
"Kalian ini sama-sama perempuan. Seharusnya kalian punya woman supports woman. Tapi ke mana hati lu? Bahkan Zaina gak pernah ganggu lu sama sekali. Dia hanya orang yang punya kesalahan di masa lalu dan mau belajar dari semua kesalahannya. Tapi, kenapa lu malah ganggu Zaina terus? Ayolah Restu. Nggak seharusnya lu ngelakuin sampai sejauh ini."
"Ini yang buat gue benci sama perempuan itu! gue benci gimana lu yang malah bela Zaina. Gue benci saat lu masih aja muja perempuan itu. Gue benci karena Zaina selalu dapet apa yang dia mau. Gue beneran benci sama Zaina. Sebelum dia tersiksa banget, gue nggak bakalan berhenti untuk dapetin apa yang gue mau. Termasuk itu menyakiti Zaina sekali pun. Karena itu yang gue mau!"
Mahen menarik napas dalam sembari menggeleng kecil, kini dia tahu kalau Restu mamh membenci Zaina. Mau dia mengikuti apa pun langkah Restu, perempuan itu akan tetap menyakiti wanita nya.
Mahen mematikan sepihak telepon tersebut dan langsung menghubungi asisten dia. Tak lama teleponnya langsung di angkat.
"Kamu pasti sudah melihat berita yang beredar kan? gimana caranya untuk menghapus semua berita itu? karena saya beneran nggak akan membiarkan berita itu gitu aja. Saya akan tarik semua berita itu."
"Maaf sebelumnya, tuan. Setelah berita itu muncul saya langsung menghubungi media massa yang menerbitkan semua berita itu. Tapi mereka sama sekali nggak mau di bayar sebesar apa pun, karena sepertiny perempuan itu sudah membayar dengan sangat mahal. Tindakan yang paling bisa di lakuin untuk menghapus berita itu, yaitu meretas mereka semua. Tapi itu termasuk ilegal dan saya takut kalau mereka sampai mengetahui kalau tuan yang meminta semuanya. Nanti tuan malah terseret masalah ini."
Mahen memijat keningnya.
Masalahnya semakin besar.
Dia kembali menatap rumah itu yang mulai ramai dengan para awak media. Mahen menghela naaps kasar. Lagi dan lagi ia gagal. menjaga wanitanya dan ia malah jadi salah satu alasan untuk perempuannya terkena masalah.
"Ya sudah kalau gitu, seenggaknya kamu redam keributan netizen. Saya nggak mau melihat mereka menyakiti istri saya lagi. Sudah cukup selama ini, istri saya tersiksa. Saya nggak mau melihat dia menangis lagi."
"Baik tuan, saya akan melakukan berbagai cara supaya masalah ini bisa terselesaikan dan masalah meretas data perusahaan keluarga Restu. Saya sudah mendapatkan titik kelemahan mereka. Tapi saya belum fix banget. Jadi masih ada yang harus saya cari tahu."
"Ya sudah, terima kasih karena kamu sudah mencari tahu hal seperti ini. Nanti, setelah kamu menyelesaikan semua nya. Saya akan berikan kamu bonus yang besar dan waktu libur yang lama."
"Iya tuan, terima kasih."
Telepon kembali di matikan dan dengan cepat. Mahen mengendarai mobil meninggalkan rumah Zaina. Ia harus mencari cara untuk menghapus berita itu. Dia nggak mau wanitanya kembali menangis karena masalah ini.
***
Sementara itu,
"Aku nggak salah lihat kan?"
Zaina menatap mobil Mahen dari balik gorden di kamarnya. Jelas ia tahu jenis mobil yang satu ini. Bahkan Zaina harus memakai kaca matanya untuk memastikan plat mobil Maheh yahh dulu selalu datang ke rumah ini. Ia akhirnya sangat yakin kalau mobil itu adalah mobil Mahen.
"Kenapa Mahen cuman berhenti di sana? dia ada sesuatu kah? Kenapa nggak masuk ke sini aja? aku kan juga bingung dan penasaran sama Mahen."
Zaina menggapai kaca seolah menggenggam Mahen secara langsung. Ia menarik napas dalam sambil tersenyum sangat tipis.
"Kamu sebenarnya kenapa sih? kamu peduli kah sama aku? atau kamu nggak akan pernah peduli lagi sama aku? kalau kamu memang nggak pernah peduli lagi. Jangan kayak gini Mahen. Jangan beri harapan kecil apa pun sama aku. Dan jangan buat aku makin berharap sama kamu."
Masalah kemarin saja Zaina belum menemukan titik terang. Dia masih yakin kalau ada sesuatu yang di sembunyikan Mahen tentang Restu. Dia jelas ingin tau apa yang udah terjadi di sini. Tapi dia juga nggak bisa bertanya langsung. Karena ini semua masih tentang etika. Dan dia nggak mau membuat hubungan mereka menjadi hancur karena satu masalah ini.
"Tapi ya aku kan penasaran!"
