
Kata ‘hamil’ menjadi momok menyeramkan bagi Zaina.
Perempuan itu menggeleng dan menatap kedua orang tuanya. Zaina berusaha tertawa lirih, nggak percaya sama apa yang baru saja ia dengar. Ia berusaha tenang, walaupun gerak tubuhnya kelihatan jelas kalau dia sedang sangat panik.
“Mommy jangan bohong begitu dong, aku mungkin sakit. Ya tapi cuman masuk angin doang. Hamil?” Zaina tertawa dan mengibaskan lengan di udara. “Mommy bisa aja bohongnya, nggak mom ... aku nggak mungkin hamil. Hayuk ngomong yang serius sama aku. Apa yang sebenar nya terjadi sama aku? Kenapa aku sampai masuk rumah sakit kayak gini? Apa memang aku ada sakit yang serius?” seru Zaina berusaha mengelak.
Mommy Nadya menatap sedih melihat anaknya yang terguncang. Ia membawa lengan Zaina dan mengecupnya dengan pelan.
“Katakan yang sebenarnya, nak ... apa yang udah kamu lakukan sama kekasih kamu itu? Apa kamu udah melakukan hal yang mommy sama daddy wanti-wanti selama ini? Kenapa, nak? Kenapa kamu hancurin kepercayaan kami? Apa yang sebenarnya kamu pikirin, sampai lakukan hal ini? Apa kami beneran salah dalam melakukan semuanya sama kamu? Apa kami membuat kamu kecewa sampai kamu melakukan itu?”
Tubuh Zaina bergetar.
Teringat kembali saat terakhir kali Ghaly pergi dan mengatakan kalau dia sudah mengeluarkan nya di luar. Di saat dirinya sedang dalam keadaan subur.
Zaina menarik tangan dari genggaman mommy nya dan menatap mereka dengan bibir yang sduah di gigit. Ia menggeleng pelan dan menutup wajahnya dan menangis.
Ayah Zidan menarik napas dalam menatap itu semua, tidak tahu harus membela siapa lebih dulu. Ada istrinya yang kini sedang menangis, kecewa akan fakta tentang anaknya.
Di depannya ada anaknya juga yang menangis hebat, tapi itu kesalahan yang dia lakukan sendiri. Keduanya benar-benar orang yang dia sayang. Ayah Zidan tidak sanggup melihat mereka yang menangis sampai seperti ini.
“Ayah kecewa, nak.”
Zaina mendongak dan semakin menangis. “Maaf ... maafin aku. Aku juga nggak tahu bakalan begini. Aku minta maaf, a— aku bingung. Mas Ghaly sudah pergi, mom ... ini gimana. Mommy aku takut ...”
Ayah Zidan menatap sedih pada Zaina. Ia juga memerintah istrinya untuk tidak memeluk Zaina sekarang. Supaya anaknya itu sadar kalau perbuatan dia selama ini sudah salah besar, Zaina harus intropeksi diri kalau sudah begini dan jangan egois atas apa yang udah dia lakukan selama ini lagi.
“Nak ... kamu tahu nggak sih kalau daddy sama mommy itu cuman punya kamu? Mungkin kamu merasa kami udah jahat banget sama kamu. Mengekang ini itu dan egois karena selalu kemauan kami yang kamu ikutin. Kamu pernah berpikir seperti itu kan?” tanya Daddy Zidan yang diangguki Adiba dengan perlahan
“Kamu tahu nggak sih kamu itu anak satu-satunya, apa pun yang kamu lakukan harus kami pikirkan matang-matang. Karena takut kamu mengalami kejadian buruk. Kamu tahu nggak? kalau sebagai seorang pengusaha terkenal juga nggak bisa seenaknya seperti yang kamu kira. Karena pada kenyataannya di sisi mommy sama daddy masih banyak musuh tanpa kamu ketahui. Musuh yang pada akhirnya mengincar kamu karena tahu kekuatan daddy hanya pada keluarga daddy sendiri.”
Zidan menatap Zaina yang udah menunduk. Menangis. Entah menangis karena fakta yang baru saja ia tahu, atau karena pernyataan darinya.
Zaina kembali terguncang.
Rasa bersalah mulai menyergap dirinya. Ia menatap orang tuanya yang sama-sama diam, tak ada pelukan hangat yang dulu selalu dia rasakan. Tangan Zaina merambat ke perutnya. Kini ada makhluk kecil di sana dan semua ini karena kesalahan dirinya. Karena kesalahan yang dia lakukan sama kekasihnya.
“Kamu tahu nggak, kenapa mommy sama daddy juga bersikeras supaya kamu kuliah di jurusan yang kami inginkan? Karena kami nggak mau melihat kamu menangis lagi karena kesulitan yang akan kamu lewati kalau masuk ke jurusan yang kamu mau.”
“Daddy sama mommy itu hanya mau kamu bahagia tanpa apa pun yang terjadi. Kami hanya nggak mau melihat anak satu-satunya kami itu sedih.”
Mommy Nadya menarik napas dan mengusap kepala sang anak. “Mana ada orang tua yang nggak sayang sama anaknya sih, nak? Atau cuman mau melihat anaknya kesulitan? Nggak ada sama sekali. Kami hanya mau melihat kamu bersinar tanpa ada kesulitan sama sekali. Sampai pada akhirnya semua yang kami lakukan selalu salah di mata kamu. Kamu menganggap kalau kami nggak pernah sayang sama kamu. Keberadaan kami seolah nggak terlihat sama kamu.”
Mommy Nadya menatap kecewa.
Seorang ibu mana yang bahagia saat tahu anaknya hamil di luar nikah? Dia sama sekali nggak memikirkan reputasi keluarga atau apapun itu. Yang ia pikirkan hanyalah kebahagiaan Zaina yang bisa berkurang karena pandangan setiap orang yang pasti buruk kepadanya.
“Daddy juga ... bahkan daddy sudah memberikan izin sama kamu. Izin yang bahkan membuat daddy marah sama diri daddy sendiri, karena udah memberikan sebuah izin yang hanya membuat kamu seperti ini. Dari pada kecewa sama kamu, daddy malah marah sama diri daddy sendiri karena sudah memberikan izin suatu hal yang seharusnya nggak kamu dapatkan sama sekali. Bukan ini yang seharusnya kamu dapatkanya. Karena anak daddy kayak gini juga karena perlakuan—
Daddy Zidan tidak bisa menyelesaikan ucapannya.
Tangisan yang bahkan nggak pernah Zaina lihat, kini turun di mata sang daddy. Ia menatap kepada dua orang tuanya yang sduah menangis, membuat Zaina terdiam dan menyalahkan diri dia sendiri.
Zaina menautkan kedua lenganya dan menarik napas dalam. Perasaan bersalah memenuhi hati dan relung jiwanya. Semuanya salah dia, Zaina membuat orang tuanya menangis sampai seperti ini. Padahal selama ini Zaina nggak pernah melihat mereka menangis. Zaina benar-benar merasa bersalah.
Perempuan itu menarik napas dalam.
Menyesal juga hanya akan membuat dirinya terlihat buruk. Dia menarik napas dalam, semakin merasa sakit hati saat mommynya menangis lebih kencang dengan daddynya yang mulai menenangkan sang istri. Ia ingin memeluk mereka, tapi rasa bersalah lebih memenuhi hati dan benaknya.
“Maaf ...,” ucap Zaina pada akhirnya. “Aku minta maaf karena udah mengkhianati kepercayaan kalian, maaf karena kesalahan aku. Aku benar-benar minta maaf atas semua hal.”