Love In Trouble

Love In Trouble
Canggung



Saat ini orang tua Mahen sudah berpamitan untuk pergi. Kini tinggal Zaina dan Mahen yang ada di rumah ini. Dua orang itu benar-benar sangat canggung. Sejak tadi hanya duduk saling berjauhan di kursinya. Tanpa ada yang mulai untuk bicara sama sekali. Keduanya hanya saling melirik tanpa ada yang mengucapkan sepatah kata pun sama sekali. Sampai Mahen berdeham membuat jantung Zaina langsung berloncat ria.


"Zaina ... gimana kabar kamu selama ini?" tanya Mahen yang membuat suasana semakin canggung.


"Ah itu ... baik kok. Kabar kami sendiri gimana?"


"Baik kok ... nggak ada yang sulit kan untuk ngejaga perusahaan kamu?" tanya Mahen lagi. "Semua berjalan dengan lancar kan?"


"Iya kok, Ghaly banyak ngebantu aku. Jadi semuanya benar benar bejalan dengan baik," jawab Zaina di susul senyuman kecil. "Ghaly beneran udah berubah dan belajar akan banyak hal sampai aku aja kaget, karena dia yang bisa melakukan banyak hal. Padahal untuk mempelajari semua itu nggak segampang itu. Apa lagi posisi dia dulu cuman pegawai biasa yang nggak tau seluk beluk perusahaan yang banyak. Tapi, sekarang dia bisa belajar banyak hal dan lebih ngerti di banding aku."


"Begitu?" tanya Mahen yang terselip rasa cemburu.


"Iya ... pokoknya Ghaly keren deh. Dia yang udah bimbing aku selama ini sampai aku ada di titik ini. Dia sekeren itu. Nggak ada yang bisa nandingin sama sekali."


Terdengar helaan napas berat dari samping Zaina buat perempuan itu langsung menoleh dan menatap sangat terkejut.


"Ah ... dia memang sekeren itu ya."


"Iya ... pokoknya nggak ada yang bisa nandingin sama sekali deh. Mereka terlalu keren banget. Oh iya, gimana sama kamu. Kan gue udah sedikit cerita tentang gue saat ini. Tapi kamu? gimana kamu selama ini?"


"Baik-baik aja. Terlampau menyenangkan."


Degh! Zaina tersenyum paksa. Sangat menyenangkan, yang artinya Mahen benar-benar bahagia sama hidupnya dia yang sekarang. Tidak hanya itu saja. Berarti Mahen beneran bahagia sama pasangan hidupnya yang sekarang dan gak ada yang bisa nandingin sama sekali.


"Sebahagia itu kah?"


Mahen mengangguk. "Makanya ... gue harap juga lu tuh bisa bahagia. Jangan pernah mendem semuanya sendiri ya. Lu tuh udah hebat banget. Jangan pernah sedih lagi. Karena yang gue liat, lu tuh sering maksain untuk senyum. Padahal kayaknya nggak ada yang sadar sama kantung mata lu yang keliatan jelas item gitu. Kayak yang sering nangis atau sering begadang."


"Ah itu ..."


"Mungkin orang bisa nggak sadar, tapi di sini gue selalu sadar sama apa yang gue lihat. Gue selalu tahu kondisi lu pas lagi sedih atau lagi ngebohongin banyak orang dengan muka lu yang lagi nahan semua ini. Nggak cuman itu aja. Jangan pernah nyembunyiin rasa sedih. Kalau dulu ada gue yang bakal dengerin semua kesedihan lu. Sekarang mungkin lu percaya sama Ghaly. Lu bisa cerita sama dia, tentang hidup lu. Jangan pernah pendem sendiri."


"Kenapa nggak bisa?"


"Hah? maksudnya ..."


“Iya ... kenapa kamu malah nyuruh Ghaly? Memangnya kamu nggak mau jadi pendengar di hidup gue lagi? Apa memang ... semuanya benar-benar udahan ya? dan nggak ada lagi kayak dulu lagi.”


“Eh ... bukannya gitu.”


Zaina menggeleng kecil.


