Love In Trouble

Love In Trouble
Saling Mengaku?



Diamnya dan terkejutnya Ghaly membuat Zaina merasa ada sesuatu yang disembunyikan laki-laki itu.


Ia menuang minuman ke gelas dan menenggaknya. Dua orang di sana sama-sama hancur dan sama-sama pandai menyembunyikan masalah kini sedang saling berhadapan satu sama lain.


"Sebelumnya nih ya ... gue harap lu nggak bocor masalah ini. Kita keep aja sendiri. Karena ini masalah kita berdua dan gue cerita sama lu juga karena gue percaya dan kita sama sama ngelewatin masa ini. Jadi, gue harap lu nggak bocor atau gimana sih."


Laki-laki itu mengangguk pelan.


"Ghaly ... jadi, gue mau nanya sekali sama lu. Lu beneran baik-baik aja selama ini atau ada sesuatu yang nggak gue tahu juga? kita buka-bukaan aja nih sekarang."


Ghaly menarik napas dan akhirnya mengangguk.


"Lihat ... benar kan. Wajar kita tuh mikir yang aneh. Ini maksud gue bukan untuk hal yang normal ya. Tapi tetap aja di sisi lain tuh kita benar-benar kesusahan buat lewatin masa itu. Jadi, sedikit tidak masalah karena hal seperti ini kita pikirin. Asal ya jangan kelewatan banget dan kita bisa lupain pikiran buruk itu."


Ghaly mau tidak mau menyetujuinya.


Zaina meminggirkan piring kosong di hadapan mereka lalu duduk mendekati Ghaly. Dengan penasaran ia menoel lengan laki-laki itu, membuat Ghaly menoleh pada dirinya.


"Kenapa?"


Zaina berdecak kesal, seolah lupa fakta kalau tadi dia baru saja selesai menangis.


"Ih jawab atuh, kasih tau gue. Kita sharing dan anggap ini sebagai akhir kesedihan kita. Bukan berarti kita lupain almarhumah anak kita berdua. Tapi aku harap, dengan luapin isi hati satu sama lain. Seenggaknya kita berdua tuh bisa lupain semua kenangan buruk di hidup kita."


Zaina menarik napas dalam.


"Gue udah ikhlas tapi kalau inget serpihan kecil kayak gini, rasanya gue kacau lagi. Nggak tau deh, tapi beneran kayak capek banget dan pikiran buntu banget. Makanya gue mau tau gimana caranya lu bisa ngelewatin ini semua. Sekalian kita juga bisa saling berbagi caranya kan?"


Ghaly mengangguk.


"Tapi ... setelah kita sama-sama nyebutin ini. Gue harap ke depannya nggak bakal ada yang ungkit lagi. Dan semua ini stop sampai di sini," ucap Ghaly dengan sangat tegas dan penuh emosi.


Tatapannya menuju ke kertas yang sudah tak terbentuk itu.


"Nggak ada lagi pemikiran bodoh selanjutnya seperti yang ada di dalam kertas atau gue bakalan marah banget dan kalau bisa bocorin masalah ini ke Mahen atau orang tua lu. Lu pasti udah bisa ngebayangin betapa kecewanya mereka sama lu karena masalah ini kan?"


Zaina mengulum bibir bawahnya dan mengangguk pelan.


"Gue bakal cerita, tapi habis ini janji nggak akan ngelakuin hal bodoh kayak tadi lagi. Terus ... setelah gue cerita juga, gue nggak mau lu jadi ngasihanin gue. Lu masih inget kan, kalau gue benci banget sama orang yang kasihanin gue."


Zaina mengangguk, benar-benar patuh karena penasaran sama penjelasan dari laki-laki itu.


Pada akhirnya kedua orang yang memiliki luka yang sama itu saling menautkan jari kelingking. Berharap janji kelingking ini sebagai tanda mereka akan mengeluarkan semua luka yang ditahan dan setelah lega, mereka janji akan melupakan semuanya dan berusaha untuk ikhlas.


Mereka berharap akan seperti itu.