Love In Trouble

Love In Trouble
Keributan Kecil



Zaina sungguh bersyukur karena penjaga yang tadi nunggu dirinya sudah tidak ada di depan kantornya. Bahkan mobil yang tadi di kenakan sama penjaganya sudah tidak ada. Walau gitu mata Zaina tetap menatap seluruh pekarangan kantornya. Takut saja penjaganya itu menyembunyikan diri.


“Kayaknya aman deh.”


Zaina meminta Ghaly menghampiri dirinya, dengan mendengus sambil menggeleng kepala Ghaly menghampiri Zaina. Laki-laki itu menyilangkan tangan di udara. Ini Zaina kayak yang lagi main umpet umpetan dan dirinya sedang mencari penjaga. Benar-benar kayak yang lagi di medan perang. Ghaly nggak habis pikir sama sekali.


“Kan gue udah bilang dari tadi kalau memang aman, udah nggak ada siapa-siapa. Soalnya, setelah banyak wartawan yang datang ke kantor. Jadi, situasi di depan tuh nggak enak gitu. Makanya dari situ dibuat peraturan kalau pendatang nggak boleh markir lama di depan perusahaan. Jadi, udah pasti kalau mobil penjaga kamu udah nggak ada di sini.”


“Ah gitu ... gue baru tau.”


Ghaly menggelengkan kepala saat Zaina berdiri dengan normal dan mengusap tengkuknya. Baru sadar banyak yang melihat ke arah mereka dari tadi. Ghaly mendengus, tingkah random Zaina yang kayak gini nih yang buat Ghaly semakin cinta.


Ia merapihkan jas hitam dan berlalu meninggalkan Zaina.


“Jangan kayak gini Zaina, jangan buat makin jatuh cinta sama lu. Gue beneran nggak sanggup buat nahan ini lagi,” gumamnya pelan sambil melihat bayangan Zaina dari kaca mobil yang membiasa tubuh perempuan di belakangnya itu.


“Eh ... gue baru sadar deh, kalau beberapa interior di depan kantor yang berubah,” ucap Zaina sembari mengitari tubuhnya. “Jauh lebih rapih dan elegan,” gumamnya pelan. “Apa lagi jadi banyak tanaman. Ih kok lebih bagus gini dan gue baru sadar.”


“Makanya sering ke kantor dong,” titah Ghaly sambil membuka pintu mobil. “Udah yuk masuk, katanya mau pergi ke sana? Nanti keburu persidangan nya selesai.” Ghaly melihat jam di pergelangan tangannya. “Ini beneran sebentar lagi selesai loh.”


Dengan cepat Zaina mengangguk dan masuk ke dalam mobil.


***


TOK ... TOK ... TOK ...


“Persidangan dinyatakan selesai. Korban memenakan persidangan dan pelaku dinyatakan bersalah. Sesuai hukum yang berlaku, saudari Restu akan dikenai hukumn penjara seumur hidup.”


Semua orang berdiri dan bertepuk tangan, mendengar hasil persidangan yang mereka semua inginkan itu.


Zaina dan Ghaly yang baru saja masuk ke dalam langsung mendengar semua itu dan berhenti tepat di depan pintu. Siapa yang sangka Zaina akan mendengar kemenangan dirinya kali ini? ia benar-benar merasa jauh lebih lega dan hatinya sangat tenang.


“Ghaly ... gue menang, akhirnya semua penderitaan gue selama ini berakhir juga. Gue beneran menang. Gue nggak akan di buatin berita buruk lagi sama Restu. Dia nggak bakal menggiring opini lagi dan buat nama gue jadi hancur,” seru Zaina dengan mata berlinang air mata.


Ia meloncat riang, membuat semua orang menoleh ke belakang. Termasuk Restu yang sejak tadi duduk bersama pengacarannya. Perempuan itu menoleh, matanya terbelalak melihat wanita yang menjadi lawannya sedang tersenyum riang kayak gini. Berbanding jauh dengan dirinya yang mengenakan kaus orange bertuliskan tahanan.


“SINI LU! Lu yang harusnya ada di sini, bukan gue!” pekik Restu membuat beberapa pihak polisi sigap menahannya.


“Siyalan lu Zaina, lu yang harusnya ngerasain ini semua. Lu yang harusnya tersiksa, bukan malah gue. WOI! SINI LU,” pekik Restu yang semakin memekik kencang membuat suasana jadi riuh.


