
Saat ini,
Keadaan sudah jauh lebih baik. Daddy Zidan sudah kembali di rumah dikarenakan hanya perlu perawatan jalan dan setiap satu minggu sekali harus datang ke rumah sakit untuk memeriksa perkembangan kakinya yang retak.
Mommy dan oma juga sudah semakin akur, bahkan kini oma tinggal di rumah Zaina. Dengan alasan ingin menjaga anak nya yaitu daddy Zidan. Mereka semua tidak ada sama sekali yang mempermasalahkan, malah ikutan bahagia melihat ibu nya yang mau bersama mereka. Jadi, kedua orang tua Zaina tidak perlu khawatir lagi oma merasa kesepian.
Selama ini juga, daddy Zidan tidak ada keluhan akan kakinya. Hanya sesekali daddy Zidan mengaku tidak enak karena sudah merepotkan semua orang, tapi lagi dan lagi mereka malah marah karena tidak merasa direpotkan sama sekali. Karena saat ini bagi mereka yang penting adalah kesembuhan untuk Zaina.
Saat ini,
Hari sabtu, yang artinya besok adalah weekend. Setelah beberapa hari Zaina menahan diri untuk tidak mengurus hal ini sendirian karena dilarang daddy. Pada akhirnya hari ini ia akan berkumpul sama asisten sang daddy dan Mahen untuk membicarakan masalah ini. Karena dua orang itu, baru ada waktu lowong ya hari sabtu. Jadi, mau tidak mau Zaina itu mengikuti jadwal mereka karena enggan mengganggu mereka juga.
Zaina membongkar isi lemari. Masih ada waktu dua jam sebelum waktu kumpul mereka di salah satu kafe yang cukup terpencil. Karena Zaina mau mereka kumpul di tempat sepi hingga tidak ada yang tahu tentang pergerakan mereka ini.
Zaina mengeluarkan celana Highwaits yang dipadu dengan kemeja oversize lalu tak lupa tank top berwarna putih. Dia taruh semua itu ke atas tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi untuk mengeluarkan handuk basah lalu menjemurnya di bawah.
"Aish ... agak mendung ya," keluh Zaina lalu masuk kembali ke dalam rumah.
Dia mengedarkan pandangan, rumah besar itu terasa sepi dan beberapa saat kemudian Zaina baru ingat kalau oma dan mommy nya lagi keluar untuk mengambil pakaian oma. Karena oma berniat menginap lebih lama lagi.
Merasa tidak ada teman mengobrol, Zaina masuk ke dalam kamar orang tuanya.
"Eh daddy udah bangun," sapa Zaina lalu merapihkan meja yang terlihat berantakan. "Kenapa nggak manggil Zaina? kan Zaina udah bilang ... kalau ada apa-apa tuh langsung panggil Zaina, jangan diem aja kayak gini."
"Hahaha iya sayang, maafin daddy ya ... tadi daddy nggak mengira ada kamu. Dikira udah pergi. Lagian daddy udah baik kok. Kamu nggak perlu khawatir." Daddy Zidan menjelaskan. "Oh iya ... nanti Mahen jemput kamu kan? kalau dia nggak bisa jemput, nanti kamu sama supir aja. Daddy nggak kasih kamu nyetir sendiri."
"Dih kenapa?" protes Zaina. "Eh tapi mas Mahen sekalian jemput sih dan tadi di telepon mas Mahen juga minta maaf karena belum sempat jenguk daddy. Nanti malem palingan dia baru bisa nengok daddy. Kata mas Mahen, dia lagi sibuk banget. Jadinya, benar-benar nggak ada waktu luang. Kalau ada juga ya palingan pas malem. Itu pun dia nggak mungkin dateng kalau malem. Takut ganggu .."
"Santai saja ... namanya sibuk juga nggak ada yang tahu. Toh daddy juga udah agak baikan ini kan?"
Zaina memegang kaki daddy nya, sontak daddy nya meringis pelan.
