
Setelah berbicara dengan daddy nya Zaina, kini Mahen sudah semakin yakin kalau semuanya akan cepat selesai. Walau pun rencana yang mereka punya sedikit membuat Zaina sakit hati atau dengan kata lain, akan memiliki resiko yang lebih banyak. Tapi Mahen nggak peduli, yang penting masalah ini akan cepat selesai.
Malam harinya,
Mahen yang sudah mandi dan mengenakan piyama kini berdiri di balkonnya sambil berusaha menghubungi Zaina. Laki-laki itu tersenyum tipis saat panggilan di angkat dari seberang sana.
"Zaina ..." seru Mahen dengan sangat excited.
"Hahaha apaan sih Mahen, gemes banget. Kedengeran excited banget gitu."
"Iya dong ... harus excited, kan lagi nelepon kamu. Oh iya, gimana kabarnya hari ini? Bahagia kan? Banyak senyum kan? Nggak sedih lagi kan? Atau lagi deg-degan karena habis ketemu sama aku?"
"Ih apaan sih! mana ada kayak gitu," jawab Zaina dari seberang sana dengan wajahnya yang sangat memerah.
"Ya kan ... bisa aja, aku kan ngangenin. Semua perempuan juga langsung kangen sama aku kalau habis ketemu. Jadi, wajar dong kalau kamu seneng karena habis ketemu sama aku. Tapi balik lagi. Kamu nggak sedih lagi kan untuk hari ini? Karena aku bakalan marah banget kalau kamu masih diem diem nangis sendirian ..."
"..."
"Aku nggak maksa kamu untuk nggak nangis, karena aku jelas tahu. Kita nggak bisa mengontrol tangisan kita dan nggak cuman itu aja, kalau lagi sedih pasti refleks nangis. Tapi aku ngelarang kamu untuk ngerasain semuanya sendiri. Kamu harus tahu kalau di sini sudah ada aku yang bakal jadi pendengar baik untuk kamu ..."
"Mahen ... kenapa kamu masih baik banget sih sama aku. Aku kan jadi nggak enak sama kamu. Kamu beneran selalu baik sama aku dan nggak pernah menandingi sama sekali. Kayak ... ya ampun, aku beruntung banget punya kamu di hidup aku."
"Aku yang jauh lebih bahagia dan beruntung karena bisa punya kamu di hidup kamu. Dan ... aku nggak mau sampai denger kalau kamu merasa ngerepotin aku. Karena ini sama sekali nggak ngerepotin kamu. Ini pure karena aku yang memang mau lihat kamu bahagia terus. Jadi ... terima aja apa pun yang aku kasih ke kamu."
"Tapi kan—
"Iyaa?" nada panik dari Zaina terdengar lirih.
"Aku cuman mau ingetin kamu, kalau aku mau selesaiin semua masalah yang terjadi. Mungkin agak sulit karena Restu bukan perempuan yang gampang di bohongi atau kita balas. Tapi, aku bakal cari cara supaya kekesalan kita bisa terbalaskan."
"Aku serahin semuanya sama kamu ... semangat ya Mahen."
"Hahaha gemes banget ... ih iya, lanjut yang tadi ya. Untuk nyelesaiin masalah kayaknya aku perlu deket sama Restu. Dalam artian aku mau buat dia percaya dulu sama aku, biar aku bisa dapetin yang aku mau. Jadi ... takutnya nanti akan ada berita yang muncul tentang aku sama dia. Kamu jangan percaya sama sekali. Karena itu semua cuman pura-pura aja. Kamu cukup percaya sama aku. Karena aku nggak bakal pernah berpaling dari kamu. Hanya kamu satu satunya dan nggak ada yang lain sama sekali ..."
"Mahen ..."
"Aku sudah memikirkan resiko buruk yang bakalan terjadi. Tapi, nggak masalah sama sekali. Karena yang mau aku bilang ke kamu itu. Kamu cukup percaya sama aku kan. Kamu percaya kan sama aku?"
"Iya Mahen ... aku bakal selalu percaya sama kamu."
"Makasih Zaina ... makasih banyak. Udah gih, aku cuman mau bilang itu aja. Nggak mau lama-lama. Karena udah waktunya kamu tidur."
"Kamu juga jangan lupa istirahat ya Mahen. Makasih karena udah banyak berjuang demi kamu. Apa pun yang terjadi nanti, aku bakalan tetep percaya sama kamu. Semangat dan sekali lagi makasih."
"Sama-sama cantik ... sekarang tidur ya. Dan ... aku cuman mau bilang, kalau sampai detik ini aku masih mencintai kamu. Jadi, tolong tunggu aku ..."
Dan detik selanjutnya, Mahen langsung mematikan panggilan mereka. Takut sama respon Zaina. Di genggam nya ponsel itu dengan erat. Mahen sudah puas, ia cukup puas dan semakin yakin akan melakukan cara ini untuk menolong Zaina.
"Aku pasti bisa!"