
"Selamat siang tuan Brandon, maaf kedatangan saya mengganggu kinerja anda."
Zaina menjabat tangan lalu diam-diam membasuh bekas lengan Brandon di bajunya disusul dirinya yang duduk di hadapan Brandon setelah di persilahkan. Ia tersenyum sinis di saat Brandon berpaling untuk mengambil berkas.
"Saya ambil minum ke depan dulu," pamit Brandon. "Hmm, maklum bukan perusahaan besar. Jadi, saya nggak punya office girl sama sekali. Ini saya sendiri yang mau buatkan anda minuman. Jadi, minuman apa yang anda butuhkan?" tanya Brandon
"Ah ... tidak usah repot-repot."
"Tidak ada yang repot nona," sela Brandon dengan cepat. "Lagi pula nona tamu terhormat di perusahaan saya dan saya merasa sangat tersanjung karena perusahaan kecil saya di kunjungi sama perwakilan dari perusahaan besar seperti nona. Jadi, saya harus menjamu nona dengan baik. Jadi, minuman apa yang nona inginkan? akan saya sediakan untuk tamu terbaik saya."
Zaina meringis dan tertawa paksa, merasa aneh dengan sikap Brandon. Diam-diam ia bergidik lalu kembali natap Brandon lagi.
"Apa saja, asal yang dingin dan terima kasih banyak tuan Brandon, maaf saya merepotkan anda," paparnya
"Tidak ada yang di repotkan sama sekali nona. Saya permisi."
Setelah pintu tertutup Zaina langsung menghela napas kasar dan menggeleng ngeri. Ia bergidik. Begitu muak melihat wajah sok polos Brandon. Padahal Zaina sangat bisa melihat niat buruk laki-laki itu dari wajahnya. Seolah laki-laki itu meremehkan Zaina dan percaya kalau dirinya itu nggak sedang curiga apa-apa pada mereka.
"Heran ... ada ya orang sok polos kayak gitu!"
Zaina menelan saliva dan mengelus dadanya berulang kali.
"Itu dia paham sendiri kalau perusahaan dia masih kecil dan perusahaan bokap gue itu perusahaan gede. Tapi kenapa ia masih berani sih?" ucapnya menepuk kening. "Harusnya kalau udah tau lawannya orang besar. Dia harusnya nggak ngelakuin hal begini sih."
"Belum ada satu jam gue di sini. Bahkan gue baru datang dan duduk di sini," lanjutnya. "Gue beneran udah nggak tahan ada di sini. Ya ampun hawanya aja nggak enak deh," keluh Zaina sambil mengusap tengkuknya.
Tak lama,
Suara langkah kaki yang disusul pintu terbuka membuat Zaina langsung bungkam dan memposisikan duduknya jadi lebih santai. Ia tersenyum dan berterima kasih begitu Brandon menaruh es teh di meja.
"Sama-sama nona."
Brandon merapihkan jas lalu duduk di hadapan Zaina.
"Saya beneran tersanjung atas kedatangan nona Zaina ke perusahaan saya. Karena dulu tuan Zidan nggak pernah bisa atau sempat datang ke sini. Setiap pertemuan kami selalu di laksanakan di luar perusahaan atau di perusahaan tuan Zidan. Dan juga ... saya sedikit terkejut karena nona sudah kembali bekerja di perusahaan."
"Hm?"
"Iya ... karena yang saya dengar terakhir kali, nona nggak ada urusan dengan perusahaan lagi. Karena nona kurang bisa memberikan kepuasan kepada tuan Zidan. Bahkan tuan Zidan mengeluh ke saya."
"Mengeluh?"
Brandon mengangguk.
"Katanya ... kenapa anaknya nggak seperti anak orang yang bisa bekerja ini itu. Pokoknya meremehkan. Padahal saya sedikit kesal sama tuan Zidan karena meremehkan kemampuan anaknya sendiri. Padahal saya kagum sama nona loh. Keren ..."
Zaina mengernyit bingung.
"Okei? Lalu ... maksud anda bilang seperti ini itu untuk apa ya?"