
Setelah mendengar penjelasan sang daddy, entah kenapa Zaina malah semakin memiliki tekad kuat hanya untuk membuat mommynya bahagia. Ya lihat saja. Siapa yang nggak sedih kalau selama dua puluh tahun lebih umur pernikahan mom tapi selama itu juga mom nggak pernah mendapat kasih sayang dari seorang mertua. Jadi, Zaina wajar melihat bagaimana senangnya sang mommy saat ini.
Ya anggap saja karena impian mommy nya selama ini akhirnya terwujud. Jadi, siapa sih yang nggak senang?
Walaupun jadi sedikit mengecewakan perempuan itu.
"Ah ... tapi, nggak masalah deh! Yang penting aku mau lihat mommy Senang. Aku mau membuat keluarga aku bahagia atas perbuatan aku!"
Zaina kembali menatap cermin dan merapihkan outfitnya hari ini. Ah iya, hari ini dirinya akan bertemu sama Mahen. Ia mau menanyakan pendapat pada Mahen dan Zaina juga akan meminta maaf atas perbuatan dia yang terakhir kali dia lakukan ke Mahen.
"Semoga semuanya berjalan baik dan Mahen menerima semua keputusan aku. Karena ... walaupun aku nggak mau menerima Mahen sebagai pasangan. Aku mau jadiin Mahen sebagai teman aku. Aku nggak mau kalau nanti hubungan kami malah hancur karena masalah ini."
Zaina menghela napas.
"Tapi ... apa Mahen nggak bakalan marah? Mengingat dia banyak ngelakuin hal untuk aku. Dia udah ngorbanin sebagian hidupnya hanya untuk aku. Jadi, kayaknya aku nggak mungkin mengecewakan Mahen."
Perempuan itu menatap pasrah. Mengacak rambutnya, kenapa masalahnya nggak pernah berhenti?
"Ah sudahlah ... nanti aku minta saran dari Mahen dulu. Semoga dia punya saran yang bagus banget. Biar aku bisa dengar pendapat dia."
Akhirnya perempuan itu mempercepat kegiatan berdandannya, sebelum pada akhirnya turun dengan hp dan tas selempang yang ia bawa.
“Mau ke mana kamu?”
Langkah Zaina berhenti tepat di ujung anak tangga, “mau ketemuan sama Mahen di kafe, mom. Nggak apa-apa kan? Sekalian aku mulai ngeberaniin diri buat tampil di publik. Aku mau lawan rasa takut aku ini.”
“Ya ... nggak masalah dong,” balas sang mommy membuat Zaina menghela napas lega. “Tapi mommy kemarin mendengar sesuatu penjelasan tentang kamu sama Mahen dari oma kamu itu. Jadi, mommy rasa kamu harus dengerin bentar. Kamu masih ada waktu kan? Masih bisa kalau mommy jelasin dulu? Bentar aja kok, nggak lama ...”
Zaina melirik jam yang melingkar indah di lengannya. Memang masih ada waktu sih, karena Zaina juga sengaja berangkat lebih pagian. Mau menikmati waktu sendiri lebih dulu. Akhirnya perempuan itu mengangguk dan langsung duduk di depan mommy nya itu.
“Ada apa mom?”
Mommy Nadya menarik napas dalam. “Sebelumnya, maafkan mommy karena sejak kemarin memaksa kamu untuk kenal sama laki-laki yang di maksud oma kamu. Mommy jelas tahu kalau ini nggak gampang. Awalnya juga mommy mau menolak ini semua. Tapi, ada hal yang buat mommy akhirnya menyetujui dan meminta kamu juga untuk melakukan hal yang sama.”
Zaina menelan saliva.
Berharap nggak ada yang aneh.
“Pokoknya oma kamu menjelaskan beberapa kemungkinan kalau kamu tetap menyendiri kayak gini. Yang artinya untuk ke depannya, makin banyak orang yang mengganggu kehidupan kamu. Jadi, mommy nggak mau kalau kamu sampai kesusahan lagi. Intinya, banyak yang gak suka sama kamu. Nanti kalau kamu memutuskan untuk sendiri lagi. Makin banyak yang gunain hal ini untuk ganggu hidup kamu. Kamu paham kan kalau stereotip masyarakat itu kayak gimana? Apa lagi umur kamu udah waktunya untuk menikah. Jadi, kalau kamu tetap sendiri. Makin banyak orang yang manfaatin hal ini ke kamu ...”