Keluarga Zaina sigap menahan anaknya yang malah mau menghampiri Restu itu. Zaina menoleh dan menggeleng, meminta orang tuanya tidak menahan. Karena ada yang mau dia bicarakan pada Restu. Walaupun orang tuanya masih melarang, tapi Zaina tetap kukuh dan mendekati Restu. Sampai pagar pembatas yang ada di depannya membuat langkah Zaina terhenti.


“Restu ... gue nggak kenal lu sama sekali. Kita nggak pernah deket. Bahkan gue nggak pernah cari ribut sama lu. Jadi, gue nggak paham kenapa lu tega ngelakuin ini semua sama gue. Apa yang buat lu sedendam itu sama gue. Maksudnya ... apa yang lu mau juga gue nggak paham.”


“...”


“Jahata ya ... kenapa lu tega ngelakuin itu semua? Kenapa lu buat nama gue makin buruk? Apa dengan lu ngelakuin ini, lu jadi bahagia? Kalau memang iya, gue nggak bisa apa-apa selain bilang semua rencana lu berhasil. Karena semakin banyak orang yang benci gue dan merasa gue ini cuman perempuan jahat yang nggak perlu di temanin sama sekali.”


“...”


“Lu juga berhasil buat gue semakin minder dan takut sama diri gue sendiri. Lu berhasil!”


Dari teriakan tidak jelas Restu, perempuan itu jadi terdiam dan tertawa mendengar penuturan Zaina. Tawa yang membuat semua orang bingung, seperti tak terkendali dan tatapan matanya terlihat kosong sambil terus menunjuk Zaina.


“Tapi ... lu tau kan akibat dari semua yang lu lakuin selama ini?”


Zaina tertawa kecil sambil menunjuk semua orang yang ada di sini.


“Semuanya berpihak sama gue. Bahkan keluarga lu aja nggak datang ke sini. Yang artinya, di sini gue yang menang dan lu yang harus nikmatin semua dosa yang lu lakuin itu.”


Zaina tertawa lagi.


“Jadi ... selamat menikmati semua hukumannya. Anggap aja ini sebagai balasan atas semua perbuatan yang lu lakuin selama ini,” ucap Zaina


Sebelum para polisi mulai semakin kesulitan dalam menangani Restu yang semakin memberontak. Setelah semua orang keluar, menyisakan keluarga Mahen, keluarga Zaina dan Ghaly di dalam.


“Kamu ke sini?” tanya daddy Zidan


Ghaly yang mendengar nada serius dari atasannya itu langsung buru-buru meminta maaf dan menunduk sopan.


“Maaf om, saya yang mengajak Zaina ke sini. Maaf saya nggak tahu kalau keadaan bakalan jadi kacau. Saya tidak bisa mendengar rengekan Zaina yang meminta untuk ke sini. Maaf atas kelalaian saya om. Seharusnya saya bisa menahan Zaina. Tapi, saya malah kalah sama mata berbinarnya dan mengajaknya ke sini.”


Zaina dengan cepat menggeleng, mendengar penuturan Ghaly


“Jangan salahin Ghaly juga yah. Aku yang salah di sini, aku ngancem Ghaly. Makanya Ghaly bawa aku ke sini. Lagian tadi aku minta Ghaly untuk ajak ke sini buat tau penyelesaian para hakim bakalan kayak gimana dan setelah dari sini juga, aku sama Ghaly mau kunjungin makam anak kita. Makanya ... sekalian deh.”


Daddy Zidan mendengus, menjetik kepala anaknya, pelan.


“Ih daddy ... kok sentil aku.”


“Memang nakal banget kamu tuh,” ucap mommy Nadya membuat daddy Zidan mengangguk setuju. “Kami beneran takut kalau Restu lepas kendali kayak tadi. Untung aja dia lihatnya pas di akhir doang. Kalau dari awal kamu datang ke sini, pasti dia udah lepas kendali. Kalau sampai polisi nggak bisa nahan Restu, yang ada kamu kena amukannya. Kami nggak mau kalau kamu sampai terkena amukan dia.”


“Ah ... jadi itu alesan kalian semua nggak bolehin aku buat datang ke sini?” gumam Zaina sambil mengangguk mengerti.


