
Kemarin, rasanya benar-benar sibuk. Begitu istirahat di rumah Zaina baru sadar kalau badannya benar-benar sangat remuk. Dia hanya istirahat. Walau gitu dia nggak bisa istirahat lama-lama karena ada kerjaan mendadak yang membuatnya mesti datang ke kantor.
Akhirnya dia malah sibuk, bukannya istirahat.
Dan benar saja, pagi ini mommy Nadya memekik saat melihat anaknya yang menggigil di kamarnya dan malah menolak dibawa ke rumah sakit.
"Badan kalau udah kasih sinyal jelek, berhenti. Peduliin dulu badan kamu bukannya malah kerja terus kayak nggak kenal waktu aja. Kalau bukan kita sendiri yang jaga badan kita, terus siapa?"
Zaina merengut.
"Tapi itu kerjaan aku, kalau bukan aku yang ngerjain siapa lagi yang bakal kerjain?"
"Nggak harus kamu. Kamu bisa nyuruh Ghaly. Ada daddy, daddy juga bakal turun tangan kalau tau anaknya lagi sakit kayak gini."
Kini mommy Nadya dan Zaina ada di satu ranjang yang sama dan dalam satu pelukan yang erat. Kata mommy Nadya ini salah satu cara supaya Zaina tidak merasa dingin lagi. Pelukan hangat yang tercipta akan buat Zaina jauh lebih mendingan.
"Dengerin mommy nggak Zaina?"
Zaina semakin bersembunyi di ceruk leher sang mommy. "Iyaaaaa ... dengerin kok."
"Kalau ada apa-apa cerita. Libatin orang tua kamu kalau kamu nggak mampu sendiri. Masih ada mommy sama daddy di sini. Kamu nggak perlu selesaiin semuanya sendiri. Mommy beneran nggak suka."
"Iya mommy ... sekarang aku mau pelukan sama mommy lagi! mommy tepuk punggung aku ya. Pokoknya aku suka kalau udah kayak gini."
Mommy Nadya tersenyum tipis dan langsung merealisasikan apa yang Zaina pinta. Tepukan pelan di punggungnya membuat Zaina merasa jauh lebih nyaman.
"Duh mom ... kepala aku pusing banget, kayak ditimpa badak bercula satu," candanya.
"Hus!" mommy Nadya memukul pelan tubuh anaknya. "Ada-ada saja ucapan kamu," ucap mommy Nadya seraya menggeleng pelan. "Jangan sakit-sakit lagi kesayangan mommy."
Dan hati Nadya yang mendengar langsung terasa hangat.
***
Zaina tidak tahu dari yang awalnya cuman pusing kini Zaina sudah berada di rumah sakit untuk menerima perawatan dari dokter. Katanya sih dia kecapean. Mungkin karena akhir akhir ini Zaina terlalu memforsir dirinya dalam bekerja dan diri dia juga masih kaget karena harus menerima semua ini. Jadi lah akhirnya Zaina tumbang.
"Mulai besok ... daddy harap kamu tepatin waktu pulang sama berangkat kamu. Daddy baru denger dari Ghaly kalau kamu ternyata suka nggak peduli sama waktu kerja kamu. Kamu pulang malem, dateng pagi. Kalau kayak gitu kapan kamu bisa istirahat?"
Daddy Zidan meraup wajahnya frustasi.
Terselip pemikiran menyalahkan dirinya karena sudah membuat anak semata wayangnya sampai jatuh sakit kayak gini.
"Atau kamu memang masih nggak sanggup untuk kerja ya? nggak apa-apa deh. Kalau gitu, mulai besok kamu nggak perlu kerja lagi. Biar daddy yang urus semuanya. Daddy masih sanggup kok."
Dengan bibirnya yang pucat Zaina menggeleng.
"Aku masih kuat kok, dad. Itu cuman omongan Ghaly saja. Dia ngelebihin doang kok. Padahal aku sering kok pulang cepet pas istirahat," ucap Zaina sambil melirik pada Ghaly yang tertawa kecil.
