
"Kenapa mas?"
Mommy Nadya terkejut melihat suaminya yang langsung berdiri setelah mengangkat telepon. Ekspresi suaminya juga langsung berubah. Padahal mereka sedang cerita hal menyenangkan tentang Zaina dan Mahen. Tapi kenapa sekarang suaminya kelihatan marah?
"Mas ... kamu baik-baik aja?" mom Nadya menghampiri suaminya itu. "Ada apa? masalah perusahaan? Kenapa kamu keliatan emosi kayak gitu."
Suaminya itu berbalik.
"Cepat telepon Zaina dan suruh anak itu pulang," titahnya dengan sangat serius.
"Tapi mas kenapa?" tanya mommy Nadya hati-hati. "Anak kita buat kesalahan?" lanjutnya pelan karena takut melihat suaminya yang seperti ini. Mommy Nadya bisa jujur kalau jarang sekali suaminya itu marah. Kalau memang ada hal yang membuat suaminya kesal, pasti suaminya itu memilih pergi dan memenangkan dirinya di luar.
Tapi kenapa sekarang malah tiba-tiba marah kayak gini? apa lagi-lagi anaknya melakukan kesalahan?
"Mas ... kenapa?" tanya mommy Nadya lagi sambil mencoba menghubungi anaknya lewat telepon. "Bukannya tadi kita baru nelepon Zaina dan semuanya masih baik-baik aja? tapi kenapa sekarang kamu keliatan emosi banget? apa anak kita ngelakuin kesalahan lagi?"
"..."
"Mas jawab, biar aku bisa jelasin sama anak kita."
Daddy Zidan meraup wajahnya frustasi.
"Bukan Zaina, anak kita nggak ngelakuin kesalahan apa-apa lagi," jelasnya membuat mommy Nadya langsung menghela napas lega. Dikira anaknya kembali berulah.
"Kalau gitu? kenapa Zaina di suruh pulang? Kan kamu tau sendiri Zaina sama Mahen lagi ada di perusahaan kamu buat belajar ini itu. Sayang dong kalau di suruh pulang, pada hal Mahen jarang ada waktu seharian kosong kayak gini."
"Ibu," ucapnya menjeda
"Ibu?" tanya mommy Nadya. "Ibu kamu? Oma?" ucapnya berusaha memperjelas
Daddy Zidan langsung mengangguk dengan cepat.
*Ada sesuatu terjadi di rumah ibu dan kata pelayan di sana, ibu lagi mengamuk dan nyuruh kita sama Zaina buat datang ke sana. Mas nggak tau apa yang terjadi. Tapi suruh saja Zaina buat pulang. Kita langsung datang ke sana. Sekalian nyelesaiin masalah ini. Gimana?"
"Ya sudah."
Mommy Nadya meninggalkan suaminya saat panggilan telepon udah di angkat sama Zaina.
"Hallo Zaina, kamu di mana? masih sama Mahen? masih di perusahaan?" tanya mommy Nadya beruntun.
/Iya mom ... aku masih sama Mas Mahen kok. Kita juga masih di perusahaan, baru aja mau mulai kerja. Soalnya tadi cuma makan doang. Memangnya kenapa mom? Kok mom keliatan panik banget. Semuanya baik-baik aja kan?/
"Maaf sayang ... kayaknya kamu beneran harus pulang deh. Ada yang harus di urus dan ini beneran penting banget. Gak apa-apa kan?"
/Nggak apa-apa sih, tapi nggak ada sesuatu yang terjadi kan?/
"Lihat saja nanti, intinya semakin cepat kamu pulang maka semuanya akan semakin baik. Jadi buruan ya nak."
Setelah menghubungi anaknya, Mommy Nadya menghampiri suaminya yang terduduk di sofa. Suaminya keliatan sangat lesu membuat mommy Nadya berbelok ke arah dapur dan membuat teh melati hangat.
"Ini mas, kamu minum dulu." Mommy Nadya menaruh ke atas meja dan duduk di samping suaminya itu. "Udah mas, nggak usah di pikirin. Semuanya pasti baik-baik aja kok. Aku juga udah nelepon Zaina kok, pasti sekarang dia langsung pulang. Udah kamu jangan terlalu mikirin, yang ada kamu itu sakit. Aku nggak mau kalau kamu sampai sakit."
