
"Sampai kapan oma bakalan nyalahin diri oma? nggak bakal ada habisnya loh oma. Nanti deh kita bahas hal ini lagi. Tapi sekarang kita makan dulu. Zaina nggak mau nanti oma sakit lagi karena telat makan. Terus juga ... keburu makanan Zaina jadi dingin."
Oma akhirnya setuju dan meraih tongkat yang ada di sisi tempat tidur. Ia beranjak dari kasur dan menghampiri Zaina.
"Hari ini kamu masak apa?" tanya oma sambil mereka berjalan menuju ke dapur. "Oma nggak sabar nunggu menu makanan kamu. Soalnya dari kemarin nggak ada yang membuat oma kecewa."
"Bagus kalau begitu, hari ini Zaina masak sup cream jagung sama lobster gitu. Nanti Zaina mau panasin lagi biar hangat gitu dan juga ... sebelum Zaina pulang, nanti Zaina bakal nyiapin makanan deh buat oma. Jadi nanti mbak yang kerja bisa panasin doang. Gimana?"
"Memangnya kamu mau pulang kapan?" tanya oma lalu duduk di kursi yang di persilahkan Zaina. "Makasih ..."
"Kayaknya nanti sore deh oma. Soalnya Zaina harus balik ngurus perusahaan lagi. Kasihan daddy kalau terus kerja sendirian. Udah waktunya daddy istirahat."
Oma menghela napas, jadi sedih seperti ini.
"Tapi oma nggak usah khawatir," sela Zaina. "Nanti aku bakalan sering datang ke sini. Kalau oma butuh sesuatu juga, oma jangan sungkan buat hubungin Zaina. Soalnya kan biar oma juga nggak kesusahan kan?"
"Ya sudah ... sekarang kita makan dulu. Makasih Zaina karena udah masak makanan yang sangat enak ini. Oma pasti suka!"
***
Dua jam sebelum Zaina pulang,
Oma meminta Zaina untuk menemaninya saat merajut. Mereka duduk di ruang santai. Radio yang menyala terus memberikan musik indah yang memberikan ketenangan di ruangan tersebut.
"Oma sering ngerajut kayak gini?" tanya Zaina sambil terus memperhatikan tangan luwes oma yang merajut sebuah kain saputangan.
"Iya ... kalau merajut kadang suka lupa waktu. Jadinya oma nggak ngerasa sepi lagi. Karena nanti tiba-tiba udah sore aja. Makanya oma sering ngerajut deh."
Zaina mengangguk mengerti.
"Terus hasil rajutnya oma taruh ke mana?" Zaina menatap sekitar. "Kayaknya dari kemarin aku nggak pernah lihat hasil rajut oma atau nggak apa yang berbentuk rajutan gitu lah di rumah ini."
"Suka oma kasih ke anak jalanan."
Zaina tersentak.
"Oma suka merajut tapi oma kurang suka hasilnya. Maksud nya nanti kalau udah banyak jadi tuh cuma jadi tumpukan yang nggak berguna doang. Jadi, kalau keluar kadang oma suka datangin anak-anak dan kasih ke mereka. Lebih bagus gitu kan?"
Zaina mengangguk.
"Oma yang terbaik!"
Zaina bersumpah ingin mengenal lebih jauh tentang oma dia yang satu ini. Karena sungguh, Zaina menyesal karena tidak mengetahui banyak hal tentang sang oma. Padahal selama ini dia hanya judge tentang omanya dan selalu mengatai hal yang buruk.
Zaina selalu menganggap omanya adalah orang yang jahat dan buruk.
Dan sekarang ia mendapat fakta kalau oma ternyata bisa melakukan hal yang begitu mulia. Zaina jadi merasa bersalah karena sudah menuduh yang jahat pada oma. Karena nggak seharusnya dia melakukan ini.
"Oma ..."
"Iya?"
