Love In Trouble

Love In Trouble
Molen



Mahen dan Zaina sekiranya udah ada 10 menit berada di depan perusahaan. Duduk tenang di dalam mobil yang saat ini Zaina terlihat hanya melamun. Tangan Mahen bergerak menggapai pipi lembut perempuan manisnya untuk ia berikan usapan yang sama lembutnya.


"Mas."


Mahen yang sedang mengangkat tuas mobil langsung menoleh. "Kenapa Zaina?" tanya Mahen


"Nanti kita ketemu lagi sama Ghaly dong?" gumam Zaina pelan. "Aku kadang masih nggak enak deh buat ketemu sama Ghaly. Inget yang terakhir kali kita omongin loh. Dia nggak sakit hati kan sama kita?" tanya Zaina seraya melengkungkan bibirnya ke bawah


"Ghaly nggak begitu kok. Mas yakin kalau dia nggak apa-apa, toh nggak ada yang dirugikan karena omongan kita kemarin kan?" tanya Mahen terus mengusap punggung lengan Zaina. "Di sini kita cuma ngeluarin isi hati kita aja dan selebihnya Ghaly juga menerima keputusan kita kan? Yang penting nanti jangan ada yang ungkit-ungkit masalah itu lagi. Oke?"


Zaina mengangguk.


"Tapi aku masih bisa ngobrol santai sama Ghaly kan? kamu nggak bakalan cemburu kan?" tanya Zaina yang memandang Mahen dengan mata berbinar


Mahen menangkup pipi Zaina dan mengecup di lengannya, tidak kena langsung ke pipi perempuan itu. "Mas nggak akan larang adalah kamu tau batasannya ya!"


Zaina terkekeh dan mengangguk.


***


"Hallo Ghaly."


Yang disapa langsung menoleh, matanya terbelalak. Wajah kagetnya langsung berubah menjadi senyuman lebar saat melihat Zaina mengangkat sebuah plastik berisi molen yang menjadi kesukaan mereka.


"Molen?"


Zaina mengangguk sambil mendatangi meja Ghaly dengan Mahen yang mengikutinya dari belakang.


"Gimana kabar lu, bro?" tanya Mahen seraya bertos ria dengan Ghaly yang terlihat santai.


Seolah semua ketakutan Zaina lenyap karena Ghaly tidak terlihat marah atau canggung. Ghaly bersikap seperti biasa dan langsung keluar dari meja kebesarannya dan duduk di sofa, Mahen sama Zaina juga mengikutinya dari belakang dan ikut duduk di sana.


"Baik .. tapi akhir tahun gini bener-bener pusing sama semua file yang harus selesai. Juga, karena ini gue nggak sempat hubungin kalian tentang pergi ke makam anak gue. Makanya jadi batal gitu. Sorry ya ..."


Zaina mengangguk dan menaruh plastik itu.


"Santai aja ... kemarin aku juga ada sedikit urusan kok. Jadi ikut nggak bisa gitu. Nanti deh, kalau kita sama-sama luang kita langsung buat jadwal. Karena ... aku juga udah lama ga ke makam dedek. Pasti dedek kangen ya sama kita berdua terutama mas Mahen, yang selama ini udah rawat adek pas ada di perut aku."


"Udah dong, jangan jadi sedih gini," balas Mahen merangkul Zaina. "Kita datang kan buat senang-senang bukannya malah jadi sedih gini."


"Eh ini gue ambil boleh kan?" tanya Ghaly sambil menyentuh plastik molen itu.


"YA BOLEH DONG!" tawa Zaina menggelegar di seluruh ruangan. "Itu gue sengaja datang ke kantin perusahaan. Cuma buat beliin lu molen doang. Molen kesukaan lu, yang sampai tiap istirahat nggak akan absen buat beli itu molen. Sampai gue bosen sendiri."


"Emang enak ya?" tanya Mahen.


