Love In Trouble

Love In Trouble
Malam yang Indah



Setelah pembicaraan yang serius dan cukup menguras emosi itu, kini Zaina tinggal berdua dengan Mahen. Mereka ada di mobil, yang mana mobilnya berhenti tepat di pinggir tempat sepi. Karena tadi, setelah membocorkan semuanya. Ghaly memilih pergi lebih dulu karena mau menenangkan diri dan untuk mengunjungi makam anak mereka. Zaina dan Ghaly memutus kan untuk pergi saat hari sabtu nanti. Karena mereka memang harus melakukan hal ini dengan bersama.


Datang ke makam sang anak, sebagai seorang orang tua utuh.


Tapi setelah kejadian itu juga, keheningan terus tercipta. Mahen hanya terus menggenggam tangan Zaina. Bahkan selama menyetir saja, laki-laki itu sama sekali enggan melepas kan genggaman tangan. Zaina benar-benar merasa di hargai di cintai sama Mahen.


“Aku nggak akan ke mana-mana Mahen. Jadi kamu nggak masalah kok kalau mau lepasin ini tangannya,” seru Zaina sambil tertawa kecil.


Bukannya melepas pelukan. Mahen malah merubah posisi duduknya, ia membuka seat belt dan menoleh ke arah Zaina.


“Rasanya aku beneran cinta banget sama kamu. Melihat kamu yang ternyata banyak di sukain orang lain, buat aku jadi was was,” ungkap Mahen yang mengeluarkan keresahan dia selama ini.


Zaina menggeleng kecil dan tertawa tipis.


“Tenang aja ... seperti yang kamu pernah bilang. Mau seluruh dunia suka sama aku. Mau sebanyak apa pun yang jatuh cinta sama aku. Nyatanya aku yang udah jatuh ke pelukan kamu. Jadi, kamu nggak perlu merasa khawatir sama sekali. Karena selamanya aku akan di sini terus. Bersama kamu. Nggak akan pernah hilang sama sekali kebersamaan kita yang satu ini.”


Mahen menyendu dan merentangkan tangan, membuat Zaina juga turut melepas seat belt dan membalas pelukan Mahen. Di tempat yang sempit, mereka saling berpelukan satu sama lain. Menyalurkan kasih sayang yang nggak akan pernah tergantikan sama sekali. Mau sebanyak apa pun masalah yang datang. Keduanya tetap masih bisa bertahan hingga detik ini.


Seolah semua masalah juga harusnya malu, karena tidak bisa memisah kan hubungan mereka.


Setelah cukup pegal, Mahen melepas pelukan dan menatap sekitar.


“Lapar nggak sih?” ucap nya tiba-tiba membuat mata Zaina melebar


“Setelah apa yang kita makan tadi siang, dan nyemil di kafe dengan banyak kue. Kamu masih bisa bilang laper?” seru Zaina lalu menggeleng kecil, sedikit merasa aneh sama laki-laki itu. “Itu perut kamu nggak terbuat dari apa sih sampai ternyata bisa masih laper setelah semua makanan yang masuk ke dalam sana.”


Mahen mendengus.


“Ini ke depannya kamu harus mulai ngebiasain loh,” papar Mahen dengan cepat. “Kamu harus siap masak banyak karena nanti punya suami yang banyak makan dan nggak cukup sekali. Aku beneran rakus loh. Walau pun bunda malah senang karena aku yang kayak gini.”


Zaina terkekeh.


“Emang yakin bakal jadi suami?” seru Zaina membuat mata Mahen melotot.


“ZAINA!” pekik Mahen sambil menyentil kening perempuan itu. “Kalau ngomong tuh di jaga. Kita nggak tau di dekat sini malaikat langsung mengabul kan permintaan kamu atau enggak. Inti nya kita udah sulit ada di titik ini. jadi, aku harap jangan pernah buat kesalahan sekecil apa pun. Termasuk omongan asal kayak tadi, takut banget kalau kejadian ih.”


Zaina tertawa dan meminta maaf.


“Aku cuman ngomong fakta doang loh, mas. Bahkan yang besok menikah aja, belum tau bakalan jadi suami atau enggak. Takdir kan nggak ada yang tau. Makanya aku ngomong kayak tadi.”