Zaina merengut. Masih memandang mobil Mahen yang berhenti di depan sana.
"Tapi ... kalau dia memang nggak pernah peduli lagi sama aku. Kenapa hal kecil selalu Mahen lakuin ke aku? dia juga masih inget sama semuanya. Dan ... kalau nggak ada apa apa lagi. Kenapa itu mobil berhenti di sana? apa Mahen itu sama sekali nggak mau aku ngeliat kepedulian dia lagi? tapi apa alasannya?"
Zaina memekik dengan pelan, dia benar-benar nggak paham sama apa yang terjadi.
Sayang nya ... kaca mobil Mahen juga berwarna gelap. Yang artinya, dia nggak bisa melihat kelakuan Mahen di dalam sana. Padahal Zaina jauh lebih rindu sama laki-laki itu.
Ah ...
Zaina tertawa kecil sambil menggeleng.
"Bahkan, kemaren aku baru ketemu sama Mahen. Tapi tetep aja aku masih kangen terus sama dia. Ya ... mau gimana lagi ye kan. Raga aku sama Mahen memang ketemu. Tapi kita seperti orang asing yang nggak mengenal satu sama lain."
Tangan Zaina kembali mengusap kaca seperti mengusap Mahen secara langsung. Napasnya semakij berat dan dia hanya bisa tersenyum getir.
"Mahen ... sebenarnya apa alesan kamu cuman diem di depan gang kayak gitu? kalau kamu memang kangen sama aku. Kenapa kamu nggak masuk? padahal ... aku juga kangen banget sama kamu. Aku kangen banget ..."
Pada akhirnya Zaina juga melakukan hal yang sama. Dia menatap mobil yang bahkan nggak bisa di tatap pemilik nya itu. Ia tersenyum getir.
***
Pada kenyataannya, dua orang itu sama-sama terluka. Mereka tidak memahami satu sama lain, kalau nyatanya mereka masih berada di masa lalu. Mereka tidak tahu kalau mereka masih berharap lebih.
Karena,
Pada kenyataannya, takdir membuat mereka menjadi asing. Keadaan terpaksa membuat mereka menjauh. Kini mereka nyaris seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain.
Entah salah siapa, tapi semoga ada saatnya mereka tahu kalau perasaan itu masih tumbuh hingga detik ini. Semoga mereka sadar kalau usaha yang sudah di lakukan akan membuahkan hasil.
Entah, mungkin suatu saat nanti ...
***
Masih asyik memandang mobil Mahen, Tiba-tiba Zaina di kejutkan dengan kedatangan mobil awak media yang langsung berjajar di depan rumahnya. Ia berdiri dari duduk nya dan menatap terkejut.
Terakhir kali mereka mengumpul di sini juga karena ada masalah. Tapi, sekarang kenapa? Kenapa mereka semua ada di sini lagi. Di saat dirinya nggak sedang melakukan apa apa sejak tadi.
Zaina menelan saliva dan memandang mobil ke arah gang lagi dan ternyata Mahen sedang mengendarai mobil lagi untuk meninggalkan mereka. Kening Zaina mengerut.
"I— ini nggak mungkin perbuatan Mahen kan?" tanya Zaina yang mulai salah paham lagi. "Jangan bilang kalau dari tadi Mahen sengaja nunggu aku untuk ngeliat dateng mobil awak media lagi?!"
Zaina mendengar ponselnya yang berdenting, membuat dia langsung membukanya. Banyak berita yang kembali muncul dan menyeret nama dirinya dan jangan lupakan orang yang sudah mentag dirinya di sebuah media sosial. Ia mengerjap dan menatap cepat layar ponsel yang sedang menunjukkan berita ini.
"Apa-apaan ini?!" tanya Zaina sambil menatap ponselnya.
Pikiran Zaina langsung terlintas ke arah Mahen yang tadi berhenti tepat di depan dirinya. Perempuan itu menggerak marah dan langsung tau kalau ini memang ulah Mahen.
"Sebenarnya apa yang Mahen ingin kan dari aku? apa gak cukup sama semua luka yang dia kasih? kenapa sekarang dia masih ngelakuin ini sama aku?"
"Dasar jahat!"
***
"Tapi dad ..."
Daddy Zidan menggeleng, mengelak pendapat anaknya. "Nggak mungkin, nak. Mahen nggak mungkin melakukan ini semua ke kamu. Walaupun hubungan kalian sekarang yaaa kurang baik. Tapi, tetap saja. Kalian pernah saling mengenal satu sama lain. Jadi, daddy rasa nggak mungkin kalau Mahen yang ngelakuin ini semua ke kamu."
Daddy Zidan kembali menatap berita di depannya.
"Tapi ... untuk berita ini, nggak ada yang ngehujat kamu loh nak. Semua orang malah bela kamu."
"Eh iya kah?" seru Zaina dengan kaget. "Aku belum liat sih, soalnya agak takut juga."
Daddy zidan menggeserkan laptopnya dan menaruh di hadapan Zaina. Perempuan itu membaca seksama satu per satu komenan yang ada.
