
Memaafkan dan merelakan, dua kata yang sebenarnya sulit untuk Zania jalani. Tapi wanita itu memilih untuk melakukan keduanya. Dia mau melupakan semua yang terjadi di hidupnya. Benar kata bundanya, semakin dia dendam semakin bayangan anaknya nggak akan pernah pergi dan itu semua cuman memperburuk keadaannya. Berusaha ikhlas, bukan berarti Zaina melupakan anaknya. Karena sampai kapan pun anaknya akan selalu ada di hati dia.
Dengan perasaan jauh lebih tenang Zaina menuruni satu per satu anak tangga, ia tersenyum sangat tipis melihat Mahen udah duduk di salah satu kursi meja makan.
“Aku nggak tahu, tapi ... aku ngerasa akhir-akhir ini tuh anak bunda sama ayah cuman Mahen doang,” jujur Zaina sambil ikut duduk di hadapan Mahen. “Makan pagi sama makan malem pasti Mahen makan di sini. Mana kayak anak sendiri banget lagi,” seru Zaina sambil menggeleng kecil.
Mommy Nadya tertawa ...
“Siapa pun temen kamu, udah pasti jadi anak mommy sama daddy juga,” balasnya. “Toh dia selalu jemput kamu pas pagi atau nganter kamu pas pulang kerja, masa mommy biarin gitu aja. Nggak mungkin dong ... jadi sekalian aja makan di sini. Toh nambah satu porsi buat di rumah nggak ada masalah sama sekali.”
“Iya sih ... tapi kan nyebelin liatnya,” balas Zaina menjulurkan lidah ke Mahen
“Loh? Nyebelin dari mana?” goda Mahen sambil menangkup wajahnya. Terlihat sangat ngeselin di mata Zaina. “Masa wajah setampan ini nyebelin sih,” ucapnya lagi sambil terus mengedipkan mata. Mengundang tawa dari mommy Nadya yang memang ada di sana
“Tuh mom ... lihat deh, ngeselin banget kan.” Tunjuk Zaina sambil merengut kesal.
“Loh ngeselin gimana sih? Aku nggak paham nih,” seru Mahen lagi dengan nada yang sangat menyebalkan.
“Ck ... udah udah,” papar mommy Nadya sambil menaruh piring di depan mereka. “Jangan pada berantem, nggak ada daddy kalian yang melerai,” ucap mommy Nadya berusaha melerai kan mereka berdua.
“Emangnya daddy kemana?” tanya Zaina lalu bergumam setuju. “Ih enak banget kuenya,” seru Zaina sambil menatap rainbow cake di piring kecilnya itu, “Beli di mana ini?”
“Daddy kamu ada flight pagi-pagi, ada urusan mendadak di perusahaan C. Terus ... itu kue yang beli Mahen, kamu tanya aja gih sama dia.”
“Di persimpangan jalan depan,” jawab Mahen dengan cepat. “Yang baru buka itu loh. Kan kemarin lu nanya sekaligus mau beli, tapi gue larang karena rame banget. Tadi pas gue lewat sih masih sepi. Jadi ya gue beliin aja kue buat lu.”
“Ah ... makasih,” gumam Zaina sambil tersenyum manis,
Sangat manis sampai Mahen terpana melihat senyuman yang sangat manis itu, dan beberapa detik kemudian langsung menunduk takut Zaina menyadari perasaanya yang masih ada hingga saat ini karena Zaina benar-benar nggak mau membahas masalah yang satu ini.
Perasaan Mahen harus benar-benar dikubur dalam-dalam.
“Silahkan mommy sama Zaina ngomong berdua, ada yang harus aku urus dulu bentar,” seru Mahen setelah merasakan perubahan moodnya yang cukup kentara
Zaina menatap Mahen dengan bingung, berakhir mengendikan bahu. Berusaha nggak peduli walau di sudut hatinya yang paling dlaam. Dia merasa kalau ada sesuatu yang terjadi sama laki-laki itu.