“Iya ... semua itu terbukti saat dulu kita mau menikah kok. Mungkin kalau kita bisa balik ke masa lalu, kita nggak akan menyangka kalau semua yang sudah kita urus selama ini ternyata berakhir gitu aja. Karena suatu permasalahan kan? Jadi ... nggak ada yang tahu bahkan satu detik kemudian. Tapi tugas nya kita untuk memikirkan dan mengucap kan kata-kata yang baik supaya terhindar dari sesuatu yang buruk. Jadi ... jangan ngomong kayak tadi ya.”


Zaina menurunkan kursi mobil nya, supaya bisa duduk lebih menyandar dan tangan nya terjulur menurunkan jendela mobil. Membiarkan angin malam masuk, menyejukan mereka. Zaina menghela napas. Menatap gelapnya malam yang dari hawa nya saja bisa Zaina rasakan kalau sebentar lagi akan turun hujan.


“Bahkan aku nggak berani bermimpi hal yang baik,” ucap Zaina tiba-tiba membuat Mahen yang sibuk dengan HP untuk memesan makanan ke tempat mereka berada langsung menghenti kan kegiatannya.


“Maksud kamu?”


Zaina tersenyum sangat tipis, sampai sang empunya saja bahkan nggak sadar kalau dirinya sedang tersenyum.


“Iya ... aku selalu berpikiran negatif, bukan mengharapkan hal buruk terjadi. Karena aku cuman manusia yang juga menginginkan hal baik di hidup aku kok,” beri tahu Zaina membuat Mahen menatap bingung.


“Terus, apa alesan nya. Kamu selalu berpikir hal buruk?”


“Itu cuman karena aku yang nggak mau berharap lebih,” gumam Zaina dengan sangat pelan. “Aku cuman nggak mau punya harapan tinggi ke hal baik. Karena itu cuman bisa mem vorsir pikiran aku. Tapi, kalau pada kenyataan nya hidup ini nggak berjalan sesuai yang aku mau. Aku cuman bakalan sedih. Makanya, aku nggak pernah mau berharap. Ya ... alasan yang memang cukup menggeli kan. Tapi, tetap aja aku cuman takut kecewa.”


Mahen mengangguk paham.


“Kamu bebas mengatakan apa-apa, aku juga nggak bisa memaksa kamu untuk bilang hal baik. Karena mungkin itu ketakutan kamu. Jadi, aku sama sekali nggak bisa apa-apa. Cuman aku cuman mau bilang kalau ada Tuhan. Semua yang terjadi itu jalan terbaik jadi kamu nggak perlu kecewa apa-apa ya.”


Zaina mengangguk paham sama penuturan dari laki-laki itu.


“Jadi ... kita mau makan apa?”


Dan pecah tawa Zaina saat itu juga.


***


Zaina tidak pernah menyangka kalau berdiam di dalam mobil untuk menunggu hujan sangat deras bisa semenyenangkan ini. Zaina tidak tahu kalau suasana seperti ini benar benar membuat tenang. Belum lagi, air hujan yang beradu dengan tanah membuat aroma tersendiri yang membuat perempuan itu jadi lebih tenang. Jangan lupakan suara air hujan yang beradu ke atap mobil dan menimbulkan alunan indah yang sungguh menenangkan perempuan itu.


“Maaf ya karena kita yang makan dulu malah terjebak di sini,” papar Mahen sambil melirik bungkus makanan dari salah satu restoran ternama tergeletak di belakang mobil.


Karena,


Tadi ternyata Mahen benar-benar memesan makanan online untuk mereka dan selama menunggu, mereka terus bernyanyi dengan menggunakan playlist di dalam mobil. Benar benar terasa sangat menyenangkan. Melebihi liburan di luar negeri. Karena ini benar-benar membuat Zaina sangat menyukai hal sederhana seperti ini.


Dan setelah makanan datang, mereka makan dengan nikmat. Bahkan Zaina yang tadi menggoda Mahen malah ikut makan juga. Karena menghirup aroma ayam benar benar membuat dia tergoda dan akhirnya ikut makan.


