
Zaina menatap dirinya dari balik pantulan kaca. Kemeja putih bordir yang dipadu dengan rok floral menjadi pilihannya kali ini. Perempuan yang sehari-harinya memilih mengenakan celana karena benci sama rok, kini mulai merubah penampilannya. Dia benar-benar mau merubah dirinya. Bukan karena orang lain, tapi karena dirinya sendiri.
Zaina memilih pita kecil berwarna pink dan menautkannya di rambut.
“Bagus ...”
“Duh ... udah jam tujuh,” serunya lalu merampas tas kerjanya dan berlari turun ke bawah.
Di sana, Zaina langsung disambut dengan daddy Zidan yang sedang memasak sarapan. Ia tersenyum tipis melihat banyak makanan yang terhidang di atas meja. Baru tiga hari mommy nya ke luar negeri, kemampuan memasak daddynya sangat meningkat pesat. Ia baru tahu kalau daddynya jago memasak dan semua makanannya benar-benar enak.
“Makan dulu, nak ...”
“Ih ... nanti atasan aku marah lagi,” seru Zaina.
Malam setelah menangis, akhirnya Zaina meminta izin kepada daddynya untuk bekerja di tempat selain perusahaan daddynya. Zaina mau belajar banyak hal di tempat baru. Awalnya Zidan melarang anaknya. Untuk apa Zaina mencari perusahaan untuk bekerja di saat ada perusahaanya yang bisa menampung Zaina. Tapi dengan segala permintaan Zaina, akhirnya Zaina bisa bekerja di sebuah perusahaan. Itu pun Zidan yang memilih dan langsung memasukkan anaknya.
“Aku takut telat dad kalau makan dulu,” ucap Zaina sambil mengambil kotak bekal di dapur. “Ini kan bukan perusahaan daddy, jadi aku nggak mungkin telat di hari pertama aku kerja. Jadi ... aku masukin ke kotak bekel aja ya dad,” pinta Zaina dengan buru-buru.
“Sebenarnya daddy masih nggak suka kamu bekerja, tapi kenalan daddy yang satu ini udah bisa di percayai. Jadi, kamu ke sana. Inget ... asal jangan sendiri. Daddy udah suruh supir untuk mengantar kamu kemana aja dan ini kamu masukin aja ke kotak bekel. Jangan lupa di makan. Daddy nggak mau kalau magh kamu kambuh karena sering kelewatan sarapan.”
Zaina mengangguk dan mencuri kecupan di pipi Zidan.
“Aku pamit ... doain dad,” teriaknya membuat daddy Zidan tertawa.
“Hati-hati, nak ...”
***
Zaina terdiam untuk sesaat, ia mendongak dari dalam mobilnya sambil terus melihat gedung yang ada di depannya. Kenapa ini mobilnya malah ada di perusahaan Mahen? Zaina menggeleng dan menatap supirnya.
“Pak ... bapak salah kali, nggak mungkin aku bekerja di sini,” seru Zaina berusaha menyangkal. “Kita salah tempat kali, kayaknya ... bapak salah posisi deh.”
“Enggak, nona ... bapak nyuruh saya untuk mengantar nona ke sini. Memang perusahaan tuan Mahen yang menjadi tempat nona bekerja.”
Zaina merengut, ia akhirnya mengucapkan berterima kasih sambil turun dari mobil dan berusaha menghubungi daddynya.
“Daddy!” seru Zania saat ponselnya diangkat. “Daddy nggak salah? Ini kenapa aku malahan ada di perusahaan Mahen? Daddy sengaja? Daddy memang nyuruh aku buat kembali sama Mahen ya? kan aku udah bilang ribuan kali dad, kalau aku nggak bisa dan aku nggak mau.”
/Profesional, nak ... daddy melakukan ini bukan karena kamu yang harus kembali sama Mahen. Itu semua urusan kamu dan daddy nggak akan pernah urus lagi. Tapi, di sini daddy hanya percaya sama Mahen sebagai atasan kamu. Dia pasti bisa membimbing kamu dengan baik. Nggak perlu memikirkan masalah yang dulu./
“Tapi dad ...”
