
Matahari masih belum muncul tapi Zaina memilih keluar dari rumahnya, rapih dengan pakaian kerjanya. Hari ini dia memilih untuk memulai semuanya dari awal. Zaina tidak mau macam-macam dan mengecewakan orang tuanya. Ia hanya butuh waktu sendiri sebelum menyibukkan diri di balik kerjaan.
Zaina membiarkan kaca mobil terbuka, membiarkan angin yang masih begitu dingin menyelimuti tubuhnya yang sesekali mengigil. Ia tak peduli, yang Zaina butuhkan saat ini hany lah ketenangan yang nggak akan pernah dia dapatkan sama sekali sampai kapan pun itu.
“Rasanya munafik kalau aku nggak suka sama keadaan aku yang sekarang, karena nyatanya aku menyesal sama semua yang aku lakuin. Tapi, apa mau dikata? Menyesal juga yang buat keadaan gini juga aku ... aku yang udah buat semuanya pergi dari hidup aku.”
“Akulah penyebab semua ini terjadi.”
Zaina tidak mau munafik sama sekali. Dia korban sekaligus pelaku di sini. Ia yang sudah buat semuanya jadi seperti ini. Jadi, dari pada terus menyalahkan orang lain. Zaina harus sadar diri kalau di sini memang dirinya yang harus belajar.
Perempuan itu hanya bisa menghela napas. Tangannya meraih sebatang rokok yang ada di dashboard mobil. Dia menatap tajam rokok itu dan mulai mengambil korek. Tapi, bayang bayang orang tuanya yang menatap dia dengan tatapan kecewa membuat Zaina meemkik dan langsung membuangnya keluar.
“Ya ... mommy sama daddy udah kecewa banget sama aku dan aku nggak boleh nambah kekecewana mereka!” serunya dengan cepat. “Dari pada kayak gini, mending aku harus nemuin orang yang selalu buat aku tenang.”
Tanpa pikir panjang, Zaina menyalakan mesin mobil dan mengendarai memutar, langsung menancap jas. Menuju tempat yang selalu dia kunjungi saat sedang sedih.
***
Dengan pakaian kerjanya, Zaina hanya bisa berdiri di dekat pintu mobil sambil menatap makam anaknya yang kelihatan dari tempatnya berpijak. Bunga segar memenuhi makam anaknya, tanda baru saja ada seseorang yang datang untuk menjenguk anaknya.
“Nak ... pasti om Mahen datang lagi ya ke sini,” ucapnya yang memang tahu, hanya dia dan Mahen yang rutin datang ke sini. Selebihnya kalau Zaina suruh saja. “Pasti kamu senang ya masih bisa melihat om Mahen yang datang, sementara bunda di sini nggak akan pernah bisa menemui dia lagi.”
Zaina membuka pintu belakang mobil lalu mengambil bunga segar yang memang selalu menjadi stok di mobilnya. Ia memasuki area pemakaman dengan langkah kecil. Tatapannya hanya tertuju ke satu makam. Dengan sendu, Zaina duduk di samping makam anaknya sambil terus menatap nisan.
“Nak ... bunda datang lagi nih.”
Zaina tersenyum sendu, sambil sesekali menoleh. Melihat area makam anak kecil ini yang beberapa nisannya dipenuhi dengan sebuah foto. Zaina memandang miris, membayangkan betapa pedihnya hati orang tua yang ditinggalkan sama anak kecilnya. Tapi Zaina juga sedikit iri melihat setiap foto yang tersusun cantik di dekat nisan masing-masing makam.
“Nak ... bahkan bunda belum liat rupa kamu sama sekali. Tapi kamu malah pergi dari sini, ninggalin bunda sendiri. Kenapa kamu lakuin ini nak? Apa karena bunda yang selama ini udah jahat sama kamu? Atau karena bunda yang nggak ngarepin kamu?”
Zaina jadi sangat emosional. Ia nggak bisa apa-apa melainkan menitikkan air mata. Dari yang awalnya hanya isakan kecil, kini Zaina mulai meraung. Ia benar-benar mencengkram kuat ujung bajunya, berharap rasa kesalnya tersalurkan. Tapi sayang, yang ada Zaina ingin berteriak. Ia mau mengeluarkan semua rasa sesak yang membelenggu ini.
Dan ini semua sangat nggak enak.
“Nak ... apa yang harus bunda lakuin sebenarnya? Bunda ada di sini hanya untuk kamu. Tapi setelah kamu pergi, apa yang harus bunda tunggu? Nggak ada pegangan lagi di hidup bunda. Seolah semuanya juga udah mulai nggak peduli sama bunda ...”
