
"Mas kamu yakin?"
Zaina mendongak, menatap rumah Sofyan yang sudah terpampang nyata di depannya. Ia meneguk saliva. Mulai merutuki rencananya yang terdengar sedikit menakutkan itu.
Zaina melangkah mundur dan menggeleng pelan.
"Mas—
"Eh?" ucap Zaina yang juga kaget sama mulutnya itu. Ia mengatup bibirnya dan menggeleng. "Maksud aku Mahen. Duh, maaf ... mulut suka kepeletot gini. Maaf ya Mahen. Nggak ada maksud kok buat ngomong kayak tadi."
Mahen tertawa dan mengacak rambut Zaina.
"Apaan sih ... panggil aja kayak tadi. Aku seneng banget dengarnya. Kan kita juga udah sepakat mau mulai semua nya dari awal? Termasuk panggilan tadi kan? Jadi nggak ada yang salah kok."
Zaina menatap berbinar dan mengangguk.
"Udah ah," potong Mahen sambil merangkul Zaina. "Jangan gemes terus, hati mas nggak kuat lihat kamu yang gemes gini. Udah, mendingan juga kita langsung masuk."
Zaina mengangguk. Ia mengepalkan tangan, berusaha meyakini diri sendiri. Lalu mereka berdua memasuki pekarangan rumah. Menekan bel. Setelah cukup lama menunggu pintu terbuka dari dalam.
"Iya? Siapa ya?" tanya seorang perempuan berseragam
"Ada orang tuanya Sofyan? Kami ada urusan sedikit dan ingin bertemu?" tanya Zaina sesopan mungkin.
"Sudah punya janji?"
Zaina menoleh sebentar pada Mahen. "Hmm ... saya Zaina. Mbak tau?" tanya Zaina dengan penuh berharap. Namun anggukan dari perempuan itu membuat Zaina tersenyum bahagia.
"Kenapa nona tidak bilang sejak tadi?" ucapnya sembari membuka pintu lebar-lebar. "Silahkan masuk ke dalam, tuan dan nona ada di dalam rumah. Apa nona mau bertemu dengan tuan muda Sofyan? Tapi ... maaf karena sepertinya nona datang di waktu yang salah. Ini ada sedikit masalah di sini."
"Ah bukan kok ... ada sedikit urusan aja dan saya bukan ingin bertemu sama Sofyan."
Pelayan itu akhirnya mempersilahkan Zaina untuk masuk. Begitu masuk Zaina langsung di pertemukan banyak foto keluarga yang terpampang di dinding rumah ini. Melihat itu membuat Zaina jadi ingat omongan Karina yang mengatakan Sofyan ini sangat dekat dengan keluarganya dan itu semua terlihat dengan foto yang terpasang di sini.
"Tante ... sebelum tante nyimpulin yang aneh-aneh, ada yang mau aku omongin dan kedatangan aku kesini untuk omongin hal itu," ucap Zaina berusaha menenangkan mamah nya Sofyan yang keliatan marah itu.
"Ya sudah ... silahkan duduk dan jelaskan apa yang mau kamu omongin itu. Termasuk siapa laki-laki yang ada di samping kamu. Karena nggak seharusnya kamu dekat sama laki-laki lain. Kamu nggak lupa kan kalau udah di jodohin sama anak saya?"
Mamah Sofyan duduk sambil terus memperhatikan pergerakan Zaina yang kelihatan sangat dekat dengan laki-laki di sampingnya itu.
"Jadi gini tante ...
Zaina menjelaskan semuanya. Dari paksaan sang oma untuk melakukan perjodohan ini padahal dirinya sama sekali nggak mau dan sudah menolak perjodohan ini. Sampai dia menceritakan posisi dan perasaan Sofyan sama Karina selama ini.
Zaina jelas melihat raut tidak suka yang di lontarkan mamahnya Sofyan. Tapi Zaina berusaha nggak peduli dan terus menceritakan sampai tuntas masalah ini.
"Jadi ... kedatangan kamu ke sini hanya untuk memamerkan kalau kamu punya pacar? Dan kamu juga mau menyalahkan sikap saya selama ini? Kamu tuh siapa sih? Ternyata benar kata orang, kalau kamu bukan wanita yang baik-baik—
"Kami datang kesini bukan untuk ribut ya!" potong Mahen dengan tegas. "Saya dan kekasih saya hanya ingin meleraikan masalah ini dengan baik. Kami datang untuk itikad baik dan kerelaan hati tante untuk menyelesaikan sepihak perjodohan ini karena oma Zaina sama sekali nggak mau melepaskan perjodohan ini sama sekali. Jadi kami datang untuk memohon supaya tante bisa bantu kami. Bukan malah mendengar hinaan tante sama anak saya."
"Kalian sama saja ..."
"Tante ... kami mohon. Jangan lihat kami. Memangnya tante nggak sedih melihat anak tante yang selama ini tersiksa dan hanya bahagia sama kekasihnya yang sekarang? tapi semua itu terhalang karena restu?"
"PERGI KALIAN! Dan sampai kapan pun saya nggak akan pernah dengerin omongan kamu! Perjodohan ini harus tetap terjalan!"
"PERGI DARI RUMAH INI!"
Beberapa orang datang dan titahan dari mamah nya Sofyan membuat Zaina dan Mahen terpaksa berdiri dan di seret keluar rumah. Dengan segala kekuatan Zaina melepas dan kembali ke hadapan perempuan tua itu.
"Apa tante mikirin perasaan anak tante?" pekik Zaina dengan cepat. "Tante harus tau kalau kebahagiaan anak tante ada di pacarnya yang sekarang dan apa tante rela merebut kebahagiaan itu dan melihat anak tante jadi super murung?"
Dan mamahnya Sofyan hanya bisa terdiam mendengar itu semua.