Love In Trouble

Love In Trouble
Penawaran



Diam,


Mungkin itu salah satu cara terbaik supaya Zaina bisa menjernihkan pikirannya. Rasanya semuanya benar benar semrawut, tercampur menjadi satu. Otak Zaina kembali pusing hanya karena hal ini.


Bukan seperti ini yang dia mau,


Trrttt ... Trrrtt ...


Ponselnya terus saja berdering sejak tadi. Perempuan itu mendengus kesal. Tanpa melihat si pemanggil, ia langsung saja mengangkat ponselnya.


..."Heh! Cucu kurang ajar. Apa yang kamu perbuat! ya ampun jangan buat oma malu lagi karena tingkah kamu. Setelah kamu udah buat banyak orang terluka karena ulah kamu, ini sekarang kamu malah membuat keluarga besar kamu malu juga?!"...


Zaina memejamkan nata. Menyesal karena malahan mengangkat telepon dari omanya itu.


"Oma ... dia bukan laki-laki yang baik. Dia mau menikah sama aku juga cuman karena harta. Belum apa-apa dia malah mengatai aku dengan perkataan yang sangat buruk. Nggak bisa, oma .. bukan pernikahan seperti ini yang aku mau. Jadi, maaf kalau aku kesannya egois atau nggak ada peduli sama sekali. Tapi memang ini yang harus aku lakuin."


"*Ya ampun Zaina! Harusnya kamu mikir. Siapa yang mau menikahi kamu dengan cuma cuma? nggak bakalan ada sama sekali. Jadi wajar kalau salah satu alasan dia nikah sama kamu tuh juga karena harta. Lagian ... kamu tuh harus nya ngaca. Laki-laki sekarang mana yang mau menikahi perempuan yang jelas jelas sudah memiliki anak walau anak kamu meninggal! yang artinya kamu udah nggak perawan."


"..."


"Kalau kamu berpikir ada yang baik secara cuma-cuma juga itu salah banget! lagian mantan kekasih kamu itu tuh yang Mahen itu juga pasti menikahi kamu cuma karena mau harta keluarga kamu doang*."


/Mereka beda./ Ingin rasanya Zaina mengatakan hal seperti itu. Dirinya benar-benar nggak tahu harus mengatakan apa lagi. Karena kondisinya omanya tidak tahu kalau dirinya itu masih dekat dengan Mahen.


"Oma ... Mahen nggak seburuk yang oma pikirkan dan laki-laki tadi nggak sebaik yang oma pikirkan. Dan maaf kalau cara aku tadi salah. Tapi dia memaksa ... bukankah dari awal aku ngomong sama oma kalau aku cuman mau kenalan dulu. Belum sampai sejauh itu. Aku beneran gak ada niatan untuk melakukan hal itu. Aku masih belum mau memiliki hubungan sama laki-laki lain secepat itu."


"Zaina ... Zaina ... kamu ini memang pembuat onar ya? Sudah oma kasih jalan supaya kamu nggak merepotkan orang tua lagi. Tapi, kamu malah tetap egois kayak gini. Ini tuh sebenarnya kamu mikir nggak sih? Kayak ... padahal harusnya kamu melakukan hal ini. Tapi nyatanya enggak, kamu nggak ingat dengan omongan oma?"


Zaina menelan saliva.


"Maaf oma ... bukan maksud Zaina menjadi anak yang pembuat onar. Tapi, Zaina beneran belum bisa kalau punya hubungan sama laki-laki lain. Dan oma tenang aja. Aku gak bakalan berbuat onar lagi," ucap Zaina dengan suara yang sangat tercekat. "Aku nggak seburuk yang oma kira ..."


"Ya terserah kamu ... tapi satu yang perlu kamu harus tau. Kalau sejak dulu oma tidak menyukai ibumu itu! Dan sayang sekali kamu sama seperti ibumu. Jadi, jangan harap oma bisa menyukai kamu. Kalau kamu memang mau berubah dan ikutin kata om. Baru oma akan pikirkan untuk nggak bertingkah di depan kamu."


