
"Huft ... aku harus kuat! aku harus bisa! aku hanya punya diri aku sendiri dan aku harus yakin kalau bisa lewatin ini semua sendirian!"
Zaina menatap cermin di depannya. Wajah dia sangat pucat karena sedikit tidak enak badan, mungkin karena dirinya yang hujan-hujanan kemarin. Tapi semua itu sedikit tertutupi sama polesan make up yang ia kenakan.
Sejak tadi Zaina hanya loncat tidak jelas, berlarian ke sana kemari, berjalan memutar dan kembali berdiri di depan cermin. Anggap saja sebagai latihan karena sebentar lagi dia akan menemui keluarga besarnya yang di kenal punya mulut yang tajam.
Dengan napas memburu, Zaina kembali di depan cermin dan menatap dirinya yang sudah penuh dengan keringat. Ia tersenyum lebar.
"Olahraga yang nggak di rencanain sama sekali. Niatnya cuman mau naikin mental bisa nanti tahan, tapi malahan jadi olahraga gini. Tapi, nggak apa-apa deh. Yang penting aku bisa tahan di sini! yang penting aku bisa lewatin. Anggap aja nanti aku kuat kayak olahraga yang sekarang."
Zaina mengerjap pelab, bingung sendiri sama ucapan asalnya. Sampai akhirnya dia tertawa sendiri karena nggak paham sama apa yang dia bicarakan.
"Zaina ..."
"Iya mom, bentar."
Zaina mengelap keringat lebih dulu lalu berlari turun ke bawah dengan langkah yang sangat heboh. Mommy Nadya yang melihat langsung menatap terkejut dan melotot.
"ZAINA!" bentak sang mommy lalu berdecak. "Kebiasaan ... mommy cuman manggil kamu doang, bukan ada hal yang genting. Jadi biasa aja. Nggak perlu lari. Gimana kalau kamu kepeleset. Ini tangga ya, nak. Jangan main-main."
Zaina duduk di sofa dan meluruskan kakinya.
"Alah mommy mah .. udah dari kecil aku ada di sini. Merem aja aku udah inget sama semua sudut di rumah ini. Jadi, kalau lari doang mah aku bisa. Nggak akan jatuh."
Zaina mengaduh saat mommy nya malah menjitak dia. Dengan tatapan kesal Mommy Nadya memandang anak nya itu yang selalu saja menyepelekan hal kecil. Mending hal kecil itu benar-benar hal kecil yang nggak di permasalahin sama sekali. Ini mah Zaina selalu menyepelekan hal yang buat dirinya jadi khawatir bukan main.
"Bukan masalah udah hapal, atau dari kecil kamu udah lewatin ini semua! Tapi, yang namanya hari apes nggak ada yang tahu. Jadi mommy selalu ingetin berulang kali ke kamu kalau kamu nggak boleh lakuin hal itu lagi. Mau gimana pun, kita nggak tahu nak. Jadi jangan sombong gitu."
Akhirnya Zaina hanya cemberut dan mengangguk
kecil, seraya meminta maaf.
"Jadi ... mommy manggil aku buat apa?" tanya Zaina. "Aku lagi olahraga tau nggak sih di atas."
"Olahraga apaan?" bingung sang mommy. "Kalau mau olahraga ya di ruang gym," lanjutnya sambil menunjuk ruang gym yang memang ada di rumah mereka.
"Cuman lari kecil, mom. Nyiapin mental, biar nanti aku bisa lewatin omongan mereka yang nyakitin aku," jawab Zaina dengan asal
"Husss," gumam sang mommy sambil melihat ke sekitar lalu bernapas lega saat suaminya nggak ada di sekitar mereka. "Kamu ini kalau ngomong nggak di jaga banget deh. Nggak enak kalau sampai kedengeran ayah kamu. Mau gimana pun mereka, ayah kamu masih punya hubungan sama mereka kan? Jadi ... mommy harap kamu nggak ngomong asal lagi kayak tadi."