Mahen yang sejak tadi melihat itu hanya menggeleng.


“Apa yang dibilang orang tua kamu juga pasti demi kebaikan kamu,” seru Mahen sambil mengacak rambut Zaina. “Jadi, kamu nggak perlu tanya alasan ini itu. Kamu cukup ikutin aja. Tapi, ya mau bagaimana lagi ya kan? Semuanya udah terjadi. Mendingan, sekarang kamu seneng karena akhirnya masalah ini selesai.”


“Buat semuanya, makasih banyak ya karena udah mengusahakan semuanya demi aku. Lakuin banyak cara, ngeluarin uang yang pastinya nggak sedikit, luangin waktu di tengah kesibukan kalian sekaligus buat Mahen karena sampai relain diri deket sama Restu, untuk cari informasi di sini. Pokoknya aku makaish banyak sama kalian semua. Aku janji nggak bakalan buat masalah lagi dan bikin nambah kayak gini lagi.”


Orang tua Mahen mengusap lengan atas Zaina.


“Kami bahagia kalau kamu juga udah lepas sama masalah ini. kami berharap nggak akan ada lagi hal kayak gini lagi. Semoga nggak ada orang yang iri sama kamu, sampai ngelakuin hal sejahat ini lagi ... karena sudah waktunya kamu hidup bahagia, tanpa mikirin omongan jahat orang lain lagi.”


“Makasih ya tante.”


“Ih kok tante lagi?” seru bundanya Mahen. “Biasanya juga bunda ...”


“Tapi kan—


“Bunda kan pernah bilang sama kamu, walau status kamu sama Mahen nggak kayak dulu lagi. Tapi, kamu tetap bunda anggap seperti anak bunda. Jadi, kamu nggak usah merasa gimana-mana karena selamanya kamu akan tetep jadi anak bunda.”


“Bunda yang harusnya nggak perlu mikir. Karena mulai sekarang, kita bakalan punya status lagi kan?” seru Mahen. “Iya kan Zaina?”


Zaina memukul pelan Mahen, membuat semua orang tertawa dan menggoda mereka.


Membuat Ghaly yang berdiri di antara mereka langsung melangkah mundur dan tertawa miris. Keberadaanya nggak di perlukan di sini. Ghaly melirik ke arah Zaina. Perempuan nya itu sedang tertawa sambil menoleh ke arah Mahen. Benar-benar terlihat bahagia.


/Apa yang aku harepin lagi, selain mundur?/ papar Ghaly berusaha menyadarkan dirinya sendiri.


“Maaf ... saya sepertinya mengganggu acara kumpul keluarga ini, kalau gitu saya pamit lagi. Untuk om Zidan, sekali lagi saya minta maaf ya karena sudah membuat sedikit kekacauan di sini. Saya janji nggak akan mengulanginya lagi.”


“Eh ... kamu tidak jadi mengunjungi makam anak kamu sama Zaina kah?” tanya daddy Zidan membuat semua orang menoleh pada Ghaly


“Iya ... katanya lu mau anterin gue datang ke makam dedek. Sekalian karena kita nggak pernah datang bareng ke sana. Ini juga kesempatan yang pas buat melepas rindu sama dedek.”


“Ta— tapi bukannya lu mau kumpul dulu? Tadi kalau nggak salah denger, kalian udah lama nggak kumpul bareng kan?”


Zaina menoleh ke arah yang lain.


“Bunda, ayah ... Mom, dad ... boleh kan kalau ajak Ghaly? Dia memang asisten aku, tapi Ghaly udah kayak kakak aku yang selama ini jaga Zaina. Jadi, nggak apa-apa kan kalau kita makan siang bareng sambil ajak Ghaly juga?”


“Ya nggak masalah dong,” jawab mereka serentak.


“Tuh kan ... kata yang lain aja boleh. Jadi, mendingan lu ikut kita makan siang bareng dulu aja. Dari pada lu makan siang sendiri kan? Nggak enak juga. Jadi, mendingan lu ikut kita terus nanti pas acara makan-makan nya udah selesai. Kita langsung pergi ke makam dedek.”


Ghaly menimang-nimang ajakan mereka.


Tapi bayangan mereka yang sibuk dengan urusan masing-masing dan meninggalkan dirinya membuat Ghaly memilih urung untuk ikut. Ia menggeleng.