/Kenapa harus membawa-bawa Zaina lagi? Bukan kah dia sudah mulai berproses di perusahaannya? Dia pasti nggak ada waktu untuk mengganggu hubungan mereka?/
/Berita sampah!/
/Kalian semua harus tau, gue pernah ketemu sama Zaina dan dia sebaik itu loh. Nggak sejudes dan sejahat yang ada di berita. Dia beneran sebaik itu. Mana cantik banget lagi. Jadi, gue rasa Zaina nggak akan ngelakuin hal sejahat itu./
/Duh ... ini yang buat beritanya siapa sih? Antara Restu sama Zaina aja jauh banget. Nggak mungkin Zaina mau balik lagi sama mantan. Dia cantik dan berbakat, pasti dia bakalan cari laki-laki yang jauh lebih baik di bandung mantan nya. Dibanding harus ganggu hubungan mantan kayak gini./
/Cantikan Zaina ke mana-mana di banding tunangannya yang sekarang./
/Ini mah Restunya aja nggak sih yang iri?/
Dan masih banyak lagi komenan lainnya yang malah menyudutkan Restu. Perempuan itu benar-benar terkejut, karena dia nggak merasa telah melakukan sesuatu sampai mereka bela dirinya.
"Kok bisa?" kaget Zaina sambil memandang kedua orang tuanya.
"Kami juga nggak paham ... tapi, ini lah kebaikan dari Allah. Kamu harus bersyukur, karena sekarang kamu udah di bela sama mereka dan untuk beberapa waktu. Jangan hubungin Mahen lagi atau berurusan sama keluarganya. Daddy nggak mau kalau malah kamu yang kena akibatnya."
Zaina mengangguk.
"Tapi dari tadi bundanya Mahen udah ngehubungin aku. Tapi, aku belum angkat sama sekali. Soalnya nggak enak juga. Nggak apa-apa kan?"
"Ya, kalau sekedar nelepon sih nggak masalah ya. Kan nggak bakalan ada yang tahu juga. Tapi .. jangan pernah ketemu sama mereka. Nanti biar daddy sama mommy yang ke depan rumah dan ngomong sama awak media kalau semua ini cuman salah paham aja."
Zaina menghela napas kasar dan duduk menyandar. Dia menarik napas dalam sambil memandang ke arah langit kamar sembari tersenyum sendu.
"Tapi ... kenapa semua urusan aku malah berhubungan terus sama mereka ya?" gumam perempuan itu dengan sangat sedih. "Maksudnya tuh ... padahal aku nggak mau lagi nambah urusan masalah yang berhubungan sama mereka. Maunya ya baik-baik aja. Tapi kenapa malah gini? Aku beneran belum siap sama sekali. Aku beneran masih ga tau harus ngelakuin apa. Kayak, aneh aja kalau masih terus di sangkut pautin sama mereka karena masalah ini."
"Susah nak ... dari awal kita udah punya hubungan sama keluarga mereka. Jadi, wajar kalau ada hal kayak gini juga pasti di sangkut pautin sama mereka. Nggak cuman itu aja. Kalau ada masalah tentang kamu sama cowok juga, pasti keluarga mereka bakalan terus di sangkut pautin."
Mommy Nadya ikut mengangguk.
"Mau gimana pun, kalian pernah punya hubungan yang cukup lama dan buat banyak orang suka. Walaupun waktu itu ada juga yang nggak suka. Tapi, tetep aja sebagian dari mereka selalu mendukung kalian."
Zaina menghela napas.
"Bikin canggung tau nggak sih," gumam Zaina sembari menghela napas kasar. "Padahal kan aku nggak mau buat aku sama Mahen makin canggung. Kemarin aja aku sama Mahen kayak apaan. Kayak orang asing. Ini mah kalau ada masalah gini, pasti makin asing aja kita."
Zaina menarik napas dalam.
"Ah ini mah nggak bisa ngebayangin temenan biasa sama Mahen lagi. Pasti jadi bulan-bulanan awak media lagi. Jadi kesempatan mereka buat rusakin nama aku lagi."
Perempuan itu mengernyit. Sebenarnya masih penasaran sama alasan Mahen diam di depan gang rumahnya. Dia ingin tau apa alesan Mahen duduk di sana tuh karena emang dia yang mau jatuhin dirinya atau enggak. Tapi, yang Zaina tau. Aneh rasanya karena Mahen ada di depan sana.
Perempuan itu menarik napas dalam. Sepertinya dia memang harus cari tau apa yang sedang terjadi di sini dan bertanya langsung ke Mahen.
"Tapi ... daddy tau apa yang harus di lakukan supaya kamu nggak di hubungin lagi sama keluarganya Mahen," ucap sang daddy dengan tiba-tiba membuat Mommy sama Zaina refleks menoleh dan menatap dengan bingung.
"Bagaimana kalau daddy jodohin kamu?" usul sang daddy dengan serius. "Dengan begitu kamu nggak akan di sangkut pautin terus sama keluarga Mahen."