Love In Trouble

Love In Trouble
Sungkan



"Zaina ..."


Wajah panik sang mommy langsung menyapa pandangan Zaina setelah perempuan itu masuk ke dalam rumah dengan langkah sedikit tergesa.


Dengan napas memburu mommy Nadya memegang tangan Zaina. Zaina menyuruh untuk tenang, tarik napas lalu di hembuskannya secara kasar. Mommy Nadya menurut dan langsung mengikuti titahan sang anak.


Setelah agak tenang, mommy Nadya menunjuk ke arah kamar utama dengan gelisah.


"Tadi ... foto daddy kamu tiba-tiba jatuh dan perasaan mom benar-benar nggak enak. Mom udah berusaha buat hubungin daddy kamu, tapi nggak kesambung sama sekali dan kamu juga nggak angkat," seru mommy Nadya lalu menarik tubuh anaknya keluar. "Kita cari daddy kamu yuk. Perasaan mom benar-benar nggak enak. Ini mom nggak tau bakal ada apaan, tapi perasaan mommy benar-benar panik dan khawatir. Takut terjadi sesuatu sama daddy kamu."


Alis Zaina terangkat.


Sedikit kaget akan ikatan suami istri dari orang tuanya itu.


"Mommy tenang dulu ya," ucap Zaina menahan tubuhnya. Supaya tidak ikut beranjak keluar rumah.


"Aku tahu di mana daddy dan daddy memang lagi dalam kondisi kurang baik. Ada sedikit kejadian di proyek daddy buat daddy sekarang harus ada di rumah sakit—


"Tuh kan! kita kesana sekarang juga. Kalau memang sampai masuk rumah sakit, kenapa nggak telepon mommy!" seru mommy Nadya yang semakin panik dan berujung menangis.


Zaina memeluknya.


"Ini yang buat daddy nggak mau hubungin mommy lebih dulu. Karena mommy panikan dan berakhir nggak fokus buat ngelakuin apa aja. Pokoknya mommy tenang aja, dad baik-baik aja kok. Cuma ada sedikit nyeri di kakinya buat kaki daddy di gips."


"Ya ampun!" raung mommy Nadya yang udah nggak bisa lagi berpikiran yang jernih. Ia mengusap air matanya yang terus turun. "Zaina ... ayuk kita ke rumah sakit. Jangan diam aja di sini, mommy mau cepet ketemu sama daddy kamu. Takut daddy kamu bohong dan sebenarnya, sakit juga. Tapi dia takut kamu kepikiran."


"Mom tenang dulu!" titah Zaina sedikit tegas. "Daddy sendiri yang bilang sama Zaina, kalau nggak boleh bawa mommy kalau masih panikan kayak tadi. Mom tau sendiri kan gimana sedihnya daddy kalau liat mom nangis kayak gini."


Mommy Nadya terdiam.


"Daddy nggak apa-apa, percaya sama Zaina. Mendingan mom tenangin diri dulu, aku mau ke atas buat hubungin oma dulu. Oma juga berhak tau sama keadaan daddy," ucap Zaina lagi yang diangguki sama mom Nadya pada akhirnya. "Sekali lagi, mom nggak perlu khawatir sama sekali. Ada asisten daddy di rumah sakit. Daddy ada yang jaga, Jadi aku bakal antar mom ke rumah sakit kalau mom juga bisa lebih tenang."


"Iya," ucap mommy Nadya pasrah.


***


Setelah mengabari omanya mengenai keadaan sang daddy yang terbaring dari rumah sakit, Zaina kembali turun ke bawah dan mendapati sang mommy yang duduk di sofa dengan lesu.


Zaina tersenyum, sadar kalau dirinya itu sedikit berlebihan sama sang mommy yang memang sangat khawatir itu.


Zaina memeluk tubuh mommy Nadya dari belakang membuat mommy sedikit tersentak.


"Maaf ya mom kalau Zaina sedikit berlebihan. Yuk kita sekarang kita ke rumah sakit. Tapi sebelum itu mom bersedia kan kalau Zaina jemput oma di rumahnya dulu? karena oma juga mau jenguk daddy. Khawatir katanya."


Mommy Nadya tertegun.


"Tenang ... oma nggak bakalan macem-macem kok mom. Zaina yakin."


"Ya sudah," pasrah mommy pada akhirnya