Sayang, setelah makanan mereka selesai. Hujan mulai turun sangat deras dan itu cukup buat jarak pandang di depan mereka terganggu. Mahen nggak mau memaksa kan untuk pergi tapi bakalan terjadi apa-apa di depan sana.


Lihat saja kaca depan, semuanya benar-benar cuman di penuhi embun doang. Nggak cuman itu aja, jalanan di sekitar sini cukup berlubang. Jadi, Mahen nggak mau mengambil keputusan yang malah membahayakan mereka.


“Nggak masalah kali, karena aku suka juga ada di posisi kayak gini. Sangat menenangkan dan adem. Aku beneran suka.”


Zaina semakin menurunkan kursi di mobilnya, membiarkan tubuhnya sedikit tiduran. Menjadi kan tangannya sebagai bantalan. Menatap ke arah kaca mobi. Ia tersenyum melihat bintang yang masih bersinar terang di antara gelapnya malam karena hujan.


“Mahen ...”


“Itu bintang yang ada di atas sana mungkin anak aku ya,” ucap Zaina dengan suara menyendu


“Hmm ... pasti, anak kamu pasti bersinar terang di atas sana. Dan mungkin sekarang anak kamu tau kamu ada di sini, jadi mau menunjukkan wujud nya. Seolah anak kamu bilang kalau dia baik baik saja dan kamu nggak perlu khawatir sama sekali.”


Zaina tersenyum miris dan mengangguk.


“Ngomongin masa lalu kayak tadi buat aku jadi berhasil inget sama anak aku,” beri tahu Zaina dengan pelan. “Yang buat aku sedih tuh, kalau orang di tinggal kan tuh pasti sedih. Tapi seenggak nya dia pasti bisa membayangkan wajahnya karena pernah melihat. Sedangkan aku? Bahkan aku belum bisa melihat wujud anak aku. Tapi dia sudah di ambil pergi dari hadapan aku. Jadi ... kalau rindu. Aku bisa apa? bahkan aku nggak tau wujud anak aku. Aku nggak tau harus mengenang nya seperti apa. Ini benar-benar membuat aku sedih. Karena sungguh aku pun nggak paham sama ini semua.”


Zaina tersenyum sendu lagi, mulai merasa kantuk dari dinginnya AC. Tapi ia masih terus ingin berbicara untuk saat ini.


“Aku nggak salah kan kalau kangen sama anak aku sendiri?” papar Zaina yang tentu saja di gelengi sama Zaina.


“Wajar dong ... malahan nggak etis kalau kamu nggak inget sama keberadaan anak kamu sendiri. Di saat kita punya banyak kenangan sama anak itu. Bahkan aku masih mengingat gimana kamu yang cuman bisa diem nahan kram karena anak kamu. Aku inget semuanya.”


Zaina mengangguk.


Perempuan itu mulai menyamankan posisi tidurnya dan menyamping kan tubuh nya. Menatap Mahen yang masih menatap ke arah atap mobil dengan tatapan menyendu.


“Aku ingat semuanya dan aku nggak akan pernah melupakan semua momen indah itu. Nggak ada yang bisa buat aku lupa sama hal ini. Aku akan selalu ingat dan selamanya akan ingat. Jadi ... aku beneran bahagia kala itu.”


“Saat ini?”


Zaina tersenyum tipis.


Suaranya semakin di awang awang, karena mata perempuan itu semakin berat.


“Aku bahagia ... selama ada kamu, dan mommy sama daddy aku akan terus bahagia,” ucap nya dan mulai memejamkan mata. “Karena, selamanya aku sayang sama kamu,” gumam Zaina pelan dan kesadaran nya benar-benar menghilang.


“Aku juga sayang sama kamu.”


Sayang nya saat Mahen kembali memanggil, tidak ada sahutan suara sama sekali dari Zaina. Yang mana membuat Mahen bangkit dan baru sadar kalau Zaina sudah terlelap. Dengan cepat akhirnya laki-laki itu tersenyum tipis sambil membuka jaket nya.


“Ini pertama kali nya aku ngelihat mode Zaina yang kayak gini dan itu benar-benar sangat menggemaskan.”