"Padahal aku cuman ngomong fakta doang," gumamnya pelan. "Dan di sini daddy juga tahu kan kalau keluarganya kayak gitu. Aku kayak makan bulan-bulanan dari mereka. Dari dulu selalu di sela padahal nggak punya salah sama sekali. Apalagi sekarang? yang jelas jelas berita aku ada di mana-mana. Yang ada aku di babat habis sama mereka."
"Ya ... kalau gitu, kamu doa aja sama Allah supaya Allah meluluhkan hati mereka. Biar mereka nggak nanya masalah ini sama sekali. Semakin kamu memikirkan ke arah sana, maka semakin yakin semua itu akan terjadi. Jadi, kamu mikir hal yang positif aja ya."
Zaina menunduk.
"Sebenarnya aku masih takut, mom ..."
"Mommy paham," ucapnya lalu mengusap punggung sang anak. "Mommy tahu ... dari tadi kamu kelihatan gelisah banget tapi kamu tutupi dengan candaan kamu terus. Sampai daddy kamu yakin kalau kamu ini baik-baik aja. Tapi mommy jelas tahu kalau kamu nggak sebaik yang di lihat. Kamu menyimpan kesedihan mendalam dan itu malahan buat mommy sakit."
Zaina menggenggam tangan mommy nya dan menggeleng.
"Aku harap mommy nggak khawatirin aku lagi. Aku nggak mau buat banyak orang khawatir karena aku."
"Wajar dong, nak. Mommy itu orang yang melahirkan kamu, jadi mommy khawatir sama anak mommy sendiri. Kamu nggak perlu ngerasa nggak enak. Karena ini memang udah tugas mommy."
Zaina menunduk. Dirinya hanya diam. Perasaan nggak enak kembali menyelimuti hatinya.
"Mommy minta maaf ya karena nggk bisa bantu kamu," ucap sang mommy membuat Zaina spontan menggeleng dan meyakinkan kalau ini memang keinginan dia yang nggak di paksakan sama sekali.
"Mommy tenang aja ... do'ain aku supaya bisa lewatin ini dengan baik. Aku cuman takut meledak doang mom. Aku cuman takut kalau nanti nggak tahan dan malah balik marah sama mereka. Aku nggak mau membuat mommy sama daddy malu lagi karena aku. Jadi, do'ain aja."
"Mommy akan do'ain kamu terus. Tapi ... di sini mommy cuman bisa ngomong sama kamu untuk nggak nahan ini semua. Mommy nggak mau kalau kamu menyakiti diri kamu atau menyimpan sendirian semua kesakitan itu. Kalau kamu rasa mereka salah, kamu harus lawan mereka dan jangan diam saja."
Dengan lembut mommy Nadya mengambil tangan anak nya dan membawanya menyentuh hati Zaina.
"Karena di sini kamu yang paling paham sama diri kamu sendiri. Hati yang kamu miliki cuman kamu yang paling paham. Mau mommy merasa merela nggak berlebihan, tapi kamu yang lewatin ini. Mau sedekat apa pun mommy sama kamu. Tetap kamu yang paling paham sama perasaan kamu. Jadi kalau kamu merasa mereka udah berlebihan, kamu jangan diam saja."
Mommy Nadya menatap lembut anaknya yang terhenyak dan berlinang air mata. Mommy Nadya spontan memeluk anaknya.
"Kadang mommy benci sama diri mommy yang dulu karena nggak bisa jaga kamu dengan baik, dan akhirnya kamu malah lewatin ini sendirian. Tapi sekarang mommy juga nggak mau terlalu ngekang kamu yang akhirnya malahan buat kamu jadi tersiksa. Mommy akan bebaskan kamu. Jadi, kalau mereka berlebihan tolong tegasin merela dan kalau mereka masih nggak peduli. Kamu boleh marah."
"Makasih mom, makasih banyak."
"Hahaha ... sudah jangan nangis. Anak mommy jadi jelek kalau nangis dan sekarang kamu siap-siap aja. Udah ada baju yang mommy siapkan. Kamu pakai itu ya. Udah ... jangan sedih lagi."
"Iya mom ..."