“Tapi omongan kamu mengarah ke sana,” jawabnya dengan sangat pelan. Perempuan itu menarik napas dalam, “Padahal ... aku udah ngebayangin kalau kita balik kayak dulu lagi. Bukan hubungan itu. Tapi sebagai teman, gue beneran beruntung banget pas punya temen kayak kamu. Kayak ... ada orang yang ngebela temen sampai sejauh itu. Tapi, denger kamu ngomong kayak tadi ... seolah kamu dorong jauh-jauh keinginan aku.”


Perempuan itu menghela napas berat.


“Kayak ... nggak ada lagi tempat itu. Seakan semuanya udah lenyap. Kita yang nggak bisa bertemen lagi dan semuanya berakhir asing. Ternyata ... bener ya, anggapan orang banyak yang selalu bilang kalau semua ini ada masanya. Seperti kamu yang lupa sama semua kenangan kita. Rasanya aneh ya Mahen. Asing padahal kita pernah kenal sedalam itu. Dan itu sangat menyakiti hati aku.”


“Zaina ...”


Zaina buru-buru mengusap air matanya yang turun, tak mau Mahen melihat air matanya yang turun. Tapi, tanpa Zaina sadari. Sejak tadi Mahen hanya menatapnya tanpa henti. Laki-laki itu ikut meringis melihat wanitanya yang sedih seperti ini. Tapi dia nggak bisa apa-apa karena ada janji tersendiri yang mengikatnya dan memaksa dia untuk menjadi jahat seperti ini.


“Maaf Zaina ...”


“Nggak ... kamu nggak perlu minta maaf sama sekali,” jawab Zaina sambil tersenyum sangat tipis. “Ini salah aku, salah aku yang terlalu berharap sama kamu. Nggak seharusnya aku berharap lebih sama orang lain. Di saat aku sendiri selalu mendapatkan hal buruk yang nggak pernah sesuai ekspetasi aku.”


Zaina mencengkram kuat lengannya, menahan rasa sakit hatinya walaupun semua ini jadinya sangat sesak.


“Zaina ... tapi kamu nggak punya perasaan apa-apa kan sama aku?”


Zaina menoleh dan menatap terkejut. “Kenapa kamu nanya kayak gitu?” tanya Zaina sambil tertawa lirih. “Apa pun yang gue rasain sekarang udah nggak ada urusannya sama sekali dengan kamu kan? Kalau pun gue masih punya perasaan sama kamu. Kamu juga nggak perlu ngerasa panik atau khawatir. Karena gue nggak bakal macem-macem.”


“Bukan itu Zaina ... gue ngomong kayak gini juga buat mastiin sesuatu,” jawab Mahen sambil menatap lekat-lekat Zaina. “Gue cuman mau tahu aja, biar gue percaya kalau langkah yang gue ambil sekarang tuh nggak salah sama sekali. Jadi ... tolong jawab pertanyaan gue. Lu nggak punya perasaan apa pun sama gue kan?”


Zaina mengalihkan pandangan dan menarik napas dalam.


“Tenang aja ... gue udah nggak punya perasaan apa-apa sama kamu,” jawab Zaina dengan penuh dusta karena dia nggak mungkin mengatakan yang sebenarnya, di saat Mahen memiliki perempuan lain di sisinya.


Walaupun ini menyakiti hatinya, tapi dia nggak mau menyakiti hati perempuan lain.


Dia nggak mau menambah dosa di dalam dirinya.


Biarlah dirinya yang tersakiti.


“Jadi beneran?” tanya Mahen dengan nada suara yang semakin melemah


Zaina mengangguk dan tersenyum tipis. “Jadi kamu nggak usah mikir yang macem-macem, gue udah nggak punya sepeser pun perasaan sama kamu. Gue yang ngomong kayak gini pure pengin berbaikan sama kamu sebagai temen. Biar kita bisa balik kayak dulu lagi. Nggak lebih sama sekali.


“Ah gitu ...” Mahen tersenyum sangat pahit sembari mendengus kecil.


Untuk sesaat mereka sama-sama diam dan nggak mengatakan sepeser kata pun sama sekali. Dua orang itu sibuk dengan perasaan sakit sendiri. Yang tanpa mereka sadari kalau mereka sama-sama tersakiti dan melakukan berbagai cara untuk membuat orang yang mereka suka menjadi bahagia.


