
Mahen mematung dirinya di cermin berulang kali, napasnya memburu. Laki-laki itu sama sekali nggak pernah membayangkan akan di pinta datang langsung sama orang tua Zaina setelah masalah ini memenuhi hidup mereka. Bayangan untuk mendekati mansion ini saja sama sekali nggak pernah Mahen bayangkan. Tapi apa?! kemarin orang tua Zaina kembali nelepon dirinya hanya untuk memintanya datang.
Hatinya langsung membuncah bahagia karena nanti siang dia di pinta datang ke kediaman Zaina.
Dari tadi Mahen hanya menatap dirinya di cermin. Ia akan memberikan penampilan yang terbaik untuk meyakinkan Zaina sekaligus meminta maaf pada perempuannya.
“Tapi ... aku nggak bisa berharap lebih,” gumam Zaina dengan perasaan sedih sambil terus memandang ke arah cermin. Ia cemberut. “Ya .... mau gimana pun, aku yang udah buat Zaina di posisi kayak gini dan rasanya nggak adil kalau aku buat Zaina harus balik sama aku. Ya ... biarkan takdir yang berjalan. Semulus apa pun jalannya nanti. Aku nggak boleh berharap lebih, kalau nggak mau sakit hati.”
Mahen menatap wajahnya yang hanya bisa menatap miris.
Ia mendengus, rasanya jadi nggak sreg.
“Nggak apa-apa Mahen,” ucapnya untuk dirinya sendiri. “Bukankah aku sendiri yang bilang kalau mencintai bukan berarti harus mendapatkan dia?” ucap Mahen lagi. “Selama Zaina senang, ya aku juga harus ikut senang dan nggak bisa sedih. Prioritas utama aku ya buat Zaina tersenyum, bukan memaksa dia untuk bersama aku.”
Mahen mengangguk kecil. Dia harus paham sama dirinya sendiri.
Akhirnya, karena enggan memikirkan hal ini lagi. Yang mana malah membuat dirinya semakin berpikiran kacau. Mahen akhirnya mencari pakaian lagi dan pada akhirnya dia memilih kaus putih polos yang akan dipadu dengan jaket jeans. Sedikit santai, tapi ini yang menjadi pilihan nya.
“Sudah jam segini, mendingan aku siap-siap.”
***
Mahen merapihkan poni rambutnya dan mengangguk, setelah dirasa semuanya beres. Ia tinggal mengantungkan ponsel dan dompet sebelum melangkah turun ke bawah. Begitu turun, langkah Mahen terhenti saat melihat orang tuanya yang sedang mengumpul di meja makan.
Hubungan mereka akhir akhir ini jadi kurang baik karena masalah ini.
“Mau ke mana kamu?” tanya sang bunda tanpa meliriknya sama sekali. “Jangan keluar hanya untuk menambah masalah untuk Zaina lagi. Bunda udah merasa bersalah sama mereka karena sampai detik ini nomor Zaina nggak bisa di hubungi. Entah, mungkin nomor bunda di blokir. Dan bunda juga nggak ada wajah untuk menghubungi orang tuanya Zaina sama sekali. Karena masalah yang terjadi sama anaknya pasti ada sangkut pautnya sama kamu.”
Mahen menunduk.
Masih bungkam karena masalah ini.
Dia nggak mau sampai orang tuanya tahu kenapa dia melakukan ini semua. Biarlah orang tua nya salah paham sampai detik ini supaya dirinya benar-benar di salahkan. Kalau itu demi kebaikan Zaina, Mahen nggak akan merasa sedih sama sekali.
“Kenapa diam saja?” tanya ayahnya dengan lembut. “Mau ke mana kamu? Jangan bikin masalah ya, nak. Kalau kamu memang sudah tidak suka sama Zaina, kamu jangan menambah masalah di hidup dia. Kamu cukup tinggalkan hidup Zaina dan melangkah bersama wanita yang kamu pilih itu.”
