Love In Trouble

Love In Trouble
Berbaikan?



Dengan lembut, Mahen membawa Zaina menjauh dari area pemakaman. Ia sedikit melirik ke mobil Zaina. Tidak tahu kalau di dalam ada orang tua Zaina. Setelah mereka tiba di sebuah saung, Mahen meminta Zaina untuk duduk di sana.


"Kamu mau mengelak lagi kan?" tuduh Zaina sambil berkacak pinggang.


"Zaina ... duduk dulu, ada yang mau aku katakan sama kamu dan itu cukup penting sama hubungan kita. Karena aku udah mulai merasa ... hubungan kita tuh cuman gini-gini aja dan bukannya membaik, yang ada malah semakin buruk. Maka dari itu, aku mau ngomong yang penting sama kamu. Boleh kan?"


Zaina akhirnya membesarkan hatinya dan mengangguk kecil.


Dia duduk di pinggiran kasur sambil terus menatap Mahen.


"Semua yang ada di berita itu bohong!" beri tahu Mahen dengan sangat pelan.


"Iya lah!" jawab Zaina masih dengan perasaan sewot. "Aku sama sekali nggak pernah berurusan sama hubungan kalian lagi. Makanya aku juga diem aja. Eh, semakin aku diem yang ada kalian semua malah nuduh aku. Aku kesel banget."


"Bukan yang itu, tapi hubungan aku sama restu," sela Mahen dengan sangat cepat. "Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Pokoknya nggak ada satu pun kaitan penting antara aku sama dia. Dia hanya terobsesi sama aku dan jatohnya benci sama kamu. Makanya dia ngelakuin banyak cara untuk menjatuhkan kamu."


"Meskipun tahu, kalau kita udah nggak punya hubungan?"


Mahen mengangguk dan menggenggam tangan Zaina.


"Percaya sama aku .. aku masih mencintai kamu sampai detik ini—


"Mahen ..."


"Enggak Zaina, udah cukup selama ini aku menahan jiwa sama perasaan aku sendiri. Sudah cukup karena selama ini aku menyembunyikan perasaan ini. Sudah cukup karena aku yang cemburu melihat kamu dekat sama Ghaly—


"Tapi, aku sama Ghaly nggak ada hubungan apa-apa. Jadi, kamu nggak perlu cemburu sama sekali."


"Tetap saja ... ngeliat kalian berdua yang jauh lebih dekat, ngebuat aku sedikit cemburu. Di saat hubungan kita nggak ada yang berjalan baik. Oke ... bukan itu yang menjadi bahan obrolan kita. Tapi di sini aku mau ngasih tahu kalau semua sikap yang aku tunjukin sama kamu itu hanya bualan semata. Karena aku diancam oleh seseorang, makanya aku terpaksa jahat sama kamu."


"..."


"Makanya, aku beneran minta maaf sama kamu," ucap Mahen dengan suara tertahan.


Zaina menatap terkejut dan hanya bisa kenalan saliva sambil terus mencerna pembicaraan mereka.


"Zaina ... aku minta maaf, aku beneran minta maaf sama kamu. Karena udah jadi salah satu luka di hidup kamu. Aku beneran minta maaf."


"..."


"Semakin di ingat-ingat, aku semakin paham kalau diri aku udah menjadi luka di hidup kamu dan itu sangat menyakiti hati kamu. Aku beneran merasa bersalah banget sama kamu dan ini sangat menyakiti relung jiwa aku. Rasanya aku nggak sanggup untuk ngelanjutin hidup aku kalau terus kayak gini."


Zaina menatap dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Maaf karena aku telah takut sama ancaman itu, maaf karena aku yang malah nggak gantle. Tapi semakin aku pikirin, semakin aku merasa semua ini salah. Tapi dengan bodohnya aku malah ikutin permintaan dia. Yang pada akhir nya malah menyakiti hati kamu itu. Aku beneran udah jadi laki-laki paling bodoh di dunia ini."


"..."


Diamnya Zaina membuat Mahen semakin merasa bersalah. Ia semakin merasa Zaina nggak akan pernah memaafkan dirinya.


GREP!


Seruan Mahen terhenti saat mendapat pelukan dari Zaina. Mata laki-laki itu membola dan membalas pelukan sambil meringis kecil. Menahan rasa haru yang membelunggu hati dan perasaannya.


"Jangan ngomong kayak gitu, aku nggak suka ..."


"Kamu maafin aku?"


Zaina melepas pelukan dan memukul Mahen dengan tasnya. "Kamu tuh! harusnya bilang dari awal kalau kamu di ancam. Bukannya malah bikin aku salah paham dan mikir yang enggak enggak. Memangnya, kamu kira aku nggak kepikiran kenapa sikap kamu sangat berubah sama aku. Memangnya kamu nggak mikir, kalau aku kepikiran sama berita tunangan itu. Aku kira ... kamu bener udah lupain semua hubungan kita."


Zaina semakin merengek.


"Aku beneran takut banget kehilangan kamu. Kamu kenapa nggak jujur dari awal, HAH!" seru Zaina yang marah bercampur rasa sedih. "Kalau kamu bilang dari awal, pasti aku nggak bakal ngerasain sedih kayak gini. Kamu tuh ya ..."


"MAAF ... aku beneran minta maaf. Aku baru berani sekarang. Silahkan marahin aku. Karena aku memang pantas di marahin. Aku terlalu bodoh!"


Zaina yang masih memukuli Mahen perlahan mulai berhenti dan digantikan tangisan dari perempuan itu.


Laki-lakinya ...


Yang ia khawatirkan selama ini, ternyata masih ada di belakang dirinya dan nggak pernah pergi ke mana-mana.


"Maaf ... maaf Zaina."


"Kamu tuh sebenarnya kenapa sih. Siapa yang ancam kamu? Restu? Kenapa dia sampai berani ancam kamu?"


Mahen bungkam. Dia nggak mau jujur alasan Restu mengancam dirinya.


"Kamu nggak perlu tahu. Pokoknya, perempuan itu sangat licik. Sampai aku terpengaruh sama omongan dia. Tapi ya kamu tenang saja. Buat sekarang aku bakalan cari cara untuk balik menyerang dia. Karena dia beneran udah jahat banget sama kamu. Aku nggak akan diam aja."


"Tapi— apa aku bisa bertemu sama dia? Ada yang mau aku omongin sama dia .."


Mata Mahen membola dan dengan cepat laki-laki itu menggeleng, menolak usulan Zaina dengan cepat.


"Tidak! Sampai kapan pun aku nggak bakalan kasih izin. Dia terlalu berbahaya untuk kamu. Dia akan ngelakuin berbagai cara untuk menyakiti kamu. Biar aku aja yang selesaiin semua ini. Tapi ... kamu bener maafin aku kan? aku bakal wujudin apa pun yang kamu mau, asal mendapat maaf dari kamu."


"Iya .. aku maafin kok. Aku juga minta maaf ya."


Keduanya saling berpegangan tangan dan melemparkan senyuman indah di wajah masing-masing. Masalah yang selalu menimpa mereka kini mulai redup.


"Tapi—


"Iya?"


"Jangan terlalu jahat sama Restu, dia sama seperti aku. Seorang perempuan. Yang biasa aja ya balesnya ..."