
Setelah melakukan berbagai pertimbangan, akhirnya Zaina membuat bolu kukus atas izin dari pelayan di rumah omanya. Butuh waktu beberapa jam sampai masakannya Zaina selesai, tapi sampai detik itu tiba. Orang tuanya masih belum juga pulang.
"Kayaknya mom sama dad ada urusan yang penting banget sih, sampai lama banget kayak gini."
Zaina menaruh piring kue bolunya ke atas meja.
"Mbak, oma biasanya jam segini lagi ngapain? tidur kah?" tanya Zaina yang nggak mau menggangu sang oma kalau sedang tidur.
"Oma jarang tidur siang neng, tiap hari cuma diem di kamar aja. Kalau keluar juga paling untuk makan. Selebihnya oma lebih suka diem di kamarnya. Kita nggak ada yang berani tahan sih."
Zaina semakin tidak tega mendengarnya. Ia menarik kursi meja makan dan duduk di sana, tangannya menangkup sebelah pipi.
"Oma kesepian ya?" paparnya pelan.
"Karena itu neng saya berusaha kerja di sini. Walau terkadang oma suka marah atau banyak maunya sampai buat pegawai baru tidak suka. Saya tidak pernah merasa oma banyak mau. Oma hanya butuh di mengertiin saja bukan yang lain."
Zaina mengangguk pelan.
"Terkadang saya kasihan sama oma karena tak jarang oma keliatan melamun sambil melihat ke halaman rumahnya dan wajah tanpa ekspresi nya membuat saya sadar kalau oma itu sangat kesepian. Terkadang ... oma keliatan bahagia pas ada yang datang."
Zaina menarik napas dalam.
"Mbak ... mbak pasti tau kan masalah yang ada antara oma dan keluarga Zaina? Oma pernah nggak keliatan hina aku atau keluarga akh pas kami nggak ada?"
Zaina menanti jawaban tapi gelengan di kepalanya membuat Zaina bungkam.
"Oma memang selalu marah, dia nggak pernah mikirin orang lain. Mau ngelakuin seenaknya. Tapi setahu saya dia nggak akan pernah marah sampai sumpahin ke hal kasar. Oma juga masih punya hati kali neng, masa ke keluarga anaknya sendiri oma sampai nyumpahin? jadi rasanya nggak deh."
Zaina menyandarkan tubuhnya ke kursi. Bingung sendiri kalau sudah seperti ini.
"Kira kira aku boleh nggak ya masuk ke kamar oma dan ngasih kue ini? ada yang mau aku omongin sama oma dan semoga aja, ini bisa buat hati oma jadi luluh. Siapa tau kan? Aku mau usaha dulu, aku mulai capek kalau terus malah gitu mbak. Kasihan juga oma."
Zaina menarik napas dalam.
"Umur oma udah nggak muda lagi. Aku takut kalau aku yang terus maksa, nanti yang ada oma malah ke napa-napa. Jadi, aku mau usaha sendiri dulu. Kalau memang bisa, lumayan kan? Jadi mommy sama daddy aku nggak perlu usaha ini itu biar bikin luluh oma?"
Mbak pelayan itu mengangguk sambil menunduk pelan.
"Ide yang sangat bagus, neng. Neng bisa aja kok naik dan utarain isi hati neng selama ini. Kalau memang oma masih keliatan tidak terima, neng bisa turun dan jangan macam macam ya neng."
Pelayan itu sudah paham sama amarah dari atasannya. Ia hanya nggak mau emosi atasannya kembali meledak karena hal ini.
"Ya sudah mbak, makasih banyak ya atas nasihat dan penjelasannya. Aku baik dulu."
"Semangat neng!" pelayan itu mengepalkan tangan di udara. "Neng harus yakin, kalau neng bisa!"
Zaina terkekeh dan mengangguk, ia mengucapkan banyak terima kasih.
***
Dengan perlahan Zaina menaruh nampan kuenya ke atas meja. Ia menggeleng sambil menaruh tangannya di dada, merasakan jantungnya yang berdegup sangat kencang. Ia berakhir meraup wajahnya dan menggeleng.
