Love In Trouble

Love In Trouble
Teleponan



"Dari pada mikirin yang enggak-enggak. Coba kamu mikir yang positif dulu. Karena seperti yang kamu tahu, kalau pikiran kamu ini seperti doa kan? jadi mending mikir yang baik-baik aja. Sembari berharap kalau semuanya bakalan baik-baik aja untuk ke depannya."


Mahen mengangguk.


"Sudah ... mendingan kamu nanti jelasin ke ayah pelan-pelan. Kasih tau apa yang mengganggu pikiran kamu. Keluarin aja semuanya. Biar ayah kamu paham. Tapi kalau ayah kamu kasih saran, kamu jangan ngambek. Terima apa pun itu. Karena ayahmu pasti tahu yang terbaik untuk kamu dan kita semua."


Mahen memeluk bunda Mina dan mengucapkan banyak terima kasih.


Salah satu faktor yang membuat Mahen sanggup untuk melewati banyak hal sebelumnya. Tentu saja atas dukungan orang tuanya. Terutama sang bunda, yang tidak pernah berhenti menyemangati dirinya.


Mahen yakin, jika tidak ada bundanya. Ia tidak akan bisa ada di titik ini. Ia beneran bahagia karena memiliki orang tua yang begitu terbuka dan mampu menerima seperti orang tuanya itu.


Setelah melihat anaknya yang cukup puas. Bunda Mina berpamitan untuk membuat cemilan sore sebelum ayah Mario pulang.


Pintu tertutup dari luar dan seketika Mahen menyungging senyumnya.


"Bener kata bunda, buat apa aku mikirin hal yang bahkan belum terjadi? mendingan aku bayangin hal baik aja dan berdoa supaya semua ketakutan aku nggak terealisasikan sama sekali. Karena aku yakin kalau takdir Tuhan adalah yang terbaik."


***


Jam menunjukkan pukul delapan malam dan Mahen baru mendapat kabar dari sang kekasih. Niat awal laki-laki itu ingin marah karena hampir seharian dia tak mendapat kabar. Tapi, baru mendengar panggilan penuh kasih sayang dari Zaina saja. Amarahnya langsung hilang, tergantikan dengan senyuman tipis.


Mahen menyalakan speaker ponselnya dan membiarkannya terus mengeluarkan keluh kesah Zaina hari ini. Sementara, Mahen sambil fokus membaca dokumen yang ada di laptop. Walau begitu, Mahen tetap mendengarkan semua yang dibicarakan sama Zaina.


"Jadi ... kamu udah punya sedikit bukti buat jatuhin Brandon itu? Tapi masih kurang jelas? selain bukti itu, Kira-kira ada hal lain lagi nggak yang bisa kamu tunjukin? misalnya kayak orang yang ada di sekitar CCTV tersebut? bukannya kamu bilang ada salah satu penyusup yang masuk kan?" tanya Mahen lalu memundurkan laptopnya dan duduk menyandar di kursinya.


/Itu mah argumen aku aja mas. Aku nggak tahu itu beneran penyusup atau bukan. Tapi, aku beneran ngerasa aneh deh sama semua ini. Maksudnya tuh ... otak aku nggak nangkep kok ada pegawai yang mau ngelakuin perintah tuan Brandon kalau memang ternyata tuan Brandon pelaku di balik semua ini./


"Susah yang ... buat sekarang uang adalah segalanya untuk sebagian orang. Jadi, wajar aja banyak yang ngelakuin kriminal hanya untuk sejumlah uang. Apalagi kalau di sini Brandon nawarin banyak uang. Siapa yang nggak kalap?"


/Iya sih .../


/Ya ampun./


"Udah kamu tenang aja, di sini kamu lagi cari kebenarannya. Jadi mas yakin kalau kamu bakal ketemu titik akhirnya. Nanti mas bantu-bantu ya."


Zaina menggumam manja dari seberang sana.


/Aku ... sebenernya capek banget mas," keluh Zaina disusul helaan napas berat. "Selama ini aku kerja di perusahaan dad tuh nggak pernah sampai ngurus kasus begini. Biasa paling ngerjain di balik meja doang. Selebihnya aku nggak pernah tuh ngelakuin hal kayak gini./


Mahen manut-manut walau tak di lihat oleh Zaina.


Ia memilih diam dan mendengarkan keluh kesah Zaina tanpa mau menyelanya sama sekali.


/Dan ini bukan kasus kecil kan? pengin gitu nyerah karena dad juga nggak pernah maksa aku buat lakuin ini. Tapi aku kayak punya janji gitu sama diri aku sendiri. Buat cari tahu masalah di balik ini semua. Ditambah aku mau buktiin ke dad kalau aku bisa jaga perusahaan dad yang berharga ini./


"Kamu udah ngelakuin yang terbaik, sayang. Kamu hebat banget udah bisa ngelangkah sejauh ini. Apalagi ini tuh pengalaman pertama kamu. Mas bangga banget sama kamu. Kekasih mas emang yang paling hebat."


/Ih .../ malu Zaina.


"Tapi kamu jangan maksa diri kamu juga, sayang. Kamu memang ngerasa ini kayak janji. Tapi mas yakin kalau dad kamu nggak pernah maksa kan?"


/Iya mas .../


"Tuh ... kamu bilang perusahaan daddy berharga. Tapi aku yakin daddy ngerasa kalau putrinya lebih berharga di banding apa pun itu. Kalau mas nggak salah ingat, kamu pernah bilang kalau daddy sempet ngelarang kamu kan? pasti dad ngelarang juga karena takut putri kesayangannya itu kenapa-napa. Jadi mas rasa, jangan terlalu maksain diri kamu."


/Gitu ya mas .../


"Mas boleh jujur?" ucap Mahen pada akhirnya dengan sedikit perasaan tak enak. Berharap Zaina tak marah setelah mendengar penjelasan darinya itu.


/Iya mas, kenapa?/