
“Kamu tuh sebenarnya mikir apa sih, nak?”
Zaina merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit rumahnya. Entahlah, Zaina juga bingung sama dirinya sendiri. Bahkan dia sendiri yang selalu merasakan gimana Mahen yang memperlakukan dia dengan baik.
Hatinya juga selalu bergetar, tapi kenapa pikiran itu selalu datang ke benaknya?
“Maksud aku ... gimana kalau ternyata mas Mahen melakukan ini semua cuman karena kasihan sama aku doang? Terutama sama anak ini? Bukannya itu malah buat hidup mas Mahen jadu kasihan ya? Dia malahan kasihan sama orang kayak aku? Padahal .. Seharusnya nggak kayak gini. Aku kan nggak mah cuman jadi pelampiasan. Gimana kita bakalan jalanin hidup untuk ke depannya kalau kayak gini?"
Mommy Nadya mendekat.
"Kok kamu ngomong kayak gini?"
Zaina mengendikan bahu lalu mengusap perutnya.
"Gimana kalau mas Mahen cuman baik di awal aja? toh hampir semua laki-laki kayak gitu kan? cuman baiknya di awal doang dan udah banyak perempuan yang jadi korban karena ulah laki-laki yang satu ini."
"..."
"Masalahnya ini nggak cuman tentang aku. Tapi tentang anak yang ada di kandungan aku juga. Gimana kalau nanti ternyata mas Mahen cuman sayang di awal doang atau yang lebih parahnya dia ngelakuin ini cuman karena kasian sama aku? gimana ..."
Tangan Zaina terus mengelus anaknya. Anak tercinta di dalam sana yang udah menemani dirinya selama tiga bulan. Walau kadang masih ada sedikit rasa menyesal karena anak ini lahir di bukan waktunya. Tapi tetap saja, Zaina kan gak mau kalau anaknya itu mendapat ketidakadilan.
"Gimana kalau mas Mahen juga nggak nerima anak aku dengan baik? aku takut ..."
"Zaina, kamu takut sama keluarga Mahen ya?" jawab mommy Nadya menusuk jantung perempuan itu dan Zaina langsung saja menunduk. "Sudah bunda duga kalau ini ada sangkut pautnya sama perilaku keluarga Mahen."
"Mom ..."
"Mommy tahu kekhawatiran kamu. Tapi kamu sendiri yang cerita sama mommy dan daddy kalau mereka lebih bela kamu. Bahkan keluarga Mahen selalu memastikan kalau kamu ini baik-baik aja atau enggak. Tapi kamu sendiri kan yang nggak mau pergi dari mereka?"
Mau nggak mau Zaina mengangguk.
"Mommy yakin kalau Hermawan itu tulus sama kamu. Melihat gimana perjuangan dia selama ini buat mommy yakin kalau dia memang cinta sama kamu. Bukan karena satu dan lain hal."
"Huh ... aku harap juga kayak gitu. Tapi keluarga mas Mahen?"
"Selama keluarga besar yang masih nentang hubungan kalian. Mommy sama sekali nggak peduli. Karena hidup kamu seputar sama Mahen. Jadi sikap dia yang jauh lebih utama. Dengan dia yang bisa memperlakukan kamu dengan baik aja udah menjadi hadiah indah untuk kamu."
"..."
"Dan di sini nggak cuman Mahen yang bisa menerima kamu dengan baik. Tapi juga keluarga inti Mahen. Mereka yang selama ini bela kamu. Bahkan pas kemarin bertemu aja, mereka bilang kalau kamu ini udah di anggap seperti anak mereka sendiri ..."
"Bunda memang baik banget sama aku ..."
"Nah, kamu sendiri ngomong kayak gitu."
Zaina bangun dan memeluk mommynya dengan sangat erat. Ia merengut kecil. Rambutnya di elus sama mommy Nadya membuat Zaina mengerang, karena mengantuk.
