Love In Trouble

Love In Trouble
Bunda Mahen



“YA AMPUN ZAINA!”


Zaina membalas pelukan orang tua Mahen yang ternyata masih menyambutnya dengan sangat baik. Mereka saling berpelukan satu sama lain, menyapa seperti biasanya dan saling bercengkrama satu sama lain.


"Udah lama banget kamu nggak ke sini, ya ampun bunda sampai pangling lihat kamu yang sekarang. Makin cantik dan bersih aja. Auranya beda."


Zaina tersenyum malu-malu. "Aura apanya bun?" perempuan itu terkekeh kecil sambil menggeleng. "Aku masih gini-gini aja kok. Oh iya, maaf ya bun kalau aku jarang banget datang ke sini."


"Ih ... nggak apa-apa, bunda tau kalau sekarang kamu mulai ngejaga perusahaan daddy kamu kan? pasti sibuk banget. Ya ampun kamu tuh memang hebat banget ya. Bunda makin kagum sama kamu."


Zaina merasa pujiannya terlalu berlebihan. Ia mengelak dan menggeleng kecil. "Bunda kok tau?"


"Iya lah, kan sampai sekarang Mahen terus cerita tentang kamu."


Refleks Zaina menoleh ke arah Mahen dan laki-laki itu hanya berdeham. "Ayo bun ajak Zaina ke belakang. Katanya bunda mau lihatin sesuatu sama Zaina?"


"Apa itu bun?"


"Oh iya! ayuk ikutin bunda sekarang. Bunda yakin kalau kamu pasti suka banget pas lihat ini semua," ajak bunda Mahen yang langsung bergegas berdiri dan meninggalkan mereka.


Zaina menoleh ke arah Mahen sebentar. Perempuan itu tertegun saat masih mengingat ucapan bunda Mahen yang tadi. Ia tersenyum tipis sebelum mengikuti bunda Mahen yang sudah memanggilnya lagi.


Mereka mendatangi halaman belakang rumah. Begitu pintu belakang terbuka, Zaina langsung memekik tertahan. Di sana ada taman bunga yang dihiasi beberapa macam jenis bunga. Tak hanya itu saja, taman itu di dominasi sama bunga mawar putih yang selama ini selalu menjadi favorit Zaina.


"Bunda?" gumam Zaina sambil menatap takjub dan menoleh ke arah bunda Mahen.


"Setelah kamu punya hubungan sama anak bunda, bunda jadi ikutan seneng. Ditambah pas tau kamu itu suka sama bunga mawar putih. Ya, tanpa pikir panjang bunda langsung buat ini. Eh ... belum renovasi taman ini selesai. Bunda dapet kabar kalau hubungan kamu sama Mahen sama-sama selesai dan memilih menyudahi semuanya."


"Bun ... maaf."


"Santai aja Zaina, bunda tau kok kalau ini namanya takdir. Jadi, kamu nggak usah merasa gimana lagi. Bunda cuman sedikit sedih aja. Karena kamu tuh orang yang benar-benar bunda sayang banget. Bunda ga punya anak perempuan. Jadi pas kedatangan kamu, rasanya bunda mau lakukan banyak hal sama kamu. Tapi ... takdir nggak pernah berjalan sesuai yang kita mau kan?"


Zaina menundukkan kepalanya.


Limpahan kasih sayang dari bunda nya Mahen benar-benar membuat Zaina menyesal karena udah suudzon sama mereka. Entah kenapa dia malah berpikir kalau keluarga Mahen bakalan benci sama dia. Padahal bundanya Mahen saja masih bisa sebaik ini.


"Bukan salah kamu, bunda cuman mau bilang sama kamu kalau kamu hebat dalam lewatin ini semua. Kamu sama Mahen tuh sama-sama dari keluarga berada. Yang tentu nya pasti di manjain banget sama orang tuanya. Tapi bedanya, kamu itu perempuan yang selalu pakai hati dalam lakuin apa pun."


"Aku?" Zaina menyentuh hatinya dan mengerjap pelan.


"Iya kamu ... kamu perempuan yang dikenal orang banyak sebagai makhluk yang lemah. Dimanja orang tua. Punya mental yang terjaga. Benar-benar definisi yang harus lembut banget buat disentuh. Tapi ... kamu berhasil lewatin ini semua sampai kamu ada di titik ini. Berdiri di atas kinerja perusahaan kamu sendiri. Kamu hebat banget. Kamu bisa bungkam omongan banyak orang. Nggak gampang jadi kamu. Pokoknya udah best banget deh. Nggak ada yang bisa ngalahin sama sekali."


Zaina menggeleng lagi. Merasa sungkan mendapat pujian sampai sejauh itu. Di saat dirinya masih banyak kesalahan sampai detik ini.


"Bun ... kenapa ya bunda sebaik itu sama aku? padahal bunda tau masa lalu aku. Bunda juga nerima keadaan aku pa lagi hamil. Bunda udah banyak nolong aku. Tapi keadaan malah buat bunda jadi sedih."


Bunda Mahen duduk di samping Zaina dan membawa tangan Zaina ke dalam genggamannya. Ia elus dengan sangat lembut layaknya orang tua yang berkata ke anak kandungnya sendiri.


"Bunda nggak peduli sama semua itu. Karena apa? semua manusia nggak pernah luput dari kesalahan. Ada saatnya kita tersesat dan bukan tugas sesama manusia juga untuk saling menyalahkan. Sesama manusia sudah seharusnya menolong dan membawanya ke luar dari arah tersesat itu. Sama seperti kamu ..."


Bunda Mahen menarik napas dalam.


"Dari awal bunda langsung sadar kalau kamu lagi salah arah. Bunda sadar kalau kamu orang baik yang tersesat. Dan tugas bunda membawa kamu semakin jauh dari lubang hitam itu. Kita di sini bukan untuk menyalahkan kamu karena yang ada mental kamu makin hancur."


"Tapi ... aku ngerasa nggak pantes aja dapet limpahan kasih sayang ini. Nggak orang tua aku, nggak bunda, semuanya bener-bener baik sama aku. Padahal aku udah sering buat kecewa kalian dengan tindakan bodoh aku."


"Kecewa mah hal wajar ... toh ngeliat kamu yang selalu nyesel buat kita milih buat bimbing kamu kan? udah ga usah di pikirin karena itu memang wajar banget buat kamu. Selama ga parah banget, nggak masalah sama sekali."


Bunda Mahen menarik napas dalam.


"Dan sampai detik ini bunda masih nggak suka fakta kalau kamu sama Mahen udah pisah. Dan makin benci fakta kalau tau Mahen udah bareng sama perempuan nggak jelas itu."


Jantung Zaina langsung berdegup kencang.


"Maksud bunda?"