"Ya ampun ... ini kenapa deg-degan banget sih?" gumam Zaina lalu mengusap kasar telapak tangannya ke celana jeans yang Ia kenakan.
Zaina kembali berjalan bolak-balik di depan kamar oma nya itu. Sama sekali nggak ada keberanian untuk masuk ke dalam sana.
"Ih takut banget?" histerisnya sangat pelan.
Zaina kembali berdiri ke depan pintu setelah beberapa saat. Tangannya berusaha mengetuk pintu kamar. Tapi semuanya terus aja kembali terhenti di udara dan Zaina kembali yang berjalan bolak-balik, untuk mengurangi rasa gugup yang begitu menggebu itu.
"Ayo Zaina ... lakuin sekarang atau kamu bakalan nyesel sampai ke depan!" paksa Zaina membuat ia kembali berdiri di depan pintu.
Baru memberanikan diri untuk mengetuk pintu, pintu kamar oma malah terbuka dari dalam membuat Zaina nyaris memekik dan melangkah mundur.
"O— oma!"
"Berisik, kalau mau masuk tinggal ketuk. Bukannya malah diam di luar saja," kesal oma yang membukakan pintu lebih lebar untuk ruang Zaina lalu oma kembali masuk ke dalam membuat Zaina menunjuk dirinya sendiri dengan sangat takjub
"Ini oma ngasih ruang buat gue?" kaget Zaina lalu memekik sangat senang
Dengan perasaan yang sangat bahagia, Zaina masuk ke dalam kamar oma dan menaruh nampan kuenya ke atas meja samping kasur oma berada.
"Oma .... boleh Zaina duduk dan ngomong sesuatu sama oma?" tanya Zaina yang masih berdiri, perempuan itu masih tau batasan dan tak berani main duduk aja yang membuat namanya nanti malah semakin buruk.
"Duduk, tinggal duduk!"
Zaina menarik kursi dan memosisikannya dekat dengan kasur tempat oma berada. Ia duduk di sana dan kembali terdiam.
Keadaan menjadi hening kembali.
untuk menutup rasa gugupnya, Zaina menatap sekeliling isi kamar oma nya. Zaina tersenyum tipis karena ingat ini menjadi pertama kalinya, dia bisa masuk ke kamar ini.
"Apa yang sebenarnya mau kamu lakuin di sini?" tanya oma memecah lamunan Zaina
"Taruh saja di situ, nanti saya makan," final oma membuat Zaina kembali menaruh nampan kuenya.
"Tapi, beneran di makan ya oma. Soalnya Zaina udah buat dengan kasih sayang melimpah."
oma mendengus, enggan menatap Zaina.
"Tapi kamu nggak mungkin masuk kue bolu kukus kalau tanpa alasan. Jadi, apa yang buat kamu sampai masak itu? Pasti ada sesuatu kan?"
Zaina menggeleng.
"Enggak oma ... beneran deh, masakan yang ini pure karena Zaina mau minta maaf sama oma karena selama ini udah jahat sama oma." Zaina menunduk. "Aku juga mau kayak cucu lain yang suka main sama omanya dan aku mau kalau kita bisa main gitu oma. Aku tahu kalau selama ini udah jahat banget sama oma. Pasti oma juga kesepian nggak sih di rumah ini?"
"Kata siapa ..."
Zaina tersenyum tipis.
"Mbak yang bilang sendiri kok, kalau oma cuma suka diem di kamar doang dan baru senang kalah ada yang datang. Aku jadi sadar kalau selama ini jarang banget datang ke sini. Padahal rumah kita nggak bisa di bilang jauh."
"Itu tau!"
Zaina tersenyum sangat tipis.
"Oma ... Zaina boleh ngomong sesuatu?"
Oma mengangguk.
"Aku sebenarnya sangat iri sama semua anak tante yang bisa lebih dekat sama oma. Dulu, aku mau banget gitu bisa dekat sama oma. Diajak ngobrol sama oma aja aku bahagia. Oma tau nggak ... kalau dulu ada yang nanya, siapa nenek terbaik. Aku selalu jawab oma, walaupun aku nggak pernah tuh rasain ngobrol sama oma."