/Nggak masuk akal .../
Zaina merasa hal ini terlalu bertele-tele, masalahnya ... bukan kah orang tuanya sendiri yang selalu mengatakan dirinya harus bisa melewati semua tanpa memikirkan omongan orang lain? Ia sudah tumbuh menjadi anak yang nggak akan peduli sama pandangan orang lain.
Tapi ... kenapa tiba-tiba saja mommy nya itu mengkhawatirkan hal ini?
“Terus?” tanya Zaina lagi dengan maksud ingin mendengarkan penjelasannya lebih lanjut.
“Terus mom kasih tau ke oma kamu kalau di sini kamu masih dekat sama Mahen dan kamu tahu, oma marah tau karena kamu masih punya hubungan sama Mahen.”
“Kenapa harus marah?” tanya Zaina sewot. “Aku sama Mahen memang punya masa lalu dan apa yang aku alami sekarang itu hak aku dong? Kenapa oma malah ikut campur dan Mahen juga masih terus baik sama aku. Jadi, oma nggak ada hak buat marah dong.”
“Maksud oma kamu tuh bukan begitu, tapi ... kamu harus paham lah kalau mengulang masa lalu hanya mengulangi kesalahan yang sama doang. Dan oma kamu ngasih tahu kalau kamu hanya akan berakhir sedih kalau terus lanjutin jalan ini.”
“Kenapa begitu? Aku selalu bahagia kok sama Mahen. Dia selalu treatment aku layaknya seorang princess. Dia benar-benar selalu perlakuin aku dengan baik. Makanya aku betah temenan sama Mahen. Harusnya mom kasih tahu gimana kebaikan Mahen selama ini ke keluarga kita. Tapi, kenapa mom diam aja?” sentak Zaina
“...”
“Aku beneran nggak masalah kalau oma mau jelekin aku. Tapi, kenapa harus Mahen. Dia yang udah mengusahakan banyak hal ke aku. Jadi, aku nggak suka sama orang yang juga jahat sama Mahen. Dia laki-laki terbaik di hidup aku. Dan apa kata oma? Mengulang kesalahan yang sama? Memangnya oma tahu apa? yang jalanin ini juga kan aku. Jadi kalau nanti terjadi sesuatu lagi, itu aku yang nerima kok.”
“Kayaknya ... maksud oma tuh bukan kayak gitu. Oma hanya khawatir sama kamu.”
Zaina menarik napas dalam.
“Kamu jangan marah dulu ya sama oma kamu. Namanya juga orang tua. Oma hidup jauh lebih lama di banding kamu, dia pasti sudah punya banyak pembelajaran hidup. Jadi, apa salahnya kalau kita ngikutin omongan oma kamu.”
Zaina tertawa sinis sambil menggeleng kecil.
Perempuan itu berdiri.
“Kalau maksud mommy ngomong gini tuh cuman mau aku nyetujui permintaan oma dan buat oma jadi sering deket sama mom. Mommy tenang aja. Aku udah sering ngorbanin kebahagiaan aku. Jadi, untuk kali ini juga aku bakalan ngorbanin diri aku. Tapi ... aku butuh waktu ya mom. Mommy nggak usah khawatir. Aku tetep bakalan milih jalan supaya mommy mendapat hal yang mom mau.”
Mommy Nadya menggeleng dan berusaha menggapai anaknya.
Sayang, Zaina langsung keluar tanpa berpamitan.
***
“Aku nggak tahu kalau mommy bakalan seserius ini.”
Zaina hanya tidak paham sama dirinya sendiri.
Sudah sejak setengah jam yang lalu, Zaina tiba di kafe yang menjadi tempat janji ketemuannya sama Mahen. Tapi sejak setengah jam yang lalu juga, Zaina masih duduk di dalam mobil. Ia hanya menatap orang yang berlalu lalang masuk ke dalam kafe. Ya ... matanya sih menatap mereka. Tapi benaknya berkelana ke semua masalah yang ada di hidupnya.
