
Dengan langkah gugup Mahen memasuki kamar inap Zaina. Perempuannya masih terlelap di sana. Ah kalau inget perbincangan terakhir mereka, rasanya Mahen benar benar marah sama dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia malah lepas kendali dan marah sama Mahen.
"Maaf Zaina ...," sesal laki-laki itu masih berdiri di dekat pintu, memandang nanar pada tubuh perempuannya yang ada di sana. "Harusnya waktu itu aku bisa nahan diri dan emosi aku gara-gara nenek datang ke rumah bersama Alfi sekaligus rasa cemburu aku ke kamu nggak buat aku jadi marah sama aku. Harusnya aku masih bisa nahan semua ini. Bukannya malah kayak gini."
Laki-laki itu menarik napas dalam dan menggeleng.
"Bukan kamu yang bodoh, tapi mas ... mas benar-benar bodoh karena nggak pernah percaya sama kamu. Di sini harusnya mas percaya sama kamu. ARGH!"
Mahen berteriak kesal.
Setelah puas memarahi dirinya sendiri. Ia beranjak dan mendekati Zaina. Ia duduk di kursi samping tempat tidur dan menggenggam tangannya.
"Zaina sayang ... kamu perlu tahu, nggak ada sedikitpun pikiran mas mau pergi dari hidup kamu. Sama sekali nggak pernah. Mas pure cinta sama kamu. Jadi, kamu jangan pernah pergi dari hidup mas ya. Kalau sampai kamu pergi dari hidup mas. Mas nggak tahu lagi harus jalanin hidup gimana ... karena kehilangan sumber sahabat mas."
/Dasar perempuan bodoh! harusnya sebelum ngelakuin apa-apa itu dipikir dulu!/
Terlintas lagi omongan jahat dirinya ke perempuan itu.
"Argh ... Zaina sayang. Pastinya waktu itu kamu lagi mikirin omongan mas yang super jahat itu ya? makanya sampai melamun dan akhirnya ketabrak. Kalau aja, mas nggak ngomong apa-apa dan bela kamu. Pasti kamu masih di sisi mas sampai sekarang—," ucapannya terhenti dan ia menelan saliva. "Dan— pasti anak ini masih ada sampai sekarang."
Tubuh Mahen terjatuh dari kursi.
Ia menumpu tubuhnya dengan kedua lutut sambil menciumi lengan Zaina. Ia meringis. Sakit hatinya benar-benar buat Mahen nggak paham sama dirinya sendiri.
Bahkan rasa bersalah terus menyelimuti dirinya. Mahen juga menjalani hidup dengan kurang baik. Semua pusat perhatian dia hanya tertuju pada Zaina saja. Nggak ada yang lain.
Disaat Zaina alias dunianya yang sedang memejamkan mata, maka sejak itu juga Mahen merasa hidupnya jauh lebih gelap dan nggak bisa apa-apa selain menangis dan merasakan kesuraman dalam hidup.
"Zaina ... dunia mas rasanya runtuh pas liat badan kamu ketabrak sampai terjatuh lalu bersimpah darah. Mas nggak bisa, nggak akan pernah bisa sama sekali."
"Mas ... terus mikirin kamu. Gimana kalau kamu sadar nanti kamu marah sama mas? apalagi berita tentang kehilangan anak kamu. Nggak bisa. Mas nggak bisa ngebayangin gimana sehancurnya kamu nanti. Mas nggak mau ngeliat kamu hancur karena masalah ini. Anak yang selama ini kamu tunggu nyatanya nggak pernah ada lagi di sisi kamu."
Mahen menggeleng. Ia udah nggak sanggup.
"Zaina, besok mas mau konferensi pers dan mengatakan semuanya dengan jujur. Sesuai yang kamu mau. Supaya mereka bisa pergi dari hidup kamu dan nggak merecoki lagi. Mas nggak mau kalau kamu yang terus kena imbas karena masalah ini. Sudah cukup. Mas harus tegas, supaya pas kamu sadar. Kamu nggak dapet hate comment dari mereka lagi. Jadi ... doakan mas ya sayang."
***
"Kamu mau ke makam?"
Mahen mendongak dan menatap orang tua Zaina lalu mengangguk. "Sebenarnya saya masih belum sanggup bertemu sama anaknya Zaina. Saya udah banyak bilang hal jahat tentang anak itu. Tapi saya akan tetap doakan dan meminta maaf. Semoga ... anak itu memaafkan saya dari atas sana."
"Pasti. Anaknya Zaina pasti memaafkan kamu, sama seperti ibunya yang selalu memaafkan orang lain. Padahal banyak orang yang udah jahat sama dia," ucap mommy Nadya membuat Mahen semakin berharap.
"Kalau gitu saya pamit dulu ya mom, dad."
Mahen menyalimi mereka berdua dan berlalu pergi. Ia naik ke mobilnya dan langsung mengendarai ke tempat yang di tuju.
***
Sambil memegang bunga mawar yang begitu wangi, Mahen menghampiri sebuah makam anak bayi yang sangat kecil dan terlihat masih baru. Dia mendengus kecil saat perasaan kalut memenuhi jiwanya. Mahen berusaha menenangkan dirinya seraya berlutut dan mengusap nisan yang masih baru itu.
"Anak ayah?" panggilnya pelan. "Dulu ... ayah kepikiran manggil diri ayah dengan sebutan ayah. Ayah mau jadi orang tua kamu. Ayah pernah berharap kalau kita pernah bersama. Bersama ayah dan bunda kamu. Tapi kenapa kamu malah pergi, nak?" tanya Mahen dengan sendu.
"Pasti karena omongan ayah ya nak? kamu marah sama ayah makanya milih buat pergi? ayah beneran minta maaf nak. Ayah nggak ada maksud buat jahat sama kamu. Tapi ayah beneran minta maaf. Ayah nggak ada maksud buat ngomong jahat sama kamu dan bunda kamu. Ayah khilaf. Ayah minta maaf."
Mahen menitikkan air mata.
Perkenalkan, Mahen namanya. Laki-laki yang hampir kepala tiga ini nyatanya nggak pernah menitikkan air mata lantaran selalu merasa hidupnya baik-baik aja dan kalau ada masalah. Ia masih bisa melewati sendiri. Tapi kini, laki-laki itu menitikkan air mata karena masalah ini.
"Bahkan sebelum kamu lahir di dunia ini, ayah udah menjadi orang tua yang gagal. Ayah nggak bisa didik kamu sama sekali. Ayah sama sekali nggak bisa melihat rupa kamu, nak. Ayah gagal. Ayah benar-benar gagal."
Laki-laki itu menangis sambil terus mengecupi batu nisan. Sesekali ia mengingat semua perkataan buruk yang udah ia lontarkan hari itu. Menyesal satu kata yang selalu ada di benaknya. Ia benar-benar sangat menyesal. Sampai nggak tahu lagi harus melakukan apa selain menitikkan air mata.
"Nak ... kamu bakalan memaafkan ayah kan? dan ayah janji bakal minta maaf sama bunda kamu. Ayah bakalan berjuang untuk dapetin maaf dari bunda kamu. Ayah akan terus sama bunda."
"Selamanya dan ayah janji akan terus membahagiakan bunda kamu. Jadi ... kamu maafkan ayah kan nak?" tanya Mahen yang hanya dijawab angin mendayu.
"Ayah sayang kalian berdua, sayang sekali."