Zaina terdiam sampai dia ingat akan sesuatu.
“Nak ... gimana kalau bunda datang bersama kamu?” usulnya sambil mengusap air matanya. “Pasti, di sana kamu ngerasa kesepian kan? Pasti kamu nggak suka kalau sendirian gitu? Jadi ... bunda mau ke sana dan nemuin kamu. Ya ... itu ide yang bagus. Tapi, kamu tunggu ya nak. Pasti bunda bakalan datang ke kamu, tapi setelah selesaiin semua urusan bunda di sini.”
Zaina mengangguk dan tersenyum puas.
“Bunda mau ngurus semua yang ada di sini dulu! Nanti setelah semuanya udah, bunda bakal datang ke kamu. Tunggu bunda, nak!”
***
Dengan perasaan jauh lebih nyaman kini Zaina memasuki perusahaan yang akan menjadi miliknya itu. Sesekali ia tersenyum pada beberapa pekerja yang ada di sana. Ia juga memilih memantau ke beberapa divisi dan meminta kerja sama selama dia bekerja di sini sebelum Zaina datang ke ruangannya.
Perempuan itu merenggangkan tubuhnya dan menyandar di dinding lift. “Aku harus berusaha yang terbaik, sebelum memutuskan untuk menemui anak aku. Jadi, aku nggak boleh ngeluh sama sekali!”
Zaina kembali menegakkan diri dan keluar dari liftt setelah pintu terbuka. Tapi tubuhnya terpaku melihat Ghaly di sana dengan pakaian rapihnya.
“Woah ... Ghaly, jadi lu beneran kerja di sini?” seru Zaina memekik riang dan menubruk tubuh Ghaly sembari memeluknya erat.
“Eh?” kaget Ghaly lalu laki-laki itu tersenyum tipis sambil mengusap punggung Zania pelan. “Lepas ya Zaina, nggak enak kalau di lihat yang lain. Apalagi nanti bakalan ada gosip kalau anak direktur meluk asisten rendahan kayak saya.”
Zaina mendorong bahu Ghaly dan mencibir. “Mana ada kayak gitu ...”
“Lagian ...”
Zaina terkekeh, “oh iya Ghaly ... tentang anak kita,” ucapnya pelan. “Aku beneran minta maaf karena nggak bisa jaga anak kita dengan baik. Aku beneran takut kamu marah. Aku minta maaf karena udah lalai banget sama kamu.”
“Santai saja ... yang penting kamu baik-baik aja dan mungkin ini teguran dari Allah karena sifat kita saat itu. Jadi, nggak usah terlalu di pikirin ya,” ucap Ghaly. “Anak kita udah tenang di sana. Pasti dia udah bahagia sama bidadari surga lainnya di sana. Jadi kita jalanin hidup di sini sambil terus kirim doa, supaya anak kita terus baik-baik aja di sana.”
Zaina mengangguk.
“Oh iya ... aku masuk dulu ya, ada yang harus diurus. Kamu juga udah tahu kan harus kerja di bagian mana?” tanya Zaina yang diangguki Ghaly.
Zaina buru-buru masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu dengan kencang. Ia berdiri di balik pintunya sambil menggeleng kecil. “Tidak Ghaly ... anak kita nggak mungkin lagi bareng yang lain. Dia pasti kesepian di sana. Makanya aku bakalan ke sana dan nemuin anak kita,” ucapnya sambil tersenyum tipis.
***
1. Meminta Maaf sama Mahen dan berjalan seperti biasanya.
2. Kembali rukun sama Ghaly, tanpa bawa masa lalu
3. Berhubungan baik sama mommy dan daddy, nggak boleh canggung lagi!
4. Liburan bareng sama mommy dan daddy
5. Ketemu sama keluarga besar sambil meminta maaf atas semua yang udah aku lakuin
6. Liburan bareng Mahen
7. Pergi dengan tenang dan menemukan anak aku.
Zaina memandang ragu sama peraturan keenam yang ia tulis. Karena bertemu sama Mahen saja tidak pernah, tapi kini ia malah mengharapkan untuk liburan bersamanya?
“Tapi ... selama punya hubungan sama Mahen, aku nggak pernah liburan bareng dan ini salah satu keinginan aku. Jadi, aku nggak boleh menyerah sama sekali. Aku harus bisa mendapatkan maaf dari Mahen!”
Zaina sangat yakin dengan yang ia tulis.
Bukan peraturan biasa, tapi keinginan terakhir sebelum dia meninggalkan dunia ini. Dia benar-benar akan melakukannya. Demi anaknya ....