"Bohong om. Bahkan mbak Zaina sering lewatin waktu jam makan siangnya. Kerjaan mbak Zaina sih jadi beres dan jadi banyak yang suka karena ketangkasan dan kekreatifan. Tapi tetap saja saya khawatir kalau mbak Zaina terus kayak gini," ucap Ghaly lagi membuat Zaina merengut sambil terus meminta Ghaly untuk diam tanpa suara. Hanya gerakan dari mulutnya saja.
"Maaf Zaina ... gue emang takut lu marah nanti pas lu sembuh. Tapi gue nggak mau kalau lu semakin sakit nanti nya. Jadi demi kesembuhan lu, gue bakalan jujur semua ini sama lu. Gimana?"
Zaina akhirnya hanya bisa pasrah dan mengangguk.
"Maaf om ... saya ngomong gini bukan nyuruh om buat balik kerja lagi. Tapi di sini saya cuman mau ngomong kalau Zaina butuh waktu yang pas. Dia harus berangkat sesuai jam kantor dan langsung pulang pas udah waktunya. Walau masih ada kerjaan, dia nggak perlu mikirin sama sekali karena saya bakalan handle. Beneran deh."
"Ya sudah ... karena kerjaan ini tetap Zaina sendiri yang inginkan. Jadi seperti omongan Ghaly. Daddy bakal biarin kamu tetap bekerja. Asal kamu haris atur waktu dan nanti daddy juga akan lihat pola hidup kamu. Supaya teratur dan nggak bikin kamu lelah. Nggak cuman itu saja. Mommy juga akan turun untuk menjaga makana kamu. Biar kamu bisa mengkonsumsi makanan yang sehat."
Zaina hanya pasrah.
Selamat datang pada sayuran yang akan menjadi makanan konsumsi dia untuk ke depannya. Kalau kayak gini Zaina gak bisa apa-apa. Karena mereka semua melakukan ini demi kebaikan diri mereka sendiri.
"Kalau gitu saya pamit dulu ya om, tante. Masih ada kerjaan yang harus saya kerjakan."
"Kamu juga jangan lupa istirahat ya nak," pinta mommy Nadya sambil tersenyum keibuan membuat Ghaly spontan terdiam dan berakhir mengangguk.
"Pokoknya jangan karena anak kami sibuk, kerjaan semua di serahkan ke kamu. Saya tidak mau kamu juga sakit. Kamu harus kaga diri ya."
"Om ... Tante ... sekali lagi makasih banyak ya karena masih perhatian sama orang yang udah jahat kayak aku. Dan juga aku minta maaf atas semua yang terjadi di masa lalu."
"Ghaly!" sela Nadya membuat semua orang menoleh pada dirinya. "Bukannya gue udah bilang berulang kali. Kalau gak perlu inget masalah dulu lagi. Nggak usah minta maaf ya. Karena mommy sama daddy aku udah maafin kamu dari lama. Iya kan mom? dad?"
Orang tua Zaina mengangguk.
"Iya nak ... benar kata Zaina. Kita nggak usah tenggelam sama masa lalu lagi. Kami percaya kalau kamu sudah berubah dan berusaha menjadi yang lebih baik. Jadi, nggak ada yang perlu kami khawatirkan sama sekali. Jadi, kamu nggak usah ngomong kayak tadi lagi ya."
Ghaly mengangguk.
Laki-laki itu mendapat sepatah dua kata nasihat dari orang tua Zaina. Setelah selesai, baru ia keluar dan atensi orang tua Zaina kembali menatap anak mereka yang terbaring lemas.
"Nak ... nanti malam, daddy sama mommy ada pertemuan. Kamu nggak apa-apa ditinggal?"
Zaina merengut.
"Ih ... mommy tahu sendiri kan kalau aku paling nggak suka di tinggal sendiri pas di rumah sakit kayak gini. Nggak ah. Aku nggak mau sama sekali. Aku takut tau. Kalau memang acaranya cukup penting. Aku dirawat di rumah aja. Aku udah baik-baik aja kok."