Mengecualikan dirinya.


“Zaina ... tapi kamu pernah lupa nggak sih sama semua kenangan kita?”


“Mana mungkin? Tapi kalau gue inget terus juga yang ada gue di cap susah move on kan? Jadi, mau nggak mau sedikit demi sedikit gue harus lupain ini. Kamu juga kan? Pasti kamu yang lebih dulu lupa sama masalah ini?” tuduh Zaina membuat Mahen tertegun dan akhirnya mengangguk kecil.


Zaina mendesis dan lagi lagi mengalihkan pandangan ke arah lain, untuk menghindari rasa sakit yang berlebih ini.


“Oh iya ... seperti permintaan aku tadi, kamu bersedia kan kalau kita bertemenan kayak dulu lagi? Kamu nggak merasa terpaksa kan? Karena ini salah satu wisht list aku sebelum—,” ucapan Zaina terhenti. Dia sadar kalau driinya nggak boleh menceritakan masalah sepenting ini ke Mahen.


Termasuk semua orang, nggak ada yang boleh tahu sama sekali.


“Sebelum apa?”


Zaina menggeleng, “itu cuman list di hidup aku aja. Dan aku mau berdamai sama semua yang ada di masa lalu. Makanya aku buat banyak list supaya menjadi bahan ajaran aku di masa depan. Hanya itu, nggak lebih sama sekali.”


“Ah itu ... boleh aja.”


“Sedeket dulu lagi?” harap Zaina.


Sayangnya Mahen menggeleng membuat tubuh perempuan itu tertegun. “Mungkin, untuk sedeket dulu, gue nggak bisa. Karena harus ngejaga sesuatu. Tapi untuk bertemen biasa, gue bisa.”


“Ah—


“Assalamualaikum!” salam bunda Mahen lalu berhenti melangkah di depan pintu, menatap sang anak sama Zaina yang saling diam-diaman dan duduk berjauhan itu. Ia menarik napas dalam, baru sadar kalau kini semuanya udah benar-benar berbeda. “Kenapa kalian duduk jauh jauhan kayak gitu? Hubungan kalian memang sudah selesai. Tapi, tetep aja nggak buat kalian jadi bertengkar kan? Jadi ... nggak usah berjarak kayak gitu dong.”


“Enggak kok bun,” jawab Mahen sambil mengedarkan pandangan. “Di mana ayah bun? Bukan nya tadi bunda pergi sama ayah? Tapi kenapa sekarang bunda cuman sendiri?”


“Ah iya, itu ayah kamu ada urusan tiba-tiba. Makanya setelah nganter bunda, ayah langsung pegi ke kantor. Udah yuk sekarang makan dulu, udah ngelewatin jamnya makan.”


***


Bunda Mahen menuang lauk lagi di piring Zaina membuat perempuan itu menatap memelas sambil menggeleng. Ia sudah sangat kenyang untuk sekarang dan nggak sanggup lagi untuk menambah makanan, di saat dari tadi bunda Mahen selalu menaruh nasi lagi dan lagi.


“Kamu sekarang kurus banget, harus makan yang banyak!”


“Tapi—


“Udah bun, jangan di paksa,” sela Mahen yang sedikit merasa kasihan sama Zaina yang keliatan tersiksa banget. “Kasihan Zaina nya, itu dia udah kenyang banget.”


“Ah ... kamu samanya tau nggak sih. Dari pas waktu itu, kamu juga jadi jarang makan. Bunda sampai nggak paham sendiri kenapa kamu bisa makan dikit. Oh iya, kamu juga turun kan berat badannya? Nggak usah sok sembunyiin sesuatu dari bunda. Karena bunda tahu semuanya dengan sangat jelas.”


Mahen jadi bungkam sambil menunduk.


“Sebenarnya ... kalian juga sama hancurnya kan setelah kejadian itu? Karena perpisahan kalian juga buat pola hidup kalian jadi berubah. Tapi, bunda ngeliat kalian cuman pura-pura baik aja. Kalian juga sebenarnya sama hancurnya kayak bunda kan?”