“Nggak ya mas,” sela sang bunda membuat Mahen menoleh. “Aku nggak kasih izin kalau Mahen sama wanita itu. Nggak ada itikad baik dan nggak sopan sama sekali.”
“Sayang,” panggil ayah Mahen sambil menggenggam tangannya yang ada di atas meja itu. “Kita nggak bisa memaksa kan? Kalau memang Mahen memilih perempuan itu. Kamu bisa apa? Bukan kah kamu sendiri yang bilang untuk nggak memilih jodoh anak kamu? Karena itu pilihan hidup dia dan kita nggak akan pernah bisa menandingi sama sekali.”
Mahen menunduk dan tersenyum tipis.
“Bunda ... Ayah ... sebenarnya ada yang nggak kalian tahu.”
“Makanya beri tahu kami, nak ...” ucap bundanya Mahen dengan sangat frustasi. “Kalau memang ada apa-apa, kamu cerita sama kami. Biar nggak ada salah paham sama sekali. Bunda beneran marah sama kamu kalau ternyata kamu menyimpan hal besar sendirian dan biarin diri kamu tersiksa ... di banding melihat kamu yang bunda pikir menyakiti Zaina seperti ini.”
Mahen menggigit bibir bawahnya.
“Nanti ... aku bakalan kasih tahu kalau sudah waktunya. Sekarang, aku mau pergi ke rumah Zaina dulu—
“Rumah Zaina?!”
Mahen mengangguk. “Bunda, tenang aja ... aku nggak akan mengacau sama sekali. Aku mau meminta maaf sama Zaina dan kedatangan aku aja atas perintah dari om Zidan. Jadi, aku nggak akan mengacau sama sekali dan nggak cuman itu aja. Setelah pulang dari sini, aku bakalan jelasin semuanya sama bunda dan ayah. Biar semuanya jelas dan biar bunda sama ayah tahu kalau aku ini nggak seperti yang bunda sama ayah kira.”
“Ya sudah ... tolong sampaikan salam bunda dan ayah sama keluarga Zaina. Jangan macam macam ya nak dan tolong cepat beri tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Biar kami juga paham.”
“Iya bun, yah ... tlong doakan aku.”
“Selalu ... doa kami akan selalu tertuju ke kamu.”
***
Perjalanan menuju rumah Zaina terasa sangat lancar. Sampai di tengah perjalanan, ponselnya terus berdering dan Mahen sadar. Dari spion di dalam mobilnya, ia menoleh ke arah belakang dan tersenyum sinis saat melihat mobil yang selalu mengikutinya. Yang Mahen tahu kalau mobil itu di suruh mengikutinya atas perintah dari Restu.
Dengan perasaan tak menentu, Mahen meminggirkan mobilnya dan langsung mengangkat telepon yang ternyata memang benar dari Restu.
“Kenapa lagi Restu? Bukan kah gue udah bilang untuk nggak nyuruh orang untuk ikutin mobil gue. Gue juga butuh privasi dan lu nggak ada hak buat ngikutin gue ini itu. Karena lu bukan siapa siapa di hidup gue. Jadi, stop posesif dengan status yang nggak jelas seperti ini.”
/Wo hooo ... santai dong, selama kamu nggak berontak, aku juga nggak bakalan nyuruh orang buat lakuin ini. Jadi, tolong kamu lihat diri kamu sendiri. Memang seharusnya kamu melakukan ini atau enggak? Karena kalau nggak perhatikan sedikit aja. Kamu pasti mengacau dan lihat sekarang? Ke mana kamu pergi. Ke arah rumahnya Zaina kan? Kenapa kamu bisa ada di sana dan aku nggak akan biarin kamu untuk datang gitu aja ya ke sana./
Mahen menarik napas dalam.