Disaat Zaina sedang berusaha nggak peduli sama perasaannya, ada Zaina yang mengeluarkan sebatang rokok dari kantong celananya dan duduk di belakang pekarangan rumah Zaina. Aroma tembakau memenuhi dirinya setelah Mahen menghembuskan asap. Ia jarang merokok. Ia hanya merokok kalau perasaannya sedang kacau, seperti ini.
Kalau perasaannya sedang tidak menentu. Mahen nggak akan peduli sama tempat dia berpijak, dia akan langsung merokok di mana pun ia berada. Seperti saat ini. karena ketenangan hati jauh lebih penting dibanding apa pun.
“Sebenarnya ini yang terbaik,” ucap Mahen dengan sangat pelan. “Aku jadi bisa ngobrol sama Zaina lagi. Tapi bukan ini yang aku mau,” lanjutnya sambil tersenyum sangat pedih. “Sakit ya rasanya ngeliat orang yang ada di hati seperti nggak peduli sama perasaan kita.”
Mahen mengepalkan tangan sangat kuat.
Mahen sangat sadar kalau perasaannya ini memang harus ia simpan rapat-rapat dan mungkin nanti ia akan menemukan luka yang jauh lebih sakit di banding ini. mungkin saat Zaina bakalan ketemu sama laki-laki yang akan bersamanya nanti. Apapun itu Mahen harus siap akan semua nya, walau melihat Zaina yang seperti asing dari dirinya aja sedikit sakit. Apalagi kalau dia melihat Zaina bersama laki-laki lain? Itu pasti jauh lebih sakit.
Huft ...
Berulang kali Mahen menghembuskan asap rokok, menghabisi satu batang rokok yang rasanya sayang kalau disisakan walaupun setengahnya saja.
Sementara itu, tanpa sadar Zaina melihat semuanya dari lantai dua kamarnya. Ia termenung melihat Mahen yang sangat kacau seperti itu. Rasa bersalah membelenggu dirinya. Tapi dia nggak bisa apa-apa. Dengan perlahan tangannya memegang kaca dan mengusap pelan, seolah mengusap Mahen.
“Maaf ... maaf kalau aku mengecewakan kamu. Pasti bukan ini kan yang kamu mau?” gumam Maudy dengan sangat pelan. “Pasti bukan ini kan yang kamu mau?” ucapnya lagi. “Tapi maaf ... aku nggak bisa kalau harus memaksakan diri untuk bersama kamu lagi. Karena setelah kamu ngomong kayak waktu itu, perasaan ini benar-benar hilang. Aku beneran nggak punya rasa cinta itu lagi sama kamu,” jujurnya.
Zaina menarik napas dalam.
“Maaf Mahen ... mungkin ini menyakiti kamu. Tapi apa yang kamu pengin bukan yang aku inginkan. Keinginan kita berdua itu berbeda. Jadi, maaf. Kali ini aku nggak bakalan mikirin perasaan orang lain lagi. Aku bakalan egois,” ucapnya lalu buru-buru berbalik dan meninggal kan jendela kamarnya.
Nggak mau melihat Mahen yang seperti ini lebih lama.
***
“Kalau suatu hari aku menikah, kamu menikah, aku harap pertemanan kita nggak akan usai,” ucap Zaina dengan tiba-tiba saat jam istirahat di perusahaan Mahen. “Soalnya ... mau gimana pun, kamu tuh salah satu orang yang buat aku kuat pas aku lagi ada di titik terendah. Jadi aku mau kasih tau ke anak aku, kalau kamu itu orang terbaik yang aku punya.”
“Oh iya?” seru Mahen berusaha sesemangat mungkin
Zaina mengangguk dengan cepat sambil menyuapkan sesendok bakso.
“Dan aku harap juga ... pertemanan kita bakalan terus kayak gini. Jangan ada yang bertengkar lagi. Sampai aku nemuin jodoh aku, atau kamu yang nemuin jodoh kamu lebih dulu,” beri tahu Zaina. “Tapi ... aku penasaran deh, siapa ya yang dapet jodoh duluan?” tanya Zaina dengan pelan sambil membayangkan siapa yang sekiranya bakalan mendapat jodoh lebih dulu.