Oma tertegun.
"Aku selama ini mikir, kenapa sih oma bisa ngelakuin ini sama aku dan keluarga aku. Aku terus mikirin dan nggak pernah nemuin jawaban sama sekali."
Zaina memandang wajah keriput omanya. Tersirat rasa kasihan pada sang oma.
"Sampai baru aja aku sadar, kalau oma tuh butuh di temanin. Maksudnya, oma berperilaku masih terpaku sama hal dulu. Karena mungkin pemahaman di masa lalu masih tertanam kuat di benak oma. Dan harusnya aku sama keluarga aku, bukannya langsung nyerang oma dan marah. Tapi harusnya kami nasihati oma dengan lembut."
"Sok tau kamu ..."
"Oma ... selama ini aku udah jahat banget ya sama oma? aku minta maaf ya oma. Aku udah jadi cucu pembangkang. Oma sendiri yang bilang kalau aku pembawa suasana buruk dan cuma jadi hal yang nyakitin doang. Jadi, aku minta maaf ya oma."
"Maaf."
Sangking pelannya suara oma, Zaina hanya mendengar desisan kecil. Zaina sampai bertanya lagi membuat oma berdecak dan menghinanya.
"Oma minta maaf, maaf karena udah ngatain kamu dengan kata yang sangat buruk."
zaina tersenyum lebar dan mengangguk.
"Oma ... selama ini oma kesepian banget ya?" tanya Zaina
"Biasa saja," jawab oma yang kelihatan masih sangat gengsi itu
"Oh iya oma, Zaina mau deh sesekali main sama oma. Ya, maksudnya kan nggak pernah Zaina main sama oma. Oma mau nggak kalau nanti kita main? tapi berdua aja?" tanya Zaina. "Kita main deh ke taman bunga. Oma suka bunga kan? ayuk oma, main yuk," ajak Zaina sedikit memaksa
"Kamu saja sendiri ..."
"Ih oma, masa oma nggak mau wujudin kemauan cucu oma sih? Padahal aku udah senang banget ngebayangin oma yang mau loh. Ah ... sedih sih kalau kayak gini. Kayaknya oma masih nggak suka sama aku."
Oma tersenyum sangat tipis melihat cucunya yang seperti ini.
"Oma ... oma tau nggak sih kalau aku sama mom dan dad tuh pernah punya rencana buat liburan bareng. Tapi di undur mulu gara-gara masalah yang aku buat," jelas Zaina lalu dia terdiam dan menghembuskan napas kasar.
"..."
"Apa aku memang pembuat onar banget ya oma? Sampai masalah kayak gini aja buat rencana kayak gini tuh susah banget buat di realisasi."
"Kamu bukan pembuat onar ..."
Alis kiri Zaina terangkat, ia melirik ke omanya? Bahagia karena omanya yang tidak judge dirinya lagi. Tapi di sisi lain, Zaina belum pernah melihat sisi oma nya yang seperti ini dan ini terasa sangat asing.
Zaina menggeleng pelan, ia nggak mau mengungkit masalah mereka dulu.
Kedatangan Zaina kali ini pure karena ingin memiliki hubungan baik sama sang oma. Sementara urusan perjodohan dan lainnya, nanti akan di bahas saat malam. Jadi, Zaina akan mengungkitnya nanti malam saja. Bukan saat ini.
"Oh iya oma, coba dulu dong kuenya," lanjut Zaina. "Keburu dingin terus jadi nggak enak loh."
Akhirnya setelah sedikit dipaksa, oma mau menerima kue Zaina. Baru mengunyah sebentar oma langsung tersenyum tipis membuat Zaina sangat senang bukan main.
Setelah itu,
Keduanya terus berbincang layaknya tidak ada masalah. Mereka terus membicarakan banyak hal sampai tanpa sadar kue bolu di nampan sudah habis karena di lahap sama mereka berdua.