Daddy Zidan menghela napas.
"Mana bisa mas nggak pikirin, sementara ini ibu yang berulah," jelasnya. "Mas nggak paham kenapa ibu sama sekali nggak pernah berubah. Padahal dari dulu mas cuma berdoa supaya ada waktunya ibu bisa berubah. Karena mas sungguh mau bisa menikmati waktu bareng sama ibu tanpa ada masalah apa pun."
"..."
"Sayangnya sampai sekarang ibu nggak pernah berubah. Dari dulu selalu aja hal kecil aja tuh di permasalahin dan di saat mas udah nikah aja. Semuanya masih terus di salahin sama ibu. Mas tuh udah capek sama semuanya. Kayak ... ya ampun apa sih yang mas kurang lakuin sama oma, sampai oma nggak bisa ngehargain mas dan keluarga mas?"
Mommy Nadya mengangguk dan memeluk suaminya dari samping, berusaha memberikan ketenangan.
"Apa yang kita kurang lakuin sama ibu?"
"..."
"Bahkan mas berusaha untuk bangkit dan sampai di titik ini juga karena ibu. Karena mas nggak mau ibu ngerecokin pilihan mas dan mau buktiin kalau mas itu bisa tanpa harus ikutin pilihan ibu. Tapi di saat mas udah punya semuanya dan selalu rutin kasih uang ke ibu, oh iya! nggak cuma ke ibu. Tapi mas biayain tuh sekolah keponakan mas dan biaya hidup adik-adik mas. Tapi setelah semuanya aja, nggak ada tuh yang berterima kasih sama mas."
Mommy Nadya mengangguk.
Perempuan itu turut merasakan sakit hati yang di rasakan sama suaminya. Karena selama menikah sama suaminya, ia ikut melihat bagaimana perilaku ibu suaminya yang buat dia itu hanya bisa mengelus dada saja.
"Mas kadang capek. Mau marah sama mereka, tapi yang ada mereka lebih marah sama mas. Mas nggak tau lagi deh harus apa sama tingkah mereka. Tapi sekarang kalau ibu makin macam-macam sama keluarga mas. Yang ada mas nanti akan mutusin hubungan sama mereka. Lihat aja ... pasti mereka selama ini mikirnya mas nggak bisa apa-apa dan cuma bisa diam aja. Tapi mereka salah! mas akan tegas kali ini."
"Tapi mas ... gimana kalau mereka mikirnya ini pengaruh dari aku atau Zaina?"
Mommy Nadya merasakan sendiri.
Kalau aja ada sikap Zidan yang di ragukan sama ibunya atau adik-adiknya. Mereka pasti menuduh dirinya sebagai orang yang udah merubah sifat Zidan. Dan memang selalu dirinya terus yang di salahkan dan mommy Nadya lagi malas untuk menerima beban itu.
"Kamu tau sendiri kan kalau ibu sama adik kamu tuh nggak ada yang suka sama aku. Artinya mereka tuh nggak pernah bela aku sama sekali. Dan yang ada kalau kamu jauhin ibu sama adik kamu. Pasti mereka malah nuduh aku yang udah hasut kamu. Padahal aku nggak ada hasut kamu sama sekali."
"Tenang aja lah, kalau memang mas mutusin buat lepas hubungan. Berarti kita nggak bakalan ketemu sama mereka lagi kan? jadi kita nggak perlu dengerin tuduhan nggak berdasar mereka yang memang jahat banget. Jadi kamu nggak usah khawatir."
Mommy Nadya hanya mengangguk. Dirinya hanya seorang istri yang harus menuruti apa pun perintah suaminya dan kalau memang ini hal baik menurut suaminya. Berarti dia juga harus menurutinya.
Karena suaminya jelas tau apa yang dia pilih.
Sedang asyik diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti di pekarangan rumah mereka. Dikira Zaina tapi saat di beri tahu pelayan ternyata orang tua Sofyan yang datang ke rumah.
"Eh?" kaget mommy Nadya langsung mengisyaratkan suami nya untuk berdiri.
"Maaf kalau kedatangan kami mengejutkan kalian tapi ada yang mau kami bahas dan ini penting," jelas orang tua Sofyan membuat orang tua Zaina langsung memerintah mereka untuk duduk.