“Kalau mom terus ada di pihak oma, aku bisa apa? apa aku harus maksain diri untuk nikah sama laki-laki yang enggak aku mau?”
Dengan tangan gemetar ia membuka dashboard mobil dan mengeluarkan surat yang dulu dia tulis. Beberapa hal yang harus dia lakukan sebelum Zaina akan menemui sang anaknya di atas sana. Sebenarnya, terkadang Zaina ingin membakar surat yang ia tulis sendiri. Karena di satu sisi, ia nggak bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tuanya saat nanti ia memilih pergi di saat mereka selalu mengusahakan banyak hal untuk dirinya.
Makanya ...
Zaina mulai melupakan surat itu. Toh beberapa belakangan ini juga, banyak hal yang berjalan lurus sesuai dengan keinginannya. Tapi, kenapa sekarang malah kayak gini?
Zaina menatap lurus surat itu. Bagian ujung kertas yang mengering menandakan kalau kertas itu sering terkena air matanya. Zaina mencengkram kecil ujung kertas itu dan menghela napas dalam.
“Apa aku harus memilih ikutin kemauan oma, tapi ya berpura-pura aja lalu melanjutkan isi dari surat ini?” gumam Zaina dengan pelan.
Tok ... Tok ... Tok ...
Dengan cepat Zaina menaruh surat itu di doshboard dan membuka kaca mobilnya, ada Mahen di sana yang menatapnya khawatir.
“Benar kan kalau ini mobil kamu. Ngapain kamu ada di sini, padahal dari tadi aku udah ngeliat kamu datang loh. Kamu nggak apa-apa kan?”
“Ah ... eh itu, aku nggak apa-apa kok. Tadi lagi main HP aja. Dikira aku kepagian datengnya,” dusta Zaina lalu tertawa. Ia turun dari mobil dan sadar akan wajah khawatir dari Mahen. Perempuan itu berusaha tertawa dan menepuk lengan atas Mahen, “ih aku nggak apa-apa kok, beneran deh ... oh iya, kenapa kamu dateng pagi. Tumben banget.”
Walaupun masih ragu, akhirnya Mahen mengangguk dan merangkul Zaina. Membawanya masuk ke dalam kafe. Mereka duduk di meja yang udah di pesan Mahen.
“Oh iya ... buat yang terakhir kali, aku minta maaf ya sama kamu. Aku nggak ada maksud untuk ngomongin hal jahat kayak gitu,” jelas Zaina begitu baru duduk.
Mahen menggeleng.
“Udah lah, nggak usah ngomongin hal itu dulu. Lupain aja. Anggap nggak ada masalah sama sekali. Cuman ... sekarang aku mohon, kalau ada masalah apa-apa. Jangan sampai ngehilang dari HP kamu juga. Aku beneran khawatir. Seenggaknya balas pesan dari aku atau paling gak lihatin kalau kamu itu aktif media sosial. Bukannya benar-benar neghilang banget ...”
Zaina tertawa.
“Sorry ...”
“Oh iya, jadi ada apa kamu ngehubungin aku. Soalnya aku rasa, kamu bukan tipe orang yang bakal ngajak ketemuan kalau nggak ada apa-apa. Pasti ada suatu hal yang mau kamu omongin atau kasih tahu, kalau udah ajak aku ketemuan.”
Zaina tertawa meringis.
“Ini kenapa kesannya aku tuh kayak yang selalu manfaatin kamu ya.”
“Bukan begitu ...”
Melihat wajah panik Mahen membuat Zaina tertawa kecil sambil menggeleng. “Iya ... enggak kok, aku tahu kalau kamu nggak mungkin anggep aku kayak begitu dan juga memang benar kalau ada yang mau aku omongin ke kamu. Sekaligus aku mau minta saran untuk kamu. Tapi satu hal ...”
“Iya?”
“Aku nggak mau kamu marah. Aku nggak mau kamu mencak-mencak karena bukannya kamu sendiri yang bilang kalau segala keputusan yang aku buat, itu bakal kamu terima.”