Zaina terdiam dan melirik pada Mahen. Benar kah Mahen melewati fase yang sama dengan dirinya. Ia menatap penuh lekat-lekat. Melihat Mahen yang hanya diam dan nggak menyela sama sekali membuat Zaina menarik napas dalam. Karena ia sadar kalau Mahen memang juga sama hancurnya dengan dia.


Mereka memiliki luka yang sama.


“Kalian cuman bilang baik, udah lupa dan berusaha nggak peduli. Tapi di sini bunda sadar kalau kalian tuh nggak sekuat yang dibilang. Karena bunda sendiri yang selalu lihat perkembangan Mahen selama ini dan tanpa kalian tahu juga, bunda masih kontakan sama mommy nya Zaina. Yang artinya bunda secara nggak langsung tahu tentang kalian.”


Zaina menunduk juga pada akhirnya.


“Kalian seperti orang asing dan bunda sungguh membencinya. Apa yang sebenarnya terjadi di sini. Apa yang sudah kalian lewatin? Apa yang buat kalian jadi kayak gini. Apa karena gengsi? Dan buat kamu Mahen ... bunda sekali lagi mau menegaskan kalau bunda benci pilihan kamu saat ini. kamu bertindak tanpa bertanya ke bunda sama ayah dan kalau boleh kami bilang, sebenarnya kami kecewa sama keputusan kamu yang sekarang.”


Bunda Mahen berdecak sambil mengelus dadanya. Ia mendorong piring, sudah tak berselera lagi.


Sebenarnya, tak ada niatan untuk marah seperti ini. Bunda Mahen selama ini udah berusaha untuk menahan rasa perih di hatinya. Melihat jalan Zaina dan Mahen yang sudah tak memiliki arah sama sekali. Tetapi melihat Zaina sama Mahen yang nggak berbicara sejak tadi kayak menyenggol luka di hati bunda Mahen dan malah nggak sengaja mengeluarkan uneg-unegnya.


“Aku permisi dulu.”


Mahen bangkit dan meninggalkan mereka begitu saja membuat bunda Mahen menarik napas dalam dengan sangat kecewa.


“Selalu saja begini,” gumamnya dengan sangat pelan.


Bunda Mahen menatap nanar ke arah perginya Mahen dan beralih menatap Zaina, “teruskan saja nak, habis ini kita mulai taruh gaun ke mobilnya ya.”


Dengan canggung Zaina mengangguk.


***


Saat ini salah satu pelayan membawakan gaun super ngembang masuk ke dalam mobil Zaina yang baru saja tiba itu setelah dipinta sama Zaina. Supir Zaina langsung menunduk sopan dan ikut membuka bagasi mobil dan membiarkan pelayan keluarga Mahen memasukannya ke dalam. Setelah gaun yang di impikan Zaina sudah ada di dalam, para pelayan tersebut langsung berpamitan pergi. Meninggalkan bunda Mahen yang sudah berdiri menatap Zaina.


“Maaf ya ... harusnya kamu happy pas datang ke sini, tapi sekarang kamu malah nggak sengaja denger pertengkaran di rumah ini. Padahal seharusnya nggak kayak gini.”


Zaina menggeleng dan meminta maaf.


“Maaf ya bun, karena aku sama Mahen udah buat bunda jadi sedih. Maaf juga karena udah ninggalin fakta kalau kita nggak bisa sama-sama lagi. Tadinya ... aku juga berniat bertemen sama Mahen, mengingat gimana baiknya Mahen selama ini sama aku. Tapi ... tadi kata Mahen. Kita memang bisa bertemen, tapi nggak sedeket dulu. Makanya ... aku rasa, kita nggak bisa sedeket dulu lagi dan aku nggak bisa seintens itu lagi sama Mahen.”


Bunda Mahen menarik napas dalam dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


“Pasti karena perempuan itu.”


“Maksud bunda?”


“Ah ... sudah lah, bunda nggak bisa jelasin ke kamu,” ucap bunda Mahen lalu menepuk pundak Zaina. “Tapi ... bunda harap, kamu jangan pernah percaya sama berita di luaran sana ya. karena semua itu nggak benar. Sekali lagi, jangan pernah berharap ya.”


Dengan bingung Zaina mengangguk, “iya bun ...”