"Pernikahan kamu udah di depan mata loh. Kalian udah ngelakuin banyak hal. Banyak yang udah kamu lewatin sama Mahen. Jadi, apa nggak sayang kalau tinggal satu langkah lagi kamu malah ngomong ragu?"
Zaina menelan saliva.
"Apa kamu nggak inget gimana perjuangan Mahen untuk menyakinkan kamu? apa kamu nggak inget gimana selama ini Mahen yang berusaha untuk buat kamu percaya kalau dia laki-laki terbaik? apa kamu nggak inget pas kamu mulai memikirkan Mahen dan cerita sama mommy?"
"Mommy," rengek Zaina sambil menutup wajahnya. "Aku malu ih, nggak usah di inget-inget lagi pas zaman itu."
"Makanya ... kamu nggak usah ngomong ragu apa lagi sampai ngeraguin cintanya Mahen sama kamu. Karena dia beneran secinta mati itu sama kamu. Karena yang buat kamu kayak gini tuh ya keluarga inti Mahen, bukan karena Mahennya sendiri."
"Udah ... sekarang nggak usah mikir yang macem-macem. Mending kamu minum susu dan kita naik ke atas. Kamu harus tidur!"
Zaina merengut. Walau gitu dia tetap menurut dan langsung mendatangi dapur. Meminta asisten rumah tangga di sana untuk membuatkan susu ibu hamil.
Mommy Nadia mengikuti anaknya. Melihat terus wajah anaknya yang merengut karena meminum susu ibu hamil itu sampai wajah mual setelah segelas susunya habis. Mommy Nadia menatap terus wajah anaknya dan mengikuti langkah anaknya menuju kamar Zaina.
Ia menyelimuti tubuh Zaina dan duduk di pingiran kasur sambil menatap wajah bengkak Zaina yang mulai terlihat. Ia elus rambut anaknya itu dengan lembut.
“Kadang mommy masih nggak menyangka kalau sebentar lagi akan memiliki seorang cucu dari anak mommy. Dari kamu yang masih mommy urus pas kecil, sekarnag udah mau punya anak. Semuanya terlampau cepat ... dan mommy benar-benar bahagia akan perkembangan kamu yang ini.”
“Mommy makasih ya ...”
“Makasih?”
“Makasih karena udah menerima aku dan anak aku dengan baik,” ucap Zaina dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ia mengusap perutnya. Sampai detik ini, ia nggak tahu anaknya itu laki-laki atau perempuan. Tapi yang Zaina tahu, dirinya akan mencintai anaknya apa pun nanti jenis kelaminnya. Ia lalu kembali menatap mommynya yang berlinang air mata.
“Mommy sama daddy beneran orang tua terbaik yang aku milikin dan nggak seharusnya dulu aku marah sama kalian. Padahal mommy sama daddy adalah orang yang selalu support aku dengan baik ... bahkan di saat aku ngelakuin kesalahan yang cukup besar. Kalian sama sekali nggak pernah nuntut aku ...”
“Aku belum pernah bilang, kalau aku beruntung lahir dari rahim mommy. Aku beruntung tumbuh di keluarga ini. Aku sayang banget sama kalian.”
Mommy Nadya berusaha menahan air mata dan hanya mengangguk tipis.
“Mommy juga sangat beruntung karena kamu yang jadi anak mommy. Makasih ya nak karena udah berjuang sampai titik ini. Walaupun dunia menentang, walaupun semua orang marah, mommy nggak peduli ... karena cuman kamu yang mommy punya. Karena kamu yang selalu ada di sisi mommy. Selamanya ... sampai kapan pun itu.”
“Ah ... aku beneran menyesal banget sama mommy karena udah nentang semuanya. Ya ampun apa yang ada di pikiran aku pas masa lalu.”
“Tapi ... mommy sama daddy dulu sempet sebel nggak sih sama aku?” tanya Zaina sambil menatap mommy nya itu dengan serius.