“Maaf, tapi terima kasih untuk undangan kalian semua. Tapi, sepertinya saya tidak akan ikut lebih dulu. Saya tidak mau mengganggu urusan keluarga kalian dan juga saya merasa nggak enak kalau ikut. Buat Zaina ... kit kan masih bisa cari lain waktu untuk kunjungin ke makam dedek.”


Zaina merengut tidak suka, “tapi kan—


“Nggak usah menolak gitu, bro.” Mahen merangkul Ghaly dan menepuknya pelan. “Ikut aja, bro. Sekalian kita kenal lebih lanjut. Gue belum tau sama sekali tentang lu. Gue mau kenal sama orang yang udah jaga Zaina selama ini.”


Zaina mengangguk, menatap penuh mohon pada Ghaly.


“Ayo dong ... ikut, jangan nolak kayak tadi. Gue nggak suka deh.”


“Ya sudah deh ...”


Semua orang akhirnya bergumam senang dan memutuskan untuk mendatangi restoran milik keluarga Mahen yang akan menjadi tempat mereka makan siang.


***


“Oh iya ... kalau ngomongin masa lalu, kalian nggak bakal kebawa suasana lagi kan? Dan nggak bakal marah?” tanya Mahen sembari menyetir dan menoleh bentar ke belakang. Di mana Ghaly berada.


Mereka memutuskan untuk naik mobil Zaina. Dengan Mahen menyetir, Zaina yang duduk di sampingnya dan Ghaly duduk di belakang. Sejak tadi suasana mobil terasa canggung. Mereka semua memilih diam dan sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sampai pertanyaaan spontan Zaina membuat Zaina dan Ghaly saling melirik.


“Kalau gue sih nggak masalah,” jawab Zaina dengan cepat, tidak mau membuat Mahen jadi salah paham. “Karena bagi gue, yang namanya masa lalu hanya lah masa lalu yang nggak perlu di bayangin sama sekali. Tapi nggak tau deh, kalau Ghaly. Takutnya dia nggak nyaman.”


Ghaly tertawa canggung dan menggeleng.


“Gue juga nggak masalah kok. Gue beneran nggak punya perasaan apa-apa sama Zaina. Toh gue sama Zaina juga udah nggak pernah mikirin hubungan kita di masa lalu kok. Prinsip kita ya cuman jalanin aja yang ada sekarang. Tanpa sangkut pautin masa lalu. Kecuali tentang anak kita yang selamanya akan menjadi kenangan bagi kita.”


“Ah ... iya sih, nggak cuman lu doang. Tapi gue juga ngerasa anak itu sangat berharga. Nggak boleh ada yang ngelupain sama sekali! Anak itu akan selalu memiliki tempat tersendiri yang nggak akan pernah terlupakan sama kita.”


Zaina menoleh ke arah mereka berdua dan mengucapkan banyak banyak terima kasih sama Tuhan karena sudah mengirim orang sebaik mereka yang selalu ada di hidupnya. Yang menemani dirinya di titik tersulit.


“Ah ... udah lah jangan buat gue jadi mellow nih karena inget kebaikan kalian di hidup gue,” papar Zaina dengan pelan. “Mendingan lu tanyain apa yang tadi mau lu tanya itu. Dari pada keburu kita sampai ke tempat sana.”


Mahen menimang nimang pertanyaan yang ada di benaknya itu.


Ia takut kalau mereka ikut sakit hati karena pertanyaan dari dirinya itu. Sesekali Mahen melirik ke arah Zaina dan Ghaly. Mereka menatap penuh harap pada dirinya, seakan menunggu pertanyaan yang keluar dari mulutnya.


Banyak pertanyaan yang hinggap di benak Mahen. Tapi semua itu seakan tertahan di benaknya dan hatinya yang merasa nggak enak. Sampai Zaina sama Ghaly terus mendesaknya membuat laki-laki itu merasa terpojokan.


“Tanya aja Mahen, nggak usah merasa nggak enak. Kita beneran nggak apa-apa kok kalau lu nanya. Beneran deh.”


Ghaly mengangguk, menyetujui omongan Zaina.


“Ya sudah,” putus Mahen pada akhirnya. “Gue cuman mau nanya sama kalian. Apa sampai detik ini kalian masih punya perasaan ke salah satu dari kalian masing-masing?”