Love In Trouble

Love In Trouble
8 - Sikap Yang Berubah



"Tidak ada nona ... saya sudah berusaha cari serajin mungkin. Tapi sepertinya Ghaly sudah pergi jauh dan nggak tahu ada di mana. saya minta maaf kalau ini mengecewakan nona. Tapi ini lah fakta yang harus nona terima."


Zaina memijat keningnya. Harus seperti apa dia mencari Ghaly. Apa kekasihnya itu benar-benar pergi tanpa pamitan sama sekali dengan dia?


Zaina menatap orang suruhannya itu, "ya sudah ... terima kasih atas kesediaan kamu membantu saya. Saya harap kamu nggak berhenti mencari sampa sini dan kalau ada kabar tentang Ghaly langsung kabari saya. Karena saya sungguh ingin bertemu dengan dia."


Orang itu mengangguk dan memilih untuk berpamitan, menyisakan Zaina yang udah menarik napas dalam. Dan duduk di halaman belakang rumahnya yang tidak terjangkau.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku sama sekali di batasi pergerakannya sama mommy dan daddy. Aku nggak boleh keluar dan aku nggak mau lagi melanggar mereka, aku nggak mau buat mommy sama daddy semakin kecewa sama aku. Aku akan mengikuti apa yang di mau sama mereka. Tapi ... tetap aja rasanya aku benar-benar hancur. Aku mau mencari Ghaly."


“Seenggaknya ... aku harus minta tanggung jawab sama dia.*


Perempuan itu menutup wajahnya, menahan semua rasa bingung yang menggebu.


"Dari kemarin, aku memang merasa kuat sama semua ini. Bahkan masalah hamil aja aku nggak mau menyalahkan siapa-siapa termasuk anak tak bersalah ini," ucap Zaina laku mengusap perutnya itu dengan penuh kasih sayang. "Tapi tetap aja semua ini terasa beban bagi aku dan mungkin kalau ada Ghaly. Semuanya nggak akan seberat ini."


"Apalagi kalau pada akhirnya Ghaly nggak mempermasalahkan ini semua. Dia menerima dengan baik dan nggak kabur kayak gini. Pasti aku malah senang, walau hamil di luar nikah itu salah. Tapi impian aku buat menikah sama Ghaly bisa terwujud."


"Tapi kalau kayak gini ... Aku bisa apa? Semuanya di limpahkan ke aku dan Ghaly benar-benar meninggalkan semua pada aku. Ya ... dia memang memberi sebuah kenangan. Kenangan yang bahkan aku nggak tahu harus suka atau enggak. Dia kasih anak ini ke aku tanpa memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya dan bagaimana respon dia. Sungguh, aku beneran benci fakta ini."


Zaina nggak tahu lagi. Terkadang Zaina masih sayang sama Ghaly dan berharap laki-laki itu kembali. Tapi di sisi lain dia seperti udah nggak peduli lagi sama apa yang di lakukan sama Ghaly.


Kenyataan bahwa terakhir kali Ghaly sadar kalau dirinya mengeluarkan di dalam dan malah memilih pergi, buat Zaina benar-benar membenci laki-laki yang tak bertanggung jawab itu.


Karena semua anggapan Ghaly itu benar terjadi, tentang dirinya yang hamil dan sekarang harus menangung semuanya sendiri.


"Aku nggak masalah kalau pada akhir nya harus jadi single parent untuk hidup berdua sama anak aku dan fakta kalau mungkin nanti nggak bakalan ada pria yang datang untuk menikah sama aku. Karena tahu keadaan aku yang asli."


"Aku juga sanggup, mencari nafkah kalau pada akhirnya mommy sama daddy mengusir aku dari rumah ini dan aku harus mengurus semua nya sendiri. Aku juga janji nggak akan bawa pergi anak ini dan selamanya dia akan bareng sama aku."


Tapi ada satu yang buat Zaina nggak sanggup berasa di titik ini.