"Zaina boleh tanya sesuatu nggak?" gumam Zaina hati-hati membuat oma menghentikan kegiatan merajut nya dan spontan menatap cucunya.
"Ada apa? kenapa jadi kelihatan serius kayak gini?"
Zaina menarik napas dalam.
"Tadi pas di kamar kalau nggak salah oma singgung kalau orang tua oma yang berarti eyang aku tuh berlaku yang sama ke oma. Makanya oma malah ngelakuin hal yang sama ke kita? Jadi ... sebenarnya apa aja yang eyang itu lakuin ke oma?"
Oma menarik napas pelan membuat Zaina panik sendiri dan langsung menggeleng.
"Tapi kalau oma nggak mau jawabnya juga nggak apa-apa kok. Beneran deh. Ini hak oma juga kok. Mau oma cerita atau enggak itu terserah oma. Nggak usah mikirin Zaina sama sekali."
Oma hanya tertawa mendengar cucunya itu. Ia menggeleng kecil lalu kembali mengenang masa lalunya yang penuh akan luka itu.
"Eyang kamu itu kejam, mungkin selama ini kamu selalu mikir oma tuh jahat. Dan eyang kamu jauh lebih jahat di banding oma."
"..."
"Kalau oma nggak pernah berani main tangan karena tahu itu sakit sekali. Tapi beda sama eyang kamu. Eyang kamu selalu main tangan, makanya masa kecil oma nggak pernah senang sama sekali. Oma bahkan nggak akan pernah mau jika di pinta untuk kembali ke masa kecil. Di saat banyak orang yang mau kembali ke masa lalu. Tapi, oma sama sekali nggak pernah mau."
Zaina merasa ini hal yang lumayan berat sampai omanya saja seperti ini.
Ia memilih diam, membiarkan sang oma bercerita.
"Hidup oma benar benar di atur sama eyang. Dulu oma juga hidup serba kesusahan dan itu semakin membuat eyang kamu itu sering marah dan menyalahkan anaknya. Padahal kami juga tidak meminta seperti ini. Makanya itu salah satu yang membuat oma terobsesi jadi orang kaya ..."
Oma menarik napas dalam.
"Oma hanya nggak mau keadaan balik kayak dulu dan ribut ini itu cuma karena harta. Tapi ternyata sikap oma juga salah. Tapi beneran deh ... karena pemahaman oma kalau orang kaya itu pasti bahagia membuat oma jadi mikir kalau hidup oma, anak oma sampai cucu oma atau bahkan cicit oma tuh harus bahagia. Seenggaknya keturunan oma tuh jangan pernah ada yang ngerasain seperti sakitnya yang oma rasain dulu."
Zaina tertegun mendengar omanya.
Ternyata Zaina memang setuju sama omongan kalau ada sesuatu kita nggak bisa langsung nyalahin satu pihak, tapi kita harus lihat dari sisi lain.
Seperti omanya yang satu ini.
Dia memang terkesan jahat, tapi dia melakukan ini demi kebaikan banyak orang. Dia hanya mau yang terbaik. Walau cara yang dia lakukan itu sangat salah.
"Makanya oma selalu jodohin kamu sama orang yang kaya. Biar nanti kamu sama keturunan kamu nggak perlu khawatir lagi karena orang tuanya yang berpenghasilan."
"Tapi—
"Iya ... oma tau, kalau mantan tunangan kamu juga kaya. Makanya pas dulu tahu ayah kamu jodohin kamu sama laki laki itu, oma diam aja. Karena memang setuju. Tapi semenjak ada berita kalau kalian putus tunangan dan dia dekat sama perempuan lain. Sampai kamu di tuduh yang macam-macam, oma jadi sangat tidak suka! Makanya di sini oma cuma ngelakuin apa yang biasa oma lakuin. Oma gak mau kalau kamu salah langkah."
"..."
