
“Saya di sini perwakilan dari perusahaan H akan menjelaskan situasi yang terjadi,” ucap Mahen dengan tegapnya duduk di depan banyak wartawan yang sejak tadi terus merekamnya dari depan sana. “Saya akan membereskan situasi buruk yang akhir-akhir terjadi sampai semua orang merasa penasaran,” lanjutnya lagi lalu menarik napas dalam.
Mahen menatap sekitaran, begitu banyak kamera yang menyorotnya. Membuat ia sangat gugup. Mahen memejamkan mata, terus menanam pikiran sama dirinya sendiri. Kalau semua ini akan baik-baik saja.
Dengan perlahan, laki-laki itu bangkit dan merapihkan jas hitamnya. Ia menunduk cukup lama, sebagai permohonan maaf karena selama ini sudah membuat ricuh berita yang ada. Ia menunduk sangat lama sampai panggilan dari asisten dia membuatnya bangkit dan menatap semua kamera itu.
“Saya di sini ingin meminta maaf pada semua orang yang terganggu dengan masalah ini. Saya juga tidak mengira kalau masalah ini akan menjadi sebesar ini. Karena saya mengira, jika saya diam akan membuat masalah kembali tertutup. Tapi nyatanya masih banyak yang penasaran sama semua ini, membuat masalah menjadi semakin besar. Jadi kedatangan saya di sini untuk menjelaskan, apa yang sebenarnya terjadi dan saya membebaskan semua wartawan untuk bertanya. Bertanya tentang apapun yang membuat kalian penasaran.”
Semuanya memilih diam dan fokus sama laptop masing-masing. Fokus mengetik dari setiap ucapan yang dinyatakan Mahen.
“Asal ... saya harap, semua orang di sini nggak akan pernah mengungkit masalah ini lagi kalau semuanya udah jelas. Jadi, tolong berhenti. Saya nggak suka kalau masalah keluarga saya menjadi bahan gosip untuk kalian semua.”
Asisten Mahen yang sejak tadi berada dibelakang Mahen, langsung mengambil alih mikrofon.
“Jadi untuk siapa pun yang memiliki pertanyaan, silahkan ditanyakan saat tuan Mahen sudah menjelaskan semuanya. Di sini kami harap, tidak ada pertanyaan diluar permasalahan dan juga. Sesuai arahan dari tuan Mahen, kalau tidak akan ada lagi yang memperbesar masalah lagi jika semuanya udah dijelaskan.”
“Baik ...”
Mahen kembali duduk dan menoleh ke balik tirai. Di sana ada orang tua Zaina dan orang tuanya yang sudah mengangguk. Mereka di sana untuk memberi dukungan pada dirinya. Bahkan orang tua Zaina sudah mengikhlaskan dan membiarkan Mahen untuk menceritakan semuanya. Supaya tidak ada lagi gosip buruk yang tertuju pada anaknya.
“Ehem ... baik, akan saya mulai.”
Mahen menarik napas sebelum menarik mikrofon untuk kembali mendekat ke mulutnya.
“Beberapa bulan yang lalu, saya bertemu dengan Zaina. Kami saling mencintai satu sama lain dan memutuskan untuk melanjutkan perjodohan. Ya ... awalnya kami hanya dijodohkan. Bukan untuk kepentingan perusahaan. Tapi orang tua kami hanya ingin memperkenalkan satu sama lain. Tidak lebih sama sekali. Mereka membiarkan kita untuk mau lanjut atau enggak. Dan nggak ada paksaan sama sekali.”
Semua wartawan itu dengan sigap mengetik di laptop masing-masing.
“Pada akhirnya ... saya dan Zaina memutuskan untuk lanjut. Dan jika yang ingin kalian tanyakan tentang kehamilan itu. Ya, saya tahu kalau kondisi Zaina saat itu sedang hamil. Dia hamil dengan mantannya. Laki-laki tak bertanggung itu pergi meninggalkan Zaina dalam kondisi hamil.”
Mahen kembali berdiri dan menunduk sopan.
“Untuk kali ini saya tidak membenarkan masalah ini, jadi tinggalkan keburukannya saja.”
Mereka semua mengangguk.
“Tapi ... di posisi ini saya sama sekali nggak pernah memperdulikan kondisi Zaina dan menerima Zaina sepenuhnya di hidup saya. Toh, anaknya nanti juga akan menjadi anak saya,” ucap Mahen sambil tersenyum miris. Nyatanya anak yang dulu ia harapkan kini malah pergi meninggalkan dirinya dengan luka begitu dalam. “Saya sama Zaina benar-benar bahagia untuk sesaat. Sampai saya rasanya tidak tahu harus menyebutkan kesedihan di hidup saya seperti apa. Karena sebahagia itu saya.”