Laki-laki itu menelan saliva melihat molen yang baru diambil Ghaly. Terlihat sangat menggiurkan. Jangan lupakan kepulan yang masih terlihat, tanda molen itu baru saja di angkat. Menambah kenikmatan yang tiada tara tergantikan.


Zaina bergidik dan menggeleng.


"Pisang diolah tuh aneh tau!" seru Zaina dengan semangat sampai bibirnya monyong. "Iya kan Mahen?" ucapan wanita itu terhenti saat melihat Mahen bergumam setuju sama rasa molen yang baru dia kunyah.


"Eh kenapa yang?" tanya Mahen yang sudah menelan molen dan sadar kalau Zaina menatapnya dengan kesal.


Mengundang tawa lepas Ghaly yang sejak tadi memerhatikan mereka.


"Ini kenapa sih?" tanya Mahen yang tak kunjung mendapat jawaban dari Zaina dan kini beralih pada Ghaly yang masih tertawa puas. "Gue ada salah? apa gimana sih? ini kenapa gue nggak paham deh."


Ghaly menepuk Mahen dan mengangguk.


"Zaina tuh nggak suka sama pisang yang diolah kayak gini. Apapun itu. Mau semenggiurkan apa pun. Dia nggak akan pernah suka sama makanan pisang yang diolah. Tapi ya ... kalau biasanya orang nggak suka itu biasa aja. Zaina ini malah suka ngajak orang buat ikutan nggak suka juga. Tapi eh tapi .. lu yang mau diajak nggak suka malah keliatan suka banget," jelas Ghaly membuat Mahen menggumam kecil.


"Mana bisa begitu dong Zaina."


Zaina menghentakkan kakinya pelan.


"Tapi kan pisang yang dimasak itu memang aneh," rengek Zaina. "Pisangnya jadi lebih lembek gitu. Pokoknya tekstur nya tuh aneh banget ih! Dan dulu beberapa temen aku juga setuju kok kalau rasa pisang itu aneh."


Zaina terus saja menggerutu, tak terima saat Mahen malah nggak peduli sama penjelasan dirinya dan malah ngobrol sama Ghaly. Mereka membicarakan yang lagi-lagi topik pembahasan mereka adalah molen.


Zaina yang diacuhkan awalnya memang kesal sampai ia melipat tangan di dada. Tapi lama kelamaan ia malah tersenyum tipis, melihat Ghaly sama Mahen yang malah kelihatan sangat dekat seperti ini.


Ia memekik pelan. Merasa lucu melihat dua orang yang sangat dikenal sedang berbicara bersama.


/Mana ada di bayangan aku dulu kalau masa lalu aku dan semoga aja masa depan aku bakalan ngobrol bareng kayak gini. Aku beneran ngerasa ini salah satu mukjizat banget karena mau gimana pun, mereka berdua punya ikatan tersendiri sama aku dan nggak mudah banget buat satuin masa lalu dan masa depan kayak gini./


"Kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu?"


Suara Mahen memecah lamunan perempuan itu. Ia melirik ke arah Mahen dan mendengus saat bibir Mahen sangat glossy karena minyak dari molen.


Zaina menggeleng, kenapa malah dia salah fokus ke arah sini sih. Zaina merutuki dirinya sendiri itu.


"Tadi senyum senyum nggak jelas, sekarang malah geleng kepala. Emang agak nggak jelas deh kamu," ledek Mahen sambil melihat jam yang melingkar di lengannya. "Ini udah waktu istirahat kan?"


Ghaly mengangguk.


"Nah ... mendingan kita ke bawah nggak sih beli molen? keburu habis," ajak Mahen yang langsung disetujui sama Ghaly.


"Eh ... mau ke mana kalian?" pekik Zaina melihat dua laki-laki itu yang bersama meninggalkan dirinya


"Beli molen!" balas Ghaly dengan sedikit berteriak


Mata Zaina membola dan dia menggeleng pelan. Langsung merapihkan barang yang ada di meja dan mengejar mereka. "IKUT!"