“Restu, kalau lu memang suka sama gue. Nggak seharusnya lu kayak gini. Dan ... ke napa gue mau ke sana, karena gue disuruh dateng sama orang tuanya Zaina. Sepertinya dia marah besar sama gue,” dusta Mahen dengan harapan semoga Restu percaya sama dirinya. “Lu tahu sendiri kan kalau nama gue udah buruk banget di mata keluarga Zaina karena semua ulah yang lu buat?”
“Restu ... lu percata kan sama gue? Gue datang pure karena mau minta maaf dan mungkin nanti gue bakal dibabat habis di sana dan setelah itu gue beneran nggak akan mau punya urusan sama mereka lagi. Lu percaya ya sama gue. Ini terakhir kalinya gue berurusan sama mereka dan untuk selanjutnya, gue bakalan buka hati sama lu. Jadi, tolong kali ini biarin gue dengan tenang ada di sana. Dan tentunya tanpa pengawasan sama sekali.”
/Lu nggak bohong kan? Lu ngomong gini nggak cuman bikin gue seneng dan akhirnya ngebebasin elu. Jangan bilang di sana lu ketemu sama wanita itu lagi? Enggak ... gue nggak bakalan percaya sama rayuan manis lu itu. Yang pastinya bohong./
“Enggak Restu ... gue nggak bakal bohong dan gue datang ke sini pure atas perintah dari orang tua Zaina. Bukan untuk ketemu Zaina sama sekali.”
/Kenapa tiba-tiba? Aneh banget ... padahal seharusnya lu marah sama gue dan beberapa waktu yang lalu aja lu masih marah sama gue. Jadi, aneh kalau tiba-tiba lu malah ngomong kayak gini./
Mahen terus memutar otak supaya Restu percaya dengan ucapannya.
“Beneran Restu, beberapa hari terakhir gue cuman ada di rumah dan gue mikirin semua hal ini dan sekarang gue baru sadar kalau ternyata menerima lu nggak akan jadi seburuk yang gue bayangin. Toh ... harepan gue sama Zaina juga udah pupus kan? Jadi buat apa lagi gue ngarepin ini? Lebih baik gue buka hati sama lu yang jelas-jelas jatuh cinta sama gue. Itu yang ada di pikiran gue. Jadi ... lu percaya kan sama gue?”
/Beneran?/
Mahen tersenyum simpul, merasa Restu mulai percaya sama dirinya.
“Beneran Restu ... gue bakalan datang ke lu dengan tangan terbuka. Gue nggak bakalan kayak dulu lagi. Gue beneran mau berubah dan nggak cuman itu aja. Gue beneran mau ngelakuin itu semua dan ngelupain semua yang ada di masa lalu. Tapi ... tolong biarin gue untuk tenang di hari terakhir gue mengenal Zaina. Gue nggak bakalan macam-macam. Lu percaya kan sama gue?”
/Ya udah ... kalau memang begitu, aku bakalan seneng banget kalau nanti kamu bakalan datang ke sini dan ngelupain semua masalah yang terjadi antara kita dan juga ... aku bakalan buat kamu jatuh cinta!/
“Gue bakalan terus berusaha, tenang aja. Tapi tolong ... biarin gue pergi sendiri dan suruh mobil itu untuk pergi ninggalin gue. Jangan ikutin gue lagi.”
/Ya sudah ... pegang janjinya ya, jangan ngecewain gue./
“Iya Restu, iya ...”
Tak lama panggilan mereka terhenti, dan Mahen memekik riang karena mendapat pencerahan di masalahnya. Ia merutuki dirinya, kenapa nggak dari awal aja dia melakukan ini. Berpura-pura mendekati Restu, sampai perempuan itu percaya pada dirinya dan dia akan mencari tahu tentang video itu di saat dirinya sudah tergila-gila pada dirinya.
“Ah ... sudah lah, yang penting, sekarang aku harus memutar otak supaya dia beneran percaya sama gue dan dapetin video itu.”
