Love In Trouble

Love In Trouble
Sudah Bersama Yang Lain



"Ya ampun Zaina, kamu kenapa. Kenapa basah semua kayak gini?"


Zaina terjatuh tepat di depan tubuh sang mommy. Mommy Nadya berteriak panik dan langsung menghambur ke tubuh anaknya. Ia tepuk pipi Zaina. Tapi hati mommy Nadya ikut sakit melihat anaknya yang baik-baik saja. Hanya saja mata Zaina yang memerah, tanda anak itu sedang menangis.


"Nak ... ya ampun, kamu kenapa?" seru Mommy Nadya lalu menarik anaknya dan memeluk Zaina dengan sangat erat. Siapa yang nggak ikut sakit hati melihat anaknya sendiri yang seperti ini. Mommy Nadya berusaha menenangkan diri karena saat ini anaknya jauh lebih butuh dukungan dari dia. "Nak ... ada apa? kalau kamu memang nggak mau datang ke rumah keluarga besar kita. Biar mommy yang bilangin daddy kamu deh. Mommy bakalan bujuk daddy kamu, biar kamu nggak perlu ikut. Tapi, kamu jangan nangis kayak gini ya. Mommy yang lihat plus denger ikutan sakit banget."


"Mom ..."


"Iya nak, ngomong aja. Kasih tahu ke mommy, apa yang buat kamu nangis?" tanya mommy Nadya tapi Zaina hanya diam dan menunduk. "Ya udah kalau kamu nggak mau jujur, mommy asumsikan kalau kamu kayak gini memang karena nggak mau datang ke sana."


"Mommy bakal jelasin sama daddy kamu sekarang juga," lanjut sang mommy dengan yakin lalu berdiri. Tapi belum pergi, tangan perempuan tua itu di tahan sama Zaina.


Mommy Nadya menghela napas.


"Nak ... jangan begini." Mommy Nadya berusaha melepas tangan Zaina dari lengannya. Tapi tangan Zaina sangat kuat menggenggam tangan mommy nya.


"Mom ... apa hidup aku selalu mengacau ya?"


"Maksud kanu?" kaget sang mommy sambil mengajak anak nya masuk dan menyelimuti Zaina dengan handuk kering yang memang selalu ada menumpuk di ruang tamu. Mereka duduk di salah satu kursi. "Kamu kenapa tiba-tiba ngomong kayak gini? nggak ada yang mengacau sama sekali. Sekali pun kamu mengacau, selagi mommy sama daddy urus. Kami nggak masalah sama sekali."


"Tuh kan ... kayaknya memang keberadaan aku itu cuman mengacaukan aja." Zaina berdiri dan memeluk tubuhnya sendiri. "Ah iya ... maaf mom kalau aku nangis lagi. Padahal aku udah janji untuk nggak nangis lagi di depan mommy. Tapi kayaknya aku nggak bisa tepatin janji aku. Aku nggak bisa nahan nangis."


"Nak ... ya ampun, jangan begini. Jangan berpura-pura kamu itu baik-baik aja kalau lagi ada masalah. Mommy beneran nggak suka. Cerita saja. Jangan di pendam sendiri."


Zaina memandang sang mommy, lalu sedetik kemudian dia menggeleng dengan cepat. Mommy nya sudah melakukan banyak hal untuk dirinya. Dia nggak mau menambah masalah lagi.


"Terus kenapa kamu hujan-hujanan nak? kamu tuh bukan anak kecil lagi. Kamu bisa nunggu atau nggak telepon orang sini, biar kami ada yang jemput kamu."


Zaina hanya bisa tertawa paksa sambil mengusap tengkuk.


"Aku lupa bawa handphone, mom. Dan aku males banget buat nunggu. Jadi, aku nggak pikir panjang lagi dan pulang aja hujan-hujanan kayak gini. Toh, aku jarang banget kayak gini dan bisa di bilang nggak pernah. Jadi sesekali mah aku harus ngerasain."


Walaupun mommy Nadya masih merasa ada yang janggal, tapi dia memilih diam saja. Karena nggak mau melihat Zaina kembali terluka karena dia paksakan.


"Iya deh ... asal nanti langsung mandi, dan pakai baju hangat saja. Oh iya, besok kalau kamu nggak bisa ketemu sama mereka. Mommy bakal bilang sama daddy kamu biar nggak paksa kamu buat pergi ke sana."


Zaina menunduk. Tanpa sadar ia mengepalkan tangan. Dia boleh egois nggak sih? tapi Zaina sadar, kalau alasan dia hidup saat ini untuk mengikuti kemauan mereka dan setelah semuanya mendapatkan apa yang mereka mau. Zaina akan pergi. Pada akhirnya ia mengangguk dengan mantap sambil menatap ke arah orang tuanya.


"Aku bakalan datang, mommy tenang aja."


"Ah ... mommy nggak bisa tenang. Dulu kamu bisa di tenangin sama Mahen kalau kamu itu lagi kacau. Tapi sekarang? bahkan kamu nggak deket lagi sama Mahen. Tapi, mommy berharap kalian bisa dekat lagi," gumam mommy Nadya yang tanpa sadar menyakiti hati anaknya itu


Langkah Zaina juga terhenti. Ia memegang pegangan di tangga dan kembali menoleh sambil menatap mommy nya. Zaina tersenyum sangat tipis.


"Mom ... sekarang Mahen udah punya perempuan lain. Udah jadi milik orang lain, jadi stop bicarain dia ya. Kasihan kan pacarnya. Lagi pula ... tanpa Mahen, sekarang aku udah bisa ngendaliin diri aku sendiri kok. Jadi, mommy tenang aja."


Tanpa menunggu jawaban mommy nya lagi, Zaina langsung melangkah naik dengan perasaan gundah gulana.