"Baik dari mananya?" sewot mommy Nadya. "Tadi pagi kamu muntah sampai pingsan ya dan sekarang muka kamu aja masih pucat. Jadi, nggak ada yang baik. Kamu tuh masih sakit. Memangnya kenapa sih sendirian di sini? ada TV, kamu juga bisa main HP, nggak bakal sendirian kok."
"Ih takut aja gitu," balas Zaina. "Hawanya nggak enak."
"HUS ..."
" DADDY!"
"Kenapa?" kaget sang daddy melihat anaknya yang sudah melotot.
"Daddy salah?"
Zaina mengangguk. "Ish daddy ... kenapa ganggu Mahen lagi. Nggak ah, aku nggak mau sama sekali. Daddy tahu sendiri kan kalau kita udah nggak ada hubungan sama sekali dan dia juga udah punya perempuan lain. Aku nggak mau disebut perebut lagi."
"Nggak ... Mahen juga udah bersedia kok. Kalian kan bisa ngobrol kayak biasa dan daddy juga udah panggil Ghaly ko. Setelah kerjaan selesai, dia bakalan datang ke sini lagi."
"Dad, aku sendiri aja nggak apa-apa deh," ucap Zaina yang masih berusaha merayu. Ia lebih memilih menahan rasa takutnya di banding harus bertemu sama laki-laki seperti Mahen.
Ia masih belum siap.
"Daddy sama mommy yang khawatir. Tadinya kami mau suruh salah satu pelayan di rumah buat jaga kamu. Tapi ini udah di luar jam kerja, jadi daddy nggak mau ganggu mereka. Jadi, kamu nurut aja ya. Daddy sama mommy gak lama kok."
Zaina merengut. "Tapi, kalian beneran cepet ya," pasrah Zaina pada akhirnya.
"Iya nak," angguk mommy Nadya sambil menatap anaknya itu. "Mommy sama daddy bakalan cepet kok. Kamu cuman harus nunggu sebentar aja ya dan nggak perlu khawatir sama sekali."
Akhirnya Zaina membiarkan orang tuanya untuk pergi saja, sementara dia akan meyakinkan diri kalau semuanya akan baik-baik saja.
Setidaknya untuk saat ini.
***
"Masuk."
Degh! Zaina tidak percaya sama apa yang ia lihat. Masalah nya Mahen benar-benar datang seperti apa yang di bilang sama orang tuanya. Tapi bukan itu yang menjadi fokus utama Zaina. Ia malah melihat Mahen datang bersama Restu. Perempuan yang waktu itu membuatnya sangat sakit hati.
Zaina menghela napas kasar. /Kenapa perempuan itu datang ke sini juga? aish, semoga Ghaly cepetan datang deh. Biar aku nggak mati kutu kayak gini/ harap Zaina dengan terus berdoa
"Zaina ... maaf ya baru sempet datang. Soalnya tadi gue jemput Restu. Dia maksa untuk ikut buat jenguk kamu juga," ucap Mahen sambil menaruh buket bunga dan sekantung buah-buahan ke atas meja lalu duduk di kursi yang ada di pinggir kasur. "Nggak apa-apa kan kalau Restu datang? dia sedikit maksa sih," ucap Mahen membuat Restu memukul pelan lengan Mahen.
"Iya nih Zaina ...," sambung Restu sambil menggenggam tangan Zaina
Sang empunya tangan hanya diam, walaupun risih karena Restu yang sok dekat banget dengannya.
"Gue pas ngobrol sama lu waktu itu, jadi ngerasa deket banget sama lu. Jadi gue ikut khawatir pas lu sakit kayak gini. Nggak mungkin juga lu marah kan kalau gue datang. Walau lu mantan dari mas Mahen. Tapi kan tetep aja, kita harus temenan. Kalian juga nggak berakhir jadi musuh kan?"
Zaina tertawa paksa dan menggeleng.