Kini Mahen melirik ke arah spion belakang dan trnyata sudah tidak ada mobil yang sejak tadi mengganggu dirinya. Ia tersenyum simpul saat tidak melihat mobil apa-apa di sana ia lagi. Ia mengangguk, kini dirinya sudah bebas.
“Sekarang ... tujuan aku hanya Zaina dan nggak ada yang lain sama sekali!”
***
Begitu tiba di rumah Zaina, Mahen tidak bertemu sama wujud Zaina sama sekali. Ia hanya duduk dengan canggung di depan orang tua Zaina yang masih menatapnya dari atas sampai bawah sebelum daddy Zidan menarik napas dalam.
“Kamu beneran berpihak pada anak saya kan? Kamu nggak cinta sama perempuan itu sama sekali? Karena saya nggak mau kalau nanti Zaina malah jadi sakit hati karena ulah kamu lagi. Biar Zaina benar-benar bahagia dan saya harap kamu bisa mengembalikan senyum Zaina.”
Mahen tersenyum sangat tipis.
“Om sama tante nggak usah khawatir, bahkan sejak kami benar-benar pisah. Aku nggak ada pemikiran untuk melupakan Zaina kok. Entah kenapa, nama Zaina benar-benar melekat kuat di benak aku dan nggak ada perempuan mana pun yang berhasil bikin aku tertarik. Tapi ... untuk sekarang, aku nggak ada niatan untuk kembali jadi pasangan untuk Zaina. Aku hanya ingin mendapat maaf dari Zaina ...” Mahen menghembuskan napas kasar. “Zaina keliatan marah besar sama aku ...”
“Dia nggak semarah itu kok,” ucap mommy Nadya sambil tersenyum kecil.
“...”
“Dia hanya kelihatan marah sampai benci sama kamu. Padahal kenyataan nya nggak begitu sama sekali. Yang ada ... dia malah terus mikirin perasaan wanita itu dan bilang kalau kami nggak boleh menjodohkan kamu sama Zaina lagi, karena ada hati yang harus kamu jaga dan karena itu, kami sedikit benci sama Restu dan semakin benci karena dia yang malah membuat anak kami jadi tersakiti.”
“Untuk itu,” ucapan Mahen terpotong dan dia menarik napas dalam. “Aku beneran minta maaf ya om, tante. Aku nggak menyangka kalau Restu bakalan ngelakuin sejauh ini.Tapi sepertinya, untuk ke depannya Restu nggak akan senekat itu lagi. Karena aku yang bakalan kembali sama dia. Biar ... biar aku yang mengalah di sini. Biar Zaina nggak merasa terluka lagi dengan perbuatan yang Restu lakuin.”
“Kamu memilih dia?”
Mahen menggeleng sambil menunduk.
“Enggak ... aku ngelakuin ini demi Zaina. Walaupun sangat sulit, tapi aku bakal lakuin demi Zaina. Karena aku takut kalau Restu semakin macam-macam sama Zaina, kalau aku egois dan nggak berpihak sama dia. jadi ... mungkin ini jalan yang akan aku pilih.”
“Rasanya sangat menyayangkan melihat kamu yang memilih dia, tapi kalau memang ini jalan yang kamu pilih. Kami bisa apa? kamu temuin Zaina terlebih dahulu dan setelah kalian bicara berdua. Baru kamu kasih tahu ke kami, apa yang akan kamu lakuin selanjutnya. Karena di sini om masih ada rencana yang menurut om sangat bagus dan ini nggak mengorbankan kamu sama sekali.”
Mahen bungkam, dia sangat bingung dengan apa yang terjadi di sini.
Rasanya menjadi ragu.
Ia semakin bingung harus melakukan seperti apa, supaya bukan Zaina yang tersiksa lagi.
Daddy Zidan menepuk pundak laki-laki itu, “jangan ngorbanin diri kamu, kamu juga harus bahagia, nak ...”
Dan detik itu juga Mahen hanya tertegun. Sembari memikir kan semua omongan dari orang tua Zaina.