Love In Trouble

Love In Trouble
Akhirnya Sadar



"Bagaimana? pasti setelah bicara berdua. Kalian jadi kenal satu sama lain kan. Lebih ngerasa seneng dong? Nggak ada yang harus di tolak lagi kan? Karena kalau kalian ngerasa nyambung satu sama lain. Mendingan kita langsung gas pol aja."


Zaina tersedak mendengar omongan oma nya.


"Maaf sebelum nya, saya sama Sofyan sepakat untuk berteman lebih dulu. Tidak ada kata selanjutnya untuk pinang meminang. Karena kami nggak mau kalau keputusan singkat cuman membawa masalah baru aja. Perlu ada otak yang harus membenahi semua ini."


"Tapi ... kalian benar benar udah di jodohin satu sama lain."


"Dan kalian merasa kayak gitu. Nggak kayak aku yang sama sekali nggak tau berita ini sama sekali. Tolong hargai saya. Karena saya masih berusaha mencerna baik hal ini."


"Sudah ... Sudah ... lebih baik kita makan dulu. Masalah ini bisa di omongin nantian."


Mereka semua setuju pada akhirnya. mommy Nadya sigap menunjukan posisi dapur ke mereka. Saat mau mengikuti dari belakang. Mommy Nadya malah di tarik sama oma.


Zaina masih melihat itu semua. Tapi dia terlalu malas untuk ikut campur dan pada akhirnya dia hanya melirik dan duduk di kursi meja makan lalu memainkan ponselnya. Tanpa peduli orang tua Sofyan yang udah saling lirik itu. Sedang kan Sofyan menendang kaki Zaina.


Sayang, Zaina hanya melirik sebentar tanpa mau menjawab sama sekali. Toh buat apa dia berlaku baik di depan mereka? Yang ada malah buat orang tua Sofyan menyukai diri nya kan? Toh dirinya ini kan lagi mode jahat supaya gak di sukain mereka. Bisa berabe kalau mereka sampai suka dan pada akhirnya malah melanjutkan perjodohan ini.


Tidak ... Zaina tidak mau sama sekali.


Sedangkan itu,


Oma menarik menantu nya itu. Dengan pasrah mommy Nadya mengikuti tarikan sang mertua. Sampai mereka berhenti di balik tangga yang tentu saja keliatan sedikit tersembunyi dan orang di dapur nggak akan melihat mereka.


"Nih ... kalau sampai Zaina yang berulah, saya nggak akan maafkan kamu. Bukan kah dari awal perjanjian nya. Hal ini akan berjalan lancar? Tapi ke napa dengan bodoh nya kamu malah nggak bilang sama Zaina tentang pertemuan ini? Kan lihat anak kamu. Jadi kayak gini. Dia bertingkah semau dia. Duh, bikin malu saja."


"Bu ... kan ibu sendiri yang suruh Nadya jangan beri tahu Zaina. Karena nanti Zaina malah kabur. Ibu sendiri kok yang kasih tau Nadya. Tapi, kenapa sekarang ibu malah kayak gini? Kenapa ibu malah balik nyalahin aku? Padahal Nadya hanya ikutin apa yang di pinta sama ibu."


"Oh ... Kamu berani ngebalikin omongan ibu? Jadi gini ya. Katanya kamu mau ngelakuin apa pun supaya ibu bisa baik sama kamu. Tapi, baru kayak gini aja. Kamu udah nuduh ibu. Ibu nggak habis pikir sama kamu. Memang sepertinya kamu ini nggak punya otak ya."


Mata mommy Nadya terbelalak, dia tidak menyangka kalau semua nya akan berakhir seperti ini dan membuat dirinya juga jauh lebih sulit kayak gini.


"Bu ..."