“Benci?” mommy Nadya tertawa tipis. “Mana mungkin kami membenci anak kami sendiri? Jadi ... jawabannya nggak! mommy sama daddy nggak pernah benci sama kamu,” balas sang mommy sambil terus mengusap rambut anaknya.
“Tapi kalian pasti kecewa kan sama aku?”
“Kecewa sedikit itu sudah pasti,” jawabnya membuat Zaina menghela napas kecil. “Tapi kan .. balik lagi, kita nggak bisa maksa apa-apa kan sama kamu? Karena kami juga nggak mau membuat kamu jadi nggak nyaman. Walau di satu titik rasanya sedih melihat anak yang kami rawat sedari kecil menentang semua omongan kami dan keliatan lebih bahagia kalau udah ada di luar. Jadi .. ya mommy sedikit sedih.”
Zaina menyentil keningnya. “Kenapa aku bodoh banget.”
“Sutt ... udah ah ngomongin yang lain aja. Nggak usah bahas ini lagi.”
Zaina mengangguk lirih. Seketika suasa kamar menjadi hening. Keduanya sama sekali nggak mengatakan apa-apa selain diam dengan lamunan sendiri. Sampai Zaina ingat akan suatu hal.
“Dan ...”
Zaina menunduk sambil mengelus perutnya.
“Aku minta izin sama mommy, kalau keluarga Mahen sampai usik anak aku pas aku sama Mahen udah nikah. Aku minta izin untuk pergi dari mereka. Karena aku beneran takut banget mereka bakalan usik anak aku, terutama neneknya Mahen. Kalau mereka usik aku, aku beneran nggak peduli. Tapi ... kalau udah nyentuh anak aku. Aku nggak bakalan diem aja.”
“Kita omongin lagi nanti ya, sekarang kamu tidur dulu aja.”
Zaina menatap tak puas, walau gitu dia menarik bantal dan memposisikan diri dengan nyaman, supaya perutnya tidak tertahan. Ia menatap sayu pada sang mommy yang terus mengusap keningnya sampai kantuk tiba-tiba datang dan Zaina mulai terlelap.
“Selamat tidur anak mommy, mimpi yang indah dan untuk malam ini, mommy mau berdoa supaya kamu nggak memikirkan hal buruk di luaran sana. Kamu cukup mikirin hal baik dan sisanya biar mommy, daddy dan Mahen yang urus.”
***
Dengan perlahan mommy Nadya menutup pintu kamar anaknya.
“Sayang ..”
“Eh,” bisiknya lalu menatap tajam suaminya itu yang ada di sana sedang terkekeh kecil. “Kamu nih ya mas, untung aja anak kita nggak bangun. Sedikit susah Zaina buat tidur lagi kalau udah bangun.”
“Ya maaf ... tapi Zaina udah tidur?”
Mommy Nadya mengangguk. “Kamu udah makan kah mas? Atau mau ngapain?” tanyanya yang digelengi sama Daddy Zidan. Memang sudah biasa, kalau suaminya itu lebih memiluh untuk istirahat ketimbang melakukan hal yang lain kalau sudah pulang kerja. Jadi, mommy Nadya nggak perlu repot untuk menyediakan banyak hal demi suaminya itu. “Kalau gitu ... kamu bersih-bersih dulu mas, ada yang mau aku omongin sama kamu tentang Zaina.”
“Zaina?” tanya daddy Zidan sambil menoleh ke kamar anaknya. “Kenapa dengan anak kita?”
Mommy Nadya berdecak, kebiasaan banget nanya lagi padahal dia sudah ngomong bakal di ceritain. Ia mendorong suaminya itu dengan pelan. “Udah kamu mandi dulu aja, nanti aku ceritain kalau udah selesai.”
***
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, mommy Nadya sudah bersantai duduk menyandar di atas kasur. Sambil membaca tabloid miliknya. Tak lama suaminya keluar sambil mengancingkan piyama lalu duduk di sampingnya.