Mahen beranjak menaruh jaket itu untuk menyelimuti tubuh Zaina. Perempuan itu sedikit meronta dan berakhir kembali tidur. Membuat Mahen akhirnya menghela napas. Sangat takut kalau dirinya mengganggu perempuan itu.


Mahen duduk menyandar ke pintu mobil dan melirik perempuan itu. Perempuan yang selalu menjadi favorit di hidupnya selama ini. Tentu saja setelah bunda nya itu.


“Benar benar sangat bahagia melihat Zaina yang kayak gini.”


Tangan perempuan itu terulur mengusap pipi Zaina. Sangat dingin, ia sedikit khawatir tapi melihat wajah nyaman Zaina membuat Mahen urung untuk melakukan apa-apa. nggak mau mengganggu perempuan itu.


“Kamu bagai kan sinar yang datang di hidup aku. Bahkan aku masih bisa membayang kan betap hancurnya aku di masa lalu karena semua tuntutan itu dan itu cukup membuat aku takut akan dunia dan trauma. Tapi semua perilaku kamu, ucapan kamu, tawa kamu, bahkan luka di hidup kamu seakan buat aku yakin kalau punya alasan untuk bertahan hidup.”


Mahen menatap Zaina dengan sangat sendu. Terpancar tatapan cinta yang bahkan nggak bisa di gantikan sama siapa siapa.


“Semenjak kenal kamu, buat aku sadar kalau aku punya alasan untuk bertahan yaitu menjaga kamu. Karena dari awal ketemu, aku udah nanemin ke otak aku. Kalau aku nggak akan biarin kamu terluka dan sekarang ... tinggal masalah perjodohan ini dan aku janji akan meminang kamu. Supaya semakin mudah menjaga kamu kalau kamu tinggal bersama aku.”


“...”


“Aku beneran sayang banget sama kamu. Bahkan jatuh cinta. Makasih Zaina, makasih karena udah bertahan di titik ini.”


***


Zaina mengernyit, berusaha menyesuaikan cahaya matahari yang mengenai matanya. Perempuan itu mengerang dan menoleh, matanya langsung terbuka saat melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Ia langsung duduk dan kembali di kejutkan saat sadar sekarang dia ada di kamarnya.


“Loh ... siapa yang bawa aku ke sini?”


Dengan cepat Zaina turun dari kasurnya dan beranjak turun ke bawah.


“Mom ... Mom,” pekiknya cukup kencang berusaha mencari keberadaan mommy nya itu.


“Kenapa sih? Nggak usah teriak teriak kayak gitu juga dong,” jawab mommy nya yang datang dari arah dapur sambil mengenakan celemek di tubuhnya. “Kenapa? Ya ampun anak gadis, jam segini baru bangun. Mana belum mandi juga. Benar benar deh,” papar mom Nadya sambil menyelipkan rambut anak nya ke belakang telinga.


“Kamu tadi mau ngomong apa sama mommy?”


Zaina menelan saliva.


“Yang bawa aku ke kamar siapa? Kalau nggak salah kemarin aku masih ada di mobil sama Ghaly deh. Tapi ke napa sekarang ada di kamar? Kapan aku pulang? Terus kapan aku naik ke kamar? Atau aku jalan sendiri ya? karena aku ngantuk jadi aku nggak sadar.”


Mommy Nadya terkekeh dan menggeleng.


“Loh ... orang yang bawa kamu ke atas Mahen kok. Aneh kamu.”


Mata perempuan itu terbelalak.


“Waduh ... gimana kalau aku ngiler. Duh mom, gimana kalau Mahen ilfil karena lihat aku tidur.”


Mommy Nadya hanya bisa tertawa lucu melihat anaknya yang seperti ini. “Aish ... anak mommy tuh cantik banget. Jadi, nggak akan ada yang ilfil. Udah, mendingan kamu mandi karena nanti bakalan ada tamu yang datang.”


“Siapa?”


“Ada lah pokoknya, kamu nggak perlu tau.”


Walau pun penasaran, Zaina hanya menurut dan tetap mengikuti suruhan mommy Nadya. Ia naik ke atas untuk membersihkan diri dan jangan lupakan diri nya yang akan menghubungi Mahen untuk mengucapkan terima kasih karena sudah mengantar dirinya, bahkan sampai ke kamar nya itu.