Love In Trouble

Love In Trouble
Tinggal Satu Langkah Lagi



"Apa itu."


Daddy menepuk bahu anaknya. "Oma kamu," ucap Daddy yang mengingatkan Zaina kalau masih ada satu rintangan di hidup mereka. Lebih tepatnya di hubungan Zaina sama Mahen. Dengan tegang perempuan itu menunggu lanjutan penjelasan daddy nya tapi malah sebuah tepukan di bahu membuat Zaina merengek.


"Jelasin daddy, jangan diem aja kayak gini. Kan aku jadi penasaran bukan main ini mah."


Daddy Zidan meninggalkan Zaina membuat anak itu semakin mendengus.


"Daddy." Zaina mengikuti langkah daddy Zidan. "Jawab aku, memangnya ada apa lagi? aku belum cukup buat bahagia nih? Aku masih nggak bisa gitu?"


"Bukan nak ... hanya saja, kamu persiapkan diri. Kita temui oma kamu dulu. Sepertinya oma kamu sudah tau dan minta penjelasan sama kita. Dan sekarang sepertinya oma kamu itu lagi mengamuk. Jadi kamu siapin diri kamu dulu aja karena nanti sore kita bakalan ke sana."


Langkah Zaina terhenti.


"Kenapa nggak sekarang aja?" tanya Zaina kembali mengikuti daddy nya sampai masuk ke dalam kamar orang tuanya.


"..."


"Kalau memang disuruh nanti, kenapa tadi mommy malah nyuruh aku buat buru-buru pulang. Kan kalau masih sorean tuh bisa nanti aja aku di suruh pulangnya," tanya Zaina lalu tiduran di kasur orang tuanya sambil menatap langit rumah nya itu


"Terus?" tanya daddy Zidan sambil membuka laptop di meja kerja yang memang ada di dalam kamarnya juga.


"Kan semakin cepat juga makin bagus dad. Sekarang aku lagi semangat banget nih. Aku pasti bisa jawab semua yang oma tanyakan ke aku, sekalian aku mau bujuk oma. Siapa tau malaikat lagi lewat kan dan oma bisa sadar." Lalu Zaina termenung dan langsung duduk saat ingat sesuatu. "Kalau mau ketemu sama oma, kita harus panggil Mahen nggak sih dad? Mas Mahen harus ikut andil kan sama masalah ini?" ucap Zaina dengan sangat semangat.


Daddy Zidan menggeleng sembari tertawa kecil.


Anaknya masih sama cerewetnya sama seperti dulu.


"Loh kenapa?" balas Zaina dengan cepat. "Bukannya lebih bagus kalau mas Mahen itu datang ya? sekalian buat jelasin hubungan aku sama mas Mahen. Juga, biar oma tau aku ini bener punya pasangan. Jadi, nggak usah di jodohin lagi sama orang lain."


Zaina merengut. Ia masih kemusuhan sama omanya yang main menjodohkan dirinya aja.


kalau hubungan mereka baik, ya Zaina bisa mikir dua kali untuk nerima permintaan omanya itu. Lah tapi mereka aja nggak punya hubungan baik. Jadi, untuk apa dirinya itu harus susah-susah nerima keinginan sang oma. Mana ini udah termasuk paksaan lagi. Ya, Zaina nggak mau sama sekali lah!


"Kita urus dulu masalahnya, nggak enak bawa orang lain masuk ke masalah kita. Yang ada Mahen nggak nyaman nantinya. Kita selesaikan sendiri dulu saja."


Zaina termenung dan berakhir mengangguk. Ia menghela napas kasar membuat daddy Zidan langsung menatap anak nya itu.


"Tenang aja nak, nanti ada waktunya kok kamu bisa bebas dan nggak perlu mikirin semua masalah sekarang. Kamu cukup sabar aja karena setelah waktunya tiba kamu bisa bebas tanpa harus mikirin atau khawatir sama hal kayak gini lagi."


Zaina mengangguk yakin.


"Aku harap hari itu akan tiba."


"Sudah lah ... suasana jadi sedih gini. Mendingan kamu siap siap sana sekaligus siapin mental supaya nanti nggak kaget lagi."


Zaina meloncat dari tempat tidur orang tuanya dan bersikap hormat.


"Siap! aku harus nyiapin mental dulu. Permisi daddy ..."


Daddy Zidan hanya menggeleng sambil tertawa kecil melihat tingkah lucu anaknya itu.