"Kenapa?! Kamu mau marah lagi sama ibu? Padahal semua yang ibu bilang itu memang benar adanya. Pokoknya ibu nggak mau lagi denger kalau anak kamu bertingkah. Ibu nggak mau kalau dia bikin malu saja. Ibu beneran bakalan marah kalau dia bertingkah dan akhirnya cuman bikin malu aja. Kamu beri tau dia. Cukup jadi anak yang sopan dan nurut sama permintaan yang satu ini!"


"Nadya nggak janji! Awalnya Nadya bakalan nurutin semua permintaan ibu. Tapi ternyata ibu malah kayak gini. Dan sekarang Nadya nggak masalah kalau ibu nggak sayang lagi sama Nadya. Karena Nadya akan jauh lebih mentingin perasaan anak Nadya!"


Mommy Nadya beranjak begitu aja membuat sang oma langsung memekik, menahan amarah yang begitu sangat menggebu itu.


***


"Kan ... apa mas omongin. Kalau ibu tuh cuman manfaatin kamu dan kalau dia nggak dapetin yang dia mau. Malahan kamu yang terkena sasaran nya. Jadi, mas rasa sudah cukup sampai detik ini. Kamu harus lebih utamain Zaina di banding permintaan ibu yang nggak ada habis nya sama sekali itu."


Mommy Nadya menatap penuh penyesalan pada suaminya itu. Ia benar benar menyesal karena sudah mengabaikan mereka semua. Padahal maksud mereka semua sangat baik dan demi kebaikan hubungan keluarga mereka. Tapj sayang ego yang dia miliki malah membuat diri nya itu lupa diri.


"Cuman karena mau di perlakuin sama kayak istri dari adik adik kamu itu. Aku sampai rela ngelakuin semuanya. Aku kalap mas. Aku ngorbanin kebahagiaan anak aku demi hal ini. Sekarang semua nya udah terjadi. Apa yang harus aku lakuin? Aku takut kalau Zaina membenci aku karena hal ini."


Daddy Zidan yang baru pulang dari kantornya itu mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuhnya. Sekalian membiarkan sang istri untuk menangis. Bukan karena jahat.


Tapi memang itu yang biasa daddy Zidan laku kan.


Setiap ada orang yang buat salah. Dia akan mendiamkan orang yang salah itu sampai menangis. Nanti selama dia nangis juga pasti orang itu akan mikirin hal yang udah dia lakuin dan semua kesalahan yang udah dia perbuat. Baru deh saat sadar nanti Daddy Zidan akan mendekat dan memenang kan orang itu.


Sepeninggal suaminya,


Mommy Nadya duduk di pinggiran kasur.


Wajah nya yang mulai keriput itu sangat mengisyaratkan kesedihan mendalam. Ia pandang figura sang anak yang terlihat sangat indah itu. Ia tersenyum getir.


"Ya ampun, nak. Betapa bodoh nya mommy karena udah berlaku jahat sama kamu. Pasti selama ini kamu tersiksa ya. Karena ulah mommy yang nggak ada otak ini. Padahal nggak seharus nya mommy ngorbanin perasaan kamu demi kebahagiaan mommy sendiri."


Mommy Nadya menutup wajahnya dan mulai menangis.


Ia benar benar sangat sedih karena masalah ini. Dia nggak bisa membayang kan bagaimana nanti ke depannya. Kalau hubungan dirinya sama Zaina akan menjadi renggan karena ulah yang dia lakukan. Kali ini Mommy Nadya benar benar merasa sangat bodoh.


"Andai aja mommy nggak tergiur sama bujuk rayu oma kamu. Pasti sekarang kamu nggk perlu ngerasain sedih kayak gini. Kamu pasti nggak merasa kesulitan kayak gini. Padahal ... baru saja kamu ngerasain hal yang lebih baik setelah persidangan itu selesai. Tapi, sekarang mommy ini malah nambah masalah di hidup kamu."


Mommy Nadya terus menepuk kening nya. Sangat bodoh.