/Daddy tahu ini susah, tapi dari beberapa teman pengusaha daddy. Hanya Mahen yang memiliki lowongan pekerjaan. Asisten dia sedang sakit, jadi Mahen mengurus semuanya sendiri. Jadi daddy minta tolong kamu untuk bekerja jadi asisten Mahen. Nggak lama ... hanya satu bulan dan di sini daddy juga udah bilang sama Mahen, kalau kamu yang kerja. Jadi ... dia nggak boleh menspesialkan kamu. Anggap sebagai pekerja kayak biasa dan nggak usah sangkut pautin masa lalu sama pekerjaan ini./
“Beneran kan? Mahen nggak akan campur adukin masalah kerjaan sama masa lalu?’
/Insya Allah, nak ... semoga Mahen menepati janjinya./
/Nak ... ini bukan kompetensi/ peringat daddynya
“Ya ... aku nggak peduli. Ini tentang harga diri aku, aku bakalan bekerja sampai waktu selesai. Selama Mahen nggak ganggu aku, aku juga bakal fokus sama pekerjaan aku.”
/Ya sudah ... terserah kamu. Daddy cuman bisa doakan kamu saja, semoga semuanya lancar./
Zaina mematikan panggilan itu dan menarik napas dalam. Walaupun berat ia memasuki perusahaan itu, semua orang menunduk menatap dirinya. Zaina melengos dan langsung menghampitri resepsionist.
“Di mana ruangan tuan kalian?” tanya Zaina.
“Bukankah nona sudah tahu—
“Saya datang bukan sebagai tunangan tuan kalian lagi, jadi nggak perlu manggil nona. Saya datang untuk bekerja di sini jadi asisten tuan kalian, sampai asisten tuan kalian itu sembuh. Jadi, cepet antar saya ke ruangan tuan kalian.”
Zania diantarkan ke atas, “Mbak masuk saja ke dalam. Tuan sudah mengatakan kalau bakal ada pengganti asistennya untuk sementara waktu. Makanya mbak bisa masuk aja ke dalam. Tuan Mahen sudah ada di dalam.”
Zaina mengangguk.
Zaina membuka kenop pintu dan langsung masuk tanpa mengetuk. Seorang laki-laki sedang duduk di kursi kebesarannya dan membelakangi Zaina.
“Permisi tuan ...”
“Di mana-mana setahu saya, attitude tuh harus dijalankan?” papar Mahen lalu memutar kursi nya dan duduk memangku sambil menatp Zaina.
Degh ... desir halus terasa di hati Zaina. Ia masih menyukainya. Perasaan itu masih ada. Wajah Mahen, rupanya, tubuhnya, semuanya sangat ia rindukan. Laki-laki yang beberapa akhir selalu ia usir ini kini malah ada di depannya. Zaina menunduk.
“Maaf?” ucapnya setelah berusaha mengabaikan semua pemikiran buruk di benaknya.
“Harusnya kamu mengetuk pintu lebih dulu, sebelum masuk.”
“Tapi—
“Tapi, karena ini pertama kali kamu bekerja di sini. Jadi saya memaafkan kamu. Tapi, untuk ke depannya saya nggak akan memaafkan sama sekali. Saya harap kamu tahu attitude kecil yang harus kamu lakukan supaya nggak banyak orang yang merasa buruk karena kamu.”
“Baik, tuan.”
“Ya sudah ... kamu duduk di depan saya. Saya akan membahas pekerjaan yang akan kamu kerjakan selama satu bulan ke depan. Pasti kamu sudah mendengar kan status kamu di sini?” tanya Mahen lagi yang langsung di angguki sama Zaina.
“Ya sudah ... tunggu apalagi, duduk di depan saya!”
Dengan cepat Zaina merapihkan roknya dan duduk di depan Mahen. Ia melihat Mahen yang mengetik di laptopnya. Ia malah diabaikan, tapi Zaina nggak bisa apa-apa selain menunggu. Dia juga nggak mau mengacau. Dia nggak mau kalah di sini. Mahen harus tahu kalau dirinya bisa melewati ini semua.
Selama Mahen diam sambil mengetik di laptopnya, selama itu juga Zaina memperhatikan ruangan ini. Banyak hal indah yang ia lihat di sini.
"Semuanya masih sama ..."