
"Bagaimana kesan kamu setelah nelepon Brandon?" tanya Mahen memulai pembicaraan dengan serius.
Mahen menurunkan kacamata minusnya yang sejak tadi bertengger di kepalanya lalu membaca tulisan yang di rangkum Zaina tentang kelebihan serta kelemahan Brandon dan perusahaannya yang terbilang masih kecil.
Sesekali Mahen melirik ke arah Zaina yang menatapnya antusias sekaligus tertekan karena seperti di sidang sama sang kekasih. Mahen tersenyum tipis.
"Mas ih," seru Zaina yang cemberut. "Jangan senyum gitu. Ini aku lagi serius, deg-degan tau ... takut kinerja aku masih nggak bagus. Akunya lagi gugup, eh kamunya sendiri malah senyam senyum begitu. Apa nggak makin panik akunya?" omel Zaina lalu mendengus pelan.
"Hahaha maaf sayang ... mas beneran bangga sama kamu dan semua rencana yang kamu tulis udah bagus banget. Ya sedikit plot twist bagi mereka. Tapi ini beneran keren banget loh. Udah ... tinggal kamu nanti ketemu sama mereka terus lakuin itu. Inget ... jangan gegabah. Karena yang mas tau, satu satunya kelemahan kamu tuh ya karena emosian dan nggak bisa mengontrol diri kalau lagi marah. Jadi, mas beneran takut nanti kamu nggak tahan dan malah berbuat ini itu. Buat mereka sadar kalau kita lagi curiga sama mereka."
Tok ... Tok ... Tok ...
Zaina sigap mengambil kertas tadi lalu meminta masuk orang di luar. Begitu Ghaly masuk, Zaina menghela napas lega lalu menaruh asal lagi kertas tadi di atas meja.
"Kenapa Ghaly?"
"Mbak ... saya sedikit dengar kalau mereka sudah melanjutkan proyek ini."
"Proyek apa? dan mereka?" bingung Zaina. "Eh duduk dulu. Nggak enak banget ngomong langsung berdiri kayak gitu," titah Zaina membuat Ghaly duduk di samping Mahen setelah laki-laki itu memberi ruang di sampingnya.
"Tapi?" potong Zaina
"Tadi saya nggak sengaja lewat tempat proyek itu. Memang sedikit jauh, tapi entah kenapa saya mau lewat situ dan saya beneran terkejut karena melihat proyeknya berlanjut. Bahkan ada sesuatu hal yang dilakuin mereka padahal nggak ada di perjanjian. Dari sini saya simpulkan kalau kelalaian pekerja waktu itu buat ketidaksengajaan doang. Tapi mereka sengaja melakukan itu. Biar bisa menguasai proyek itu. Mbak tau sendiri, ini bukan proyek kecil dan kalau mereka yang terus lanjutin. Yang ada mereka untung besar dan perusahaan om Zidan nggak terkena apa pun hasilnya. Karena dianggap nggak kerja sama."
"Ya ampun."
Zaina duduk menyandar. Kakinya melipat ke kaki lainnya dan ia menghembuskan napas pelan.
"Mereka beneran ngajak main-main ya. Kok berani sih?" tanya Zaina memandang dua laki-laki di depannya. "Kan tau kalau kuasa daddy jauh lebih besar di banding dia. Tapi kenapa dia malah berani banget? apa nggak takut nanti di tuntut?"
Mahen merentangkan tangan dan mengayunkannya pelan.
"Ini yang dinamakan tekad!" serunya yang disetujui sama Ghaly. "Ini tuh baru sebagian kecil dan keburukan alias dunia kotor perusahaan. Ini mah masih hal yang lumrah. Tapi kalau semakin kamu pelajari. Maka kamu semakin banyak menemui hal kotor yang dilakuin banyak pengusaha untuk membuat naik nama perusahaan."
Zaina menggeleng pelan.
"Kenapa banyak orang yang jahat sih?"