
"Pagi cantik."
Zaina mencebik seraya menutup pintu mobil. Semakin di biarkan kekasihnya itu semakin bahaya banget. Jantungnya jadi nggak aman ada di dekat Mahen yang sering gombal kayak gini.
"Mas ... kebiasaan ah."
"Loh kenapa? malu? ini baru ucapan semangat pagi doang loh. Belum yang lain. Gimana kalau nanti udah nikah? makin nggak aman dong? Duh ... gimana ya? kamu harusnya mulai biasain diri buat hadepin mas yang kayak gini. Takut nanti kamu malu terus. Padahal ini baru sebagian yang baru mas tunjukin. Gimana kalau nanti mas tunjukin semuanya coba? masa mau malu terus."
"Kasih aba-aba gitu loh mas."
Mahen mendengus. "Mana ada kayak gitu."
Zaina terkekeh dan menggenggam erat seatbelt sembari melihat ke arah sekitar. Pagi ini mereka memutuskan untuk mendatangi kantor Zaina. Sekalian Mahen ingin mengenal kantor perusahaan kekasihnya itu atas titah dari calon ayah mertua yaitu daddy Zidan.
"Kamu beneran nggak masalah belajar tentang perusahaan aku?" tanya Zaina yang risau. "Masalahnya kamu bukan laki laki yang nggak punya kerjaan atau laki-laki yang punya waktu luang banyak. Tapi kamu beneran sesibuk itu dan juga punya perusahaan ... makanya, kamu nggak masalah harus nambah kepusingan dan ngurangin waktu santai kamu dengan belajar perusahaan tentang keluarga aku?"
Zaina sungguh kasihan sama Mahen.
Mahen beneran banyak berjuang untuknya dan Zaina merasa dirinya merepotkan laki-laki itu.
"Daddy kamu kayak udah kasih kepercayaan ke aku. Padahal sampai sekarang daddy kamu nggak tau kan tentang hubungan kita. Tapi—
"Daddy tau!" sela Zaina dengan sangat cepat. Perempuan itu menatap Mahen. "Tadi aku nggak sengaja kasih tau dad sama mom. Eh ... kamu nggak apa-apa kan?"
Mahen melirik Zaina dan mendengus, kenapa kekasihnya itu malah memandang ketakutan seperti ini. Tangannya milih untuk mengulur puncak rambut perempuan itu, merasa gemas bukan main sama kekasihnya sendiri.
"Padahal mereka cuma butuh kamu," ucap Zaina ambigu. "Maksudnya ... ngelihat kamu datang aja udah bahagia banget, nggak perlu bawa apa-apa lagi," jelas Zaina lagi melanjutkan ucapannya.
"Tetap aja kan, mas juga mau diliat baik sama orang tua kamu. Udah ah ... kamu nggak perlu jadi ngerasa nggak enak, karena ini kan pilihan aku juga. Udah ... tadi kita lagi omongin apaan sih?" tanya Mahen yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan
"Tentang perusahaan ..."
"Ah itu," seru Mahen lalu mengangguk pelan.
"Tentang perusahaan ya? Pokoknya kamu nggak usah khawatir sama sekali. Ini pilihan mas dan anggap aja ini salah satu usaha mas untuk dapetin kamu. Nggak ada yang ngerasa keberatan sama sekali. Jadi kamu nggak perlu tuh asumsi nggak jelas."
Zaina menghela napas pasrah dan berakhir mengangguk kecil.
"Pokoknya aku makasih banyak sama kamu, kamu beneran udah ngelakuin banyak hal untuk aku. Aku beneran makasih banget. Kayak ... nggak tau deh aku udah ngelakuin kebaikan apa sampai bisa nemuin laki-laki sebaik kamu yang bisa ngelakuin banyak hal untuk aku. Aku bersyukur banget bisa ketemu sama laki-laki kayak kamu."
Mahen masih fokus menyetir tapi sebelah lengannya dia ulurkan untuk mengacak rambut Zaina.
"Harusnya bukan kamu yang ngomong kayak gini, tapi aku. Aku yang beruntung banget bisa dapetin malaikat tak bersayap kayak kamu!"
BLUSH!
"Mahen ah ... gombal mulu," seru Zaina yang mendapat kekehan dari Mahen.