Love In Trouble

Love In Trouble
Belajar Dari Awal?



Sebelum benar-benar pergi, Tiba-tiba saja seorang dokter datang dari arah berlawanan menghampiri mereka. Buat mereka yang sejak tadi sibuk dengan pembicaraan mereka masing-masing langsung berbalik saat melihat dokter itu mendatangi mereka.


"Orang tua Zaina?"


"Saya ibunya, ada apa dengan anak saya? Dia baik-baik saja kan?"


Dokter itu menghela napas membuat orang tua Zaina hanya bisa menatap khawatir. Mereka akhirnya di ajak menuju ke ruangan dokter tersebut dan memintanya untuk duduk di sana.


"Bagaimana keadaan putri saya? Dia baik-baik saja kan?" tanya mommy Nadya dengan penuh harap. Berharap putri satu satunya baik-baik saja dan nggak tersakiti sama sekali


"Alhamdulillah ... kalian membawa pasien Zaina di waktu yang tepat. Pasien baik-baik saja dan tinggal nunggu waktu siuman saja. Tapi ... sebelumnya saya bertanya apa pasien ini punya masalah? atau maaf sekali pernah di ajak menuju psikolog tidak? Karena, kalau tidak salah pasien ini yang beberapa hari terakhir selalu ada di televisi? Apakah saya benar?"


Daddy Zidan mengangguk.


"Tapi .. tidak ada yang serius kan sama kondisi anak saya? Dia baik-baik saja? Dan Zaina nggak kena overdosis yang bakal menyakiti dirinya di kemudian hari kan?" tanya daddy Zidan dengan tenang.


"Tidak ada ... tetapi, mungkin pikiran Zaina yang sedang sakit di sini. Mungkin karena masalah ini membuat pasien merasa terganggu dan memilih untuk melakukan hal itu. Jadi, menurut saya. Putri anda bisa di ajak ke salah satu psikolog."


Dokter itu menyerahkan kartu nama dokter psikolog ternama yang cukup terkenal.


"Tapi, putri saya baik-baik saja kok," gumam mommy Nadya


"Semua pengunjung juga akan mengatakan yang sama. Tapi melihat kondisi yang seperti ini. Saya rasa putri anda akan kelihatan baik-baik saja jika di depan orang tuanya dan milih untuk memendam semuanya sendiri."


Dokter itu tersenyum tipis.


"Ini memang sangat berat bagi orang tua. Tidak ada orang tua yang mau anaknya terkena masalah hingga depresi seperti ini. Tapi balik lagi. Tugas orang tua bukan untuk menghakimi anaknya, kalian bimbing anak kalian. Jangan katakan kalau anak kalian depresi. Katakan saja kalau pasien bisa menceritakan semua kesulitan yang ada di dalam benaknya ke dokter psikolog. Saya rasa dia akan mau kalau orang tua mampu mengatakan yang terbaik dan nggak menyinggung ke arah sana."


Hati mommy Nadya terasa sangat sakit.


"Obat yang tadi kalian bawa memang hanya sekedar obat alergi dan demam biasa. Tapi putri anda mengkonsumsi nya dalam jumlah di luar batas. Memang tidak ada efek berlebih. Karena pengonsumsi hanya akan mendapat efek yaitu tidur. Tapi ya seperti ini. Efeknya berbeda dengan obat tidur yang hanya membuat pengonsumsi mengantuk. Ini jauh lebih bahaya dari pada itu."


"Tapi, putri saya baik-baik saja kan?"


"Alhamdulillah nya, kalian membawa di waktu yang tepat. Seperti yang saya katakan tadi. Keadaan putri kalian itu memang terlihat baik-baik saja. Tapi saya khawatir kalau mengonsumsi obat ini akan menjadi kebiasaan putri anda di saat dia nggak bisa tidur dan ini akan membahayakan untuk ke depannya. Jadi ... tolong terus awasi putri anda. Jangan hanya melihat kalau dia baik-baik saja, terus kita sekedar ya sudah dan membiarkannya sendiri."


"..."


"Karena ini lebih riskan di banding yang kita tahu."


Mommy Nadya merasakan genggaman tangan suaminya yang semakin mengerat.


Gagal, gagal, gagal, mungkin itu lah yang ada di benak mereka.


"Kalian tidak perlu merasa menjadi orang tua yang gagal," ucap dokter itu dengan tiba-tiba membuat orang tua Zaina langsung mendongak dan menatap bingung pada dokter tersebut.


"Itu banyak yang di lakukan para orang tua setelah mengetahui anaknya terkena depresi. Mereka merasa kalau sudah nggak bisa menjaga anaknya dengan baik. Mungkin itu memang benar. Tapi balik lagi, kita lihat dari sisi positif. Mungkin saja, ini bisa menjadi pembelajaran untuk kalian ke depannya. Kalian bisa bersama mendukung anak kalian dan tidak menghakiminya sama sekali. Karena itu yang biasa di lakukan orang tua kebanyakan."