Benar kata ibu dari suaminya itu, kalau diri nya nggak punya otak. Karena kalau dirinya punya otak. Ia nggak akan lakuin hal ini sama sekali. Karena ada hal lain yang jauh lebih bisa ia lakukan. Salah satunya yaitu. menyatukan Zaina sama Mahen.


"Ya ampun ... bagaimana kalau hubungan Mahen sama Zaina juga semakin memburuk karena masalah ini? Ya ampun, kenapa aku nggak berpikiran sejauh itu? Padahal selama ini yang udah baik sama Zaina dan laki laki yang sejauh ini bisa memperlakukan Zaina dengan baik ya cuman Mahen ini."


"Sudah ... kamu nggak usah nyalahin diri kamu lagi. Anggap aja ini sebagai pembelajaran yang harus kamu pikirin lagi. Biar ke depannya kamu nggak asal ikutin apa yang ibu mau. Karena ibu nggak sebaik yang kamu kira. Dia cuman bisa manfaatin orang yang menurut dia bisa di manfaatin gitu. Jadi, kamu jangan pernah terpengaruh sama dia."


Mommy Nadya menarik napas dalam.


"Tapi, mas ... aku beneran nggak menyangka kalau ibu kamu bakalan bertindak sejauh itu. Sungguh mas. Aku beneran mau punya hubungan baik sama mertua. Bahkan di umur pernikahan kita yang udah dua puluh tahun lebih. Aku tetap mau memperlakukan orang tua kamu dengan baik."


Mommy Nadya menunduk.


"Dan ... di sini kamu tau kalau aku sudah nggak punya orang tua lagi. Jadi, seperti kata para ulama. Kalau mertua itu sama aja seperti orang tua kita. Jika orang tua kita sudah nggak ada kita bisa berlaku baik sama mertua kita. Tapi kenapa sampai detik ini ibu kamu nggak pernah izinin aku sama sekali."


"..."


"Betapa bahagia nya waktu itu. Pas dulu aku dengar ibu bakal berbuat baik sama aku. Walau aku harus nurutin kemauan nya itu. Aku sama sekali nggak pernah mau mikir yang aneh. Aku cuman mau ikutin aja apa yang terjadi. Aku cuman memikirkan kalau ikutin kemauan ibu kamu. Pasti mendapat balasan yang setimpal. Pasti aku bakal dapetin apa yang aku mau selama ini."


Daddy Zidan menarik kursi dan duduk di hadapan mommy Nadya. Istrinya itu benar-benar terlihat sangat kasihan dan dirinya nggak bisa apa-apa selain berusaha untuk menenang kan Nadya.


"Aku juga nggak paham, apa yang sebenarnya ada di otak ibu. apa yang dia mau. Karena sampai tega jahat gini dan aku juga nggak bisa datang ke sana untuk sekedar marah atau—


"Jangan mas," sela mommy Nadya yang masih aja nggak mau mertua nya itu ke napa-napa.


"Nah ... yang kayak gini harusnya ibu tau. Kalau kamu beneran sesayang itu sama ibu. Ibu harus nya tau kalau di sini ada menantu nya yang sangat tulus di banding para menantu lain yang cuman incer harta doang. Tapi ibu tuh selalu tutup mata."


"Aku cuman nggak tega aja, mas. Aku nggak mau kalau pada akhirnya kamu sama ibu punya hubungan yang buruk karena aku. Aku nggak mau jadi penghalang di antara kalian itu. Aku beneran nggak mau sama sekali."


Daddy Zidan mengangguk.


"Iya sayang ... mas juga nggak mau ke sana karena itu cuman nambah masalah doang. Jadi, dari pada mikirin mereka. Kamu harus nya bisa lebih tegas sama ibu. Kalau ibu berani datang ke sini lagi. Kamu kasih tau mas. Biar mas yang di kantor bisa langsung datang ke sini. Biar mas yang hadepin."


Mommy Nadya sedikit terhibur sama tingkah suaminya itu.