“Jadi ... buat semua orang yang mengatakan kalau Zaina beruntung mendapatkan saya dan saya hanya rugi mendapat Zaina. Itu benar-benar salah. Karena nyatanya saya sangat beruntung mendapat Zaina sebagai calon saya. Dia perempuan satu-satunya yang memahami saya.”
“Lanjut ... harusnya, kami sudah menikah. Beberapa hari yang lalu waktu pernikahan kami. Tapi nyatanya semua tidak berjalan sesuai rencana. Karena tiba-tiba perusahaan nenek saya, menyatakan kalau saya akan tunangan dengan perempuan bernama Alfi. Di sini keadaan semakin kacau.”
Semua wartawan di sana terkejut melihat Mahen yang menitikan air mata.
“Kalau saya jelaskan. Di sini saya akan memberi tahu kalau perempuan bernama Alfi itu memang selalu dijodohkan nenek dengan saya, semenjak dulu. Tapi memang saya terus menolak. Bukan karena durhaka, tetapi ini hidup saya. Hidup pernikahan saya, saya yang menjalani. Oleh karena itu, saya nggak mau menerima. Tapi, saya tidak paham. Kenapa nenek saya tiba-tiba memposting hal itu dan membuat keadaan semakin kacau.”
“...”
“Hingga terdapat berita lagi yang mengatakan seseorang menguntit wanita saya, di saat Zaina sedang menenangkan diri? Untuk siapa pun itu, saya akan mencari orang itu sampai dapat. Saya nggak akan membiarkan siapa pun orang yang mencuri privasi seseorang dan itu sudah cukup parah.”
“Intinya saat itu keadaan tiba-tiba jadi kacau dan nggak berjalan sesuai yang saya mau.”
Semua wartawan dan mengangguk sambil terus mengetik.
“Dan, mungkin sebagian dari kalian sudah tahu akan masalah yang dibuat Zaina. Dan Zaina menangis hebat sambil menceritakan semuanya. Saat ini saya paham. Saya sangat paham kenapa Zaina melakukan semua itu. Dia hanya frustasi dan nggak kuat atas tekanan yang di dapat dari kalian semua. Ia menganggap dengan jujur akan semuanya membuat hidup dia makin tenang.”
“Tapi nyatanya ... tidak, kalian malah mengatakan banyak hal jahat sama Zaina,” ucap Mahen dengan sangat sesak. “Semuanya semakin marah dan lepas kendali, termasuk saya,” ucapnya lagi dengan sangat sesak.
“Saat itu saya—
“Tuan?” panggil asistennya. Di rencana yang mereka buat, semua keluarga udah janji untuk nggak menceritakan masalah ini karena tahu Mahen nggak akan sanggup. Tapi, kenapa Mahen malah menceritakannya? Oleh karena itu, asisten Mahen berusaha memperingati.
Tapi Mahen menggeleng, “Tidak Rama ... biar saya ceritakan semua ini, biar semua orang paham apa yang terjadi dengan Zaina saat ini dan salah satunya juga karena ketikan jahat kalian sudah membuat seorang perempuan merasa tertekan. Bahkan harus di dampingi sama dokter psikolognya.”
Ruangan tersebut kembali hening, semua wartawan ikut merasakan sakit hati mendengar suara gemetar Mahen. Bahkan mereka menjadi merasa bersalah karena sudah menjadi perantara masalah ini muncul.
“Dan kalian semua tahu! Saat ini Zaina sedang koma!” pekiknya dengan suara gemetar membuat semua wartawan di sana teriak memekik, sangking terkejutnya. Bahkan beberapa dari mereka ada yang menitikkan air mata. “Anak yang selalu kalian kutuk udah ada di syurga. Kalian selalu mengatakan kalau bakal ada hal buruk yang terjadi pada hidup Zaina kan? Dan sekarang semuanya udah terjadi. Gimana? Apa kalian puas? Apa kalian senang karen akhir nya Zaina merasakan semua ini?”
Mereka bungkam.
“Kalian jahat ... kalian sama saja seperti pembunuh. Dan mulai sekarnag saya akan mencari siapa pun orang yang mengetik jahat ke Zaina. Jika dulu, Zaina selalu melarang saya untuk memenjarakan orang itu. Tapi, kali ini saya nggak akan segan. Siapa pun yang udah menyakiti keluarga saya. Saya akan membawanya ke jalur hukum.”
Mahen menarik napas dalam dan menenggak air. Berusaha menenangkan diri dan menahan diri supaya nggak meledak-ledak. Ia kembali menatap mereka.
“Jadi ... silahkan jika ada yang ingin ditanyakan. Sesi pertanyaan dibuka.”
Mereka diam.
Beberapa wartawan di sana sudah cukup puas sama apa yang dikatakan Mahen dan sebagian dari mereka lagi. Sudah tidak tega untuk bertanya hal lain kepada Mahen. Mengingat gimana emosinya Mahen dalam mengatakan semua itu.