"..."


"Kebanyakan dari mereka akan menjadi protektif yang membuat anak jadi tertekan. Mereka menjadi dengan sangat posesif, membuat sang anak juga bingung harus melakukan apa. Padahal kembali lagi, membimbing bukan berarti posesif. Kasih sayang berbeda dengan paksaan. Semakin di paksa anak akan semakin membenci dan terus memberontak."


"..."


"Tapi, saya rasa ... memberontak jauh lebih baik. Ketimbang anak hanya diam dan memendam semuanya sendiri. Itu jauh lebih mengerikan."


"Akibatnya?" tanya mommy Nadya dengan perlahan. "Karena, memang benar kalau selama ini anak saya hanya memendam semuanya sendiri dan bilang kalau baik-baik saja. Bahkan kita sering lihat dia tertawa. Tapi, balik lagi. Kami juga tahu kalau diam-diam Zaina sering menangis diam-diam. Dia terus merasa tertekan dan memikirkan semua masalah ini. Tapi, kami memilih diam saja. Karena takut menyinggung anak kami kalau kami bertanya."


Dokter itu tersenyum tipis.


"Memang ... menjadi orang tua tidak segampang yang di lihat. Tapi, balik lagi. Seharusnya anda bisa memaksa putri anda untuk cerita apa yang terjadi. Mungkin akan sedikit menyinggung nya, tapi itu yang akan membuatnya jadi jauh lebih lega."


Mommy Nadya menoleh pada suaminya.


Mereka sama-sama belajar untuk hal yang satu ini.


"Saya tidak akan menceritakan lebih lanjut, karena ini bukan di ranah saya sama sekali. Tapi kartu nama yang saya beri kan tadi sudah pasti terbaik dan akan memberikan banyak pembelajaran terbaik untuk pasien atau pun kalian berdua."


Mommy Nadya menarik napas dalam dan mengangguk.


"Terima kasih ya dok. Untuk ke depannya saya akan terus pantau anak saya. Biar dia nggak melakukan hal buruk lagi. Saya akan datang ke sini lagi dengan keadaan Zaina yang jauh lebih baik lagi."


"Kita usah bersama ya, bu, pak. Jadi orang tua yang terbaik supaya anak menjadi pengamat yang baik. Dia memang udah besar, tapi dia masih butuh arahan."


Mereka mengangguk dan berterima kasih sekali lagi sebelum keluar dari ruangan Zaina.


Daddy Zidan langsung menggenggam bahu istrinya, membuat mommy Nadya menatap ke arahnya. Segala pikiran yang tadi ada di benaknya seketika lenyap saat membayangkan banyak usaha yang akan dia lakukan supaya anaknya akan kembali seperti dulu lagi.


"Mas ... kita belajar sama-sama ya. Pokoknya nanti kalau Zaina siuman. Jangan ada yang nyinggung masalah ini. Nanti kita ajak Zaina omongin yang senang senang aja dan juga kamu jangan lupa untuk selesaiin masalah ini dengan cepat ya mas. Atau aku yang nanti bakalan turun tangan!"


Daddy Zidan terkekeh dan merangkul istrinya.


"Kamu nih bisa aja ..."


Pasangan suami istri itu tahu kalau mereka hanya akan menjadi pisau yang tajam kalau terus bersikap seperti dulu. Mereka yang akan menjadi salah satu pelaku untuk menyakiti anaknya. Untuk saat ini mereka berusaha menjadi obat supaya anak mereka nggak tersiksa lagi.


Mereka akan terus berusaha.


Sampai anak mereka bahagia.


Mungkin, lebih tepatnya mereka akan berusaha terlihat baik baik saja. Sangat berbeda dengan keadaan jantungnya yang sebenarnya turut bingung harus melakukan apa. Masih takut dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi untuk ke depannya.


***


Keadaan berangsur membaik, tidak ada yang nyinggung masalah ini sama sekali setelah Zaina bangun. Mereka terus berbicara tentang liburan yang sempat Zaina singgung beberapa waktu yang lalu.


Selama tiga hari, ada di sana. Zaina belum bertemu Mahen sama sekali. Bukan karena larangan dari orang tua Zaina. Tapi lebih ke takut lantaran dirinya masih nggak sanggup menjumpai Zaina yang seperti ini.


Mahen terus menyalahkan dirinya.


Tapi orang tua Zaina hanya meminta Mahen untuk terus menenangkan dirinya sendiri. Setelah semuanya tenang, pintu rumah akan terus terbuka untuk Mahen. Jadi pria itu jauh sedikit lebih tenang karena masih di izinkan untuk datang ke tempat ini.


"Mom ... memangnya pas aku waktu itu pingsan. Lagi nggak ada awak media tah di depan rumah?" tanya Zaina sembari memakan potongan apel yang sudah di kupas sama mommy Zaina. "Perasaan hampir dua puluh empat jam banyak awak media yang ada di depan rumah deh. Sampai aku muak sendiri. Tapi, tumben kalau nggak ada awak media di depan rumah."