"Jadi ... apa yang harus aku lakuin mas untuk ke depannya? Aku sungguh nggak mau Zaina jadi benci aku karena hal ini. Aku beneran takut banget. Aku sudah buat anak itu sedih atas kebodohan aku. Gimana kalau nanti Zaina malah benci banget sama aku karena hal ini?"


Daddy Zidan mengusap punggung istrinya itu.


"Kamu tenang aja, kayak yang nggak kenal Zaina aja. Dia bakal maafin kamu. Dia nggak akan pernah sama kamu. Dia anak yang baik. Jadi, kamu sama sekali nggak perlu panik atau khawatir. Lebih baik kamu sekarang datang ke kamar Zaina dan minta maaf sama dia. Dari pada kamu malahan pusing sendiri. Semakin lama mala buat Zaina semakin jadi overthinking. Lebih baik kamu sekarang datang ke kamar nya dan minta maaf."


Mommy Nadya melirik ke arah jam.


"Sekarang banget nih?"


Daddy Zidan mengangguk. "Kenapa? Kamu masih ingat kan kalau Zaina paling nggak bisa tidur cepet? Jadi ... dari pada di nanti-nanti. Mendingan sekarang kamu ke sana."


***


Akhirnya mommy Nadya turun ke bawah. Dia sengaja membuatkan teh hangat madu untuk Zaina. Supaya anak nya tidak terkena insomnia lagi. Dengan perasaan tak menentu. mommy Nadya naik ke lantai dua, menghampiri kamar anaknya itu.


Ia berhenti tepat di depan kamar Zaina.


Tangan nya terlihat ragu sebelum mengetuk pintu. Ia berdoa di dalam hati.


Sangat sadar kalau tidak mungkin anaknya itu marah sama dirinya. Nggak mungkin kalau Zaina akan mengutuk apa lagi sampai marah membentak yang bahkan banyak di lakuin anak seumurannya.


Mommy Nadya juga sangat tahu kalau anaknya itu sangat baik. Memiliki hati bak malaikat yang terkadang hal itu malah buat banyak orang yang memanfaatkan dirinya itu.


Mommy Nadya sungguh malu. Di banding takut tidak di maafkan sama anaknya. Mommy Nadya beneran malu. Karena kemarin marin dia sering memaksa Zaina bahkan sampai memarahi anaknya itu. Dan sekarang dia malah ada di sini untuk mendapatkan maaf dari anaknya. Sungguh dunia tidak ada yang tahu. Tapi sungguh ... mommy Nadya menyesal atas semua perbuatan yang udah dia lakukan itu.


"Ah .... buat apa aku berdiri di sini doang! Kayak nggak ada muka banget."


Ia mengetuk pelan dan masuk ke dalam. Seketika ruangan yang gelap langsung menyapa dirinya itu. Mommy Nadya menyalakan lampu saklar dan melihat anaknya yang sudah tertidur di atas tempat tidurnya itu.


"Tumben sekali ..."


Mommy Nadya menaruh gelas yang tadi dia bawa lalu mendatangi tempat tidur anaknya. Saat itu, mommy Nadya di buat salah fokus sama ponsel anaknya yang masih menyala. Ia menjangkaunya dan melihat ternyata Zaina sedang teleponan sama Mahen.


Mommy Nadya tersenyum tipis. Ternyata hubungan anak nya itu sama Mahen terlampau baik. Jadi, dia nggak perlu khawatir sama sekali. Ia nggak perlu memusingkan hal ini. Karena sungguh dirinya ini terlampau takut karena masalah yang dia buat membuat hubungan anaknya itu jadi buruk. Tapi sekarang dia nggak perlu khawatir sama. sekali. Karena mereka baik baik aja hingga detik ini.


Tanpa mau menjawab sama sekali, mommy Nadya memutus telepon itu dan menaruh ponsel anaknya ke atas meja.


Setelah sudah,


Ia menghampiri anaknya lagi dan duduk di pinggiran kasur. "Maaf—