Zaina meremas ponselnya dan menghela napas panjang. Ini nggak semudah yang dia kira.


"Oma ... apa salah aku sama oma? Apa salah mommy sama oma? Padahal kami nggak pernah ikut campur sama semua masalah yang oma perbuat. Kami selalu membiarkan oma melakukan yang oma suka. Tapi oma tetap aja suka jahat sama kami."


"..."


"Maaf oma ... tapi karena tingkah oma, mommy suka sedih. Karena mommy sedih karena masih belum bisa menggaet hati oma selama beberapa tahun menikah sama daddy. Ini oma bisa nggak sih berubah? Jangan jahat sama mommy lagi. Aku nggak peduli kalau memang oma benci sama aku. Tapi jangan pernah benci sama mommy. Karena kasihan mommy. Mommy nggak salah apa-apa sama oma .."


"Maksud oma?"


"Kamu sayang banget kan sama mommy kamu itu? Gimana kalau oma bakalan baik sama mommy kamu. Asal kamu itu nerima perjodohan yang oma lakukan? oma nggak mau menanggung malu karena sudah menyetujui perjodohan ini."


Mata Zaina menatap ke segala arah, tanda dia panik.


Apa yang harus dia pilih? Dan kenapa dirinya harus di hadapkan sama dua pilihan yang sangat sulit untuk di pilih. Di satu sisi, dirinya benar-benar nggak mau di jodohkan sama siapa pun. Tapi di sisi lain tawaran omanya yang akan bersikap baik sama mommynya terdengar sangat menggiurkan.


Masalahnya ...


Terkadang Zaina menyaksikan kesedihan sang mommy setiap pulang dari rumah sang oma. Entah apa yang oma rasakan karena sejak dulu sama mommynya.


Dan, Zaina juga pernah mendengar keinginan sang mommy untuk berdamai sama mertuanya.


"Bagaimana Zaina? Kalau kamu nggak percaya. Minggu depan oma bakalan ke rumah kamu dan tunjukkan kalau omongan oma itu serius dan nggak main-main! Jadi oma harap kamu bisa memikirkan apa yang oma pinta."


Panggilan terputus.


Tanpa pikir panjang, Zaina langsung menaruh ponselnya dan beranjak keluar kamar. Ia mencari mommynya dan langsung masuk ke dalam orang tuanya begitu melihat sang mommy yang sedang berduduk santai di pinggiran kasur.


"Mommy!" panggil Zaina dengan cepat.


Mommy Nadya menoleh dan tersenyum tipis. "Kenapa nak?"


"Aku boleh nanya sesuatu sama mommy?" tanya Zaina dengan serius. Jantungnya sampai berdegup kencang pada hal dirinya hanya mau bertanya hal seperti ini saja.


"Iya? tanya saja ... kayak seperti sama siapa saja."


"Mommy beneran mau punya hubungan baik sama oma?"


Mommy Nadya kembali menoleh pada anaknya dan memiringkan wajahnya karena bingung. "Tumben sekali kamu nanya hal ini? Kalau kamu mau dengar jawabannya. Ya tentu aja, mommy mau punya hubungan baik sama oma kamu itu. Dari lama hanya ini keinginan mommy. Ada apa? Tumben sekali kamu nanya kayak gitu."


Zaina menggeleng dan mengucapkan terima kasih lalu berlalu begitu saja. Panggilan dari mommy nya yang penasaran, perempuan itu hiraukan. Zaina tetap berjalan terus keluar kamar orang tuanya dan berhenti tepat di depan pintu kamarnya.


Ia kembali menoleh pada kamar sang mommy.


Jawaban dari mommynya terus saja terbayang di benak Zaina yang kemudian ditambah dengan penawaran sang oma. Ia benar-benar sangat bingung.


"Apa ini waktunya aku berbakti sama mommy? Setelah selama ini aku cuman mengganggu dan merepotkan mommy saja. Apa ini waktunya aku membalas kebaikan mommy?"