Zaina menunduk, perasaannya jadi campur aduk kayak gini.


"Kenapa sikap mommy sama daddy jadi berubah sama aku?" tanya Zaina dengan sedih. "Aku bisa menghadapi semuanya tapi aku nggak sanggup melihat mommy sama daddy yang kayak gini."


Dulu ... Zaina merasa kedua orang tuanya terlalu cerewet.


Pernah di satu titik, Zaina tidak sengaja membentak mereka dan memintanya diam karena Zaina yang pusing sama semua pertanyaan mereka. Walau dia langsung meminta maaf beberapa jam kemudian.


Tapi, tetap saja ingatan itu membuat zaina merasa bersalah hingga detik ini. Bahkan ... Sekarang Zaina merindukan kala itu. Dia nggak masalah akan di tanya sebanyak apa. Karena Zaina mau mendengar suara cerah mommy dan daddy nya lagi saat bertanya sama dia. Bukannya malah diam dan bertanya sesaat lalu pergi gitu aja.


Zaina merasa canggung di rumahnya sendiri. Zaina nggak nyaman sama sekali dan mau pergi begitu saja dan memulai hidup baru.


"Bukan maksud aku meninggalkan mommy sama daddy gitu aja. Tapi aku mau kalau aku nggak menjadi suatu penyebab yang nantinya buat mommy sama daddy jadi malu kan?"


Zaina mengelus perutnya dan menarik napas dalam.


"Anak ini memang belum ada satu bulan di perut aku. Perut aku juga masih rata dan nggak mungkin ada yang tahu. Aku juga tahu kalau cepat lambat nanti ini anak bakalan di ketahui banyak orang dan semua ini akan berakhir buat mommy sama daddy menanggung malu karena perbuatan yang aku lakukan."


Zaina menutup mulutnya dan menangis.


Bukan lagi menangisi nasib dia. Karena Zaina mulai menerima keadaan dia yang kayak gini.


Dia lebih menangis untuk kedua orang tuanya dan membayangkan semalu apa mereka hanya karena tingkahnya yang kayak gini.


"Selama hidup ... aku sama sekali ngak pernah buat mommy sama daddy senang. Aku juga selalu egois dan marah atas pilihan mommy sama daddy, padahal di sini mereka selalu kasih aku yang terbaik."


Zaina memandang ke langit, begitu biru dan sangat indah.


"Hanya saja ... aku kurang bersyukur atas semua hal. Aku benar-benar anak yang nggak baik. Aku jahat sama orang tua aku. Aku pembangkang. Bahkan kini aku membuat mereka malu."


Perasaan perempuan itu semakin tak menentu.


Kepalanya semakin pusing kalau udah kayak gini.


Keringat dingin mulai memenuhi kening perempuan itu.


Zaina berusaha bertahan dengan terus menggenggam kursi yang dia duduki. Napasnya semakin memburu, tapi Zaina sama sekali nggak sanggup untuk kembali ke kamarnya. Dia benar-benar merasa lemah dan pada akhirnya milih untuk diam di sana dan berusaha untuk menghilangkan semua rasa pusing yng begitu menggebu.


"Tidak Zaina ... kamu harus kuat dan jangan membuat orang kesusahan karena kamu lagi. Kamu harus kuat dan nggak boleh menyerah sama sekali. Kalau kamu menyerah sama saja kamu membuat semua orang kesulitan lagi."


Zaina terus memperingatkan dirinya. Bahkan kini hawa di tubuhnya sudah sangat nggak enak dan begitu dingin. Di tambah perutnya yang malahan semakin sakit. Dia seakan di remas begitu kuat.


Hingga pada akhirnya rasa pusing itu semakin menyergap dan Zaina mulai tak tahan.


Mata yang terbuka itu mulai menutup hingga kesadaran Zaina benar-benar menghilang dan suara teriakan semua orang yang panik karena Zaina jatuh tiba-tiba dari kursi.


"ZAINA!"