tetap sendiri membuatnya semakin frustasi.


Dalam hati Mahen membenarkan omongan Zaina. Tapi dia masih bingung, karena sungguh dirinya terkadang cemburu sama sosok Ghaly. Karena mau bagaimana juga, kekasihnya dan Ghaly inj memiliki masa lalu yang cukup serius.


Melihat kekasihnya yang diam saja membuat Zaina menarik napas dalam.


"Kamu nggak perlu khawatir mas, sungguh. Aku udah nggak ada apa-apa lagi sama Ghaly kalau memang itu yang kamu khawatirin. Aku udah sayang dan terhipnotis banget sama kamu. Jadi, buat apa aku berpaling? cuma kamu mas. Ngak ada yang lain. Aku udah anggap Ghaly sebagai kakak aku. Makanya ... sebagai seorang adik aku mau yang terbaik untuk kakaknya dan aku nggak mau kakak aku ke napa-napa. Makanya aku ngelakuin ini. Nggak apa-apa kan? Kamu mau kan?" tanya Zaina dengan penuh harap.


Mahen merangkul Zaina dan tersenyum simpul.


"Aku bakal lakuin apa yang kamu mau, tenang aja."