"Karena ... oma udah ngerasa kalau dia jahat sama kamu. Makanya, oma nggak mau lagi jodohin kamu sama dia. Kamu pasti bisa dapet yang lebih baik. Itu yang ada di pikiran oma. Jadi, oma terpaksa menjodohkan kamu sama laki-laki yang oma kira bisa menjaga kamu dengan baik."
Zaina mengangguk.
Oma menarik napas dan mengangguk.
"Tapi dari yang kamu dengar dari awal, kalau oma akan ngelakuin berbagai cara untuk jadi kaya. Maka oma gak mikirin perasaan kalian sama sekali. Karena bagi oma, nanti kalian akan bahagia juga seiring berjalannya waktu."
Zaina mengangguk mengerti.
"Tapi kamu tenang aja ... sekarang kurang lebih oma udah sadar kalau apa yang oma lakuin itu jahat banget sama kamu dan yang lain. Jadi oma nggak akan ngelakuin ini lagi. Oma janji ... asal kamu bisa kasih laki-laki yang terbaik dan tolong datang kan laki-laki itu ke hadapan oma. Biar oma bisa langsung lihat dia dengan langsung. Tapi, tenang saja. Di sini oma nggak buru-buru kok. Nantian saja, kamu gak perlu panik."
"Termasuk sepupu-sepupu Zaina?"
Oma sangat terkejut dan spontan menoleh pada cucu pertamanya itu.
"Ma— maksud kamu?"
"Aku dengar dari Rahma kalau dia juga di lakuin yang sama kayak aku?" tanya Zaina membuat oma nggak bisa apa-apa
"..."
"Oma tau nggak sih kemarin dan kemarinnya lagi Rahma datang ke sini dan langsung datengin Zaina. Oma tau kan kalau hubungan Zaina sama Rahma itu nggak pernah baik. Nggak cuma sama Rahma aja sih. Hubungan Zaina sama semua sepupu Zaina itu nggak pernah baik. Tapi dari semua sepupu yang ada. Aku sering berantem sama Rahma. Oma pasti tahu sendiri kan?"
Oma mengangguk.
"Dan oma tau nggak sih kemarin tiba-tiba dia datang nemuin Zaina dan ngomong kalau dia iri sama hidup Zaina."
"Iri?"
Zaina mengangguk dan tertawa lepas.
"Padahal selama ini aku selalu iri sama hidup Rahma karena selalu di manja sama oma. Aku selalu pengin dekat sama oma dari dulu. Tapi oma nggak pernah realisasiin yang aku mau. Makanya aku selalu marah sama Rahma tuh karena mau ngeluarin uneg uneg aku selama ini. Tapi orang yang udah aku iri malah iri sama hidup aku."
"Kenapa Rahma bisa iri sama hidup kamu?"
Zaina menarik napas dalam.
"Pokoknya Rahma ngejelasin kalau dia juga di jodohin sama oma," ucap Zaina santai. "Makanya aku mau nanya dulu ke oma. Apa semua cucu oma juga di giniin? Maksudnya apa kita semua emang di jodohin sama oma?"
oma meluruskan kakinya dan menatap lurus ke arah jendela besar di depan mereka.
"Baru kamu dan Rahma saja," jujur oma. "Niat awal emang semua cucu oma mau di jodohin. Tapi sekarang oma udah sadar dan nggak akan ngelakuin itu lagi. Oma juga akan bebasin hidup kalian dan nggak mengikat karena oma lagi."
"Alhamdulillah kalau oma mau berubah ..."
"Tapi ... kenapa dia bisa iri sama kamu? maksudnya, benar kata kamu. Karena seharusnya yang iri di sini tuh kan kamu ya bukan dia?"
Zaina menggumam sebentar.
"Rahma ngomong kalau dia iri sama keluarga Zaina. Kata dia, keluarga Zaina keren karena masih mau bela Zaina dan nggak ngebiarin Zaina gitu aja. Sementara orang tuanya Rahma nggak peduli sama hidup Rahma dan malah nyuruh Zaina untuk ngelakuin yang di perintah sama oma. Kurang lebih kayak gitu."