"Hahaha ... mau di bilang nggak ada kerjaan juga tapi itu kerjaan mereka kan?" seru mommy Nadya yang di angguki sama Zaina. "Tapi, pas waktu itu tuh memang lagi hujan. Makanya, lagi nggak ada yang jaga sama sekali. Pas banget deh waktunya. Kenapa memangnya? Tumben kamu nanya kayak gini."


"Ah, enggak ... aku cuman takut ada berita baru yang ngomongin aku yang enggak-enggak dan juga .. aku kan nggak mau kelihatan lemah di hadapan mereka juga. Maka nya bagus deh kalau nggak ada yang tahu aku ada di sini."


"Iya, untungnya begitu. Tapi kamu beneran sudah enakan kan?"


Zaina mengangguk dengan lantang.


"Aku baik-baik aja kok, memangnya aku ke napa? Rasanya cuman kayak tidur biasa doang. Nggak ada yang sakit juga. Jadi, aku baik-baik aja. Memangnya kenapa sih? Lagian aneh aja aku sampai di rawat kayak gini."


Mommy Nadya tersenyum miris.


"Kamu nggak cuman tidur biasa, nak." Tapi mommy Nadya telan telan ucapannya dan memilih untuk bungkam. Dia gak mau membuat anaknya jsdi teringat masa itu lagi.


Karena satu yang aneh.


Sampai membuat dokter juga lupa.


Zaina melupakan momen sebelum perempuan itu meminum obat. Zaina benar-benar hanya tahu kalau dirinya tidur dan pingsan dalam tidurnya. Makanya di bawa ke rumah sakit sama orang tuanya. Ingatan Zaina seolah terhapus. Dia hanya melupakan saat itu. Karena momen sebelumnya dia ingat ingat saja.


Sedikit aneh, tapi dokter malah mengatakan untuk tidak ada yang mengatakan atau menyinggung peristiwa ini yang buat Zaina kembali ingat lagi. Tugas orang tua Zaina hanya terus memantau Zaina dan jangan sampai kebablasan lagi.


"Mommy kok diam aja sih?"


"Hahaha enggak, nak. Kamu memang cuman pingsan biasa. Tapi mengingat kamu kurang makan beberapa hari terakhir. Ngebuat kamu jadi sedikit drop gitu loh dan nggak cuman itu aja. Kamu butuh nutrisi, makanya kamu harus di rawat di rumah sakit. Nggak ada yang hal lain kok."


"Ah ... cuman itu doang. Aku kira ada yang mengkhawatirkan."


"Ya sudah, tapi mommy udah pesen makanan. Mommy ambil dulu ke bawah ya."


Zaina mengangguk seraya mengacungkan jempol nya dan jangan lupakan sama senyuman lebar yang memenuhi wajah Zaina. Membuat mommy Nadya tersenyum simpul dan langsung keluar kamar.


Meninggalkan Zaina sendiri.


Wajah yang tadi tersenyum kini langsung berubah menjadi datar. Zaina menoleh ke arah jendela yang mulai berembun karena tetesan air hujan yang mulai jatuh membasahi bumi.


Tatapan nanar dan helaan napas berat mengiring perempuan itu sebelum dia mencengkram kuat selimut yang menyelimuti kaki nya.


"Hahahah Bullshit."


***


"Terima kasih."


Mommy Nadya menerima makanan yang baru di antar sama kurir. Tak lupa mommy Nadya membayar belanjaan yang sudah ia pesan. Setelah kurir itu pergi, mommy Nadya membuka bungkusan dan tersenyum simpul saat melihat donat berbalut gula halus yang sangat disukai anaknya itu.


"Semoga mood Zaina makin bagus pas lihat ini."


Mommy Nadya beranjak berjalan memutar untuk mendatangi kantin. Dia membeli beberapa susu strawberry dan Vanilla yang selalu menjadi favorit Zaina. Lalu setelah semuanya selesai mommy Zaina kembali mendatangi pintu rumah sakit dan seketika langkahnya terhenti saat melihat orang tua suaminya ada di sana.


Mommy Nadya menatap khawatir.


Mommy Nadya sama sekali nggak bergerak dan memilih diam. Ia terus mengikuti dari jauh ke mana mereka pergi. Sampai tiba-tiba suaminya datang dari belakang dan menghampiri orang tuanya itu. Membuat mommy Nadya sangat syok.


Mommy Nadya menggeleng, berusaha mengelak apa yang dia lihat. "Kenapa mas Zidan malah bawa orang tuanya ke sini?"


"Ya ampun, anakku."


Tanpa pikir panjang, mommy Nadya langsung menghampiri tangga darurat untuk tiba di lantai kamar anaknya. Dia harus membicarakan sesuatu yang penting sama anaknya.