Mereka hanya takut.
Tapi salah satu dari mereka mengangkat tangan, membuat Mahen berdecih. “Silahkan ...”
“Bagaimana dengan anggapan publik tentang perempuan yang hamil di luar nikah?” tanya orang itu membuat Mahen mendengar keberisikan dari belakang tubuhnya. “Bagaimana dengan norma yang ada? Bukankah itu sangat memalukan? Lalu ... bagaimana dengan orang tua nona Zaina? Apa ada masalah, apa mereka sama sekali nggak peduli tentang anaknya?” seru orang itu membuat Mahen memiringkan wajah.
“Berani—
Suara dengung dari mikrofon membuat semua orang menutup telinga. Karena mikrofon yang ada di depan Mahen tiba-tiba saya dirampas sama Bunda Nadya yang udah berdiri di belakang sambil menatap mereka.
“Bunda?” kaget Mahen.
Bunda Nadya hanya melirik lalu kembali menatap tajam wartawan yang tadi bertanya. Perempuan yang melahirkan Zaina itu menatap benci pada wartawan yang baru saja mengajukan pertanyaan kurang ajar itu.
“Saya tekankan sekali lagi ... saya sama sekali nggak pernah membenarkan perbuatan anak saya. Tapi saya hanyalah seorang ibu yang memiliki hati lemah. Bagaimana saya bisa masih bisa menyalahkan anak saya di saat kondisi dia sedang sendiri? Saya kecewa sama Zaina. Tapi masalah saya marah sama dia, bukan urusan anda bukan?” tanya mommy Nadya yang langsung membuat wartawan ini menciut.
“Sekarang saya tanya sama semua orang di sini ... siapa yang memiliki anak di rumah?” tanya mommy lagi dan beberapa pekerja di sana mengangkat tangan.
“Saya ingin bertanya ... kalau anak kalian sampai melakukan suatu kesalahan yang sangat mengecewakan kalian. Apa kalian bakalan marah dan mendiamkan selamanya? Atau kalian akan kecewa beberapa hari, tapi jika sudah tenang kalian akan memaafkan dia.”
Diantara beberapa orang di sana langsung memilih opsi kedua.
“Nah .. anda bisa melihat sendiri. Mungkin anda masih muda dan belum menikah. Tapi anda harus tahu, jika anda sudah memiliki anak. Hati anda akan melemah. Bahkan melihat anak anda menangis saja akan menyakiti hati kalian. Harusnya saya yang tanya sama kalian. Apa etis saya mengusir anak saya karena masalah ini? tidak kan ... Zaina juga pantas untuk mendapatkan permohonan maaf dari kalian. Jadi, kalian tidak perlu ikut campur sama masalah ini.”
Mereka diam.
“Sebenarnya saya sama sekali nggak mau speak up, karena Zaina sendiri yang selalu meminta saya untuk sabar. Tapi saya sangat tidak tahan sama semua orang yang udah mengatakan buruk tentang anak saya!” omelnya membuat daddy Zidan menghampiri istrinya sambil mengusap punggung istrinya itu. “Dan ... perbuatan yang anak saya lakukan memang mengganggu hidup kalian!”
“TIDAK KAN!” pekiknya.
Mommy Nadya meringis.
“Ini hidup anak saya dan nggak ada urusan sama kalian. Saya dan suami saya tetap nerima apa pun yang di lakukan sama Zaina. Zaina tetap anak kami. Kami juga yang merawat anak kami dengan baik. Jadi, kalian nggak perlu komen ini itu. Sekarang Zaina sedang bertahan hidup dengan terus berusaha. Jadi, saya harap nggak ada salah satu dari kalian yang menghujat Zaina lagi.”
Konferensi pers hari itu diakhiri dengan Mahen beserta yang lain menunduk, meminta maaf serta tangisan mommy Nadya yang masih terdengar. Hingga orang tua Mahen memilih keluar dan mengambil mikrofon yang ada.
“Jadi ... sekali lagi, saya akan menegaskan kalau berita pertunangan antara anak saya dan Alfi itu hoax. Karena sampai saat ini anak saya masih memiliki hubungan bersama Zaina. Kami terus menunggu sampai Zaina sadar dan satu lagi ... mohon doakan supaya calon menantu kami sadar dan kembali sehat.”
Tanpa memikirkan semua wartawan yang ada di sini, Mahen beserta yang lain langsung keluar diiringi penjagaan yang ketat. Mereka harap konferensi pers hari ini akan membawa kebahagiaan dan membuat semua masalah selesai.
Ya, mereka harap begitu.
Kini fokus mereka hanya akan ada pada kesembuhan Zaina. Hanya itu yang utama.