"Ya ampun ..."
"Oma ... aku tahu oma salah. Tapi sekali lagi Zaina nggak mau oma terus nyalahin diri oma sendiri."
Oma menggeleng pelan.
"Bagaimana oma bisa diam aja dan nggak merasa bersalah? Di saat banyak orang yang terkena akibatnya atas kelicikan dan pikiran buruk oma. Anak sulung oma yang juga terkena akibatnya. Mommy kamu bahkan dua cucu oma yang harus nya dekat dan sayang sama oma. Tapi malah menjauh karena hal ini. Ini memang salah oma."
"Tapi kan oma udah berubah ..."
Oma tetap menggeleng.
"Kalian merasakan ini bertahun-tahun, pasti nggak mudah melupakan dan memang nggak segampang itu buat lupa sama hal yang menyakitkan kan?"
Mau tidak mau Zaina mengangguk.
"Tapi balik lagi, kalau orangnya udah berubah dan mau minta maaf. Masa iya mau di ungkit mulu? nggak kok oma. Kita malahan bangga kalau oma mau berubah kayak gini. Kita jadi bangga banget sama oma. Jadi, oma nggak usah mikir yang kayak gimana-gimana ya karena beneran aku udah maafin yang lain."
"..."
"Oma tinggal minta maaf sama mom dan dad, tapi aku yakin mom sama dad pasti maafin oma. Karena setiap aku telepon dan cerita tentang oma aja. Mereka excited dan sangat bahagia kalau oma mau berubah."
Oma terdiam dan menarik napas berat, merasa sedih karena setelah perbuatan jahat yang dia lakukan. Tapi masih banyak orang yang baik sama dia.
"Kamu sangat baik ..."
"Oma juga baik. Zaina sampai terharu loh karena oma rela ngelakuin banyak hal untuk aku sama yang lain. Sikap oma tuh baik banget. Aku nggak tahu kalau oma sebaik ini. Ini juga terjadi karena masa lalu oma yang nggak gampang. Jadi, oma nggak perlu mikirin ini itu lagi ya. Karena Zaina juga mengerti kalau semua yang oma lakuin itu karena hidup sulit oma di masa lalu."
" ..."
"Sekarang Zaina nggak akan segan segan buat menunjuk oma kalau ditanya siapa orang yang baik di hidup Zaina. Oma salah satunya orang yang udah membuat Zaina itu tumbuh jari sekuat ini," lanjut Zaina. "Dan dari penjelasan oma. Zaina jadi belajar banyak hal. Semua itu bagus buat oma. Makasih ya oma karena udah berani jelasin hal baik ini sama Zaina."
Tangan keriput oma mengusap rambut cucunya itu.
"Kenapa kamu sebaik ini sih? padahal oma udah jahat sama kamu. Bayangin bertahun tahun kamu di jahatin sama oma. Tapi sekarang relain semuanya dan maafin oma."
Zaina menggeleng pelan.
"Karena aku sayang oma dari dulu. Aku selalu iri sama orang yang punya nenek dan cuma oma yang aku punya. Makanya aku nggak akan pernah bisa marah sama oma. Kalau pun dulu nggak mau negur oma, itu karena aku takut kelepasan marah sama oma dan buat oma sakit hati."
Oma merentangkan tangan dan menatap Zaina.
"Boleh oma meluk kamu?"
Zaina tersenyum dan mengangguk.
"Dengan senang hati!" papar Zaina lalu memeluk oma.
Sebuah usapan di rambut membuat Zaina tersenyum sangat lebar. Ia menyamankan diri di pelukan oma. Oma sendiri mengusap punggung cucunya.
"Bahagia terus cantiknya oma. Kamu orang baik dan pantas mendapat hal yang baik!"