"Ya nggak di pegang juga cantik," omel daddy Zidan. "Kalau di pegang ya masih sakit dan terkadang masih nyeri kok. Tapi ini lebih baik di banding sebelumnya. Jadi, kamu tuh nggak perlu khawatir banget ya ... Daddy beneran udah baik aja kok."
Zaina menghembuskan napas kecil lalu mengangguk.
"Daddy ... menurut daddy mereka sengaja nggak sih ngelakuin ini sama daddy?" tanya Zaina memulai bicara yang serius. "Beneran deh dad ... kita harus laporin mereka. Aku beneran marah banget kalau mereka ngelakuin ini tuh sengaja. Cuma karena mau Kuasain proyek ini. Padahal ya daddy udah baik banget mau kerja sama dengan perusahaan yang kurang bagus ratingnya gitu dan daddy juga udah merogoh uang cukup banyak di banding mereka."
Daddy Zidan menatap anaknya dengan serius. Tersenyum tipis dan mengangguk kecil. Bangga saat anaknya sudah bisa memahami betapa seriusnya sebuah perusahaan.
"Ya ampun ..."
Daddy Zidan menghela napas. Menyesali perbuatannya yang malah menerima proyek kerja sama dengan perusahaan yang bahkan termasuk menengah ke bawah dan belum ada pengalaman sama sekali.
"Daddy menyesal ..."
"Maksud daddy?"
"Iya ... coba dari awal daddy nggak kasihan sama mereka. Karena sungguh mereka sampai mohon-mohon ke daddy untuk menerima proyek kerja sama ini. Karena dengan dad menerima, perusahaan mereka nggak akan terancam bangkrut lagi. Tapi ternyata malah kayak gini."
"Idih jahat banget ..."
Daddy Zidan mengangguk setuju.
"Tapi ... kamu juga jangan langsung menuduh ini itu ya. Maksudnya, kita nggak tahu apa alasan mereka ngelakuin ini kan? siapa tahu memang hal ini karena kesalahan proyek aja bukan sengaja dari mereka. Intinya jangan gegabah. Kamu cari tahu semampu kamu aja. Kalau memang udah nggak sanggup. Baru deh daddy bakalan turun tangan atau paling tenang ... kita biarin aja lah orang kayak gitu. Daddy lepas kerja sama dan masalah selesai."
Zaina langsung berdiri dan menatap tidak terima.
"Mana bisa begitu!" protesnya.
Daddy Zidan menatap bingung
"Nggak bisa ya dad ... mereka harus mendapat imbasan atas perbuatan mereka. Kalau daddy selesaiin urusan mereka. Mereka nggak terkena masalah apa-apa dan bisa lanjutin proyek itu karena daddy udah merancang semuanya. Terus juga perusahaan kita jadi rugi besar," gumam Zaina yang masih mengingat nominal yang di keluarkan perusahaan sang daddy untuk proyek ini
"Uang masih bisa dicari, tapi daddy nggak mau kalau anak daddy malah ke napa-napa."
Zaina tersenyum lebar dan memeluk sang daddy dengan begitu erat.
"Ah gemes banget sih daddy aku. Tapi kali ini aku mau nunjukkin diri ke daddy kalau aku juga bisa lewatin semua ini sendiri. Tenang aku bakalan hati-hati kok dad. Kan ada asisten daddy dan Mahen yang turut menjaga aku. Jadi, dad nggak perlu khawatir banget. Daddy tenang aja .."
Daddy Zidan menatap anaknya itu yang kini sibuk dengan ponselnya.
Tubuh yang dulu ia gendong dengan penuh kasih sayang kini mulai tumbuh besar dan mulai bisa mandiri. Jika dulu dirinya yang menjaga putri kecilnya, kini putri kecilnya yang ingin menjaga dirinya.
Daddy Zidan memejamkan mata sesaat dan berdoa.
/Ya Allah ... tolong jaga putri kecil hamba dengan baik. Tolong berikan kemudahan dalam apa pun yang dipilih sama putri hamba./