“Zaina ...,” panggil Mahen dengan lesu
“Tapi bisa jadi kamu sih. Siapa tau nanti ada rekan kerja kamu yang kepincut sama kamu. Eh bisa buat kamu jatuh cinta sama dia, nggak cuman itu ... siapa tau dia—
“Hah?” kaget Zaina
“Iya ... gimana dengan kamu?” tanya Mahen lagi. “Apa kamu sama sekali nggak mau hubungan kita kembali kayak dulu?” Zaina memasang wajah protes membuat Mahen dengan cepat menyela. “Okei ... aku tau kok, kalau kita nggak boleh ngomongin masa lalu lagi. Tapi semua ini masih bisa di perbaikin kan? Banyak loh kesalahan yang dilakuin sama manusia, tapi dia selalu mendapat kesempatan kedua. Apa aku nggak akan pernah dapat kesempatan itu?” tanya Mahen dengan tersenyum miris
“Mahen ...,” peringat Zaina yang menolak pembicaraan mereka kali ini
“Aku tau, Zaina. Kamu nggak pernah suka sama perbincangan kita yang ini,” ucap Mahen berusaha memahami perasaan Zaina. “Tapi itu kan kamu? Beda sama aku yang masih terus mau kita ngebahas ini. Karena apa? dengan kita omongin ini, aku berharap kamu jadi inget sama semua yang kita laluin di masa lalu dan siapa tau kamu jadi inget momen bahagia. Terus bisa jadi kamu mulai mikirin semua tentang kita sampai perasaan itu kembali tumbuh.”
“Okei?”
“Siapa tau ada kesempatan yang bisa aku lewatin,” gumam Mahen sambil tertawa kecil. “Walau selama ini rasanya nggak pernah ada kesempatan buat aku,” lanjutnya lagi. “Rasanya setiap aku mau melangkah dan berusaha, kamu selalu menolak. Seolah ada benteng tersendiri yang buat kamu bener-bener nggak bisa maafin aku.”
“Mahen ...”
“Zaina ... apa perasaan itu benar-benar hilang di kamu?” tanya Mahen dengan cepat. “Apa kamu lupa sama semua kenangan yang kita laluin? Apa kamu beneran udah nggak punya perasaan terpendam apa pun sama aku? Apa kamu lupa sama semua moment yang kita laluin?” tanya Mahen. “Apa kamu bener-bener mau kita selesai tanpa hubungan kayak gini?”
“IYA!” pekik Zania sambil melangkah mundur menatap kesal. “Aku udah nggak punya perasaan apa-apa sama kamu! Aku udah nggak cinta sama kamu! Aku mau kita punya hubungan tanpa status kayak gini! Aku lebih suka kayak gini.”
“Zaina ... tapi bukan ini yang aku mau.”
“Dan aku nggak mau, apa yang kamu mau,” balas Zaina yang mulai menangis. “Mungkin kamu cuman inget momen terbaik kita, tapi enggak dengan aku mas ... aku cuman inget momen pas kamu ngatain aku bodoh. Aku cuman inget momen pas kamu ngatain kalau aku bukan wanita baik-baik. Aku cuman inget momen kalau kamu salah satu orang yang buat aku nggak sadar waktu itu sampai aku kehilangan anak aku. Gimana aku bisa bareng sama laki-laki yang udah nyelakain anak aku? Nggak bisa Mahen ... aku nggak akan pernah bisa hidup sama kamu,” jujur Zaina
Tubuh Mahen terasa sangat lemas. Sampai ia terjatuh terduduk ke sofa.
“Gimana kata anak aku di atas sana kalau tau ibunya menikah sama laki-laki yang udah ngatain dia,” seru Zaina sambil berteriak kecil. “Aku udah berusaha maafin kamu mas. Tapi ya kita cuman bisa sampai sebatas ini doang. Temenan, cuman ini Mahen. Nggak lebih sama sekali.”
Mahen terhenyak.
“Zaina ... aku bukan pembunuh,” serunya dengan sangat pelan membuat Zaina tersadar akan omongannya yang udah sangat berlebihan
“Bukan begitu ...”