“Ada apa sam Zaina?” tanya daddy Zidan to the point, karena penasaran
Mengalirlah cerita Zaina dari mulut mommy Nadya. Mommy Nadya menarik napas dalam. “Kayaknya ... kita juga nggak bisa anggap santai sama nenek atau keluarga besar dari Mahen deh mas. Kalau nyatanya Zaina sampai segininya. Kamu tahu sendiri kan, bahkan masalah besar aja cuman dia pikirin semalaman dan besoknya dia bisa balik kayak biasa ... tapi setelah beberapa hari, dia masih aja kepikiran sama semua ini dan aku yakin kalau ada sesuatu yang terjadi.”
“Kamu benar ...”
“Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana, karena Nadya juga sama sekali nggak mau cerita. Dia cuman ketawa doang setiap di tanya ya aku kan jadi nggak bisa nanya lebih. Soalnya ... yang aku lihat kalau ini bukan masalah sepele. Mengingat bagaimana orang tua Mahen yang terus meminta maaf sama kita pas hari itu.”
Sebenarnya, pas hari itu.
Mommy Nadya sama Daddy Zidan dibuat panik karena mendengar kabar dari Mahen kalau anaknya masuk rumah sakit. Tanpa pikir panjang keduanya langsung aja berangkat ke rumah sakit yang di maksud. Keduanya itu menghampiri kamar VIP yang ditempati sama anaknya.
Begitu masuk, keduanya melihat Zaina yang masih terbaring dengan lemasnya di kasur.
Lalu, tanpa mereka duga ketiga orang dewasa di sana itu datang dan menghampiri mereka. Lalu mereka terus meminta maaf karena udah lalai. Tapi kelurga inti dari Mahen itu sama sekali nggak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sana dan mereka juga yang memang lagi panik, sedikit nggak peduli sama masalah ini. Karena lebih mengutamakan anak mereka.
Dan, sampai detik ini mereka cuman mendengar kalau keluarga besar Mahen sedikit jahat sama dirinya. Tanpa tahu cerita jelas apa yang terjadi di sana.
Mommy Nadya menarik napas, membuat daddy Zidan membawa tubuh istrinya ke pelukan dan terus menenangkannya.
“Semoga semuanya baik-baik aja ya mas ... aku beneran nggak mau kalau anak aku kenapa-napa karena masalah ini.”
“Iya sayang, Zaina juga bukan cuman anak kamu doang. Tapi, anak aku juga. Jadi wajar kalau aku juga bakalan protect Zaina dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, kalau dari kemarin dia diam aja, makanya mas juga diem aja. Tapi, kalau sekarang dia udah nunjukin kayak gini. Mas juga akan bergerak kok. Kamu tenang aja ...”
Mommy Nadya menghela napas lega dan akhirnya bisa mengangguk.
“Aku takut ... aku mau jaga Zaina. Aku nggak mau kalau dunia yang jahat ini menyerang anak kita. Dia terlalu lembut untuk di jahatin sama orang lain.”
Daddy Zidan merasakan yang sama. Ia semakin mengeratkan pelukan pada istrinya itu dan mengusap punggung.
“Nggak cuman Zaina, tapi kalian berdua. Kamu dan Zaina adalah harta terindah mas. Kalian harus selalu bahagia. Kamu maupun Zaina akan terus mas jaga dan untuk saat ini, kita bersama harus lebih fokus sama Zaina. Kita jangan buat Zaina kembali down. Karena beberapa saat lagi dia akan menikah. Jadi, dari pada memikirkan hal yang buruk. Mendingan kita buat suasana yang bahagia karena setelah Zaina menikah. Kita nggak bisa bebas ketemu sama Zaina lagi."
"Ah ... aku jadi sedih deh ngebayanginnya," rengek mommy Nadya pada akhirnya.