"Makasih ya karena udah datang, padahal ini cuman di suruh sama daddy doang," ucap Zaina dengan lembut. "Padahal lu nggak perlu setuju sama omongan daddy terus. Kalau emang nggak bisa harusnya tolak aja. Ini juga kalau emang nggak bisa, nggak apa-apa kok kalian pergi. Mana malam minggu kan. Siapa tahu kalian mau kencan di luaran sana."
"Eh kami tidak—
"Niatnya sih gitu," sela Restu membuat Mahen kembali bungkam. "Tapi kan ya balik lagi. Kesehatan kamu tetep yang utama. Dan aku juga kok yang paksa mas Mahen biar kita bisa datang ke sini. Soalnya aku tahu gimana rasanya kesepian di rumah sakit dan itu beneran nggak enak banget. Jadi, nggak masalah dong kalau kita datang ke sini."
Zaina tertawa canggung.
"Tuh kan ... kalian memang punya rencana sendiri. Jadi, nggak perlu lah datang. Kalau kalian mau pergi sekarang juga nggak masalah kok. Soalnya sebentar lagi Ghaly bakal datang buat nemenin aku."
Mahen mendesis membuat Zaina menoleh.
"Kenapa?"
"Enggak ... gue kira hubungan lu sama Ghaly nggak sedeket itu dan cuman sebatas rekan kerja doang. Tapi ternyata kalian cukup dekat ya."
Zaina mengerutkan keningnya. Apa ada masalah kalau dia deket sama Ghaly? Toh ... Mahen juga nggak berhak untuk melarang dia sama sekali. Jadi nggak usah merasa aneh. Karena semua yang mau dia lakukan ya terserah dirinya.
"Emangnya ada yang salah?"
Lagi dan lagi Restu langsung menyela.
"Emang nggak ada yang salah sama sekali," jawab Restu dengan santai. "Tapi aneh nggak sih, kamu deket sama orang yang udah ngehamilin kamu?"
"Lu tahu?" tanya Zaina udah dengan panggilan gue-lu yang artinya dia mulai nggak nyaman sama pembicaraan mereka kali ini.
"Tentang kehamilan lu waktu itu? ya tahu dong ... siapa yang nggak tahu. Soalnya berita tentang lu waktu itu bener bener memenuhi media. Jadi, nggak ada alasan sama sekali buat aku nggak tahu masalah ini."
Zaina tersenyum paksa dan menggeleng.
"Bukan ... tentang Ghaly."
"Oh Ghaly ... ya tahu dong, soalnya mas Mahen ceritain semuanya ke aku. Jadi aku tahu semua yang terjadi di hidup kamu gitu. Jadi ... nggak usah ngerasa aneh karena aku tau semuanya dari mas Mahen. mas Mahen yang selalu kasih tahu ke aku. Jadi ya gitu ..."
Zaina menoleh pada Mahen dan tertawa sambil menggeleng. Tersirat tatapan penuh kecewa pada laki-laki itu. Mahen yang merasa di tatap langsung menatap dengan bingung.
"Kenapa?" tanya Mahen.
"Gue deket sama lu dulu bukan berarti lu bisa bebas ceritain masalah hidup gue sama orang lain," ucap Zaina dengan tegas. "Gue aja berusaha banget buat bangkit dari masalah hidup gue sendiri. Sampai gue nggak tahu harus lakukan apa karena rasanya gue terjerat sama masalah hidup. Eh ini malah cerita hidup gue bebas di ceritain sama orang lain. Lu ada hak?" tanya Zaina lalu tertawa lagi
"Zaina ..."
"Kok kamu gitu sih?" tanya Restu dengan nada tersinggung. "Itu hak mas Mahen dong, dia mau cerita atau enggak. Dan di sini kan doa cerita sama aku yang notabene deket sama dia. Jadi terserah mas Mahen dong mau cerita atau enggak. Kamu nggak usah marah kayak gini!"
"Gimana gue nggak marah karena objek yang di ceritain sama Mahen ya hidup gue!" bentak Zaina.