“Aku tahu kalau semua ucapanku hari itu emang salah, aku udah nuduh kamu yang enggak enggak. Bahkan aku udah ngatain hal yang sangat jahat sama kamu. Tapi aku bukan pembunuh,” balas Mahen lalu tertawa kecil.
“...”
“Ternyata ini ya pemikan kamu selama ini ke aku,” ucapnya lagi yang langsung digelengi sama Zaina
“Bukan ... bukan gini.”
“Aku kecewa,” papar Mahen lalu tertawa miris. “Aku kira ini hanya sebatas dendam tak beralasan. Tapi kamu sampai ngatain aku pembunuh?” ucapnya kaget. “Aku nggak nyangka kalau ini yang kamu pikirin selama ini,” ucapnya dengan suara gemetar
“Zaina ... kamu harus tahu, kalau aku sangat mencintai sama kamu,” ucap Mahen. “Dari awal kita ketemu sampai kejadian dulu yang nggak sengaja mempertemukan kita. Semuanya buat aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Bahkan aku nggak pikir panjang dan menerima kamu sama anak kamu. Yang bahkan aku nggak tau ayahnya siapa. Tapi aku nggak peduli. Aku mau menerima dan mau menjadi ayah yang baik.”
Zaina terdiam.
Mahen melewati tubuhnya begitu aja dan membongkar laci di dekat pintu masuk lalu ia mengambil tiga buah buku dan menaruhnya ke atas meja dengan sedikit kasar.
“Kamu lihat,” pintanya membuat Zaina membaca judul buku yang ada di sana.
“Bahkan aku beli buku untuk belajar jadi ayah yang baik. Aku belajar banyak hal hanya untuk anak tak berdasar itu. Karena yang aku pikirin, aku harus menerima kamu sama anak itu dengan baik,” serunya dengan cepat. “Aku belajar banyak hal supaya nanti nggak jadi ayah yang buruk setelah anak itu lahir. Bahkan aku nggak nyari buku untuk jadi suami yang baik. Yang aku pikirin cuman belajar jadi ayah yang baik ...”
Zaina menelan saliva.
“Terus ... apa alesan aku ngebunuh anak kamu?” tanya Mahen dengan cepat. “Ada alasan apa aku mau ngebunuh anak itu? Karena alasan nggak suka?” tanya Mahen sambil menggoncang kan tubuh Zaina. “Kalau memang aku nggak suka, harusnya dari awal aku ajak kamu buat aborsi aja. Aku bakal racunin banyak kata buruk tentang anak itu ke kamu. Dengan kondisi kamu yang dulu masih terguncang, aku yakin kalau bakalan bisa bujuk kamu buat bunuh anak itu. Tapi apa? aku yang selalu ada di samping kamu pas kamu keram. Aku yang selalu nurutin semua keinginan kamu pas kamu ngidam. Aku yang selalu jadi sosok ayah baik di sisi kamu.”
“...”
“Nggak ada alesan aku mau ngebunuh anak itu, Zaina .... kebetulan aja, aku nggak sengaja bentak kamu dan kamu sedih. Kamu nggak fokus menyebrang terus kamu ketabrak. Itu bukan salah aku, itu bukan sepenuhnya salah aku,” balas Mahen dengan tersenyum sangat tipis. “Bukan aku yang ngebunuh anak itu. Ini semua takdir.”
Mahen tersenyum penuh luka.
Ia mengambil lengan Zaina dan mengusapnya pelan.
“Sekarang selesai ya, sepertinya kita nggak bisa berteman lebih lanjut. Aku nggak mau terus ngerasa sakit hati kalau ngeliat kamu nuduh aku kayak gini. Nggak usah mikirin pinalty itu. Kamu nggak perlu datang lagi ke kantor mulai besok.”
Mahen menarik napas dalam, melepaskan semua rasa sesak yang sangat membelenggu.
“Terima kasih karena selama ini udah jadi teman aku.”
Mahen pergi meninggalkan Zaina sendiri. Yang kini hanya bisa menangis dengan penuh rasa penyesalan.