Mahen memiringkan wajahnya. Dia sangat yakin kalau ada yang nggak beres di sini. Walaupun begitu Mahen mengangguk, menyanggupi permintaan dari Zaina.
“Selama kamu nggak ambil keputusan aneh, aku bakal dukung. Kecuali kalau lagi dan lagi keputusan yang kamu ambil itu ngenyampingin kebahagiaan kamu demi kebahagiaan orang lain lagi,” ucap Mahen yang langsung melihat kalau ekspresi Zainua itu berubah. “Ini kayaknya kamu ngelakuin sesuatu yang ngecewain diri kamu itu.”
“Maaf ...”
Mahen menggigit bibir bawahnya. Tangannya menggapai tangan Zaina sambil membelainya pelan.
“Aku nggak tahu, tapi ini kayaknya nggak baik ya?” tebak Mahen membuat Zaina menunduk. “Ya sudah ... boleh aku dengerin dulu apa yang terjadi?”
Zaina mengangguk.
***
Sejak Zaina menceritakan semua yang terjadi di sini. Mahen hanya berakhir diam. Laki-laki itu seperti sedang memikirkan sesuatu jawaban yang pasti. Tapi, di sisi lain Zaina hanya bisa menatap khawatir. Kalau jawaban Mahen akan membuatnya lebih bingung.
“Aku beneran bingung Mahen, aku kayak ada di persimpangan jalan. Tapi aku nggak tahu apa yang harus aku pilih,” jelas Zaina lagi sambil menggenggam tangan Mahen. “Di sisi lain, aku nggak mau ikutin permintaan oma karena kamu udah janji bakalan bareng kamu. Kamu udah ngasih tau ke aku kalau setelah semua masalah ini berakhir, kamu bakalan menerima aku. Kita bakalan kayak dulu lagi.”
Zaina menarik napas dalam.
“Tapi di sisi lain, aku nggak mau ngehilangin senyum mommy. Walaupun kadang aku kesal dan kecewa, terus sesekali aku juga mau egois di hidup aku yang sekarang. Aku tetap aja nggak bisa. Kayak ... kesannya aku bakalan jahat banget kalau tetap tutup mata saat melihat mommy yang kayak gini.”
“Dan kamu pada akhirnya mau ngikutin oma kamu itu, terus ngorbanin hubungan kita?” tanya Mahen dengan bentakan kecil. “Kita udah sejauh ini, Zaina ... udah banyak hal yang kita lewatin dan ini nggak semudah itu di lihat. Kenapa sekarang kamu malah mau nyudahin gitu aja?”
Zaina terdiam.
“Aku beneran nggak protes karena semua yang udah aku lakuin ke kamu. Karena semua yang aku lakuin ini ikhlas demi kamu. Tapi, tetap aja ... ngebayangin kalau kamu milih hal lain dan ngelupain aku gitu aja. Buat aku sakit ... kayak semua hal yang aku lakuin selama ini tuh nggak ada berharganya di mata kamu sama sekali.”
“Bukan begitu Mahen ...”
“Tapi, tetap aja ... aku tahu kalau di mana-mana orang tua tuh lebih utama di banding apa pun. Tapi tetap aja, rasanya sakit banget ngebayangin kalau kamu itu lebih milih ibu kamu di banding aku tuh sakit banget. Kamu pengin lihat senyum mommy kamu. Terus aku?”
Mahen menunjuk dirinya sendiri.
“Terus kamu nggak khawatirin senyum aku gitu? Gimana kalau senyum aku luntur karena masalah ini? capek Zaina ... di saat aku selalu berjuang demi hubungan kita. Tapi kamu selalu aja ngenyampingin perasaan aku. Dengan berbagai alasan yang kamu buat. Kamu selalu aja berhasil nyakitin hati aku.”
“Aku nggak bermaksud ...”
“Tetap saja ZAINA! Kamu selalu aja nggak pernah ngertiin perasaan aku sama sekali!” bentak Mahen, membuat semua pelanggan di sana terdiam dan menjadikan mereka sebagai pusat perhatian.